![]() |
Self doc |
Book title: Last
Minute in Manhattan
Author: Yoana Dianika
Editor:
Yulliya Febria & Widyawati Oktavia
Page:
Paperback 408 pages
Year published:
Desember 2012
Publisher:
Bukune
Seharusnya, cinta bisa membuat seseorang merasa nyaman. Jika cinta sudah membuatmu merasa terluka, kau tidak pantas mempertahankannya—apa pun alasannya (hal. 12).
Callysta “Cally” Nararya diduakan oleh Abram. Merasa
kecewa dan sakit hati, Cally tidak menolak tawaran ayahnya untuk menenangkan diri
sementara waktu di Hermosa, California, tepat setelah acara kelulusan sekolah. Cally
yang patah hati dua kali—pertama, luka akibat ditinggalkan ibunya yang menikah
lagi belum sembuh, kedua, diduakan oleh Abram—memutuskan untuk tidak langsung
berkuliah seperti sahabat-sahabatnya. Menurutnya, belajar tidak harus dilakukan
di universitas. Cally belum memastikan mimpinya. Maka bulatlah keputusan Cally
untuk berangkat ke Amerika.
Di Hermosa, Cally tinggal bersama ibu tirinya, Sophie, dan adik tirinya, Mark. Dari Sophie dan Mark, Cally mendapatkan perhatian layaknya keluarga yang sebenarnya. Mark dengan setia menemani Cally yang sedang patah hati. Dengan antusias, Mark mengajak Cally berkeliling Hermosa yang cantik. Mengajaknya melihat-lihat dari satu tempat ke tempat lainnya. Mark juga mengenalkan Cally pada sahabat terdekatnya, Vesper “Vessy” Skyler. Bersama Mark dan Vessy, Cally menyambangi tempat-tempat terbaik yang direkomendasikan dua cowok itu. Hal-hal manis pun tercipta di sana. Menikmati sore di Hermosa Pier hingga matahari terbenam, melihat Mark dan Vessy berselancar di pantainya, menyaksikan keanehan Mistery Spot, berkuda di Westlake Village, melihat kemegahan kantor ORACLE di Silicon Valley, seru-seruan di summer camp di Frost Valley, lalu menyaksikan senja yang langka di 42nd Street, di Manhattan.
Di Hermosa, Cally tinggal bersama ibu tirinya, Sophie, dan adik tirinya, Mark. Dari Sophie dan Mark, Cally mendapatkan perhatian layaknya keluarga yang sebenarnya. Mark dengan setia menemani Cally yang sedang patah hati. Dengan antusias, Mark mengajak Cally berkeliling Hermosa yang cantik. Mengajaknya melihat-lihat dari satu tempat ke tempat lainnya. Mark juga mengenalkan Cally pada sahabat terdekatnya, Vesper “Vessy” Skyler. Bersama Mark dan Vessy, Cally menyambangi tempat-tempat terbaik yang direkomendasikan dua cowok itu. Hal-hal manis pun tercipta di sana. Menikmati sore di Hermosa Pier hingga matahari terbenam, melihat Mark dan Vessy berselancar di pantainya, menyaksikan keanehan Mistery Spot, berkuda di Westlake Village, melihat kemegahan kantor ORACLE di Silicon Valley, seru-seruan di summer camp di Frost Valley, lalu menyaksikan senja yang langka di 42nd Street, di Manhattan.
Bagaimana perjalanan Cally menyembuhkan luka-nya dan menetapkan cita-citanya? Temukan
sendiri di Last Minute in Manhattan!
;)
Setelah LONDON:
Angel, LMIM adalah serial STPC
kedua yang say abaca. Sekaligus, karya Yoana Dianika yang pertama yang saya
nikmati. Sejujurnya, LMIM adalah
kisah cinta remaja yang mainstream, bernuansa
bittersweet dan cukup mampu
menerbangkan angan-angan—karena membayangkan betapa menyenangkannya menempati
posisi tokoh utama sang cewek. Seorang
gadis broken home yang gagal dalam
percintaan, lalu merasa skeptis akan kebahagiaan, melakukan healing journey dan bertemu prince charming yang berhasil mengetuk
hatinya, berhasil jatuh cinta lagi, dihadang rintangan-rintangan, dan berakhir
bahagia. Saya melihat usaha keras penulisnya untuk membuatnya terlihat berbeda.
