Sunday, December 14, 2014

Sebuah Dongeng Literer Tentang Keberanian, Kebaikan Hati, & Kesyukuran

Jumlah halaman: 266 halaman
Penulis:
Tahun terbit: Desember 2010 (pertama kali terbit 1 Januari 2009)
Penerbit: Atria
ISBN13: 9789790244603

         Di sebuah desa yang tandus, hiduplah sekeluarga petani miskin: sepasang suami istri dan putri mereka yang baik budi, rajin bekerja, dan sangat menyukai dongeng. Namanya Minli. Dia memanggil ayahnya dengan Ba, dan ibunya dengan Ma. Setiap kali bertemu di meja makan, Minli selalu meminta Ba untuk mengisahkan dongeng. Minli tidak pernah bosan mendengar dongeng-dongeng Ba. Suatu malam, Minli meminta Ba lagi untuk menceritakan dongeng tentang Gunung Nirbuah yan kering dan tandus. Minli lantas bertanya, apa yang bisa dilakukan agar Gunung Nirbuah dapat menghijau kembali. Ba berkata, bahwa pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh Kakek Rembulan. Minli menjadi penasaran dengan sosok Kakek Rembulan. Ketika Ma marah dan mengatakan bahwa dongeng-dongeng itu tidak berguna karena mereka tetap saja miskin, Minli pun bertanya-tanya, mungkinkah Kakek Rembulan juga mengetahui cara merubah peruntungan keluarganya?

