Jumlah halaman:
360 halaman paperback
Penulis: John Green
Penerjemah:
Angelic Zaizai
Tahun terbit:
26 September 2014(dipublikasikan pertama kali 1 Oktober 2008)
Penerbit:
Gramedia Pustaka Utama
ISBN13: 9786020308586
Penghargaan sastra: Anthony Award Nominee for Best Children's/Young Adult
Novel (2009), CORINE Internationaler Buchpreis for Young Adult (2010),
School Library Journal Best Book of the Year (2008),
Edgar Award for Best Young Adult (2009), YALSA Teens' Top Ten (2009)
Deutscher Jugendliteraturpreis Nominee for Preis der
Jugendjury (2011), Abraham Lincoln Award Nominee (2011), CORINE Internationalel Buchpreis for Young Adult (2010),
Bronzener Lufti (2010), Literaturpreis der Jury der jungen Leser for Jugendbuch
(2010)
Berat sekali untuk pergi—sampai kita pergi. Dan kemudian itu menjadi tindakan termudah di dunia (hal. 262).
Quentin
Jacobson hanyalah cowok dengan kehidupan SMA biasa, teman-teman geng biasa—tapi
superseru, dan orangtua terapis biasa yang mencintainya dengan cinta khas
orangtua biasa. Tapi lantas Margo Roth Spigelman—teman masa kecilnya yang juga
adalah tetangganya—yang luar biasa muncul secara tiba-tiba dalam kehidupannya.
Margo datang kepada Quentin di suatu malam, dengan wajah dicat hitam dan
sederet rencana pembalasan dendam, memilih cowok itu sebagai partner. Quentin,
dengan cintanya yang sederhana dan naif, memutuskan terlibat dalam petualangan
bersama Margo, yang ingin dia kenang seumur hidup. Tapi, saat pagi datang,
ketika Quentin, dengan harapan khas cowok baik-baik yang sedang kasmaran, menduga-duga
tentang reaksi Margo ketika mereka bertemu di sekolah, cewek itu resmi
menghilang dari muka bumi. Menguap dalam udara tipis dan segala kemungkinan.
Lalu Quentin, merasa bertanggungjawab untuk menemukannya. Bersama kedua
sahabatnya: Ben yang solider dan Radar yang cerdik, Quentin memecahkan
kode-kode kecil yang dia pikir, sengaja ditinggalkan Margo untuknya, demi
menemukan dirinya.
Malam ini, Sayang, kita akan memperbaiki banyak hal yang keliru. Dan kita akan mengacaukan beberapa hal yang benar. Yang pertama akan jadi yang terakhir; yang terakhir akan jadi yang pertama; yang lembut hati akan mewarisi bumi. Tetapi sebelum kita bisa mengubah dunia secara radikal, kita harus berbelanja: (Margo kepada Quentin: 39).
Dalam beberapa aspek, Paper
Town terasa
seperti alter ego Looking
For Alaska: mengisahkan cowok kutu buku yang kasmaran pada cewek
cantik, pintar, dan tidak terduga. Meski terbitnya buku ini telah diselingi
oleh An Abundance of Katherines,
tampaknya John Green masih antusias untuk mengisahkan Alaska-Alaska yang
lain. Cewek ekstentrik penuh misteri, yang harus dipecahkan dengan sedikit kecerdasan yang tidak biasa.
Paper Town terbagi
dalam tiga babak besar, dengan tajuk yang filosofis—sangat khas Green: Senar,
Rerumputan, Wadah. Membawa pembaca dalam petualangan Quentin bersama Margo,
menemukan Margo, dan mengungkapkan misteri Margo. Green menyeret pembaca
menualangi kota kertas, atau yang disebut pseudovisi: kota-kota yang hanya
tercantum di peta tapi tidak benar-benar ada.
Seperti
biasa, Green bertutur dalam narasi yang seru, menyenangkan, supercerdas, tajam,
dan filosofis. Sulit untuk melepaskan buku ini sebelum mengetahui apa yang
terjadi denga tokoh-tokohnya dan bagaimana mereka melakukan resolusi untuk
permasalahan yang mereka hadapi. Saya akan selalu mengagumi cara Green
mendesain sebuah buku remaja yang berisi dan
dikisahkan dengan pertimbangan yang tidak sederhana, dalam upayanya
mengemukakan unsur-yang
harus-selalu-ada-dalam-dunia-anak-muda-yang-mendefinisikan-identitas:
renungan-renungan, ledakan-ledakan dalam pengambilan keputusan, persahabatan,
dan segalanya. Tentu akan berbeda jika bukan Green yang menuliskannya. Karakter
yang unik dan kuat, dialog yang terasa nyata, dekat, familier, dan lucu.
Keragaman sudut pandang yang seringkali mengejutkan. Sangat menyenangkan bisa
melihat dari sudut pandang remaja lelaki. Bagaimana mereka memandang
sekeliling, mengungkapkan perasaan, membenturkan logika dan cinta yang naif,
melihat dalam-dalam ke dalam diri seorang gadis, dan sebagainya. Terlebih
karena Green menggunakan sudut pandang pertama dengan Quentin sebagai narator.
Menurutku mungkin alasan aku merasa takut adalah karena aku berusaha menyiapkan diri, melatih tubuhku menghadapi ketakutan sebenarnya ketika hal itu datang (hal. 162).
Sayangnya,
sebagai buku yang dirilis setelah Looking
For Alaska, Paper Town
terasa tidak seluar biasa pendahulunya itu. Karakter Margo tidak serumit dan
semultidimensional Alaska. Meski sama-sama tidak terduga, Margo tidak begitu mengejutkan. Babak-babak
hilangnya Margo berjalan cukup lamban, meski tetap saja menarik untuk disimak
karena narasi Green memang sebuah candu. Terlebih lagi, Green lagi-lagi
menyisipkan unsur yang sangat disukainya: buku—seperti yang sudah dia lakukan
dalam Looking For Alaska dan
The
Fault in Our Stars. Dalam buku ini, Quentin menemukan buku
puisi—Song of Myself karya Whitman—milik Margo yang dianggapnya
menyimpan kode-kode yang ditinggalkan Margo untuknya.
… karena menurutku itulah tepatnya yang diinginkan Whitman. Agar kau tidak menganggap Song of Myself hanya sekadar puisi tetapi sebagai cara untuk memahami orang lain. … Aku memang berpendapat bahwa ada beberapa hubungan menarik antara puisi di Song of Myself dan Margo Spiegelman—semua karisma liar dan hasrat berkelana itu. tapi sebuah puisi tidak bisa menjalankan tugasnya kalau kita hanya membaca cuplikan-cuplikannya” (Quentin: 186).
Saya pikir, buku semacam ini
tidak saja cocok untuk remaja lelaki dan perempuan. Mereka juga akan berguna
untuk orang tua. Para orang tua bisa melihat anak-anak mereka di dalam buku ini
sehingga mereka akan tahu bagaimana berbicara dengan anak-anak mereka, dan
membuat putra-putri mereka akan selalu pulang ke rumah dan meminta dipeluk.
![]() |
kredit gambar |
[Buku ini dibaca sejak 5 hingga - 10 Januari 2015]
baru mampir udah suka sama tulisannya :)
ReplyDeleteTerima kasih, Fikri :)
Deletesepertinya menarik, john green.
ReplyDeletetapi yang the best masih tetep the fault in our star ya kan..
Setuju! Favorit saya, masih The Fault in Our Stars! :)
Delete