Friday, November 08, 2013

Tarian Para Pencinta

Book Title: TANGO
Author: Goo Hye Sun
Page: 309 pages 
Year Published: July 2012 
Publisher: Ufuk Fiction


Yun baru menyadari arti Jong Woon dalam kehidupannya setelah lelaki itu memutuskan hubungan mereka. Tango yang mereka tarikan telah menyakiti kaki masing-masing setiap kali mereka melangkah. Sedang mereka tidak bisa berhenti, karena langkah itu adalah kehidupan. Mereka tidak bisa saling menyakiti untuk selamanya. Yun yang pekerja keras dan senantiasa fokus pada pekerjaannya, yang juga melayani kebutuhan Jong Woon dengan pengabdian yang penuh kesadaran dan juga pikiran yang terpusat pada naskah terjemahannya, tidak pernah melihat mata lelaki itu saat melihatnya.
Pandangan yang penuh cemburu, mata yang menyorotkan kekalahan besar. Jong Woon yang mengajarkan seni pada siswa taman kanak-kanak, memiliki lebih banyak waktu luang untuk melihat Yun dari kejauhan, denga espresso pahit di tangan dan rokok yang mengepulkan asap tipis di mulut. Maka dialah yang lebih dulu menyadari kektidakseiramaan mereka dalam melangkahi kehidupan, sebuah ketimpangan menyedihkan yang melukai harga dirinya. Perpisahan yang tidak pernah diduga oleh Yun itu membuatnya ketakutan. Ia pikir, sebagai pemeran utama dalam kehidupannya, dia akan berbahagia dengan pilihan cintanya, Jong Woon. Lelaki dengan rumah kecil yang selalu berantakan, dan dipenuhi perabotan sederhana. Lelaki yang bahkan tidak yakin pada dirinya sendiri, tentang masa depannya. Tapi perpisahan adalah realita. Bagian dari kehidupan yang tidak bisa dihindari. Yun harus menerimanya. Itu adalah rasa pahit kehidupan, rasa espresso yang tidak akan pernah bisa ia sukai, sekuat apa pun ia mencoba. Karena ternyata dunia tidak hanya menyediakan hal-hal manis—kesukaannya—untuk dicecap.
Suatu ketika, di titik kejatuhannya yang terdalam, Yun bertemu seorang lelaki yang mengatakan sesuatu yang kemudian—ia ketahui—mengubah kehidupannya.
Kau tidak merasa jalur dua ini sangat mirip dengan kenyataan kita? Kereta sempit dan panjang yang dipenuhi oleh ratusan orang dan terus berjalan ke suatu tempat. Seperti waktu yang berlalu.


Jalur dua sangat mirip dengan waktu, kegelapan, dan kenyataan yang bercampur dengan manusia. Mencari kebahagiaan di tempat ini terlihat seperti sebuah hal yang mustahil, tapi mungkin kebahagiaan itu tetap dapat ditemukan jika dicari dengan baik-baik. Aku berharap agar kau bahagia. Sampai jumpa [page 126].
Di luar dugaan, Yun merasakan sensasi baru yang menyenangkan setelah bertemu lelaki itu. Gilanya, ia yakin bahwa lelaki itu adalah jodohnya.
Jodoh sesaat adalah sesuatu yang terasa seperti bunga lilac yang mekar dengan sempurna bagiku.


