Thursday, April 17, 2014

Sihir Dongeng dari Abad Modern


Judul buku: Lips Touch Three Times
Jumlah halaman: 385 halaman

Penulis: Laini Taylor
Penerjemah: Melody Violine
Editor : Olga Dories
Tahun terbit: Februari 2012 (Dipublikasikan pertama kali tahun 2009)
Penerbit: Heart (Ufuk Publishing House)

Lips Touch Three Times merupakan omnibook berisi 3 buah novela. Ketiganya mengisahkan tentang tiga ciuman penentu tiga kisah cinta berbeda: Kutukan Kecil, Buah Goblin, dan Menetas. Kutukan Kecil berkisah tentang ciuman yang menghidupan kutukan dari dasar neraka. Seorang gadis cantik bernama Anamique yang suaranya dapat membunuh makhluk hidup yang mendengarnya. Maka Anamique tak pernah mengeluarkan suara sejak bayi. Hingga suatu ketika, ia jatuh cinta pada seorang pemuda menciumnya dan menginginkan jawaban "ya" dari Anamique sambil memperdengarkan suaranya. Anamique lalu mempercayai perkataan James, bahwa tak ada kutukan di dunia ini. Maka Anamique pun bernyanyi.
Suaranya adalah yang terindah yang pernah didengar manusia maupun iblis neraka, Vasudev. Tapi James salah besar. Vasudev benar ada, pun kutukannya. Anamique melihat kekasihnya dan keluarganya juga semua undangan dalam pestanya roboh ke tanah. Dan dengan segera, jiwa-jiwa mereka terbang ke neraka.
Buah Goblin, berkisah tentang seorang gadis tidak menarik bernama Kizzy. Kizzy adalah gambaran kebanyakan remaja di masa modern. Tidak menarik namun mendambakan pemuda tampan untuk menjadi kekasihnya. Gadis seperti Kizzy selalu menarik perhatian para Goblin. Jika gadis-gadis itu tergoda untuk memakan Buah Goblin, maka mereka hanya menunggu waktunya untuk menyusut, lalu mati. Suatu hari, seorang pemuda tampan masuk ke sekolah Kizzy. Anehnya, ia hanya tertarik pada Kizzy. Ciumannya yang manis membuat Kizzy tidak bisa mengendalikan dirinya. Bahkan jika ia harus memakan Buah Goblin. Kizzy tak menolak buah itu. Ia melanggar pesan neneknya dan mengabaikan kenyataan bahwa ia sedang jatuh cinta pada Goblin yang menyamar. 
Lalu Menetas, adalah novela yang lebih panjang dari 2 novela lainnya. Menetas menceritakan kisah cinta seorang Naxturu bernama Mihai--bangsa Serigala beradab--dengan sang Ratu Iblis Druj. Baik Naxturu maupun Druj adalah jiwa-jiwa yang hidup abadi. Tak pernah menua dan mati. Sekilas, kisah ini akan mengingkatkan pembaca pada Serial laris Twilight. Namun, keduanya jelas adalah cerita yang sangat berbeda. Terutama bahwa jiwa-jiwa abadi ciptaan Laini Taylor justru merasakan kebosanan yang membunuh karena harus menjalani hidup yang selama-lamanya. Mihai yang tidak menerima ketetapan keabadiannya, mengerahkan segenap kemampuannya untuk menemukan cara agar ia bisa merasakan sifat-sifat manusiawi yang menurutnya indah. Manusia merasakan cinta, hingga dengannya mereka memiliki keturunan. Para perempuan memiliki kehidupan yang luar biasa di dalam dirinya. Dan sepasang kekasih bisa hidup dengan menyenangkan dan berbagi cinta. Lalu Mihai, dengan kemampuan alami para Druj yang bisa merasuki manusia, menemukan cara untuk terlahir sebagai manusia. Mihai memilih sebuah tubuh yang bisa melahirkannya, tepatnya menetaskannya sebagai jiwa yang mortal. Dengan itu Mihai pernah merasakan hidup. Ia menikah dengan Ratu Druj dan memiliki anak kembar. Tapi setelah mereka  mati, mereka kembali menjadi Druj yang imortal. Mihai yang putus asa, mencoba menemukan tubuh yang bisa mengandung sang Ratu agar dapat kembali menetas. Dan terpilihlah seorang gadis manusia bernama Esme. Gadis yang cantik dan berambut semerah darah yang amat panjang. Tapi menetaskan iblis adalah sebuah derita tak tertahankan. Dan tak seorang pun ingin menanggung mimpi-mimpi buruk dan merasakan kesakitan tak tertanggungkan dalam hidupnya.
Lips Touch Three Times bercerita dengan magis sehingga menjelma sebuah dongeng yang memesona orang dewasa. Laini Taylor tak ubahnya seorang penyihir. Yang setiap diksinya menciptakan pusaran besar dan kuat untuk menarik pembacanya masuk ke dalam dan bertualang bersama tokoh-tokoh ciptaannya. Saya tidak pernah menyangka jika orang dewasa di abad modern ini—yang dijejali dengan cerita-cerita popular bernuansa urban—masih dapat menikmati dongeng yang dituliskan untuk mereka. Ketiga novela ini tidak diceritakan dengan semangat membual semata. Sebenarnya, ketiganya memiliki misi-nya masing-masing. Dan begitulah dongeng diciptakan. Awalnya, untuk mendidik anak-anak. Menyisipkan nasehat untuk anak-anak nakal. Tapi buku ini bukan dongeng untuk anak-anak, melainkan remaja dan orang dewasa muda. Kutukan Kecil merupakan semacam peringatan bahwa hal-hal yang tak terlihat dan tak terdengar bukan berarti tak pernaha da. Kisah ini seolah ingin menegaskan keniscayaan perkara-perkara gaib. Lalu Buah Goblin adalah sebuah peringatan kepada para gadis remaja yang tidak pernah merasa puas akan dirinya dan berangan-angan terlalu tinggi. Sedang Menetas adalah sebuah nasihat tentang waktu. Bahwa kehidupan yang singkat bukanlah tembok untuk meratapi usia yang tak kekal. Karena tiada yang lebih indah dari kehidupan manusiawi yang diciptakan dengan segala hal yang akan membuat yang tak pernah hidup merasa iri.

Kredit gambar di sini

2 comments:

  1. aku juga jadi penasaran nih sama karya2nya yang lain. eh iya kimnbener sepertinya ada ketidakpasan dalam penerjemahannya. kerasa banget pas bagian menetas, agak gimanaa gitu ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Atau memang sudah "rasa bahasa"-nya Laini taylor yang memang unik. Tapi secara keseluruhan, penerjemahannya sudah cukup baik. Seperti Mbak Sarah, saya juga penasaran dengan bukunya yang lain yang sudah diterjemahkan di Indonesia. Saya ingin mencoba baca karyanya yang diterjemahkan Gramedia, dan membandingkan langsung penerjemahannya ^_^

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...