Hasilnya? Yoana Dianika tidak gagal. Tapi sayangnya, juga tidak berhasil.
Callysta menempayi kamar sederhana di salah satu unit apartemen Llucerne yang terletak di 79th Street, Amsterdam Avenue. Unit apartemen ini disewa kakak Sophie sejak dia pindah ke sini bersama suaminya.
Apartemen Lucern tidak jauh beda dengan bangunan lain yang berderet di wilayah suburban 79th Street. Terbuat dari bata kemerahan yang tersusun rapi. Pintu masuk dan jendela di lantai dasar terlindungi kanopi melengkung berwarna merah marun. Bangunan-bangunan di sepanjang suburban 79th street rata-rata dibangun pada awal abad ke-19 (hal. 357).
Yoana Dianika memiliki teknik bercerita yang baik
sekali. Runut dan detil. Dengan riset yang mendalam mengenai tempat-tempat di
mana dia membawa pembaca untuk menikmati hal-hal manis dan konflik antartokoh
ciptaannya, Yoana Dianika mampu menguraikan detil tempat-tempat itu hingga
tervisualisasi dengan baik di benak pembaca. Sayangnya, padatnya informasi yang
dibeberkan penulis tidak diimbangi dengan adegan/konflik yang mengemuka. Konsep
cerita di mana Cally bepergian—untuk mengalihkan perhatiannya dari kesedihannya—dengan
Mark adik yang baik sekaligus merangkap sebagai tour guide-nya—dan menceritakan dengan detil seluruh tempat yang
mereka kunjungi, sayangnya, tidak berhasil menarik saya untuk betah meneruskan
bacaan hingga akhir. Dengan sedih saya harus mengatakan, saya menghabiskan
kurang lebih dua minggu untuk menghabiskan LMIM.
By the way, Sophie
menyiapkan baju yang kupakai untukku. Halter neck putih tanpa lengan dan mid tight pant warna cokelat tua. Dan, sepasang sandal santai untuk berjalan-jalan di
pantai.
Mark tidak terlalu repot dengan penampilannya. Para laki-laki yang hidup di pesisir selalu punya style yang membuat mereka terilhat keren walaupun hanya memakai kaus oblong dan celana pendek (plus sandal pantai) [hal. 51].
Hal detil lainnya yang cukup mengganggu adalah
deskripsi fashion tokoh-tokohnya ketika mereka akan bepergian. Cukup aneh mendengarkan Cally mendeskripsikan
pakaiannya ketika sedang galau. Dan hal ini berulang di banyak kesempatan
(setiap kali Cally, Mark, dan Vessy bepergian).
LMIM
dibagi
dalam dua bagian berisi banyak bab. Dua bagian besar ini menandakan pergantian
sudut pandang. Sebuah konsep yang unik (dan baru, bagi saya). Bagian pertama
diceritakan dari sudut pandang Callysta. Lalu ketika konflik mulai menanjak,
sudut pandang cerita berganti serba tahu. Dan tokoh-tokoh lainnya (selain
Callysta) dapat diceritakan dengan lebih leluasa.
Hampir tidak ada konflik berarti dalam LMIM. Patah hati Cally pun tidak
berlarut-larut. Dan konflik Antara Cally dan Vessy hanyalah kesalahpahaman
belaka. Sebuah perjalanan cinta remaja yang tidak membutuhkan 400 halaman untuk
sebuah resolusi. Konflik Cally dengan ibunya pun hanya selingan yang tampil
dengan sangat singkat. Terlalu singkat untuk meninggalkan kesan, dan akhirnya
terlupakan begitu saja. Jika dalam cerita Cally tak menyebut tentang ibunya,
tak akan ada yang mengingat bahwa ibu Cally sempat tampil di halaman-halaman
awal.
Mari kita sedikit menganalisa karakter tokoh-tokoh
LMIM.
Tokoh utama jelas adalah Callysta ”Cally” Nararya.
