Jumlah halaman: 68
halaman paperback
Penulis: J.D. Salinger
Penyunting: Anton W.P.
Tahun terbit: January
2014
Penerbit: BukuKatta
ISBN13: 9789791032766
Demi Esme dengan Cinta dan Kesengsaraan berisi dua buah cerpen karya J.D. Salinger, yang termaktub dalam buku
kumpulan cerpennya: Nine Stories,
diterbitkan oleh The New American Library pada tahun 1962. Kedua cerpen
tersebut adalah Demi Esme dengan Cinta
dan Kesengsaraan dan Hari yang
Sempurna Bagi Bananafish.
Demi Esme dengan Cinta dan
Kesengsaraan berkisah tentang seorang pensiunan tentara yang, suatu hari,
menerima undangan pernikahan dari gadis yang dikenalnya enam tahun sebelumnya.
Gadis itu bernama Esme. Dia melihatnya untuk pertama kali ketika Esme sedang
berlatih paduan suara di gereja dan sang Tentara sedang mampir untuk
berjalan-jalan di waktu senggangnya. Pertemuan tak disengaja itu berlanjut
dengan pertemuan tak disengaja berikutnya di sebuah kedai. Pertemuan itu
kemudian berlanjut dengan obrolan yang diinisiasi oleh Esme. Sebuah obrolan
yang intens, yang menimbulkan ketertarikan di antara keduanya.
Esme adalah gadis yatim
piatu yang menarik, cerdas dan penuh rasa ingin tahu. Di pertemuannya dengan
sang Tentara, Esme berhasil membuat lelaki itu berjanji untuk membuatkan sebuah
cerita pendek untuknya.
“Saya sangat tersanjung jika Anda menulis sebuah kisah secara khusus
untuk saya suatu hari nanti. Saya gemar membaca.”
“Tentang apa? Tanyaku seraya bersandar ke depan.”
“Kesengsaraan. Saya sangat tertarik dengan kesengsaraan.” (hal. 21)
Aku mengucapkan terima kasih dan mengatakan beberapa kata lainnya, lalu
melihatnya meninggalkan kedai teh itu. dia melangkah perlahan dengan tepekur,
meraba ujung rambutnya untuk mengetahui apakah sudah kering (hal. 25).
Dan, di akhir pertemuan
pertama mereka, Esme berjanji akan mengirim surat kepada sang Tentara.
Demi Esme dengan Cinta dan
Kesengsaraan adalah cerita pendek yang ditulis dengan mengabaikan unsur-unsur
kelaziman sebuah cerita. J.D. Salinger menunjukkan ketengilannya dengan
menulis cerita ini sesuka hatinya. Dia memulai dengan monolog sang Tentara
dalam sudut pandang aku-an, lalu mem-flashback
ceritanya ke masa lalu—masa ketika dia bertemu Esme, lalu berpindah ke masa
setelah perang, ketika surat Esme datang padanya selang beberapa waktu
kemudian, lalu mengakhiri ceritanya di sana.
Segmen yang mengisahkan
kehidupan keseharian sang Tentara pasca-perang, merupakan cerita pendek yang
pernah dijanjikan sang Tentara untuk Esme. Segmen ini menunjukkan perubahan
yang terjadi pada tokoh sang Tentara. Perang sudah mengubah hidupnya. Sang
Tentara telah menjadi seseorang yang, dia kutip dari perkataan Esme, lalu dia
sebut sebagai seorang yang menanti kesempatan untuk kembali menjadi seorang
dengan seluruh kemampuan utuh. Di sanalah kisah ini berakhir. Dalam
segmen-segmen cerita-pendek-untuk-Esme,
yang membuat akhir kisah ini seperti terjebak dalam sebuah bingkai. Saya
menyukai cara J.D. Salinger bermain-main
dengan cerita ini. Hal itu seolah menegaskan kekuatannya sebagai tuhan kecil untuk cerita rekaannya.
Meski hal itu akan terasa aneh. Ini pertama kalinya bagi saya, menemukan sebuah
kisah flashback yang tidak pernah
kembali kepada garis waktu di mana penuturnya memulai cerita. Sangat jelas,
bahwa cerita ini menumpukan bobotnya di akhir cerita. Yang tidak saja
mengandalkan keliaran penulis dalam menciptakan desain unik dalam plot cerita,
tetapi juga karena kisah ini diakhiri dengan banyak dugaan tentang hal yang
sudah menimpa sang Tentara—yang nampaknya menjadi alasan bagi keengganannya
memutuskan hubungan dengan Esme begitu saja.
