Tuesday, December 30, 2014

Sebuah Ringkasan Novel Nominasi Man Booker Prize 2013

Judul buku: Dua Saudara 
Penulis: Jhumpa Lahiri 
Penyunting: Anton W.P. 
Jumlah halaman: 68 halaman paperback 
Tahun terbit: January 2014
Penerbit: BukuKatta
ISBN13: 9789791032766

Subhash dan Udayan hanya terpaut lima belas bulan jarak kelahiran. Sehingga mereka tumbuh dalam keakraban yang membuat keduanya tampak tidak berbeda. Mereka bahkan bersekolah ditingkatan yang sama agar bisa selalu bersama. Mereka melakukan hampir segalanya bersama-sama. Mengumpulkan bola golf secara sembunyi-sembunyi di lapangan golf yang terlarang untuk anak-anak yang tidak berkepentingan, menyembunyikan telur burung hering, menualangi tempat-tempat baru yang jauh dari
rumah, meringkas pelajaran di buku catatan dan menggambar peta dunia, juga membedah elemen-elemen penting dalam ilmu fisika, kimia, dan biologi di satu meja. Meski begitu, meski terlahir dengan ciri genetik yang nyaris identik, keduanya memiliki sifat yang paradoksal bagi satu sama lain. Kelak, hal ini menentukan takdir mereka di masa depan. Subhash sangat taat aturan, patuh kepada ibunya, dan sangat anak-baik. Berbanding terbalik dengan Udayan yang senang melanggar aturan dan berjiwa pemberontak. Udayan tidak takut memprotes gurunya di kelas, dia kerap menghilang tiba-tiba dari kamarnya dan sulit tertemukan, dia bahkan berani menghentikan polisi yang memukuli Subhash saat mereka tertangkap basah melakukan kenakalan. Subhash selalu berpuas diri dengan hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Sedang Udayan memiliki dahaga akan hal-hal yang jauh dari jangkauan gagasan dan keinginan orang lain.
Saat ditanya apa yang mereka inginkan sebagai hadiah, Subhash meminta papan catur baru sedangkan Udayan menginginkan radio. Dia ingin mengetahui berita dunia yang lebih banyak daripada yang tercetak di koran harian Bengali, gulungan tipis bak ranting yang dilempar di atas tembok halaman di pagi hari (hal. 15).
Di akhir masa SMU, mereka memilih jurusan berbeda di universitas yang juga berbeda. Mereka mulai kehilangan waktu-waktu bersama. Mereka berkembang, mendewasa, dengan prinsip hidup yang jauh berbeda. Subhash sangat berfokus pada aktivitas akademiknya selagi Udayan menunjukkan sikap kritisnya pada situasi politik di negerinya.
Pada tahun 1967, pemberontakan buruh tani terjadi. Dua tokoh komunis Bengali ikut serta mengorganisir mereka. Gerakan anti-pemerintah di India tumbuh di mana-mana. Disemangati oleh gerakan komunisme China. Pemuda-pemuda India mengadaptasi pemikiran Mao Tse Tung, lantas membuat slogan-slogan pemberontakan. Udayan adalah salah satunya, yang tentu saja ditentang oleh ayahnya, dan juga Subhash.
Retorika ini bukan hal baru, kata ayah mereka sambil membalik-balik halaman majalah itu. Generasi kami juga membaca Marx. Generasi kalian tak memecahkan apa pun, kata Udayan.
Kami membangun sebuah negara. Kita merdeka. Negara ini milik kita. Itu tak cukup, Baba. Apa negara menerima kita? Siapa yang ditolongnya? (hal. 19).
Kamu pikir itu ada manfaatnya? Subhash bertanya. Apa yang dilakukan petani-petani itu?
Tentu saja itu berguna. Mereka bangkit. Mereka mengambil segala risiko. Manusia yang tak memiliki apa-apa. Penguasa tak melakukan apa-apa untuk melindungi mereka (hal. 18).
Setelah menamatkan pendidikan di universitas, Subhash bercita-cita mengambil gelar doktoral di Amerika. Sedang Udayan telah berpuas diri dengan mengabdikan diri sebagai akademisi di sebuah sekolah teknik di kota mereka yang kecil. Lalu babak baru ke sekian dari kehidupan mereka dimulai. Namun kali ini, segalanya jelas jauh berbeda dari yang sudah-sudah.
Beda yang jauh terus saja membayangi kehidupan Subhash dan Udayan. Ketika Subhash membayangkan wanita seperti apa yang akan dipilihkan ibunya untuk dirinya, Udayan mengabarkan bahwa dia telah menikahi seorang gadis pilihannya sendiri. Gauri yang cerdas, mahasiswi filsafat yang lebih menggemari buku dibanding kain sari. Meski tidak pernah berpikir untuk menentang tradisi, Subhash jelas merasa iri pada kebebasan yang selalu dipilih Udayan dan bagaimana dia memperjuangkannya dengan berani. Tapi tanpa disadari, hal-hal itu semakin menjauhkan Subhash dari Udayan dan sebaliknya.

Lalu tibalah suatu ketika di mana Subhash menerima telegram yang mengabarkan kematian Udayan. Subhash terbelah, antara keinginan untuk pulang dan keengganan untuk mengetahui kronologi tewasnya Udayan, yang dia duga, disebabkan oleh pandangan politiknya yang berbahaya. 

Dua Saudara dirilis dengan judul Brotherly Love. Cerita pendek ini sebenarnya adalah ringkasan dari novel Jhumpa Lahiri yang berjudul Lowlandyang di tahun 2013 menjadi nominee Man Booker Prize.

Dua Saudara dikisahkan dengan alur progresif dan pace yang cepat. Dengan lompatan waktu yang membuat kisah ini fasetik. Kita akan melihat kehidupan Subhash dan Udayan pada fase-fase penting dalam kehidupan mereka: masa kanak-kanak, remaja, dewasa muda, lalu dewasa penuh. Meski fakta bahwa kisah ini adalah ringkasan dari sebuah novel sehingga membuat saya merasa kehilangan aspek-aspek penting dalam kisah utuhnya, saya tidak terlalu merasa banyak kehilangan. Saya sudah cukup mengenal karakter-karakter penting dalam kisah ini, dan merasakan dengan jelas emosi-emosi tertentu yang membuat saya merasa terikat dengan tokoh-tokoh tertentu, juga ironi yang dialami tokoh-tokohnya.

Pengisahan Jhumpa Lahiri yang intens, dengan detil yang teliti, memang menjanjikan ruang plot yang lebih lebar. Cerita pendek ini membuat saya bertanya-tanya tentang bagaimana Jhumpa Lahiri mengisi fase-fase kehidupan Subhash dan Udayan yang hanya dia beberkan pada pokok-pokok tertentu, dalam format novelnya. Kisah dua saudara ini kemudian diakhiri dengan terbuka, selebar berbagai kemungkinan yang bisa terjadi pada Subhash dan Gauri—Subhash menunjukkan ketertarikan yang tidak biasa terhadap Gauri. Sebuah upaya Jhumpa Lahiri memancing rasa ingin tahu pembaca yang sukses besar. Sangat membuat penasaran. Saya berharap Lowland segera diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Kredit gambar
Cerita pendek ini telah diterbitkan oleh The New Yorker, dan Anda dapat membacanya secara gratis di sini.


Review ini diikutsertakan pada baca bareng BBI

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...