Saturday, November 16, 2013

Sebuah Fiksi Anti-Bullying

Self doc
Book title: Unfriend You: Masihkah Kau Temanku? 
Author: Dyah Rinni
Pages: paperback 286 pages
Year published: June 2013
Publisher: GagasMedia

Berkat Aura Amanda yang populer di seantero Eglantine High School, Katrissa Satin naik kelas dengan drastis. Dari Itik, menjadi Angsa. Ke mana pun pergi, ia berjalan di belakang Aura. Dengan gaya yang pantas untuk mendampingi Aura yang fashionista. Baju bagus, sepatu up-to-date, dan dandanan yang memungkinkannya memilih cowok mana pun untuk dikencani jika ia mau. Semua berjalan menyenangkan hingga kedatangan Priska, siswi baru yang berusaha menyisipkan dirinya di antara Aura-Katrissa-Milani. Aura yang membenci saingan, mulai tidak menyukai Priska. 


Edited from Miss A's Bad Girl Good Girl MV ^^
Masalah pun bermunculan. Katrissa yang mulai merasa tak nyaman dengan sikap berlebihan Aura terancam untuk tersingkir dari clique Aura. Katrissa yang pernah merasakan tak memiliki teman, tak ingin kehilangan Aura lagi. Tetapi, tetap bersama Aura pun membuatnya gelisah. Aura tidak lagi sebaik yang ia persangkakan.

Katrissa memandang tepat ke mata Aura. Mata itu begitu indah, namun juga begitu tegas dan selalu membagi dunia dalam dua kutub: hitam dan putih, benar dan salah, popular dan tidak popular, itik dan angsa. Aura tidak akan mengerti tentang Langit [124]

Unfriend You mengangkat isu bullying di sekolah menengah atas yang kian marak akhir-akhir ini. Fase di mana remaja berjuang mati-matian demi sebuah pengakuan yang jika dilewati tanpa pengawasan orang tua, dapat membahayakan remaja ini secara psikososial. Dyah Rinni menjabarkan ini melalui tokoh Aura and the cliques. Mereka berbusaha mencuri perhatian dengan penampilan fisik extraordinary berkat trend fashion yang mereka ciptakan. Dan ketika mereka diperhadapkan dengan seseorang yang mulai mencuri perhatian itu dari mereka, mereka menganggapnya sebagai ancaman.
Tas itu terlempar di udara. Buku, kotak pensil, dan charger melayang sesaat sebelum akhirnya bertebaran di halaman sekolah. Beberapa mendarat di dalam kolam ikan, menjadikan kolam kecil itu penuh dengan isi tas Priska [157]
Unfriend You ingin menunjukkan bahwa sejatinya, korban bullying, bukan saja pihak yang di-bully. Tetapi juga pelakunya. Ancaman terhadap mentalitas remaja adalah apa yang harus dihadapi para bulliers ini.
Aura yang sekarang sama sekali bukanlah Aura yang dikenalnya. Begitu emosional, begitu sensitif, dan begitu labil. Ia yang merasa bisa menasihati Aura saja tidak didengar Aura. Apa yang membuatnya berpikir ia dapat menolong Priska? [144]
Bagaimana cara seorang Aura menghukum Priska? Apakah itu dimulai dari bisikan antar mulut dan telinga? Apakah itu dimulai dari panggilan-panggilan nama kotor yang dihunjamkan kepada Priska setiap  kali ia lewat? Ataukah dimulai dari sebuah coretan di loker seseorang dan kemudian semua orang seperti bersatu padu menghancurkan hidup piska? Karena keesokan harinya, Katrissa menyaksikan pelahan-lahan bagaimana hidup Priska runtuh selangkah demi selangkah [154]
Unfriend You mengingatkan para orang tua yang memiliki anak berusia remaja untuk berhati-hati dan senantiasa meluangkan banyak waktu untuk mengenal putra-putri mereka lebih dalam. Unfriend You mengajak pembaca menyelami dunia remaja muda dengan kondisi emosional yang tidak stabil. Melalui tokoh-tokohnya, penulis mengungkapkan fenomena geng, pencarian pengakuan atas eksistensi, ketidakmatangan proses berpikir yang dapat membawa remaja ini pada kesalahan dalam memutuskan dalam bersikap atau mengambil keputusan. Konflik-konflik yang diketengahkan pun adalah hal-hal sederhana yang banyak terjadi di kalangan remaja, namun menjadi pemicu bully no.1.
Priska berjalan keluar dari kamarnya menuju balkon rumah. Ia mengambil  kursi plastik merah terdekat dan naik ke atas pagar balkon. Malam itu, udara terasa dingin, menusuk-nusuk piamanya yang tipis. Air matanya sudah lama keluar sampai mongering dan menyisakan sakit. Bumi terasa begitu dekat, namun ia tidak merasa takut. Ia bahkan tidak lagi merasakan apa-apa. Ia hanya ingin semua penderitaannya berakhir [193]

