Tuesday, November 11, 2014

Dunia Retak Seorang Anak Lelaki, Cinta Seorang Ibu, & Sebuah Kesempatan Kedua

Judul buku: For One More Day
Penulis: Mitch Albom
Jumlah halaman: 248 halaman
Penerjemah: Olivia Gerungan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2012 (cet. III; terbit pertama kali tahun 2004; diterbitkan di Indonesia pertama kali tahun 2007)
ISBN: 978-979-22-9022-6
Ini kisah sebuah keluarga dan, karena ada keterlibatan sesosok hantu, kau bisa menyebutnya cerita hantu. Tapi semua keluarga adalah sebuah cerita hantu. Mereka yang telah meninggal, tinggal duduk di meja kita lama setelah mereka pergi.
Dengan monolog itulah Mitch Albom membuka ceritanya tentang bagaimana akhirnya dia menemukan For One More Day. Kisah ini adalah kisah hidup seorang lelaki bernama Charley Benetto
yang ditemukannya secara tidak sengaja. Meski demikian, kisah ini sama sekali tidak tampak seperti memoar. Mitch telah menjalinnya dengan gaya fiksional yang menawan dan sangat emosional. Bagaimanapun juga, setiap cerita keluarga adalah sebuah cerita yang akan selalu emosional.
Semua ini bermula dari kematian ibunya. Charley merasakan dirinya hancur secara perlahan. Dia bergantung pada minuman keras dan lambat laun kehilangan keluarganya. Bisbol yang begitu dicintainya tidak mampu menyelamatkannya dari kehancuran itu. Dia beberapa kali dipecat, karena ketahuan mabuk-mabukan. Usia memakan ketangkasannya—hal yang di usia mudanya adalah kebanggaan tertingginya—di lapangan. Investasinya hancur. Pernikahannya pun sama. Bahkan puterinya tidak menginginkan kehadiran dirinya di hari pernikahannya.
Di masa kanak-kanaknya, Charlie adalah Anak Ayah. Dia mematuhinya, membiarkannya mendesain dirinya, mati-matian berusaha mendapatkan cintanya. Tapi apa yang dia dapatkan? Tidak ada. Tidak ada cinta untuknya. Tetapi ibunya punya. Seperti yang dimiliki setiap ibu. Tapi dulu Charley mengabaikannya. Ibunya yang cantik, ceria, selalu tahu caranya bersenang-senang, selalu mengiriminya surat, dan tidak diragukan lagi, selalu membelanya di saat-saat yang paling dia butuhkan—meski dia selalu tampak tidak memerlukannya, akhirnya tiada. Lalu mendadak dunia Charley kiamat. Di hari pernikahan putrinya, Charley menyusun rencana bunuh diri. Sialnya, dia tidak mati. Dia lalu pulang ke rumah lamanya, rumah masa kanak-kanaknya dan menemukan ibunya, masih sama seperti saat terakhir kali dia meninggalkannya di pesta ulang tahunnya yang ketujuh puluh sembilan.
Dia membentakku. Dia menghukumku. Tapi dia menyayangiku. Dia sungguh menyayangiku. Dia menyayangiku waktu aku jatuh dari ayunan. Dia menyayangiku waktu aku menginjak-injak bunganya dengan sepatu berlumpur. Dia menyayangiku bahkan waktu aku muntah dan ingusan dan dengan lutut berdarah. Dia menyayangiku saat datang dan pergi, pada saat-saat terburuk dan terbaik. Dia memiliki sumur rasa sayang yang tak berdasar buatku (hal. 44).
For One More Day adalah kisah epik karya Mitch Albom tentang dunia retak seorang anak lelaki, cinta seorang ibu yang sejati, dan kesempatan kedua yang ajaib. Dituliskan dengan alur flashback, For One More Day membentangkan kehidupan Chick Kecil, Chick Dewasa Dengan Ibu, dan Chick Dewasa Tanpa Ibu. Dan bab-bab kisah itu diselingi dengan bab pendek berjudul “Saat-Saat Ketika Aku Tidak Membela Ibu” dan atau “Saat-Saat Ketika Ibu Membelaku”, yang ditulis dengan sederhana dan apa adanya, namun sangat menyentuh.
Bab demi bab menerakan metamorfosa Chick. Betapa momen demi momen dalam kehidupannya mengubahnya secara perlahan dan membentuk dirinya sebagai pribadi yang bingung dan goyah di hari tuanya. Pengabaian oleh ayahnya, perceraian kedua orangtuanya, pengasingan sosial ibunya oleh teman-teman ibunya karena status jandanya, dan pandangan orang-orang di sekitarnya tentang keluarganya. For One More Day juga memuat beberapa kutipan dokumen-dokumen pribadi milik Chick Benetto, seperti pesan dari putrinya, surat-surat kecil ibunya yang ditulis untuk Chick Kecil, hingga kutipan puisi milik Charles Hanson Towne.
Kisah-kisah keluarga semacam ini rasanya adalah kisah semua orang. Sehingga tidak sulit bagi kita untuk sesekali, bahkan seringkali, menemukan diri kita di dalamnya. Diri kita sebagai anak, sebagai calon orang tua, sebagai ibu, sebagai ayah. Selama membaca buku ini, saya hampir mampu menjangkau titik-titik renungan tertinggi untuk mengembalikan saya kepada kemurnian jiwa kanak-kanak yang pernah saya miliki. Jiwa yang hanya berpikir tentang membagi kasih sayang terbesar kepada setiap orang, jiwa yang tidak memiliki ruang untuk rasa benci barang satu inchi pun. 
For One More Day adalah buku yang harus dibaca semua orang, terlebih jika mereka adalah orang-orang yang merasa telah hidup begitu lama dengan harapan dapat memperbaiki hal-hal yang sudah lama berlalu dari kehidupan mereka, dengan harapan tidak terukur tentang kesempatan kedua yang tidak selalu datang kepada setiap orang. 

kredit gambar

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...