Saturday, January 11, 2014

Sisi Lain CINTA

Judul buku: Before Us
Jumlah halaman: vi+298 halaman
Penulis: Robin Wijaya
Editor: Della
Tahun terbit: 2012
Penerbit: GagasMedia
Kadang cinta berkata: logika adalah salah, dan ia hanya membela rasa (hal. 81). 
 Kembalinya Gema Radith Satya ke Indonesia mau tidak mau membuat Agil Aditama gelisah. Seharusnya ia bisa berbahagia bersama Ranti, gadis yang sangat mencintai dan dicintainya. Tetapi, Radith bukanlah sosok yang bisa ia abaikan begitu saja. Lebih dari itu, Radith, sama pentingnya dengan Ranti, bagi dirinya.
Lebih dari tiga detik, meski tak ada kata-kata yang meluncur dari mulut kami, mata bisa mengisyaratkan sesuatu yang lebih jujur. Aku tahu, kenangan tak bisa luntur meski waktu berlalu tanpa toleransi, meski kenangan-kenangan baru mengambil ruang lebih banyak dan mendesak memori lama berada di tepi pikiran agar tidak mudah terjamah.
Semuanya tak pernah mudah (hal. 55).
Before Us mengangkat tema yang berani. Bukan saja karena isu homoseksual yang menjadi konflik utamanya. Melainkan juga kemungkinan bahwa buku ini tidak akan disambut ramah oleh pembaca roman tanah air.
Before Us mengisahkan tokoh Agil Aditama yang telah melupakan masa lalu kelamnya bersama sahabat sekaligus kekasih keduanya, Gema Radith Satya. Untuk mengukuhkan sikap movin’ on and up-nya itu, dia pun bertunangan dengan kekasihnya sejak SMA, Ranti. Keduanya saling mencintai. Keduanya berbahagia. Hingga tiba saat ketika Radith kembali dari Korea Selatan. Kembali ke dalam kehidupan Agil.
Lelaki itu belum melupakan Agil. Konflik dimulai dari pertentangan yang terjadi di dalam diri Agil, yang berlanjut pada konflik dengan istri Radith di kemudian hari, dan yang paling hebat, konflik dengan Ranti—yang telah menjadi istrinya.
“Aku merindukanmu selama berada di Seoul.”
“Apa kamu merasakan hal yang sama?”
Aku menghela napas, terlalu sulit menerjemahkan sesuatu yang tiba-tiba bergemuruh di dadaku. Dan Radith, tak mau menyerah sampai aku mengatakan “iya”. Ia membelai pipi dan menyentuh ujung daguku, dengan segala kelembutannya yang hampir membuat aku lupa dengan perasaan yang tengah kuperjuangkan. Mungkinkah, aku akan jatuh lagi kali ini?
Tidak, aku tidak mau.
Aku tidak mau begini (hal. 60).
Perkembangan konflik terjadi dengan lamban. Khas cerita roman kebanyakan. Di awal cerita, plotnya sangat renggang. Robin terlihat ingin membangun atmosfer romansa manis yang terjalin antara Agil dan Ranti. Dengan teknik bercerita yang rapi, hal itu cukup berhasil dilakukan penulis. Meski cerita jadi sedikit membosankan.
Before Us adalah kisah domestik drama, yakni cerita yang mengisahkan kehidupan rumah tangga. Mengisahkan kehidupan tiga tokoh sentral: Agil Aditama, Gema Radith Satya, dan Ranti. Agil Aditama adalah kepala departemen training di sebuah perusahaan terkemuka. Tokoh ini selalu sibuk dengan pekerjaannya, namun selalu bisa menyempatkan diri untuk bertemu Radith kapan pun lelaki itu membutuhkannya. Agil adalah seorang lelaki dengan pertentangan batin yang hebat. Sosok yang akan membuat gemas, sekaligus mengundang simpati pembaca. Pembaca akan menantikan keputusannya di akhir cerita, yang menjadi penentu dari konflik di dalam dirinya. Lalu, ada Gema Radith Satya. Seorang desainer interior sukses dan tampan. Ia memiliki semua kelebihan yang dibutuhkan seorang lelaki untuk menjadi selebriti. Dalam buku ini, Radith terkesan seperti perempuan dalam sebuah hubungan sesama jenis—meski hal ini tidak disebutkan oleh penulis. Ia tidak bisa menjalin hubungan dengan seorang perempuan karena masih mencintai Agil. Kesetiaan yang seperti ini adalah kesetiaan yang biasanya hanya dimiliki seorang perempuan. Sedang seorang lelaki, bisa saja menikahi perempuan yang tidak dicintainya, demi sebuah alasan rasional. Adapun Ranti, adalah seorang pebisnis yang sangat mementingkan keluarga. Ia menjalankan usaha restoran keluarganya. Namun, pada akhirnya sangat fokus kepada keluarganya sejak putri pertamanya lahir. Sosok istri setia dan ibu teladan ini akan disukai pembaca Before Us. Pembaca perempuan pasti akan membenci Agil setelah mengenal Ranti lebih jauh. Kisah ini juga menampilkan beberapa tokoh-tokoh pendukung. Sayangnya, tokoh-tokoh dengan peran minim ini, kurang berkontribusi terhadap perkembangan cerita dan penyelesaian konflik. Seolah-olah, tokoh-tokoh tersebut hanya diciptakan untuk meramaikan dunia tokoh-tokoh utama, sehingga tokoh-tokoh utamanya terkesan tidak begitu kesepian. Orang tua Agil dan Ranti misalnya, tokoh ini, dalam kehidupan nyata, tentu akan memiliki andil besar untuk mendamaikan bara yang menyala di keluarga anak-anaknya. Lalu tokoh ibu Radith, yang memiliki porsi dialog yang cukup banyak, tidak memiliki andil untuk menyelesaikan masalah yang terjadi Antara Agil dan Radith. Kecuali Winnie, istri Radith yang menjadi tokoh antagonis. Winnie, meskipun menyebalkan, tokoh ini berhasil menghidupkan cerita. Berkat keberadaannya, konflik segi banyak antara Agil-Radith, Agil-Ranti, Radith-Winnie, dan Agil-Winnie menjadi kuat.

