Author: Windry Ramadhina
Page: 330 pages
Page: 330 pages
Year Published:
2013
Publisher: Gagas Media
Gilang
harus berangkat ke London. Harus! Jika ia ingin mengetahui besaran kesempatannya
untuk mendapatkan Ning. Dulu, saat gadis itu masih di Indonesia, menjadi
tetangganya yang selalu bisa ia lihat kapan pun ia mau hanya dengan berteriak
memanggil nama Ning dari balkon di kamarnya, ia memiliki banyak kesempatan
untuk menyatakan cintanya. Tetapi label persahabatan
di antara mereka terlalu sakral untuk dikhianati,
sehingga Gilang membiarkannya menutupi kesadarannya yang datang terlambat itu. Bahkan
ketika Gilang menyadari pesona Ning sebagai seorang gadis yang memikat hati, ia
masih terlalu takut untuk merubah status di antara mereka. Sekarang, setelah
gadis itu terpisah ribuan mil jauhnya dari dirinya, rasa ingin memiliki itu
menguat tanpa bisa ia kendalikan. Dan akhirnya, segalanya diputuskan di bawah
kendali efek Jack Daniel’s. Gilang akan ke London!
Menyatakan cintanya, mengamalkan saran Hyde, sahabatnya, the women’s killer, dengan bermodalkan dukungan penuh sahabat-sahabatnya yang sama absurd-nya: Brutus, Dum, dan Dee.
Menyatakan cintanya, mengamalkan saran Hyde, sahabatnya, the women’s killer, dengan bermodalkan dukungan penuh sahabat-sahabatnya yang sama absurd-nya: Brutus, Dum, dan Dee.
Fitzrovia
adalah kota yang sama sekali asing bagi saya. Tapi LONDON mengenalkannya dengan baik sekali sehingga saya bisa
memvisualisasikan eksotisme-nya dengan sempurna di kepala saya. Kota yang dalam
kunjungan Gilang ke sana, ia tampil sangat sendu karena musim hujan.
![]() |
London Eye; Cr: Wikipedia |
Aku salah besar sewaktu berkata London Eye tidak lebih dari sebuah kincir raksasa. Ketika itu, sudah pasti aku tidak tahu bahwa London Eye memiliki ketinggian lebih dari seratus tiga puluh meter—itu empat kali tinggi Bianglala di Dunia Fantasi.
Dari Stasiun Waterloo, kincir raksasa itu tidak tampak seberapa, hanya berupa lingkaran kecil yang berpendar di cakrawala, yang menyembul malu-malu dari balik kumpulan bangunan abu-abu (page 62).
Lewat
interpretasi Windry Ramadhina, Fitzrovia tampil dengan hidup, seolah-olah penulisnya
menuliskan kota tersebut dari bawah langit Fitzrovia yang mendung dan
menumpahkan gerimis. Tidak ada deskripsi bergaya penjelasan monoton khas
artikel perjalanan. Berlatar museum-museum antik, venue-venue romantis, dan adegan-adegan dramatis, LONDON meninggalkan kesan magis dalam
ceritanya dalam balutan deskripsi yang menonjolkan keelokan Kota Penyimpan Cerita yang mendukung
perjalanan Gilang menemui keajaiban cintanya.
![]() |
Edited from here |
Bercerita
dari sudut pandang Gilang sebagai orang pertama tunggal, tokoh utama kita tidak
mendikte pembaca untuk berempati pada kisah melodramatik perjalanan cintanya. Sebuah
kelebihan yang menarik dari Windry Ramadhina, yang telah beberapa kali menulis
dari sudut pandang lelaki, tanpa terjebak sifat-sifat feminin yang tumpah dari dirinya.
LONDON memiliki range kisah yang singkat. Cerita bergulir selama lebih kurang seminggu,
sejak keberangkatan Gilang dari Jakarta dan tinggal di London selama lima hari.
Namun, alur dikemas dengan padat, dengan detil yang kaya dan tidak membosankan.
Ah, ya! Menyuntikkan informasi dengan cara yang menyenangkan adalah kelebihan
Windry yang lain :)
Kemunculan
tokoh misterius di LONDON menambah
nilai magis buku ini—sekaligus mengungkap makna “Angel” pada judul buku.
Sayangnya, tokoh yang cukup menarik perhatian ini memang disisipkan sesuai
labelnya: tokoh misterius. Ia dikisahkan dengan misterius. Seolah-olah ia
didesain untuk mengundang banyak tanya. Mengapa Gilang menunjukkan karakter
yang berbeda 1800 ketika bertemu tokoh ini? Daya magis apa yang
dimiliki gadis Goldilocks ini selain paras cantiknya yang memabukkan? Jika ia
benar sebuah isyarat kunci pemecah teka-teki Gilang, mengapa ia tidak muncul di
saat-saat penting yang hanya melibatkan payung merah-nya saja?
Saya
menemukan beberapa kosakata baru di dalam LONDON.
Di antaranya adalah hibuk, yang—sebelum membaca LONDON, telah saya ketahui, berkat
obrolan dengan seorang editor Gagasmedia—berarti hiper-sibuk.
![]() |
Sketsa Goldilocks buatan Windry Ramadhina, spesial untuk Amaya :) |
Anyway, LONDON ingin menyampaikan perihal keajaiban cinta yang
serba-tak-terduga, tak bisa diprediksi. Kau bisa merencanakan apa pun,
memperjuangkan seseorang sekeras apa pun, tapi ketika keajaiban cinta memilih,
kau tidak selalu bisa berada di pihak yang kau harapkan. Dan keberjodohan,
bukan sesuatu yang tampak baik atau menyenangkan di awalnya. Ia baik dan
menyenangkan pada akhirnya. Ketika segala sesuatunya sudah tepat waktunya.
3.5 out of 5 stars!
TENTANG PENULIS
TENTANG PENULIS
Windry Ramadhina lahir
dan tinggal di Jakarta; berprofesi sebagai arsitek. Ia menulis fiksi
sejak tahun 2007, pernah mengikuti bengkel penulisan Dewan Kesenian
Jakarta dan dua kali dinominasikan dalam Khatulistiwa Literary Award
berkat novelnya ORANGE (nominee untuk kategori penulis muda terbaik
tahun 2008) dan METROPOLIS (nominee untuk kategori prosa terbaik tahun
2009).
Novelnya yang
telah terbit antara lain ORANGE (2008), METROPOLIS (2009), MEMORI
(2010), MONTASE (2012), dan yang terbaru, LONDON: Angel (2013).
No comments:
Post a Comment