Gadis patah hati yang tidak tetap pendirian. Sifat labil Cally mungkin
dikarenakan perceraian kedua orang tuanya yang sedikit banyak sudah
menyakitinya. Cally tumbuh menjadi gadis yang mudah rapuh, dan lemah. Dia belum
mempunyai mimpi yang ia rasa layak untuk dikejar setelah lulus SMU. Dia mudah
jatuh cinta, mudah tersakiti, dan mudah menerima kembali orang yang sudah
menyakitinya.
Laki-laki berkaus kuning itu menoleh, lalu tersenyum kepada mark. Cara dia tersenyum unik. Mengulum bibir tipisnya yang hmm, terlihat seksi di mataku. Tiba-tiba saja, aku merasa sesak napas saat melihat senyum merekah di bibir laki-laki itu.
Oh sial. Pertemuan pertama yang membuat gugup hanya karena seulas kuluman senyum di bibir tipis laki-laki berambut cokelat (hal. 53).
Yang unik (ataukah janggal?) dari Cally adalah,
saat dia sedang kehilangan motivasi tentang mimpi dan hidupnya, dia bisa
memotivasi Vessy untuk hidup dengan penuh semangat dan mengejar mimpinya.
Dan pangeran kita, Vesper Skyler, adalah pemuda
tampan multibakat dan digilai. Dia memiliki semua pesona yang dibutuhkan untuk
menjadi … bukan sekadar pusat perhatian atau idola, tapi benar-benar pangeran! Dia
kaya, ayahnya seorang pemilik ORACLE, dia mahir berkuda, bisa berselancar, siswa
teladan dengan nilai akademik yang selalu sempurna, dia jago berkelahi,
tampan-memesona, berhati lembut, dan romantis. P-E-R-F-E-C-T! satu-satunya
kekurangan Vessy adalah, dia tidak ingin menjadi penerus ayahnya. Vessy sangat
tergila-gila pada astronomi, dan ingin menjadi astronom.
Lalu Mark, our
mood maker yang periang, penuh perhatian, setia kawan, dan bisa membuat
Cally tertawa di saat-saat yang tepat dan dibutuhkan. Mark mengetahui banyak
hal, terutama soal seluk beluk negaranya. Mark selalu memiliki inisiatif untuk
mendamaikan Vessy dan Cally. Mark selalu bisa membujuk Cally atau meyakinkan
Vessy tentang hal yang seharusnya dilakukan cowok itu.
Ada beberapa lagi tokoh minor role yang berjasa menggerakkan cerita. Ada 4 sahabat Cally di
Indonesia, teman baru Cally di perkemahan musim panas, dan tentu saja, satu
musuh Cally, dan satu rival cinta-nya. Tapi saya hanya akan menyoroti Abram. Cowok
ini jelas sekali tipikal playboy yang
pintar merayu dan lihai berbohong. Sudah menduakan Cally, tapi masih bisa
muncul dan meminta maaf dengan menunjukkan raut (pura-pura) tulus dan menyesal.
Sangat disayangkan sisi positif Abram tidak diceritakan sama sekali. Padahal pembaca
tentu ingin tahu, mengapa Cally terkesan sulit move on and up dari cowok ini. Mengapa Abram ditampilkan
seolah-olah dia layak dipertahankan?
LMIM
dikemas
dalam package yang menarik. Khas Bukune.
Covernya cantik, warna soft-nya sangat mengundang minat beli, layout yang menarik
memamerkan ilustrasi tempat-tempat yang dikunjungi tokoh-tokohnya di Amerika,
dan quotes manis yang related to the scene bikin LMIM jadi kaya. Huruf yang digunakan agak kecil kecil, tapi karena spasi
antarbaris-nya agak lebar, jadinya tidak mengganggu kenyamanan mata saat
membaca.
Finally,
buat kamu yang suka cerita jalan-jalan, suka cerita ringan dengan deskripsi
detil, dialog yang segar, dan konflik yang tidak memicu adrenalin dan frekuensi
denyut jantung, Last Minute in Manhattan
adalah opsi yang bisa kamu pertimbangkan untuk dibawa ke mana-mana,
menemani waktu senggangmu yang membosankan.
No comments:
Post a Comment