Sunday, January 12, 2014

Sebuah Roman Biografis yang Menelanjangi Sejarah

Judul buku: Cerita Cinta Enrico
Jumlah halaman: 244 halaman
Penulis: Ayu Utami
Tahun terbit: 2012
Penerbit: Kelompok Penerbit  Gramedia (KPG)
Award: Nominee Shortlist Khatulistiwa Literary Award 2012

Rico. Enrico. Dari Enrico Caruso, penyanyi Italia favorit Muhammad Irsyad, ayahnya. Kelahirannya disambut perang saudara di negerinya yang menginginkan revolusi.  Negeri yang kemerdekaannya baru seusia gadis ABG. Rico pun menjadi bayi gerilya. Yang masuk hutan karena cinta ibunya yang teramat besar kepada ayahnya, sang gerilyawan berkaki kecil. Setelah revolusi berakhir dengan kekalahan ayahnya, Enrico tumbuh menjadi anak yang sangat mengagumi ibunya. Perempuan berdarah Jawa yang cantik, menguasai Bahasa Belanda dan Inggris, serta memiliki kemahiran-kemahiran yang tidak dimiliki perempuan-perempuan yang pernah ditemui Enrico. Lebih dari itu, ibunya memiliki gaya yang berbeda. Tidak seperti ibu teman-temannya yang memakai sanggul, kebaya, dan kain sarung.
Ibu Enrico menguraikan rambut panjangnya, selalu bepergian dengan kemeja berenda, rok bunga-bunga selutut berbentuk payung, dan sepatu pantofel mengkilap yang ia semir saban hari. Rico mulai berubah seiring usianya. Ia pun menjadi anak kolong yang gemar menerima tantangan demi menjadi bagian dari anak-anak tentara di kompleks tempat tinggal mereka. Ia telah menjadi anak laki-laki yang ingin membuktikan kemampuan dirinya. Ibunya yang begitu modern dan mengenalkannya pada benda-benda secanggih akordeon dan kamera foto, ikut berubah seiring waktu. ibunya menjadi pengikut Saksi Yehuwa. Sebuah sekte yang mempercayai kehidupan baru setelah hari kiamat. Pada saat itu pula, ibunya tidak lagi menyukai kegemerlapan duniawi. Perlahan, Enrico kehilangan ibunya. Ia pun menjadi semakin dekat dengan ayahnya. Lelaki berkaki kecil yang memberinya sebuah tiket menuju kebebasannya. Setelah menamatkan SMA, Enrico berkuliah di Bandung. Menjadi bagian dari kekejaman rezim Orde Baru yang otoriter. Nyala pemberontakan dalam diri Enrico padam seketika militer membungkam civitas kampusnya. Enrico tenggelam dalam arus pencarian kebahagiaan dan tujuan hidupnya. Ia mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler kemahasiswaan, mengencani gadis menarik mana pun yang ia inginkan. Hingga ulang tahunnya yang keempat puluh dua menyentaknya. Enrico merindukan seorang kekasih. Yang bisa membuatnya membuka segala rahasia-rahasianya tanpa rasa takut.
Benar adanya, Cerita Cinta Enrico adalah sebuah roman sastra. Namun potongan sejarah yang melatari kisah hidupnya menjadikan buku ini kaya akan informasi dan renungan-renungan. Lebih dari itu, Cerita Cinta Enrico adalah sebuah novel biografis Enrico, suami Ayu Utami. Menapak tilas situasi politik Indonesia pasca kemerdekaan dari sudut pandang seorang anak yang lahir di era yang sama, membawa pembaca kepada sisi lain peristiwa kemerdekaan yang sakral bagi sebagian kalangan. Entah bagaimana sejarah dituliskan dalam buku ajar mata pelajaran Sejarah di sekolah pada hari ini. Cerita Cinta Enrico jelas dituliskan setelah riset jurnalistik yang teliti dan cerdas. Membuka aib sejarah akan melukai banyak pihak. Terutama keluarga tokoh tertentu yang masih bergelut di bidang politik saat ini. Beberapa peristiwa samar-samar dalam ingatan saya. Saya pernah mendengarnya di masa kejayaan presiden kedua Republik Indonesia. Kepahlawanan sang Presiden adalah hal yang pernah sangat saya kagumi, di masa kecil saya. Bukan semata-mata karena terlahir dari ayah yang seorang militer. Namun, lebih karena wibawa sang Presiden yang mampu menjalankan kekuasaan secara sentralistik. Ada pula kilasan Pembebasan Irian Barat. Saya mendengarnya sedikit dari ayah saya, yang pernah menjadi bagian kecil dalam pertempuran melawan Portugis di Irian Jaya. Kita juga akan dikejutkan dengan sekte-sekte yang bergerak bawah tanah di rezim otoriter kala itu.
Ayu Utami menyelipkan cita rasa feminis melalui tokoh ibu Enrico dan mahasiswi penentang tiranik di era Soeharto. Ibu Enrico yang digambarkan sebagai ibu rumah tangga yang kontras dengan perempuan Indonesia kebanyakan yang bodoh—karena tidak sekolah dan berpikiran kolot—adalah bentuk pemberontakan Ayu Utami dengan citra perempuan yang menjadi ibu rumah tangga dan tidak lagi memperhatikan kecantikan dirinya, dan pendidikan pertama yang sangat dibutuhkan anak-anak mereka. Lalu tokoh mahasiswi ITB yang berbaring di depan panser militer, melindungi para mahasiswa yang akan tergilas lebih dulu jika mereka tidak berada di sana, adalah cara Ayu Utami menunjukkan kekuatan dan keberanian seorang perempuan.
”Kami, para lelaki, sering melakukan sesuatu demi kegagahan. Tapi kaum perempuan berbuat demi kehidupan. Lelaki sering berbuat untuk egonya sendiri, sedang perempuan berbuat untuk orang lain.” (135) 
 Dengan tegas dan berani, Ayu Utami menelanjangi setiap ketidakberesan yang terjadi dari masa ke masa orde pemerintah. Dan tentunya, dengan penuturan bercita rasa sastra yang lugas, apa adanya, sekaligus menggelitik nurani.
Kredit gambar di sini

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...