Wednesday, January 14, 2015

Belanja Desember: Refleksi Belanja Akhir Tahun

sumber gambar tidak diketahui
Lihat, bagaimana kemampuan saya meramal masa depan? Akhirnya saya tidak jadi tidak membeli buku apa pun di Desember. Ini sama sekali bukan salah saya. Memang buku-buku ini seperti sengaja mendatangi saya di saat paling tepat. Mungkin inilah definisi sebenarnya dari keberjodohan. Saya pernah begitu menginginkan buku-buku ini dan belum berkesempatan mendapatkannya. Tapi saya selalu percaya, setiap orang akan mendapatkan apa pun yang pernah benar-benar mereka inginkan. Mereka hanya perlu percaya, dan menunggu. Maka, seperti yang saya percayai, saya pun mengalami apa yang saya yakini.
Desember ini saya menemukan beberapa buku lama yang sudah out of stock di beberapa toko buku online. Beberapa yang lainnya masih fresh dari perilisannya. Beberapa dari buku lama ini adalah buku-buku kolpri dalam kondisi yang masih baik, sedang satu yang lainnya masih baru dan segelan. Saya mungkin bisa mendapatkan versi segelan dari buku-buku kolpri itu seandainya saya bersedia menunggu. Tapi saya tidak ingin berjudi dengan kemungkinan-kemungkinan. Dan, seseorang pernah menasehati saya, untuk melihat apa yang ada di depan mata dan memutuskan segala sesuatunya di saat itu juga. Mungkin sebenarnya, saya hanya ingin membuat impulsivitas terdengar begitu berkelas dan bijaksana. Lupakan saja! Dan mari kita lihat ada apa saja di keranjang belanja saya bulan ini.
Dari Dojo Comic, saya mendapatkan tiga buku lama dan satu buku yang lumayan fresh berikut ini:

Buku ini, beberapa tahun lalu, sudah masuk daftar diskon besar-besaran dari penerbitnya. Saya memburunya semenjak itu. Tapi waktu itu, aktivitas belanja online masih terasa begitu baru dan membingungkan bagi saya.
Membaca blurb-nya, nampaknya ini buku tentang kanker yang merupakan salah satu jenis fobia saya. Mungkin air mata akan mengalir dari halaman pertama sampai akhir. Dan ada wajah pucat dan darah di mana-mana, juga aroma karbol disinfektan khas rumah sakit yang dominan. Tapi siapa yang peduli? Saya lebih peduli pada daftar penghargaan sastra yang tertera di laman goodreads untuk buku ini ^_^
Saya mendapatkan buku kolpri ini seharga Rp. 27.000,-.

Ini juga adalah buku diterbitkan oleh penerbit yang sama dengan Sing Me To Sleep. Saya sangat tertarik dengan premis buku fantasi ini. Seorang lelaki yang terbangun dari tidurnya dan berada di berbagai rentang waktu kehidupan. Dia harus mengulangi kembali hidupnya, dan mungkin, bisa memperbaiki kesalahan-kesalahannya di rentang kehidupan tertentu. Saya mendapatkan buku kolpri ini seharga 30K. Mungkin saya agak terburu-buru memutuskan membeli buku ini. Padahal tampaknya, saya bisa mendapatkan buku barunya dengan harga sama di online book shop lain. Ahh ....

     
         Di awal bergabung di Goodreads, buku ini sedang ramai diperbincangkan, dan saya langsung tertarik--saya memang mudah tertarik dengan opini-opini--untuk memburu buku ini. Sayangnya, setelah mencarinya di mana-mana, buku ini sudah menjadi langka dan tidak lagi tersedia di toko buku online mana pun. Bertahun-tahun kemudianyang adalah Desember silam, saya menemukan buku ini di Dojo Comic, baru, tersegel tidak begitu rapi tapi tampak layak dan menggiurkan, dengan harga Rp. 40.000,-. Maka saya, berada di bawah intimidasi sistem kompetisi belanja yang ketat, tidak berpikir panjang untuk membelinya seketika itu juga.

Buku ini saya beli bersamaan dengan The Time Traveler’s Wife, baru, tersegel rapi dan baik sekali, dan lebih murah dari jika saya membelinya dari toko buku online lain: Rp.40.000,-. Saya memang sedang membutuhkan banyak bacaan young adult sebagai referensi, terlebih jika itu buku John Green. Dan, buku ini adalah satu-satunya karya John Green sejauh ini, yang belum saya miliki. Semoga ini lebih baik dari Paper Town. 