Before Us mengajarkan kita bahwa cinta memiliki banyak sekali sisi. Mungkin mudah saja, bagi orang-orang dengan kecenderungan seksual yang normal mencemooh disorientasi seksual menyimpang yang menimpa orang lain. Tetapi percayalah, mereka adalah orang yang sama percayanya dengan kita, bahwa cinta mereka suci, agung, dan tinggi. Menariknya, mereka tahu, mereka berbeda. Dan tentu saja, mereka keliru. Tetapi cinta, bukan postulat yang bisa disahihkan berdasarkan kebenaran mayoritas atau penyimpangan minoritas. Cinta akan selalu buta. Di mana pun ia berada, kepada siapa pun ia berkuasa.
Yang aku tahu, cinta bukan kesepakatan antara dua orang yang setuju untuk saling jatuh cinta. Cinta bukan transaksi. Love is naturally comes when you are with someone eventhough you don’t want it (hal. 173).
 Tetapi pada akhirnya, untuk cita-cita tertinggi setiap manusia adalah hidup berbahagia. Dan kebahagiaan tertinggi adalah kebahagiaan yang bisa dirasakan oleh orang-orang yang mereka hormati dan kasihi dan cintai. Keluarga. Setiap manusia tidak ingin menikmati cintanya sendirian.
Kadang kita harus memilih bukan karena kita menginginkan pilihan tersebut. Tapi hanya karena, dengan pilihan tersebut segalanya akan lebih baik (Agil kepada Radith: 280).

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...