Saturday, December 27, 2014

Sebuah Sindiran Untuk Negeri



Jumlah halaman: 168 halaman

Penulis: Tundjungsari

Penyunting: Mukhammad Nurul Furqon

Tahun terbit: September 2007

Penerbit: Afra Publishing (Indiva Media Kreasi)

ISBN: 979-1387-07-4
         Pernahkah Anda berpesiar ke negeri dongeng? Baiklah, kalau ternyata belum, saya akan gambarkan, betapa hebatnya negeri tersebut.
... Di negeri dongeng, jika ingin hidup makmur, terkaenal, serta kaya-raya jangan sekali-kali jadi dokter, jadi dosen, apalagi jadi guru. Sulit untuk mendapatkan kepingan-kepingan harta dari jalan itu. Untuk hidup makmur juga tidak harus sekolah atau punya ijasah. Tapi jadilah artis. Entah itu artis sinetron, layar lebar, bintang iklan, pokoknya seputar dunia entertainment ah (hal. 7-8).
         Alkisah, di suatu wilayah di negeri dongeng, berdiri dengan subur dan tidak makmur, Kabupaten Antah Beranteh yang ajaib bukan buatan. Meski daerah ini ramai disambangi investor, penduduknya tidaklah dan tampaknya tidak akan pernah sejahtera, kecuali segelintir saja. Penduduk aslinya kebanyakan hanya menjadi buruh. Kabupaten ini dipimpin oleh Bupati Suryo Buwono yang doyan klenik. Dan saat ini, ketika kisah ini bergulir, Negeri Dongeng sedang bersiap menyambut Pilkadal (Pemilihan Kepala Daerah Langsung).
         Pilkadal di Negeri Dongeng adalah sebuah kisah ringkas namun dengan padat merangkum satu fragmen penting dalam dunia politik dalam negeri kita. Dikisahkan dengan ringan dan santai, penuh humor, sekaligus satir, buku ini akan menjadi bacaan menghibur yang membuat kita gerah sambil menggeleng-gelengkan kepala. Buku ini memotret empat kehidupan yang berbeda sekaligus dengan pengisahan serba tahu. Empat kehidupan yang saling mempengaruhi secara tidak langsung: kehidupan Bupati Suryo Buwono--bupati yang ingin kembali mencalonkan dirinya dalam Pilkadal, Jaka Lesmana--wakil bupati ganteng yang ingin menggantikan Suryo Buwono dengan menggandeng pengusaha cantik yang juga mantan kekasihnya, kehidupan Tugino--pengusaha yang mulai usahanya dari nol besar dan berkepribadian nyentrik, dan kehidupan Pak Slamet--lelaki buruh tani kecil berpenghasilan di bawah cukup, yang ayahya sakit-sakitan dan istrinya sedang menghadapi persalinan beresiko. Empat keping kehidupan ini seolah merepresentasikan kondisi umu negeri kita yang carut marut: politikus sejahtera selagi warga merana.
         Tundjungsari, lewat buku ini, tidak saja menghadirkan ironi-ironi kehidupan politikus dan rakyat yang sangat jungkir balik, tapi sekaligus membeberkan fakta-fakta mengejutkan tentang mekanisme demokrasi dalam pelaksanaan pemilihan kepala daerah, yang nampaknya telah menjadi rahasia umum. Dengan lucunya, Tundjungsari menggambarkan manuver-manuver politik yang dilakukan pihak-pihak bersaing dalam menjatuhkan lawan-lawan politik. Seperti kasus video panas Jaka Lesmana dan Lastri, misalnya. Ini akan terasa sangat familier bagi kita dan lantas kan mengingatkan kita lagi mengenai skandal-skandal serupa yang ramai disiarkan stasiun-stasiun TV nasional beberapa waktu silam. Hal menarik lainnya adalah proses jual beli suara yang sudah menjadi rahasia umu, dipraktikkan setiap partai pendukung calon atau tim sukses calon kepala daerah.
"Kalau saya diberi modal, saya jamin 75% penduduk kelurahan saya memilih Bapak," begitu kata tim sukses yang kelompoknya hanya punya kekuasaan tingkat kelurahan."
"Meskipun klub saya kelihatannya kurang dikenal, Klub Pecinta Tanaman Hias Tanpa Bunga, tapi anggiota saya di Kabupaten Antah Berantah ini cukup banyak. Kalau mereka mengajak sanak saudaranya untuk memilih Bapak, saya yakin minimal 5% penduduk di Antah Berantah ini bisa direkrut suaranya dari klub saya ini" (hal.106).
         Tidak kalah penting pendekatan terhadap pemuka agama. Ini yang sedang menjadi tren bagi politikus di negeri dongeng. Menggandeng tokoh agama menjadi partner politik. Dan karena mayoritas penduduk negeri dongeng beragama Islam, maka yang digandeng adalah para pemuka agama Islam. Tapi jangan keliru, jangan berpikir karena kalangan politikus menggandeng tokoh agama maka kehidupa berpolitik menjadi lebih agamis atau islamis. Tokoh agama itu digandeng bukan untuk mewarnai dunia perpolitikan yang hitam agar lebih cerah, tapi digandeng semata-mata untuk menarik massa (hal. 107).
          Pada akhirnya, saya merekomendasikan buku ini, yang ingin kembali menyegarkan ingatan tentang segala kebobrokan dan kerusakan tatanan kehidupan di Negeri Dongeng kita yang tercinta ini. Selamat membaca dengan gregetan dan tinju mengepal, selamat terhibur dan tertawa pahit.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...