Lalu, tentang Hari yang Sempurna Bagi Bananafish. Kisah ini dibuka oleh kehadiran seorang
wanita cantik yang sangat memperhatikan penampilan, bernama Muriel Glass—Glass
adalah nama keluarga suaminya. Muriel sedang bepergian bersama suaminya,
Seymour Glass, dan membuat ibunya sangat khawatir. Percakapan terburu-buru—dan
sering terpotong karena disela pihak lainnya—antara Muriel dengan ibunya di
telepon menyibak rahasia tentang Seymour Glass, yang membutuhkan penanganan
seorang psikiater. Ibu Muriel tampak sangat ketakutan dengan menantunya, sedang
Muriel sendiri sangat percaya terhadap suaminya.
Cerita pendek ini terbagi
dalam tiga segmen. Segmen pertama didominasi oleh percakapan telepon antara
Muriel dengan ibunya, yang berusaha mengungkap detil tentang abnormalitas
Seymour Glass, sekaligus menyembunyikannya. Lalu, segmen kedua menampilkan Seymour
Glass yang tampak seperti lelaki normal—dia berjemur di pantai, bermain dengan
seorang gadis kecil yang menghampirinya—sehingga anggapan Ibu Muriel bahwa
lelaki itu bisa membahayakan nyawa anaknya terasa terlalu berlebihan. Dan,
segmen ketiga, adalah klimaks sekaligus penutup kisah ini, yang menyisakan
banyak tanda tanya—sehingga cerita ini terasa baru benar-benar dimulai setelah
ia berakhir. Yakni segmen ketika Seymour kembali ke kamar hotel dan menemukan
istrinya sedang tertidur, lalu melakukan sesuatu yang akan menjawab satu
teka-teki dan sekaligus memunculkan teka-teki lain dengan serta merta.
Hari yang Sempurna Bagi Bananafish adalah kisah tentang seorang
lelaki yang mengalami tekanan sepulangnya dari peperangan. Dia kembali dengan
tekanan baru, menemukan negaranya tenggelam dalam hedonisme dan materialistik.
Para perempuan membahas gaun dan perhiasan dalam pesta-pesta penuh minuman dan
kemabukan. Lebih mengerikan lagi, Seymour Glass, menemukan istrinya telah
menjadi bagian dari kegilaan itu. Anehnya, sepanjang cerita berlangsung,
Seymour Glass dan istrinya tidak sekali pun terlibat kontak. Seymour Glass
menjadi terlalu sensitif dan paranoid dengan pandangan mata yang mengarah
kepadanya. Dia lebih nyaman bermain dengan anak-anak, mengarang cerita khayalan.
Meski gejala mental Seymour Glass tidak teridentifikasi secara gamblang, tapi
pembaca akan memahami bahwa hal itu disebabkan oleh trauma perang yang
dialaminya. Konon, cerita pendek ini menginspirasi Salinger dari pengalamannya
ketika tergabung sebagai tentara.
Hari yang Sempurna Bagi Bananafish terus dibahas di kalangan
kritikus sastra. Ada banyak upaya untuk menginterpretasikan hal-hal yang
dianggap simbolik dalam karya ini. Seperti misalnya, frasa ‘see more glass’—yang sengaja tidak
diterjemahkan dalam novella ini—yang
diucapkan Sybil untuk menyebut Seymour Glass, juga bananafish, makhluk khayalan ciptaan Seymour Glass dalam kepalanya.
Tapi secara keseluruhan, cerita pendek
ini adalah upaya kritis Salinger terhadap gejala psikososial yang melanda kotanya
pascaperang. Dan dia menghabiskan waktu yang cukup panjang untuk memoles cerita
ini hingga akhirnya dimuat oleh media terkemuka di Amerika.
Demi Esme dengan Cinta dan Kesengsaraan adalah
karya klasik yang layak dikenang. Peninggalan seorang sastrawan beraliran
impresionis yang mencoba mengkritik situasi sosial di masanya, dalam konteks
cinta dan perang yang selalu menimbulkan kepedihan.
![]() |
kredit gambar |
Dan yang oke dari buku ini, maksudnya begitu terselubung hingga harus diresapi dahulu untuk mengetahui apa sebenarnya yang tjoba "diocehkan" oleh si penulis.
ReplyDeleteIyup. Pak JD Salinger, nampaknya, seperti juga Pak Hemingway, senang bermain dengan simbol-simbol :)
Delete