Wednesday, November 27, 2013

Ini (Tentang) Bulutangkis & Ini (Tentang) Indonesia, Juga Tentang Seorang Pemimpi Kecil yang Besar Sekali

Book title: 2
Author: Donny Dhirgantoro
Page: vi+418 pages
Year Published: 2011
Publisher: Grasindo

Trilogi Laskar Pelangi Masih yang Terbaik

…lebih enak jadi orang gendut, karena ukuran hatinya pasti lebih besar (70)
Karena melihat Papa, Mama, dan kak Gita bahagia setelah kemenangan Susi Susanti di Olimpiade 1992, Gusni juga ingin menjadi pemain bulutangkis. Alasannya sederhana, Gusni ingin melihat Papa, Mama, dan kak Gita bahagia. Gusni yang polos tak tahu disebut apa keinginan itu, hingga ia bertemu Harry setelah drama rebutan onde-onde di kantin sekolah.
"Gusni-Gusni cita-citanya apa?"
"Aku gak punya cita-cita, emang cita-cita itu apa?" Gusni balik bertanya.
"Kata Papa Harry, orang hidup itu harus punya cita-cita... kalau kamu gak punya cita-cita, berarti kamu nggak hidup, kamu orang mati namanya...."
"Aku nggak punya cita-cita, tapi aku hidup... tuh...." (hal. 71).
Di usianya yang menjelang 12, oleh ayahnya, Gusni didafarkan untuk mengikuti pelatihan bulutangkis. Pelatih kakaknya, Gita (yang telah menjadi pemain muda berprestasi), yang akan melatih Gusni. Bukan tawaran yang mudah bagi Pak Pelatih. Gusni adalah satu-satunya  peserta latihan dengan bobot 95 kilogram dan tinggi 135 cm. Bagi Gusni, latihan itu adalah langkah awal menuju cita-citanya. Sedang bagi Papa, Mama, Kak Gita, dan Dokter Fuad, itu adalah sebuah harapan baru menuju keajaiban. Pak Pelatih menerima tantangan itu. Lagipula, Gusni memiliki modal awal yang menjanjikan dan ia sukai? keinginan sederhana untuk membahagiakan orang-orang yang ia cintai, dan kekuatan pukulan yang mengagumkan--berkat pengalaman memegang raket nyamuk selama bertahun-tahun.