Dituturkan dengan bahasa yang ringan, Unfriend You hadir sebagai bacaan yang mudah dipahami dan diserap pesannya oleh pembaca. Dyah Rinni tampaknya tidak saja membidik remaja  untuk misi anti-bullying ini, tetapi juga para orangtua.
Sebagai sebuah fiksi anti-bullying, Unfriend You idealnya diadakan di perpustakaan-perpustakaan sekolah. Tidak saja sebagai bacaan fiksi yang menghibur, tetapi juga referensi bagi sekolah untuk selalu mewaspadai bullying dan menyerukan anak didiknya untuk tidak melakukan kejahatan kecil ini.
Dari segi cerita, Unfriend You memiliki ide cerita yang cukup berbeda. Jika biasanya  teenlit hadir dengan unsur cinta remaja sebagai highlight cerita, maka cerita ini hadir dengan misi anti-bullying-nya yang sangat jelas. Meski bukan berarti tidak ada unsur cinta remaja-nya di dalam. Pembaca akan disuguhkan kisah Langit, si Itik berpenampilan nerdy, yang diam-diam menyukai Angsa Katrissa. Ada pula kisah one sided love-nya Katrissa pada Jonas yang sudah jadian sama Aura.
Unfriend You menggunakan sudut pandang serba tahu, yang banyak berfokus pada Katrissa sebagai tokoh utama. Sekali waktu melompat pada Prisca, lalu di waktu yang lain pada Langit. Tapi hanya sekali. Bercerita dengan alur kilas balik, saya sempat sedikit kebingungan karena perpindahan yang tidak mulus. Saya harus memastikan lagi apakah saya sedang berada di present time ataukah in the past.
Saya mengharapkan banyak konflik tidak terduga dalam novel ini. Tetapi konflik yang hadir tidak ada yang luar biasa. Sangat khas remaja.
Priska terlihat begitu tidak berbahaya. Tetapi Katrissa tahu dia tidak bisa menganggapnya remeh. Gadis itu begitu mirip dengan Winda. Dan perlahan-lahan, perasaan khawatir mulai merayati hatinya, semakin lama semakin kuat [42].
Saat membaca bagian tersebut, saya tidak sabar menunggu permusuhan terhebat antara Aura dan Priska. Tapi kemudian Priska tampil sebagai sosok yang begitu lemah dan membuat Aura terlalu kuat dan tidak terkalahkan. Sejak kemunculan Priska, saya sekali tidak melihat bahwa tokoh ini ingin terlihat menonjol. Sehingga saya menyimpulkan bahwa Aura adalah tokoh yang paranoid.
Ekspektasi saya tentang konflik yang seru berlanjut di bagian lain.
Tuhan, apa yang akan Aura lakukan kalau ia tahu perasaannya pada Jonas? Akankah ia bernasib sama dengan Priska?
Silakan temukan jawaban dari ekspektasi saya di novel ini, ya :)

Dalam hal packaging, Gagasmedia memang jagonya, deh. Meski warna covernya terlalu terang untuk suasa muram dalam cerita, tapi filosofi kertas papercraft yang menggulung sedemikian rupa membentuk pola bunga matahari itu sangat mewakili pesan cerita. Matahari Kertas. Simbolisasi Aura. Bunga matahari kertas ini juga akan kita temukan dalam ilustrasi di judul-judul bab-nya, dan dijadikan penanda berakhirnya sebuah adegan untuk berpindah ke adegan lain. Dan omong-omong, gaun kertas koran di halaman setelah judul itu keren banget. Sebelumnya, saya tidak bisa membayangkan bagaimana dress dari kertas koran yang dibuat Katrissa--yang membuat Katrissa bisa menarik hati Aura--untuk Eglantine Art Festival (EGAF). Dengan dangkalnya, saya membayangkan kertas koran yang direkat di sana sini dan digunting dengan pola dress minimalis. How silly! :)

Finally, I rated it 2.5 out of 5 stars, anyway!

Edited from SISTAR's Loving You MV ^^

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...