Sunday, May 25, 2014

Permohonan yang Membawanya Kembali

Judul buku: Where She Went
Jumlah halaman: 240 halaman
Penulis: Gayle Forman
Penerjemah: Poppy D. Chusfani
Editor : Dini Pandia
Tahun terbit: Oktober 2011
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-979-22-7650-3

Shooting Star sedang mendaki puncak popularitas, dengan Adam Wilde sebagai paradoksnya. Pemuda itu berada di titik jatuh terdalam. Bryn, pacar Adam yang cantik dan diinginkan lelaki mana pun, tidak kuasa menolongnya dari lubang kejatuhan mengerikan itu. Adam kehilangan jiwanya, sejak Mia pergi dan mencerabut paksa jiwa itu. Di tengah depresinya, tiba-tiba saja Mia muncul di hadapannya, seperti dijatuhkan dari langit begitu saja.
Mia datang dalam wujud pemusik muda berkarir secemerlang harapan yang baru saja terbit bagi Adam. Di hari terakhir Adam di New York sebelum tur-67-hari-nya yang akan dimulai di London, Adam memilih menghabiskannya bersama Mia. Meski ternyata gadis itu telah  begitu banyak berubah jika dibandingkan denagn apa yang diingat Adam tentangnya. Menjelajahi sudut-sudut New York untuk “mencari telur paskah”—begitu kata Mia, Adam dan Mia mengurai tanya dan jawab yang akan menyembuhkan mereka dari luka-luka masa lalu yang tidak pernah tersembuhkan. Adam, dari kehilangan Mia yang tiba-tiba dan tak pernah terjelaskan, dan Mia, dari “kebencian”-nya kepada Adam--yang terlalu dicintainya, karena telah membiarkannya hidup.
Where She Went adalah sekuel dari If I Stay yang laris. Uniknya, Where She Went seolah dapat berdiri sendiri tanpa bayang-bayang prekuelnya. Where She Went menyodorkan Adam dan Mia berikut kisah mereka dengan gamblang, seolah ia adalah buku tunggal, dan membuat pembaca dapat mengenal Adam dan Mia yang datang dari masa lalu, sejak pertama kemunculan mereka di buku ini.
Kredit gambar di sini

Where She Went adalah novel young adult yang manis. Penuh amarah, gairah muda yang meluap, ciuman manis yang pedih, dan cinta yang akan membuat siapa pun percaya bahwa ia adalah kesejatian. Gayle Forman, dengan kecerdasannya, menghidupkan Adam dan Mia dan mengepak keduanya bersama emosi-emosi empatik. Sehingga tidak sulit bagi pembaca untuk memaklumi kemarahan Adam, kebencian Mia, dan memahami alasan-alasan Adam untuk menangis atau berlaku kurang ajar. Gayle mengisahkan Where She Went dari sudut pandang Adam dengan porsi yang pas untuk membuat pembaca semakin mengenal Adam. Sudut pandangnya menegaskan eksistensi Adam dan caranya memandang segala hal juga orang-orang di sekitarnya. Adam yang berbicara dengan analogi dan citraan yang segar serta ungkapan-ungkapan yang puitis, akan langsung membuat pembaca percaya, bahwa pantas saja lagu-lagu Shooting Star yang ditulis Adam bisa begitu meledak dan mendatangkan banyak uang. Potongan-potongan lagu itu, lantas disisipkan di beberapa bab, untuk melatarbelakangi cerita tertentu yang pas dengan lagu. Saya mengutip satu bait dari satu lagu andalan Shooting Star itu, spesial untuk Anda.
I’ll be your mess, you be mine
That was the deal that we signed
I bought a hazmat suit to clean up your waste
Gas masks, gloves, too keep us safe
But now I’m alone in an empty room
Staring down immaculate doom
__Messy, Track 10 from Collateral Damage by Shooting Star
Dengan cara yang menyenangkan, lagu-lagu band Adam membuat pembaca ingin menyanyikan beberapa nada, dengan baris-baris tersebut sebagai liriknya. Ini novel yang manis sekaligus sendu, penuh deskripsi liris, lagu-lagu penuh kebencian dan permohonan untuk membawa sang Terkasih kembali. Saya akan menuliskan satu bait lagu lagi untuk Anda, dan diri saya sendiri tentunya.
Benci aku
Hancurkan aku
Lenyapkan aku
Bangkitkan aku
Maukah kau, maukah kau,
maukah kaubangkitkan aku?
__Chorus part of Animate, Track 1 from Collateral Damage by Shooting Star 

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...