Wednesday, April 02, 2014

Acara Televisi “Adu Manusia” di Arena Alam Liar

Judul buku: The Hunger Games
Jumlah halaman: 406 halaman
Penulis: Suzanne Collins
Penerjemah & Editor : Hetih Rusli
Tahun terbit: Oktober 2009 (Dipublikasikan pertama kali tahun 2008)
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Hari Pemilihan tiba! Semua remaja merasakan keresahan yang sama. Terlebih jika usia mereka baru menginjak 12. Mereka akan dilanda gugup dan kecemasan luar biasa. Itu akan menjadi Hari Pemilihan mereka yang pertama. Katniss Everdeen, mengenakan gaun biru milik ibunya. Yang terindah yang dimiliki keluarga miskin seperti mereka. Katniss tampil cantik untuk Hari Pemilihan siang itu. Rambutnya dikepang dan itu membuatnya jauh berbeda dari Katniss yang mahir memanah rusa di hutan bersama Gale. Ia enam belas tahun sekarang. Jumlah namanya dalam toples undian empat kali lipat lebih banyak. Hari itu Primrose, adiknya, akan mengikuti pemilihan untuk pertama kalinya. Ia juga tampil cantik dan sangat gugup. Padahal tahun ini, namanya di dalam toples undian hanya 1. Sedang Katniss, memiliki 20 nama di dalam toples mengerikan itu. Mengejutkan saat mengetahui bahwa Primlah sang Terpilih. Dialah yang akan berdiri di panggung sebagai perwakilan Distrik 12 dari Negara Panem.
Katniss maju ke tengah barisan, membuat keributan kecil, menawarkan diri menjadi sukarelawan yang akan menggantikan adiknya. Ia naik ke panggung dengan ekspresi berani yang dibuat-buat (siapa yang berani menjadi calon terbunuh? Terlebih jika kau tahu, kau akan meninggalkan dua orang keluarga yang selama ini menggantungkan hidupnya kepadamu). Permintaan sukarelanya dikabulkan. Beberapa saat kemudian , Peeta Mellark, cowok yang pernah menolong Katniss dan memberikan roti gosong saat gadis itu begitu kelaparan, juga naik panggung. Peeta berdiri di sisi Katniss, menjadi pasangannya untuk berangkat ke Capitol, menjadi peserta Hunger Games ke-74.
 Seperti namanya, Hunger Games adalah permainan menahan lapar. Sebuah acara televisi yang disaksikan di seantero Panem, dan menjadi ajang pertaruhan oleh warga Capitol yang kaya raya. Keduabelas peserta Hunger Games akan dilempar ke sebuah arena dengan banyak tantangan dan perbekalan—makanan dan senjata—seadanya. Di tahun ketujuh puluh empat perhelatannya, medan Hunger Games adalah hutan belantara. Apa saja bisa ada di dalamnya. Pepohonan tinggi yang bisa digunakan untuk tidur, danau yang bisa begitu dingin dan juga membara, lebah bersengat mematikan, buah yang kaupikir kau mengenalnya dengan baik namun nyatanya itu beracun, dan kucing hutan buas yang haus darah. Tapi biar bagaimanapun, hutan adalah medan yang sangat dikuasai Katniss. Jika tidak pandai berburu, atau berkelahi dengan peserta yang lebih kuat untuk mengambil bahan makanan, seorang peserta bisa saja tewas. Bisa karena kelaparan, tapi lebih mudah dengan terbunuh dalam perkelahian. Pilihan bertahan hidupnya tidak banyak. Kau bisa menahan lapar lalu mencari makanan sendiri, atau merebut makanan milik peserta lain dengan membunuhnya. Hunger Games ini adalah cara Capitol—pusat kekuasaan Panem—untuk menghukum keduabelas distrik di Panem atas pemberontakan mereka di masa lalu. Dan sebagai peringatan, agar mereka selalu mengingatnya dengan baik bahwa, pemberontakan hanya akan membawa mereka berakhir pada hukuman yang kejam itu: diadu di arena Hunger Games.
The Hunger Games adalah buku pertama dari Trilogi The Hunger Games. Mengabaikan dua buku lainnya—Catching Fire dan Mockingjay, yang juga bestselling mengikuti nasib pendahulunya—The Hunger Games memiliki ide yang tidak sekadar liar. Melainkan juga buas. Bergenre teenlit yang segmentasi pembacanya jelas remaja muda, buku ini sebenarnya tidak layak dibaca para remaja muda. Pembunuhan seolah merupakan peristiwa lumrah. Dipikirkan, direncanakan, dan diucapkan dengan mudah oleh para peserta Hunger Games. Meski disisipi dengan percik romansa khas remaja, pesan moral tentang keberanian dan perjuangan hidup, aturan main Hunger Games—membunuh atau dibunuh karena hanya akan ada satu pemenang di akhir permainan—adalah hal yang ganjil jika harus disandingkan dengan elemen moralitas itu. Dua belas anak muda berbakat—dalam hal penggunaan senjata dan mempertahankan diri—dilatih untuk bertarung dan membunuh. Semua itu demi memuaskan warga Capitol berkostum aneh yang akan bersorak-sorai di depan layar televisi, bertaruh besar-besaran untuk jagoan mereka yang berjuang memberikan tontonan terbaik. Sejarah perhelatan Hunger Games, bahkan setelah kisah ini berakhir, tidak cukup rasional untuk diterima. Terlepas dari genrenya—fiksi fantasi. Permainan adu manusia, dalam pikiran siapa pun—kecuali seorang psikopat, tetaplah sangat tidak manusiawi.
Di lain sisi, Suzanne Collins memiliki kemampuan bercerita yang akan membawa pembaca sulit untuk menolak saat digiring memasuki cerita dan menuju akhir permainan. Menunggu setiap kejadian tak terduga di dalam arena dan bagaimana Katniss—sang Heroin—menghadapinya. Dengan ritme bercerita yang cepat—khas kisah fantasi—dan gaya bercerita yang ringan, Hunger Games akan menggoda rasa ingin tahu siapa saja yang sudah memulai kisah ini.
Tapi pada akhirnya, saya masih berpikir untuk membaca sekuel-sekuelnya atau tidak. Dan saya memastikan, akan menjauhkan buku ini dari remaja mana pun yang mendekati rak buku saya. Sulit untuk merekomendasikannya kepada seseorang.
Kredit gambar di sini

2 comments:

  1. Aku penasaran sama filmnya. Udah ada 3 season. OST.nya juga bagus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya baru nonton Hunger Games-nya. Lebih dulu nonton filmnya baru baca bukunya :) Belum pernah merhatiin original soundtracknya. Apa aja judulnya, Ping?

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...