Sepertinya aku berubah menjadi gadis muda lagi hanya karena bertemu dengan orang asing di dalam kereta bawah tanah [page 127].
Akankah Yun bertemu lelaki jodoh singkat-nya? Mampukah Yun hidup dalam dunia nyata lagi sebagai gadis berusia nyaris kepala tiga dengan dewasa setelah kepahitan yang ia rasakan? Temukan jawabannya dalam novel yang kaya filosofi hidup ini.
Saya sudah menginginkan novel ini sejak penerbitnya gencar melakukan promosi perihal terbitnya versi terjemahan yang berjudul sama dengan novel aslinya ini. Nama besar penulisnya tentu saja menjadi daya tarik besar bagi saya untuk membacanya. Goo Hye Sun, adalah aktris papan atas Korea Selatan yang namanya melejit sebagai hallyu star di Negara-negara Asia berkat peran protagonis-nya dalam drama yang digemari remaja-remaja di tanah air, Boys Over Flower. Label best seller di novel—yang ternyata bukan karya perdana—Goo Hye Sun ini adalah motivasi terbesar saya untuk memburu-nya. Sayangnya, novel ini tidak pernah sampai di toko buku kota saya, sehingga saya harus puas dengan hanya meminjamnya dari seorang kawan yang membelinya di luar kota.
Bukan perkara mudah untuk menerjemahkan sebuah novel. Apalagi jika novel tersebut memuat unsur kultur asing yang khas dan unik, hal-hal yang tidak pernah kita kenal sebelumnya. Maka kerancuan interpretasi sangat mungkin terjadi saat menerjemahkan sebuah frasa atau kalimat. Hal itu yang—menurut asumsi saya—banyak terjadi di dalam novel ini. Saya menemukan banyak frasa dan kalimat yang membingungkan ketika membacanya.  Namun demikian, saya tetap bisa menemukan esensi cerita yang indah dan menyentuh ini, meski dengan samar-samar.
TANGO, bagi saya, bukan sebuah cerita yang dikisahkan penulisnya. TANGO adalah kehidupan yang berusaha ditunjukkan dengan apa adanya. Seorang gadis mendekati usia tiga puluh yang mengalami putus cinta di tengah kepercayaannya yang teguh terhadap cinta sejati dan akhir yang bahagia, gadis yang tidak ingin bangkit lagi dan kehilangan kepercayaan diri karena ternyata dunia yang dikenalnya tidak seramah dan sehangat dugaannya, gadis yang menjelang ulang tahun ke tigapuluh-nya mengungkapkan dengan malu-malu bahwa ia ingin bercinta. Ini adalah sebuah realitas kehidupan dewasa yang terjabar dengan jujur.
TANGO juga menunjukkan arti bahagia yang lain, melalui tokoh Si Hoo. Seorang lelaki periang yang seolah tak pernah mengenal kata terluka. Si Hoo mendefinisikan bahagia dengan sederhana, namun jarang terlintas dalam benak kita. Tentang betapa indahnya hidup dalam penghargaan terhadap kekurangan orang lain, hidup yang tanpa menggugat sesuatu untuk dilemparkan dalam kotak salah-benar atau hitam-putih atas nama moralitas. Meski hal ini akan terus memicu perdebatan karena berbicara mengenai isu sensitif, namun, definisi kebahagiaan yang ingin ditunjukkan oleh TANGO adalah: mencintai setiap orang 
sebagai manusia. Bukan sebagai lelaki bagi wanita, atau sebagai wanita oleh lelaki. Maka yang akan ada di dunia hanyalah kedamaian, ketenangan, kehangatan, hidup yang tanpa kebencian, dendam, dan permusuhan. Pembaca kemudian diajak menyusuri kehidupan tokoh Yun yang berusaha memaafkan mantan kekasihnya, merasakan kekesalannya perlahan berubah menjadi simpati dan rasa kasihan yang penuh pemakluman.
Di akhir kisah, TANGO mengajarkan pembaca, lewat tokoh Yun, untuk tidak takut kehilangan, seberapa sering pun itu terjadi pada kita. Kita cukup meyakini bahwa dunia berjalan sebagaimana yang seharusnya. Maka kita hanya perlu menjalaninya sebagaimana seharusnya. Menerima apa yang datang dan seharusnya kita miliki, dan merelakan apa yang seharusnya pergi dan merelakannya dengan penuh kesadaran akan hukum ketidak-kekalan. Perasaan jatuh cinta adalah perasaan yang indah. Tak seharusnya ia ditolak karena ketakutan akan kehilangan dan rasa sakit saat kaki kita terinjak karena harus menarikan Tango yang indah bersama pasangan kita. Untuk menikmati Tango, terkadang kita tidak perlu ikut menarikannya. Kita bisa melihat orang lain yang mampu menarikannya dengan indah dan harmonis, jauh dari panggung. Kita tetap bisa menikmati iramanya dan hanyut dalam kehangatan cinta di mata penarinya yang saling menatap dan melempar senyum satu sama lain.
TANGO dikemas dengan sisipan ilustrasi yang menarik. Ilustrasi tersebut adalah lukisan karya Goo Hye Sun. Saya tidak pernah menikmati lukisan sebelumnya. Lebih dari itu, saya sama sekali buta akan bidang ini. Namun, menatap ilustrasi lukis di halaman-halaman tertentu dalam buku inimengentak kesadaran saya bahwa lukisan memang sebuah karya seni yang berkelas. Dan sedikit banyak, saya bisa menyelami perasaan para penggila dan kolektor lukisan. Itu bukan jenis perasaan yang bisa dijabarkan dalam kalimat. Lukisan bisa memengaruhi dan menggugah alam bawah sadar seseorang melalui goresannya. Dan lukisan yang dipilih Goo Hye Sun untuk tampil dalam ilustrasi bukunya adalah representasi makna yang tidak sempat tersampaikan oleh kata. Saya akhirnya tersadar, bahwa karena keberadaan lukisan-lukisan itulah, kerancuan terjemahan buku ini tidak begitu mengganggu saya.
Well, I rated it 3.5 out of 5 stars!


TENTANG PENULIS

Goo Hye Sun adalah seorang aktris dan penyanyi, model, penulis, dan sutradara populer Korea Selatan. Ia berperan sebagai Geum Jan Di dalam serial televisi populer Boys Before Flowers bersama denagn Lee Min Ho, Kim Hyun Joong, Kim Bum, dan Kim Joon. Ia juga berperan dalam dilm August Rush. Dia menjadi sutradara untuk sebuah film pendek yang berjudul The Cheerful Caretaker, Hye Sun juga memiliki bakat seni yang tinggi. Di negara asalnya, Goo Hye Sun juga dikenal sebagai pelukis. Gadis cantik multibakat yang bernaung di bawah manajemen artis raksasa YG Entertainment ini telah beberapa kali menggelar pameran lukisan tunggal-nya untuk aktivitas amal.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...