Saturday, November 01, 2014

September – October Reads #2

Kredit gambar

Saya cukup menyesalkan gagalnya rencana-rencana baca saya yang fantastis. Saya selalu berpikir bisa membaca 50 - 100 halaman per hari. Memang benar. Saya bisa melakukan itu. Tetapi saya tidak bisa menjaga kontinuitas habbit itu. Dan karena saya dikendalai oleh hal-hal yang juga sangat saya sukai, saya tidak bisa menyalahkan hal-hal itu. Saya rasa, saya butuh membaca buku-buku non-fiksi tentang manajemen waktu.
         Jika di artikel September & October New Author Reads saya menuliskan buku-buku bacaan September & Oktober karya pengarang yang karyanya baru saya baca, maka tulisan ini berisi buku-buku bacaan September & Oktober saya lainnya, yang tidak termasuk dalam kategori sebelumnya. September adalah waktu yang saya pilih untuk mengenal buku-buku Mitch Albom, seorang penulis buku fiksi inspirasional best-selling. Saya sudah mengincar karya-karyanya sejak tahun-tahun sebelumnya. Albom dikenal dengan mata ajaib-nya. Buku-bukunya magis dan spiritualistik (meski tidak secara eksplisit menyebut tentang Tuhan dan sebagainya).

Setelah mencoba For One More Day dan langsung menggemari Mitch Albom, saya lantas membaca The Five People You Meet in Heaven karyanya yang lain. Meski sangat berbeda, kedua buku ini memiliki kesamaan tema, yakni keluarga dan cinta kasih. The Five People You Meet in Heaven—yang dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Meniti Bianglala—adalah dongeng yang sangat menyenangkan bagi saya. Bercerita tentang seorang teknisi mekanik sebuah taman bermain bernama Eddie, kisah ini juga masih belum beranjak dari tema drama keluarga dan cinta kasih. Betapa hubungan Eddie dan ayahnya telah membentuk dirinya menjadi seseorang yang kaku dan dingin. Eddie adalah representasi dari individu kebanyakan: yakin bahwa dirinya bisa menjadi sesuatu yang hebat, tetapi lantas dia hanya dapat melakukan hal yang dianggapnya kecil. Uniknya, cerita ini bermula beberapa saat sebelum Eddie meninggal karena sebuah kecelakaan di taman bermain tempatnya bekerja. Roh Eddie terbawa ke lima tempat di mana dia bertemu orang-orang yang kehidupannya terhubung dengan dirinya semasa mereka masih hidup. Lima orang inilah yang kemudian menjawab pertanyaan-pertanyaan Eddie. Terlepas dari konteks surga dan alam baka yang tentu akan dipandang dengan lebih personal jika dikaitkan dengan kepercayaan tertentu, The Five People You Meet in Heaven adalah kisah yang sangat mencerahkan dan penuh kebijaksanaan. Buku ini pun segera menjadi buku Albom favorit saya seperti yang sebelumnya.
Karena mulai terbius fanatisme singkat itu, saya lantas membaca The Time Keeper, karya Mitch Albom—yang terakhir kali diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, setelah diselingi The Giver karya Lois Lowry. The Time Keeper cukup jauh berbeda dengan dua buku Albom yang saya baca sebelumnya. Buku ini adalah sebuah fabel dengan pesan yang juga sangat dalam. Buku ini saya baca di bulan Oktober. The Time Keeper adalah sebuah fabel tentang waktu. Berkisah tentang seorang penjaga waktu bernama Dor, yang konon, adalah penemu alat pengukur waktu pertama di bumi. Dalam satu masa di hidupnya, Dor mengalami kehilangan terberat yang membuatnya ingin memutar balik waktu. Ia lantas dijadikan seorang Penjaga Waktu. Setelah ribuan tahun menghabiskan hidupnya dalam gua, mendengar keluh kesah orang-orang di dunia tentang sedikitnya waktu atau betapa lambatnya waktu berputar, Dor pun kembali ke dunia manusia untuk menjalankan misi terakhirnya. Meski buku ini bukan buku Albom yang paling saya sukai, The Time Keeper membawa saya ke dalam pengalaman baca yang menyenangkan. Saya harus tersentak di beberapa bagian, karena tiba-tiba saya merasa seperti bercermin.
Lalu ada If I Stay, buku pertama dari sebuah dwilogi young adult karya Gayle Forman. Lucunya, saya sudah lebih dulu membaca sekuelnya: Where She Went. Buku tersebut ditulis dari sudut pandang Adam, kekasih Mia setelah Mia menghilang dari hidupnya. Dan seperti yang saya prediksi, membaca buku prekuelnya belakangan, tidak akan membuat saya kehilangan arah cerita. If I Stay ditulis dari sudut pandang Mia. Seorang pemain cello berbakat yang mengalami kecelakaan. Kedua orang tua dan adiknya satu-satunya tewas dalam kecelakaan itu. Mia sendiri mengalami koma dan mati suri. Mia lantas melihat bagaimana orang-orang yang selama ini mencintainya dan dicintainya menjalani hidup, lalu dia pun harus memilih satu dari dua hal yang paling mutlak: haruskah dia pergi? Ataukah sebaiknya dia tinggal? Meski ditulis dengan apik, sejujurnya, saya lebih menyukai buku sekuelnya. Tapi tetap saja, kau harus memperhitungkan kepiawaian seorang Gayle Forman.
Terakhir, hanya beberapa jenak sebelum Oktober berlalu, saya menamatkan Looking For Alaska. Ini buku kedua John Green yang saya baca. Rasanya, saya membutuhkan lebih dari seluruh pujian untuk melukiskan kekaguman saya pada cara John Green dalam berkisah. Tidak banyak penulis buku yang ingin bersusah payah menciptakan lebih dari sekadar kisah untuk para remaja yang kita kenal sebagai golongan makhluk paling hilang arah di dunia itu. Dan John Green menempuh resiko untuk menjadi satu dari sedikit penulis yang semacam itu. Jadi tentu saja, saya akan membaca Paper Town dan An Abundance of Katherines setelah ini.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...