Thursday, May 01, 2014

Kukila, Menyentil Moralitas Kita

Judul buku: Kukila
Penulis: M. Aan Mansyur
Editor: Siska Yuanita
Jumlah halaman: 192 halaman
Tahun terbit: September 2012
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Kukila adalah sebuah kumpulan cerita yang memuat 16 buah cerita pendek. Keenambelas buah cerita itu adalah:
Kukila (Rahasia Pohon Rahasia)
Kebun Kelapa di Kepalaku
Setengah Lusin Ciuman Prertama
Perahu Kertas dengan Huruf-Huruf Kanji
Setia adalah Pekerjaan yang Baik
Sehari Setelah Istrinya Dimakamkan
Membunuh Mini
Aku Selalu Bangun Lebih Pagi
Ketinggalan Pesawat
Celana Dalam Rahasia Terbuat dari Besi
Lima Pertanyaan Perihal Bakso
Lebaran Kali Ini Aku Pulang                 
Hujan. Deras Sekali.
Tiba-Tiba Aku Florentino Ariza
Tiga Surat Cinta yang Belum Terkirim
Cinta Kami (Seperti) Sepasang Anjing dan Kucing

Cerita-cerita ini berkisah tentang kejadian sehari-hari. Kisah tentang ibu dan anaknya, ayah dengan anaknya, kakak dengan adiknya, adik dengan kakaknya, kisah tentang patah hati, dan perselingkuhan—namun, kisah tentang patah hati dan perselingkuhanlah yang mendominasi Kukila. Membuat pembaca akan merasa begitu dekat dengan cerita-cerita tersebut, dan membuat penulis pemula yang ingin belajar membuat cerpen tersadar, bahwa ide cerita pendek tidaklah harus spektakuler. Kepiawaian menulis dapat menyulap ide sederhana menjadi cerita yang apik dan menggelitik. Aan sangat pandai mengakhiri cerita dengan sebuah twist yang menohok. Sampai sampai, pada beberapa cerita, saya merasa klimaks cerita itu justru berada di akhirnya. Cerpen Ketinggalan Pesawat, misalnya. Cerita itu hanya sepanjang dua lembar buku, berkisah tentang seorang lelaki yang ketinggalan pesawat dan terpaksa harus membeli tiket lain. Awalnya, insiden ketinggalan pesawat itu menjadi konflik bagi sang tokoh. Tetapi, pada paragraf terakhir—yang cukup singkat, konflik menanjak lebih tinggi, dan di sanalah klimaks itu terasa. Tepat sesaat sebelum cerita itu berakhir. Sebagian besar cerita Aan dalam Kukila dituliskan dengan cara serupa. Cara yang jitu menyentuh titik emosi pembaca yang selalu senang dibuat penasaran dan ditantang oleh cerita yang tidak klise. Sulit rasanya memilih cerita favorit dalam buku ini.
Aan yang merupakan penyair asal Sulawesi Selatan, dengan jujur, menyibak sisi-sisi dari tanah kelahirannya tentang tradisi tertentu. Misalnya, pada cerita Kebun Kelapa di Kepalaku. Aan bertutur tentang cara orang Bugis memanggil nama seseorang dengan cara yang unik, dan meski sekilas, Aan juga menyebutkan status ata—budak, yang menunjukkan bahwa suku Bugis mengenal sistem kasta dalam kehidupan sosial mereka.
Cerpen-cerpen tentang perselingkuhan adalah cerpen yang cukup menarik perhatian. Karena tema ini sangat dominan di antara enam belas buah cerpen Aan. Seolah perselingkuhan adalah lapisan bawang yang tak habis-habis saat dikupas. Kukila (Rahasia Pohon Rahasia), Setia adalah Pekerjaan yang Baik, Sehari Setelah Istrinya Dimakamkan, Celana Dalam Rahasia Terbuat dari Besi, Hujan. Deras Sekali., dan Tiba-Tiba Aku Florentino Ariza.
Uniknya, nama Kukila beberapa kali muncul selain dalam Kukila (Rahasia Pohon Rahasia). Baik sebagai tokoh riil maupun julukan. Kukila yang konon, adalah tokoh dari cerita dongeng ini, seolah mengisyaratkan betapa tipis interval dunia fiksi dan kenyataan di sekitar kita. Pada akhirnya, Kukila menyentil kita tentang moralitas dengan cara yang ringan, seringan pengabaian terhadap moralitas itu sendiri, namun dengan penceritaan bergaya syair yang estetis. Aan Mansyur mengajak kita menertawakan keprihatinan dengan geli dan hati kecut, semasam wajah kita yang tertawa menyeringai.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...