Saturday, January 31, 2015

Alter Ego Looking For Alaska

Judul buku: Paper Town
Jumlah halaman: 360 halaman paperback
Penulis: John Green
Penerjemah: Angelic Zaizai
Tahun terbit: 26 September 2014(dipublikasikan pertama kali 1 Oktober 2008)
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN13: 9786020308586
Berat sekali untuk pergi—sampai kita pergi. Dan kemudian itu menjadi tindakan termudah di  dunia (hal. 262).
Quentin Jacobson hanyalah cowok dengan kehidupan SMA biasa, teman-teman geng biasa—tapi superseru, dan orangtua terapis biasa yang mencintainya dengan cinta khas orangtua biasa. Tapi lantas Margo Roth Spigelman—teman masa kecilnya yang juga adalah tetangganya—yang luar biasa muncul secara tiba-tiba dalam kehidupannya. Margo datang kepada Quentin di suatu malam, dengan wajah dicat hitam dan sederet rencana pembalasan dendam, memilih cowok itu sebagai partner. Quentin, dengan cintanya yang sederhana dan naif, memutuskan terlibat dalam petualangan bersama Margo, yang ingin dia kenang seumur hidup. Tapi, saat pagi datang, ketika Quentin, dengan harapan khas cowok baik-baik yang sedang kasmaran, menduga-duga tentang reaksi Margo ketika mereka bertemu di sekolah, cewek itu resmi menghilang dari muka bumi. Menguap dalam udara tipis dan segala kemungkinan. Lalu Quentin, merasa bertanggungjawab untuk menemukannya. Bersama kedua sahabatnya: Ben yang solider dan Radar yang cerdik, Quentin memecahkan kode-kode kecil yang dia pikir, sengaja ditinggalkan Margo untuknya, demi menemukan dirinya.
Malam ini, Sayang, kita akan memperbaiki banyak hal yang keliru. Dan kita akan mengacaukan beberapa hal yang benar. Yang pertama akan jadi yang terakhir; yang terakhir akan jadi yang pertama; yang lembut hati akan mewarisi bumi. Tetapi sebelum kita bisa mengubah dunia secara radikal, kita harus berbelanja: (Margo kepada Quentin: 39).
Dalam beberapa aspek, Paper Town terasa seperti alter ego Looking For Alaska: mengisahkan cowok kutu buku yang kasmaran pada cewek cantik, pintar, dan tidak terduga. Meski terbitnya buku ini telah diselingi oleh An Abundance of Katherines, tampaknya John Green masih antusias untuk mengisahkan Alaska-Alaska yang lain. Cewek ekstentrik penuh misteri, yang harus dipecahkan dengan sedikit kecerdasan yang tidak biasa.
Paper Town terbagi dalam tiga babak besar, dengan tajuk yang filosofis—sangat khas Green: Senar, Rerumputan, Wadah. Membawa pembaca dalam petualangan Quentin bersama Margo, menemukan Margo, dan mengungkapkan misteri Margo. Green menyeret pembaca menualangi kota kertas, atau yang disebut pseudovisi: kota-kota yang hanya tercantum di peta tapi tidak benar-benar ada.
Seperti biasa, Green bertutur dalam narasi yang seru, menyenangkan, supercerdas, tajam, dan filosofis. Sulit untuk melepaskan buku ini sebelum mengetahui apa yang terjadi denga tokoh-tokohnya dan bagaimana mereka melakukan resolusi untuk permasalahan yang mereka hadapi. Saya akan selalu mengagumi cara Green mendesain sebuah buku remaja yang berisi dan dikisahkan dengan pertimbangan yang tidak sederhana, dalam upayanya mengemukakan unsur-yang harus-selalu-ada-dalam-dunia-anak-muda-yang-mendefinisikan-identitas: renungan-renungan, ledakan-ledakan dalam pengambilan keputusan, persahabatan, dan segalanya. Tentu akan berbeda jika bukan Green yang menuliskannya. Karakter yang unik dan kuat, dialog yang terasa nyata, dekat, familier, dan lucu. Keragaman sudut pandang yang seringkali mengejutkan. Sangat menyenangkan bisa melihat dari sudut pandang remaja lelaki. Bagaimana mereka memandang sekeliling, mengungkapkan perasaan, membenturkan logika dan cinta yang naif, melihat dalam-dalam ke dalam diri seorang gadis, dan sebagainya. Terlebih karena Green menggunakan sudut pandang pertama dengan Quentin sebagai narator.
Menurutku mungkin alasan aku merasa takut adalah karena aku berusaha menyiapkan diri, melatih tubuhku menghadapi ketakutan sebenarnya ketika hal itu datang (hal. 162).
Sayangnya, sebagai buku yang dirilis setelah Looking For Alaska, Paper Town terasa tidak seluar biasa pendahulunya itu. Karakter Margo tidak serumit dan semultidimensional Alaska. Meski sama-sama tidak terduga, Margo tidak begitu mengejutkan. Babak-babak hilangnya Margo berjalan cukup lamban, meski tetap saja menarik untuk disimak karena narasi Green memang sebuah candu. Terlebih lagi, Green lagi-lagi menyisipkan unsur yang sangat disukainya: buku—seperti yang sudah dia lakukan dalam Looking For Alaska dan The Fault in Our Stars. Dalam buku ini, Quentin menemukan buku puisi—Song of Myself karya Whitman—milik Margo yang dianggapnya menyimpan kode-kode yang ditinggalkan Margo untuknya.
… karena menurutku itulah tepatnya yang diinginkan Whitman. Agar kau tidak menganggap Song of Myself hanya sekadar puisi tetapi sebagai cara untuk memahami orang lain. … Aku memang berpendapat bahwa ada beberapa hubungan menarik antara puisi di Song of Myself dan Margo Spiegelman—semua karisma liar dan hasrat berkelana itu. tapi sebuah puisi tidak bisa menjalankan tugasnya kalau kita hanya membaca cuplikan-cuplikannya”  (Quentin: 186).
Saya pikir, buku semacam ini tidak saja cocok untuk remaja lelaki dan perempuan. Mereka juga akan berguna untuk orang tua. Para orang tua bisa melihat anak-anak mereka di dalam buku ini sehingga mereka akan tahu bagaimana berbicara dengan anak-anak mereka, dan membuat putra-putri mereka akan selalu pulang ke rumah dan meminta dipeluk.
kredit gambar
[Buku ini dibaca sejak 5 hingga - 10 Januari 2015]

4 comments:

  1. sepertinya menarik, john green.
    tapi yang the best masih tetep the fault in our star ya kan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju! Favorit saya, masih The Fault in Our Stars! :)

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...