
Jumlah halaman: 616 halaman
Penulis: Gillian Flynn
Alih bahasa: Ariyantri Eddy Tarman
Editor: Reita Ariyanti
Tahun terbit: November 2014
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN13: 9786020310725
Penghargaan sastra: Barry Award Nominee for Best Novel (2013), Anthony Award Nominee for Best Novel (2013), Romantic Times Reviewers' Choice Award (RT Award) for
Suspense/Thriller Novel (2012), Shirley Jackson Award Nominee for Best Novel (2012),
Edgar Award Nominee for Best Novel (2013) Goodreads Choice for Best Mystery & Thriller (2012),
Women's Prize for Fiction Nominee for Longlist (2013),
Grand Prix des lectrices de Elle for roman policier
(2013)
Di pagi ulang tahun
pernikahannya yang kelima, Nick Dunne terbangun lalu pergi ke dapur dan
mengawasi istrinya, Amy Eliott Dunne, dari jauh, membuat crepe dengan
antusias. Lalu Nick, tanpa prasangka apa pun, berangkat kerja—ke sebuah bar
yang dia beli dan kelola bersama Margo, saudara kembar perempuannya, dengan
dana perwalian Amy. Dan ketika dia kembali ke rumah, Amy tidak terlihat
atau
berada di mana pun. Sementara itu, rumah mereka menyisakan hal-hal, yang
biasanya, tidak akan ditinggalkan Amy dalam keadaan sekacau itu. Serakan kaca
pecah di lantai, meja kopi yang hancur berantakan, buku-buku yang tersebar di
lantai, meja terguling, kursi antik yang berat terbalik, lalu gunting yang
sangat tajam—dan belakangan, dalam investigasi yang lebih teliti, ditemukan
noda darah yang berusaha disamarkan di lantai dapur. Saat itulah Nick
menyadari, Amy hilang! Istri New York-nya yang sempurna: cerdas dan
cantik dan kaya. Lalu Nick, seperti yang biasa ditemukan dalam film-film
kriminal, menjadi satu-satunya yang paling logis untuk terlibat dalam hilangnya
Amy, istrinya sendiri. Nick harus menemukan cara untuk menolong dirinya
sendiri, sebelum menemukan istrinya.
Gone Girl mengisahkan
tentang kehidupan pernikahan Nick Dunne dan Amy Eliott yang sulit dan pasang
surut karena berbagai alasan. Padahal dulu, mereka adalah pasangan sempurna
yang berbahagia. Mereka bertemu di sebuah pesta, berciuman, bertemu lagi
berbulan-bulan kemudian, lalu menikah. Tapi kemudian Nick kehilangan
pekerjaannya sebagai jurnalis di sebuah media di New York. Begitu pula Amy,
yang seorang penulis kuis psikologi di sebuah majalah, tidak berapa lama
berselang. Mereka lalu mengalami kemunduran dalam berbagai hal. Mereka pindah
dari New York ke North Carthage, Missouri—kota kelahiran Nick—yang kecil dan
tidak menjanjikan banyak kebahagiaan. Dengan Amy yang terasa tidak cocok dengan
semua hal di sana: ibu Nick, Margo, ayah Nick, tetangga-tetangga mereka. Dan di
mata Nick, Amy tampak terlalu mencintai kehidupan New York-nya.
Buku ini secara
keseluruhan terbagi atas tiga babak besar. Bagian awalnya menampilkan Nick dan
Amy yang berkisah tentang kehidupan mereka secara bergantian. Keduanya
mengisahkan kehidupan yang mereka jalani setelah bersama, dan bagaimana mereka
memandang satu sama lain. Nick mengungkapkan betapa Amy sangat rumit untuk dia
pahami, dan hal-hal apa saja tentang Amy yang mengusiknya. Lalu diselingi oleh
Amy, yang berkisah dalam jurnal harian yang dimulai sejak Januari 2005, hingga
beberapa waktu sebelum dia menghilang. Kedua sudut pandang ini sangat bertolak
belakang. Amy menggambarkan kisah cintanya dengan Nick yang dimulai dengan
manis, berjalan romantis, dan tidak peduli seberapa agresif dan dinginnya Nick,
dia akan selalu merasa bahagia dan memaklumi semua itu. Hal ini sangat jauh
berbeda dengan yang dikisahkan Nick. Betapa Amy sangat keras kepala dan
antisosial dan tidak merasa nyaman dengan kehidupan baru mereka pasca masa
menganggur keduanya. Dan puncak dari segalanya, adalah pengakuan Amy dalam
jurnal hariannya bahwa dia membutuhkan pistol untuk berjaga-jaga.
Gone Girl mengangkat
tema ketidakjujuran dalam relasi domestik, dan ketidaksempurnaan pernikahan
yang bersumber dari masalah ekonomi. Premis yang sangat riil. Namun, dikemas
dalam paduan unsur-unsur misteri, suspense, dan kriminal, yang dibumbui
dengan unsur psikologikal yang kental. Jelas buku ini lebih dari sekadar
thriller psikologi biasa. Menampilkan dua karakter berbeda yang teramat
kompleks, dalam upayanya mempertahankan kebenaran masing-masing mengenai
beragam hal. Flynn, dengan tekun dan cerdas, mengungkap Nick dan Amy lapis demi
lapis. Rahasia-rahasia mereka, kebohongan-kebohongan mereka, yang tidak saja
tertuju bagi satu sama lain, melainkan juga ditujukan kepada pembaca.
Seringkali saya merasa bimbang untuk memutuskan mempercayai Nick atau Amy.