         Beberapa waktu lalu, Kak Dion Yulianto berhasil mendapatkan tawaran meresensi dua buah buku dari Scoop untuk direview oleh rekan-rekan Bloger Buku Indonesia,, yang salah satunya adalah buku ini. Saya beruntung, bisa menjadi yang pertama menjadi postingan Kak Dion di grup rahasia BBI itu, dan mendapatkan buku ini dengan diskon 40%, sehingga harganya menjadi Rp. 49.280 + bebas ongkos kirim :) Tawaran meresensi di BBI selalu menggiurkan dan memacu adrenalin :D Buku ini banyak diobrolkan teman-teman blogger buku sejak setahun terakhir, dan menjelang rencana penerjemahannya di Indonesiayang akhirnya rilis September silam, dan saya, mau tidak mau, jadi penasaran juga. Konon, Gillian Flynn adalah pencerita ulung yang memukau. Faktor penggila yang cukup kuat untuk mempengaruhi saya membeli sebuah buku.

          Oh, ya Tuhan! Rasanya agak ajaib saya bisa mendapatkan buku ini. Buku ini sudah sangat langka, entah bagaimana. Padahal buku seri #1 dan #3-nya masih available di semua toko buku online langganan saya selama ini. Saya harus mengejar buku ini sampai di Klaten, dan menemukannya lewat seorang kawan pemilik toko buku online di Klaten, yang membelinya langsung ke gudang penerbit di dekat kotanya. Buku pertamanya saya dapatkan dari program Secret Santa (baca ceritanya di sini) tahun lalu--yang tahun ini saya putuskan untuk tidak mengikutinya dulu. Setelah membaca The Girl With The Dragon Tatoo (baca reviewnya di sini) di awal tahun lalu, saya langsung menginginkan buku keduanya ini. November lalu, saya mendapatkan buku ketiganya di BukaBuku dengan harga yang sangat murah: 30K. Sayangnya, buku ini harus saya beli dengan harga yang lumayan wow!yang sudah dengan baik hati dipotong oleh sang Kawan Penjual: Rp. 80.000,-. But it's gonna be worth, I guess, mengingat, saya sudah jatuh cinta pada Salander yang nyentrik dan jenius dan dingin itu. Maret mendatang, saya berencana membaca buku ini dan buku ketiga Serial Milenium dalam program Reli Baca yang saya canangkan secara personal. Saya juga mungkin akan membaca cepat buku pertamanya untuk menemukan kembali feel ceritanya, sebelum langsung membaca buku kedua ini.
         Nah, akhirnya, saya benar-benar berjanji untuk lebih kalem dalam berbelanja buku sejak bulan ini. Seperti yang saya canangkan dalam Tantangan Babat Timbunan yang saya ikuti tahun ini, saya baru akan membeli satu buah buku, setelah membabat empat buku dari timbunan saya. Jadi kemungkinan besar, sepanjang tahun ini, saya tidak akan membeli lebih dari dua puluh buah buku. Saya harus bergidik setiap kali melewati timbunan buku--yang untuk saat ini saya biarkan berserakan di ruang tengah rumah kami sebagai pengingat-manis-tentang-kerakusan-saya-berbelanjasaya. Rasanya, agak menyenangkan juga, tidak harus memikirkan membeli buku apa dalam sebulan, dan hanya berfokus pada draf tulisan dan buku-buku yang dengan bebas saya raih setiap kali saya membutuhkan mereka.
         Sebenarnya, belanja yang seperti ini, bukan semata-mata persoalan tabiat khas perempuan yang ditakdirkan akan selalu menggilai diskon. Di luar sikap impulsifyang adalah elemen paling dasar dan personal yang dimiliki orang tertentu, belanja buku gila-gilaan seringkali disebabkan banyak pertimbangan. Kalau saya tidak beli sekarang, mungkin nanti saya akan lupa, dan nanti akan ada buku lain yang menarik minat saya, sementara buku ini juga tidak bisa dan sebaiknya tidak saya abaikan. Buku ini akan segera langka, jadi saya tidak boleh berpikir tentang besok, jadi sekarang! Saya mungkin belum akan membacanya setelah saya membayar pada kasir, tapi jelas saya akan membutuhkan ini, meski entah kapan, tapi saya yakin dan saya menjamin dengan nyawa saya bahwa ya, saya sangat membutuhkannya. Saya sudah mencarinya sejak lama, jadi kenapa saya harus membiarkannya lewat lagi sekarang? Nah, hal-hal semacam itulah. Kalian pasti mengerti :)
         Baiklah, jadi, sampai jumpa di Cerita Belanja saya yangsemoga saja menjadi jauh lebih bijaksanaberikutnya. Bagaimana cerita belanjamu? Saya juga ingin tahu :)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...