Thursday, January 23, 2014

Sebentuk Cinta Usang yang Kembali, Dengan Tak Sama Lagi


Judul Buku: Notasi
Jumlah Halaman: 294 hlaman
Penulis: Morra Quatro
Tahun Terbit: Mei 2013
Penerbit: GagasMedia

Giftan Mariano Alatas. Cowok itu pernah berjanji pada Nalia. Aku pasti akan kembali. Dan Nalia mempercayai itu. Karena Nino belum pernah sekali pun mengingkari janjinya.
   Nalia melihatnya untuk pertama kali saat ia mendatangi kampus Teknik yang sedang melaksanakan OSPEK. Cowok itu tampak berdiri di depan barisan mahasiswa baru yang sedang dipelonco.
Beberapa saat setelahnya, cowok itu masuk ke radio, tempat yang sengaja didatangi Nalia. Dengan gaya khas anak kedokteran, Nalia langsung menarik perhatian. Suasana kurang mengenakan terjadi karena iklim persaingan pemilihan ketua BEM. Kandidat dari fakultas kedokteran adalah salah satu pesaing terberat kandidat dari Fakultas Teknik. Nalia sempat menjadi bahan tertawaan mahasiswa-mahasiswa Fakultas Teknik itu. Kecuali seorang cowok yang sedang memegang teh botol. Nino. Cowok itu hanya tersenyum. Dan dia tidak akan pernah melupakan Nalia, sejak saat itu. Begitupun Nalia.
Buku ketiga Morra Quatro ini berkisah tentang seorang gadis bernama Nalia, yang kembali ke Yogyakarta, untuk menuntaskan kisah masa lalu yang masih membayangi dirinya. Dan bergulirlah sebuah romansa yang melibatkan mahasiswa Universitas Gadjahmada yang berasal dari dua fakultas berbeda, yang sedang saling "berseteru". Namun, perseteruan itu menjadi tidak berarti ketika kedua fakultas itu menghadapi ancaman yang sama, yang jelas jauh lebih besar dari sekadar persaingan politik mahasiswa. Pergolakan Politik Orde Baru. Kepemimpinan diktator yang nyaris absolut.
NOTASI bersetting Universitas Gadjahmada di tahun 1998. Mengetengahkan dua tokoh sentral yang kemudian saling jatuh cinta: Nalia dan Nino. Nino yang mahasiswa Fakultas Teknik Elektro--berambut ikal agak gondrong, berkacamata, namun berpembawaan tenang--dan Nalia yang mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi--cerdas, pemberani, dan cantik. Romansa yang hangat dan manis antartokoh itu kemudian, oleh Morra "dibungkus" dengan isu politik nasional yang bergolak di kala itu--yang telah menjadi bagian dari sejarah bangsa Indonesia. NOTASI dibumbui oleh kisah andil mahasiswa dalam revolusi pemerintahan Indonesia di tahun 1998, propaganda mahasiswa yang seakan tidak bisa dibungkam, pembredelan media yang dianggap mengancam pemerintah, duel angkatan bersenjata-mahasiswa, dan dukungan rakyat pada mahasiswa.
Morra Quatro mengisahkan NOTASI berlatar revolusi mahasiswa UGM di tahun 1998 dengan kepiawaian yang mampu menghidupkan suasana mencekam sekaligus heroik. Dan dengan kepiawaian yang sama, Morra menghadirkan karakter-karakter yang akan mudah disukai dalam dua tokoh utamanya. Membuat keberjodohan dua tokoh utamanya begitu serasi, sehingga pembaca akan bergumam, "Jika Nalia tidak bersama Nino,  mereka tidak akan bertemu pasangan yang lebih serasi lagi." Nino yang selalu tampak tenang namun menyimpan rahasia. Nalia yang melompati pagar dengan gaunnya hanya untuk menemui Nino. Romansa Nino-Nalia akan membuat pembaca yakin, sudah selayaknya kisah ini tidak dilupakan begitu saja. Sudah selayaknya Nalia--meski ia telah bertunangan dengan Faris dan akan segera menikahinya--kembali ke Jogja untuk menemukan atau menemui Nino. Bukankah lelaki itu sudah berjanji? Setidaknya, dia harus kembali. Meski segalanya tak akan sama lagi.
Banyak orang mengira, bercerita dari sudut pandang "aku" adalah hal yang paling mudah. Padahal anggapan itu tidak selalu benar. Sifat keakuan penulis bisa saja ikut tumpah di sana dan membunuh simpati pembaca. Tapi kemampuan berkisah Morra akan membuat para pembaca dewasa muda berangan-angan menjadi Nalia, alih-alih menganggap Nalia sebagai tokoh di luar diri mereka. Pembaca yang tidak percaya pada jatuh cinta pada pandangan pertama akan mampu merasakannya ketika "bertemu" dengan Nino. Karakterisasi hasil desain Morra membut cowok ini akan dijatuhcintai para gadis, bahkan sebelum cowok itu mengucapkan dialog pertamanya. Uniknya, Morra lebih banyak bermain dengan narasi dan deskripsi dalam bukunya ini. Membuat setiap dialog menjadi terasa mahal dan sangat ditunggu.
NOTASI dikisahkan dengan alur campuran. Bagian prolog mengisahkan Nalia di masa sekarang, yang kembali ke Yogya dan menapaktilas perjalanan cinta lalunya yang masih begitu sulit ia lupakan. Lalu isi cerita adalah kilas balik masa lalu Nalia yang manis sekaligus pahit.
Novel setebal 294 halaman ini, sayangnya, masih sangat kekurangan porsi jika pembaca memiliki keingintahuan lebih mengenai peristiwa 1998. Misalnya saja, tentang bagaimana mulanya efek sulut yang menyalakan perlawanan mahasiswa Indonesia terhadap rezim Orba kala itu. Siapa yang memantik nyala itu? Apakah pengaruh Che Guevara serta merta merasuki mahasiswa Indonesia dan kemudian didukung oleh solidaritas mahasiswa seluruh Indonesia untuk menyuarakan perlawanan, ketika itu? Namun, NOTASI membatasi lingkup kisahnya dalam roman berlatar sejarah itu, yakni pada romantika antartokoh utamanya. Membuat pembaca bertanya-tanya ada berapa kisah cinta yang dibayangi teror 1998? Ada berapa kekasih yang menangisi hilangnya kekasihnya, kematian kekasihnya? Ada berapa kekasih yang ketakutan melepas kekasihnya berdemonstrasi seperti saat Nalia melepas Nino? Ada berapa pasang kekasih yang bergandengan tangan selagi meneriakkan revolusi lalu genggaman itu terlepas oleh suara tembakan dan serangan gas airmata?
Pada akhirnya, roman NOTASI mengingatkan kita pada ketentuan semesta yang tidak bisa ditolak. Pertemuan yang terasa sudah semestinya namun juga terasa salah. Perpisahan yang terasa salah namun ternyata begitu masuk akal. Dan pertemuan kembali yang tidak diduga, namun sangat melegakan.


Kredit gambar di sini

1 comment:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...