Keduanya bisa salah di satu sisi dan benar di sisi lain. Nick berkisah dan
tampil dengan cara yang seringkali kontradiktif. Dia berkata jujur di satu
ketika dan menyembunykan sesuatu bahkan berbohong di waktu yang lain. Lalu Amy,
membaca buku hariannya, membuat pembaca dapat mengenal dirinya dengan baik
sekaligus merasa yakin akan sisi misteriusnya yang kabur dan gelap. Saya
semakin percaya, tidak ada yang lebih mengerikan dari sisi-sisi personal paling
tersembunyi dari seseorang. Flynn menyampaikan ini dengan cara terbaik yang
bisa dilakukan seorang penulis fiksi.
Lalu
babak-babak berikut dalam Gone Girl, semakin mempertajam tuduhan kepada
Nick. Seperti yang terjadi di sebagian kasus kriminal yang melibatkan suami dan
istri. Jika seorang istri hilang, maka kemungkinan besar, suaminyalah yang
membunuhnya. Ada semakin banyak kebohongan, pernyataan yang tidak bisa
dipertanggungjawabkan, dan kejutan-kejutan tidak terduga dari Nick. Pembaca
akan dibuat terus menebak, menduga, berspekulasi dengan banyak kemungkinan: benarkah
Nick terlibat dalam hilangnya Amy? Sejak awal dia memang bersikap aneh, kan?
atau berusaha bersikap wajar tapi tetap saja terasa aneh. Memangnya Amy bisa
hilang sendiri?
Ketika memikirkan istriku, aku selalu memikirkan kepalanya. Bentuk kepalanya, sebagai permulaan. Kali pertama melihatnya, aku melihat bagian belakang kepalanya, dan ada yang indah dari belakang kepalanya itu, sudut-sudutnya. Seperti biji jagung yang berkilau dan keras, atau fosil di tepian sungai. Dia memiliki kepala yang akan disebut berbentuk cantik oleh orang zaman Victoria. Kau bisa dengan cukup mudah membayangkan seperti apa bentuk tengkoraknya (hal. 11).
Sebagai
sebuah thriller, Gone Girl membangun suspense dengan
cukup lambat sejak awal. Tapi itu pastilah upaya Flynn untuk memantapkan
pengenalan pembaca akan dua tokoh sentral dalam cerita ini. Meski begitu,
pembaca tidak akan begitu menyadari bagaimana waktu merayap, selagi mereka
menyimak Nick dan Amy, karena kekhasan bertutur Gillian Flynn yang istimewa:
intens, orisinil, dengan begitu banyak detil yang unik, metafora dan alusi
dalam dimensi yang lebar. Menciptakan lebih banyak ruang imajinatif. Sangat
adiktif dan memikat. Flynn sangat pandai bercerita dalam kalimat-kalimat pendek
yang dinamis, meletup-letup, komikal, dan sangat visual.
Aku gemuk oleh cinta. Berdegap-degap oleh semangat! Menjadi tambun oleh pengabdian! Antusiasme pernikahan seperti lebah yang senang dan sibuk. Aku berdengung riang di sekitarnya, rewel dan menyiapkan makanan. Aku menjadi makhluk yang aneh. Aku menjadi seorang istri. Aku menyadari diriku mengarahkan kapal percakapan—begitu sering, tidak alamiah—hanya agar aku bisa menyebut namanya keras-keras. Aku menjadi seorang istri, aku menjadi orang yang menjemukan, aku diminta untuk mengembalikan kartu Feminis Muda Mandiri-ku (dari Buku Harian Amy Elliott Dune: 63).
Gone Girl tidak
saja akan mencuri hati penggemar fiksi thriller, kriminal dan psikologi, tetapi
juga penggemar domestic romance yang ingin memperkaya subgenre bacaan
mereka. Sebuah buku wajib baca!
![]() |
Kredit gambar |
[Buku dibaca sejak 10 - 19 Januari 2015]
waktu itu ragu mau beli Gone Girl, takut ada adegan2 erotisnya haha. jadi ga beli deh. sebenarnya di dalamnya ada banyak adegan erotis ga mbak? atau masih masuk kategori sedang gitu, gak yang gimana2 banget. infonya please :D soalnya saya tertarik memang dengan tema psikologi dan thrillernya.
ReplyDeleteKarena ini domestic romance juga, adegan dewasanya tetap ada--oke, saya agak spoiler deh, jadinya. Tapi tidak vulgar, kategori sedang, dideskripsikan singkat, dan dituliskan dengan literer. Sehingga bacanya tidak bikin 'nahan napas' ^_^ Bukunya bagus banget, Mbak. Meski fiksi kriminal dengan bumbu misteri dan suspens, tapi unsur psikologinya lebih kental. Gillian Flynn lebih banyak bermain di pergolakan karakter dan permainan emosi. Dan di sepanjang itu, meski pace-nya agak lambat di awal, yang membetahkan saya untuk membalik terus halamannya adalah gaya pengisahan penulisnya. Keren!
DeleteLagi booming nih buku, nyari pinjeman ah #eh
ReplyDelete^_^ ayo dicari, Mbak. A worth read, kalau buat saya yang Penggila Gaya Bertutur
DeleteMakin penasaran! >.<
ReplyDeleteKapan ya buku ini didiskon besar lagi, ya? *ngarep pakai dewa*
Kalau saya, biasanya pantengin Scoop terus, Mas. Harga bukunya fluktuatif. Jadi seringnya, tiba-tiba ketemu buku yang mumer luar biasa ^_^
DeleteHahah, iya bener. Pas njoba belanja di Scoop kemarin nemu buku yang murmer banget, nyaris diskon 50%! :)))
DeleteBtw, besok jam 11:11 review Replay saya akan tayang, seandainya sobat Kim masih ingin membatjanya :3
OMG! bikin penasaraaaan
ReplyDeleteAyo diobati penasarannya, Mbak! ^_^
Delete