2 diceritakan dengan sederhana dan mudah dicerna, meski tidak dilabeli dengan "bacaan semua kelompok usia" di sampulnya. Lembar-lembar awal-nya gagal menarik perhatian dan mempertahankan pembaca untuk betah menemukan hal-hal mengharukan dan kaya motivasi di bab-bab pertengahan. Donny becerita dengan dramatisasi humor yang dominan di bab-bab awal, yang lebih terkesan seperti "basa-basi boros halaman". Dan sayangnya, humor-humor itu cukup sulit membuat tertawa. Nantilah di bab-bab pertengahan, pembaca akan menyadari betapa basa-basi itu penting untuk menunjukkan perkembangan karakter tokoh utama. Bagaimana masa kecil Gusni? Bagaimana ia tumbuh dan berkembang di fase remajanya? Dan bagaimana rupa Gusni hasil bentukan perjalanan hidup yang sedemikian rupa?
2 bercerita dalam rentang waktu yang cukup panjang. Mengisahkan 3 fase kehidupan Gusni. Tidak heran jika 400 sekian halaman 2 harus membuat lompatan-lompatan waktu di beberapa titik-titik penting. Dan Donny cukup berhasil menghindarkan cerita dari plothole yang fatal akibat lompatan-lompatan itu.
2 menampilkan tokoh-tokoh yang menunjukkan betapa Indonesia masih memiliki jiwa-jiwa yang murni dalam kebaikan dan hangat dalam merangkul sesama. Tokoh Papa misalnya, digambarkan sebagai sosok yang begitu mencintai keluarganya, selalu siap menjadi pedang sekaligus perisai di saat-saat yang dibutuhkan. Andai setiap hati adalah hati yang sama dengan yang dimiliki Papa ....
Lalu ada pula tokoh Papa Harry, yang mengajarkan, agar senyuman diberikan pada siapa saja, ditunjukkan dalam situasi apa saja. Siapa pun yang bertemu dengan Papa Harry, akan percaya, bahwa dunia masih memiliki kedamaian, dan cinta kasih bagi orang lain (selain keluarga biologis). 2 mengisahkan salah satu titik kecil dalam sejarah perbulutangkisan tanah air. Olahraga kelas internasional yang telah membuat merah putih dipandang dunia dari titik rendah yang membuat sang Saka tampak berwibawa di tempat tertinggi. Di bab akhir, 2 menghadirkan sesi pertandingan bulutangkis yang membuat pembaca tak bisa membedakan, apakah mereka sedang menonton televisi ataykah sedang membaca buku. Pukulan-pukulan mematikan lawan, dan pertahanan-pertahanan anak bangsa yang sama tangguhnya dengan lawan, semangan nasionalis yang meluah dari tribun penonton yang meneriakkan sorakan dan yel-yel, seluruh atmosfer menegangkan dan mengharukan itu terasa sangat nyata. Tak dapat dimungkiri, saat berbicara tentang bulutangkis, kita akan melihat Indonesia, di salah satu titik. Sebagai sebuah titik kecil yang disegani. Dan saat berbicara tentang 2, kita akan bertemu seorang pemimpi kecil yang besar sekali. Seperti hatinya. Dan juga semangatnya. Pemimpi itu bernama Gusni. Yang kelebihan (berat badannya) adalah kekurangannya. Yang pada akhirnya, mengejar mimpi sederhana namun besar sekali lainnya: keinginan untuk hidup sedikit lebih lama dari yang bisa diduga orang-orang, bahkan dirinya sendiri. Hidup selama mungkin.
Di era terbitnya 2, popularitas buku bergenre sama (fiksi inspirasional) masih didominasi Trilogi Laskar Pelangi (minus Maryamah Karpov) yang memorable meski tahun terbitnya berjarak bilangan tahun. Namun, pendahulunya, 5 cm, berhasil menarik perhatian pembaca Indonesia untuk mengulang kesuksesan Donny Dhirgantoro. Bagi saya, 5 cm masih yang terbaik dari Donny Dhirgantoro. Dan Trilogi Laskar Pelangi (minus Maryamah Karpov) masih yang terbaik di Indonesia untuk kategori fiksi inspirasional. Bukan sekadar karena sebuah anggapan lama bahwa yang terbaik adalah yang pertama kali. Melainkan dari penggarapan cerita, Andrea Hirata menang dari berbagai aspek. Pertama, tentu saja kebaruan premis, lalu keberanian menampilkan sisi lokalitas di tengah kegandrungan anak muda terhadap karya fiksi populer. Kedua, satir yang ditampilkan dalam Trilogi Laskar Pelangi berhasil memberi efek combo bagi pembaca. Yakni paduan humor dari kegetiran hidup yang sangat menyentil. Namun demikian, kisah Gusni, si Pemimpi Kecil yang Besar Sekali, telah meninggalkan jejak-jejak harapan dan mimpi-mimpi bagi jutaan Gusni lain di tanah ini. Harapan untuk mendobrak keniscayaan yang diyakini banyak orang (tentang batas usia yang, dengan modernitas dunia ilmiah, mulai bisa diramalkan), dan mimpi untuk berjalan, dan bertahan dengan berani.
Saya bermimpi besar, dan saya mempercayainya,.... Hidup dengan impian yang bermakna, tetapi sedikit puns aya tidak bekerja keras untuk impian saya, saya hanyalah pembual nomor satu bagi diri saya sendiri (hal. 413).
Seperti halnya buku-buku fiksi inspirasional pendahulunya, 2 mengajarkan untuk bermimpi besar, bermimpi dengan berani. Buku ini, secara tidak langsung mengajak pembacanya, "Siapa pun yang bermimpi besar, harus membaca 2!"
Karena segala sesuatu...
...diciptakan
2
kali...
Dalam dunia imajinasi, dan dalam dunia nyata (hal. 414).
 Sebuah kutipan memorable dan favorit bagi saya adalah:
...Setiap diri ini adalah kekuatan yang tidak pernah sedikit pun diremehkan oleh Sang Pencipta (hal. 415).
Cintai hidupmu dengan berani, jangan menyerah dan jangan berputus asa. 

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...