Friday, December 05, 2014

Sebuah Fiksi Filsafat yang Ramah Pembaca

Judul buku: Cecilia & Malaikat Ariel (Kisah Indah Dialog Surga dan Bumi)
Jumlah halaman: 210 halaman
Penulis: Jostein Gaarder
Penerjemah: Andityas Prabantoro
Tahun terbit: Desember 2008 (pertama kali diterbitkan tahun 1993)
Penerbit: Mizan
ISBN: 9789794335390
 
Cecilia sedang sakit keras. Sebagian besar waktunya dia habiskan untuk berbaring di tempat tidur. Untuk bisa menghabiskan waktu dengan keluarganya di ruang keluarga, dia harus digendong oleh ayahnya. Ada sebuah lonceng kecil di meja dekat tempat tidurnya. Jika Cecilia membunyikannya, ibu atau ayahnya akan segera datang menemuinya. Cecilia mulai merasa bosan dengan hidup yang semacam itu. Dia ingin merasakan kehidupannya yang dulu. Dia mulai sering merajuk untuk dibelikan papan ski, karena di luar sedang Desember dan salju jatuh dengan lebat. Tapi itu keinginan yang nyaris mustahil. Suatu saat, Cecilia terbangun dari tidurnya dan mendapati sesosok malaikat sedang mengawasinya dari jendela kamarnya.
Mereka pun terlibat obrolan sembunyi-sembunyi yang panjang. Obrolan yang hanya diselingi dua hal: waktu tidur Cecilia dan kunjungan seseorang di kamar Cecilia. Itu adalah obrolan yang tiada habis. Obrolan tentang bumi, surga, alam semesta, dan otoritas Tuhan.
"Setiap mata adalah sekeping kecil misteri Ilahi. Penglihatan adalah pertemuan antara benda dan pikiran. Mata manusia adalah cermin tempat sisi kreatif dari kesadaran Tuhan bertemu muka dengan diri-Nya sendiri dalam ranah ciptaan" (Malaikat Ariel kepada Cecilia: 99).
Ini adalah buku yang sangat filsafati. Hal yang menjadi ciri khas Jostein Gaarder. Dosen fakultas filsafat ini nampaknya ingin mendakwahkan filsafat ke kelas usia yang muda, lewat perenungan akan elemen dasar kehidupan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Cecilia kepada Malaikat Ariel mengingatkan saya pada diri saya di usia sekolah dasar. Saya mempertanyakan bagaimana sosok Tuhan yang sebenarnya. Apa Dia humoris? Bagaimana Dia menciptakan malaikat? Mengapa manusia dan malaikat harus berbeda? Ketika manusia sedang sibuk bekerja di bumi, apa yang dilakukan malaikat? Mengelilingi Tuhan dan bermanja-manja? Meminta Tuhan mengizinkan mereka bermain-main di alam semesta yang mahaluas?
Buku ini mengemukanan jawaban-jawaban untuk pertanyaan itu dengan isyarat-isyarat filosofis, sehingga isi buku ini tersampaikan dengan sangat indah. Bahasanya cukup mudah dipahami. Meski ada beberapa bagian yang akan membuat pembaca akan berhenti sejenak, menyerap satu dua kalimat dengan seksama, meresapinya dengan hati-hati, tapi itu akan diakhiri dengan satu senyuman singkat yang disertai keinginan untuk menemukan hal besar lainnya tentang kehidupan yang misterius ini.
"Setiap detik,  bayi-bayi baru muncul dari lengan jas Tuhan. Sim salabim! Setiap detik pula, ada orang-orang yang menghilang. Antrean yang saaangat panjang. Mantra K E L U A R terucap, maka kau pun harus keluar" (Malaikat Ariel kepada Cecilia: 31).
Meski buku ini nampaknya ditujukan untuk orang-orang muda, bukan berarti buku ini tidak cocok dibaca oleh orang tua. Orang dewasa juga akan menikmati buku ini, untuk menyadari betapa mereka telah melewatkan khazanah penting yang seharusnya mereka temukan sejak remaja atau ketika baru beranjak remaja. Dan, para orang tua butuh membaca buku ini untuk memperkaya stok topik pembicaraan menyenangkan dengan anak-anak mereka di rumah.
"Karena tak bisa membeku atau terbakar, kami bisa berada di tempat mana pun di ruang angkasa. Bedanya dengan manusia, hanya Bumilah tempat yang cukup dingin dan cukup hangat bagi kalian yang terbuat dari darah dan daging. Semua tempat lain di alam semesta ini terlalu panas atau terlalu dingin buat kalian. Jika Bumi lebih dekat sedikit saja ke matahari, kalian tak akan kuat menahan panasnya. Dan jika Bumi lebih dekat sedikit saja ke Pluto, kalian akan segera menjadi patung es" (Malaikat Ariel kepada Cecilia: 159).
Cecilia dan Malaikat Ariel tersaji dengan alur yang lamban. Karena seperti sub-judulnya, buku ini didominasi oleh dialog-dialog antara Cecila dan Malaikat Ariel, dengan aura suram kesedihan menggantung di sekeliling mereka. Kehidupan Cecilia yang sedang sakit keras, memang tidak jauh dari kamar dan tempat tidurnya. Dan dialog-dialog Ariel dengan Cecilia hanya terjadi di saat-saat tertentu. Tapi saya selalu menunggu hal itu. Sesekali, Jostein Gaarder, dengan tengilnya,bermain dengan sisi humanis Tuhan.
"...Tapi, seandainya kamu menciptakan seluruh alam semesta tanpa bantuan siapa pun, aku yakin, kamu juga akan sedikit sensitif terhadap kritik" (Malaikat Ariel kepada Cecilia: 57).
"Bagi kami, kalian adalah hantu, Cecilia, bukan sebaliknya. Kalian datang dan pergi. Kalianlah yang tidak abadi. Kalian mendadak muncul, dan setiap kali seorang bayi diletakkan di dalam perut ibunya, itu adalah sebuah keajaiban. Tapi, secepat itu pula kalian pergi. Seolah-olah Tuhan bermain gelembung sabun dengan kalian" (Malaikat Ariel kepada Cecilia: 77).
Meski buku ini diinterpretasikan dari kepercayaan Nasrani, saya yang seorang muslim dapat menikmatinya dengan baik. Saya tahu bagian mana yang perlu saya ambil dan tinggalkan. Bagaimanapun juga, ini adalah buku yang menarik. Ada banyak sekali kutipan-kutipan menarik yang ingin saya tuliskan di lembar-lembar post-it dan menempelnya di dinding kamar saya. Jostein Gaarder ahli dalam menciptakan buku fiksi filsafat yang sangat ramah pembaca, sehingga pembaca hampir tidak menyadari bahwa mereka sedang menikmati turunan ilmu filsafat yang terkenal sangat berbelit-belit itu.
Kredit Gambar

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...