         Suatu ketika, seorang penjual ikan mas melintasi desa Minli. Dia menjajakan ikan masnya sambil menyebut-nyebut tentang peruntungan. Minli lantas membelinya tanpa pikir panjang. Ma marah besar karena Minli menggunakan satu dari dua keping koin peraknya yang berharga untuk membeli benda yang tidak berguna. Menurut Ma, mereka bahkan tidak punya makanan cukup untuk memberi makan satu makhluk hidup lagi. Maka suatu malam, ketika Minli melihat tangan Ba gemetar saat merelakan suapan nasi terakhirnya untuk ikan mas miliknya, Minli pun merasa sedih. Dia berpikir bahwa Ma memang benar. Dengan sedih, Minli membawa ikan masnya ke sebuah sungai kecil, dan melepaskannya. Tiba-tiba si ikan mas bersuara. Minli terkejut bukan main, karena ternyata ikan mas itu bisa berbicara. Setelah berterima kasih kepada Minli karena telah melepasnya, ikan mas memberi petunjuk kepada Minli agar gadis kecil itu bisa bertemu Kakek Rembulan. Di malam berikutnya, setelah menulis surat untuk Ma dan Ba, dengan mengendap-endap, Minli meninggalkan rumah, dengan buntal perbekalan yang dianjurkan ikan mas. Dan, dimulailah petualangan Minli yang menakjubkan, demi menemui Kakek Rembulan di Gunung Tak Berujung.
kredit gambar
         Meski sudah begitu lama meninggalkan dunia kanak-kanak, saya masih, sesekali, merindukan keriangan membaca dongeng di masa-masa itu. Where The Mountain Meets The Moon sangat mampu mengobati kerinduan itu. Grace Lin, dengan sentuhannya yang khas, dan dengan kepiawaian yang superior, menghidupkan satu lagi tokoh anak-anak yang bertualang dalam keajaiban dunia dongeng, membawakan karakter yang penuh teladan dan pemberani. Saya membayangkan versi anak-anak dari diri saya belasan tahun silam, membaca buku ini di ruang perpustakaan sekolah kami yang teramat sederhanasampai-sampai tidak ada satu pun lemari buku di dalamnya. Saya pasti akan sangat menyukai Minli. Dalam khayalan-khayalan sebelum tidur saya, saya akan membayangkan diri saya adalah Minli, yang menunggangi punggung naga, bertemu raja, dan mendaki langit, sampai rasa kantuk datang. Bahkan saat ini, ketika buku dongeng telah menjadi hal yang terasa agak konyol jika masih terbaring di meja saya, saya masih sangat menyukai Minli, sahabat naganya, dan tentu saja, kisah petualangannya yang penuh keajaiban khas dongeng.
kredit gambar
         Saya sangat mengagumi keberhasilan Grace Lin menciptakan dongeng anak yang sangat indah, cemerlang, dan ditulis dengan literer yang tetap berada dalam kapasitas cerna anak-anak, tetapi mampu membuat orang dewasa terkagum-kagumseolah-olah dongeng masih bagian dari diri mereka. Saya kagum pada detail yang dipilih Grace Lin untuk membangun adegan demi adegan yang kelak mengutuh dalam sebuah alur yang memancing rasa ingin tahu, seru, dan bikin kecanduan. Ketika Minli melakukan sesuatu berdasarkan petunjuk dari orang atau tokoh yang ditemuinya, saya selalu bertanya-tanya, apa yang akan ditemukan Minli dengan hal-hal itu? Apa lagi yang akan dilalui Minli setelah itu? Tokoh unik mana lagi yang akan dia temui dan bagaimana rupanya? Bagaimana dia akan melalui tantangan berikutnya dengan berhasil? Saya kagum dengan dongeng-dongeng yang disisipkan Grace Lin di antara kisah Minli secara berbingkai. Kisah-kisah itu tidak diletakkan di sana dengan sia-sia. Ia ikut berperan membangun alur, mengayakan detil logika, yang secara perlahan akan kita temukan melengkapi kisah petualangan Minli. Ada Kisah Gunung Nirbuahyang mengisahkan awal mula gunung di desa Minli menjadi tandus dan tidak mampu menumbuhkan pepohonan, bunga, dan buah. Ada pula Kisah Kakek Rembulan (yang mengikatkan benang takdir pada orang-orang berjodoh serta mampu membaca kitab nasib dan peruntungan), lalu Kisah Naga (yang lahir dari lukisan), Kisah Penjaja Ikan Mas, Kisah Kertas Kebahagiaan, Kisah Gerbang Naga, Kisah Hakim Harimau, dan sebagainya. Yang sangat menarik perhatian saya adalah Kisah Teman si Bocah Penggembala Kerbau. Si Bocah Penggembala Kerbau bertemu temannya di sebuah sungai, ketika temannya sedang mandi bersama keenam saudaranya. Ketika Bocah Penggembala Kerbau mengagetkan saudara-saudara sang gadis yang teramat cantik dan berkulit seputih mutiara, gadis itu tidak bisa ikut terbang ke langit karena selendangnya terinjak kerbau Bocah Penggembala. Sang gadis kerap mengunjungi Bocah Penggembala di malam terang bulan. Kisah ini langsung mengingatkan saya pada dongeng yang kita dapatkan di sekolah dasar. Sebuah dongeng tentang tujuh bidadari, yang memiliki beragam judul dan telah diadaptasi ke dalam banyak lakon dan drama audiovisual yang magis. Asal Mula Terjadinya Pelangi. Kisah Cinta Jaka Pela dan Puteri Wangi. Dan sebagainya. Uniknya, kisah ini juga memiliki beragam versi lokal dengan beberapa modifikasi kreatif, seperti halnya yang dilakukan Grace Lin dalam buku ini.
         Saya benar-benar terkejut karena sama sekali tidak menyangka sebelumnya, bahwa sebuah dongeng anak-anak bisa dituliskan dengan keputusan untuk mengambil resiko kreatif yang tidak mudah seperti upaya Grace Lin melahirkan kisah Minli ini. Dengan kosakata yang variatif dan kelas kata level menengah, anak-anak akan menemukan pengalaman membaca yang unik, tidak terlupakan, sekaligus mampu mengupgrade kecerdasan verbal mereka. Dongeng yang sangat estetis ini juga disisipi gambar-gambar ilustrasi yang cantik, yang akan melengkapi keindahan kisahnya, untuk mengayakan imajinasi anak-anak.
         Dengan semua itu, saya menjadi terlampau asyik dengan hal-hal baru yang ditemukan Minli, dan nyaris lupa dengan tujukan an lain Minli menemui Kakek Rembulan selain menanyakan perihal peruntungan keluarganya. Saya pikir, nampaknya Grace Lin juga terhanyut dengan keasyikan yang sama saat menuliskan dongengnya. Tapi tentu saja saya salah. Karena Grace Lin sudah memperhitungkan setiap detil dengan cerdik dan teliti. Kisah ini, kemudian bermuara pada akhir yang, meski telah bisa kita duga gagasan besarnya, tetap saja mengejutkan, dan meninggalkan efek menghangatkan hati yang dalam dan tahan lama. Kisah ini seperti bergerak melingkar dalam satu putaran penuh. Minli bergerak dari satu titik, mengitari tempat-tempat baru untuk melihat dunia di luar rumahnya sambil memetik buah-buah kebijaksanaan, lalu pada akhirnya, dia kembali ke titik pijaknya yang semula dengan hati dan pikiran yang baru. Dan, seperti dongeng-dongeng lainnya, kisah Minli juga ditulis dengan misi pembaikan untuk anak-anak. Kisah ini akan membelajarkan anak-anak tentang keberanian, ketulusan, kebaikan hati, kesungguhan, persahabatan, kasih sayang, dan kesyukuran. Saya ingin menyimpan buku ini untuk anak-anak saya kelak, dan meminta mereka agar menyimpannya untuk anak-anak mereka, dan seterusnya, selamanya.
kredit gambar

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...