Friday, March 14, 2014

Irisan Tiga Fragmen


Judul buku: VERSUS
Penulis: Robin Wijaya
Editor: Mita Supardi
Jumlah halaman: 398 halaman
Tahun terbit: 2013
Penerbit: Gagas Media

Amri, Chandra, dan Bima. Tiga sahabat yang superkompak. Partner in crime paling solid. Dalam VERSUS, mereka berkisah tentang kehidupan masing-masing, juga tentang bagaimana mereka memandang satu sama lain. Amri, anak polisi yang piatu. Mendapat didikan keras, mendapat perlakuan pilih kasih dari ayahnya—yang lebih menyayangi adik lelaki Amri. Amri hidup dalam tekanan. Tuntutan untuk mengikuti keinginan ayahnya, dan relasi rumit dengan ayahnya yang tampaknya tidak akan pernah bisa berdamai. Untunglah ia memiliki Chandra dan Bima. Yang selalu bisa menerimanya apa adanya. Sebagai Amri yang apa adanya.
Chandra dan Bima akan selalu ada. Selalu mendukungnya. Selalu mencarinya jika dia tidak ikut nongkrong bareng. Chandra, peranakan etnis Tionghoa. Anak pemilik toko sembako di kampung mereka. Si jago matematika yang sering mendapat perlakuan tidak adil dan dipanggil "Cina". Tidak jago berkelahi seperti Amri dan Bima. Menganggap rumahnya sebagai stasiun, tempat persinggahan. Karena ibu dan ayahnya yang sibuk dengan bisnis keluarga mereka. Membicarakan bisnis dalam keadaan apa pun, di mana pun. Saat imlek, atau saat makan bersama di meja makan. Untunglah ia memiliki Amri dan Bima. Yang selalu meramaikan kamarnya dengan petikan gitar Amri yang menyanyikan lagu-lagu Nirvana, dan celotehan Bima tentang ketidakadilan dan beragam kritik sosial lainnya. Dengan merekalah, Chandra merasakan hidup, mencuri-curi merokok, dan berkelahi. Lalu, Bima. Pelarian dari rumah sejak kecil. Mengikuti abangnya yang kemudian memutuskan untuk menjadi waria. Hidup berpindah-pindah dan selalu digunjing tetangga mereka. Pemuda nekad yang tak pernah mengenal rasa takut. Akhirnya menemukan Amri dan Chandra. Sahabat-sahabat yang membuatnya rela berkelahi, menghadapi parang tajam mematikan milik anak kampung Anyar. Sahabat-sahabat yang tak pernah menghakimi abangnya.
Kredit gambar di sini
VERSUS mengisahkan napak tilas tiga sahabat—Amri, Bima, Chandra—ke masa remaja mereka, melalui sebuah reuni kecil-kecilan. Amri yang telah menjadi pengacara, Chandra yang pengusaha garmen, dan Bima yang merupakan bagian dari sebuah ormas, bertemu kembali untuk mengunjungi Kampung Bayah, yang dulu mengikat mereka dalam satu simpul. Pertemuan yang mempersaudarakan. Persahabatan mereka ibarat irisan, area yang mempertemukan mereka di tengah tiga fragmen yang berbeda. Diri mereka.
VERSUS dikonsep dengan teknik fragmentasi. Bercerita tentang tiga tokoh sentral dan membaginya dalam tiga fragmen dengan sudut pandang aku-an yang berbeda-beda—Amri dengan “aku”, Chandra dengan “gue”, dan Bima dengan “saya”. Fragmen pertama bercerita tentang Amri. Permasalahan Amri berkutat seputar ayahnya. Ketidaksepahaman mereka dari waktu ke waktu. Tidak ada konflik berarti yang menghentak dalam fragmen Amri. Semuanya hanya begitu saja. Alurnya lambat dan konflik tidak pernah memuncak. Robin tidak cukup berhasil menanamkan emosi yang kuat dalam konflik Amri, saya kira. Banyak remaja putra yang mengalami hal seperti Amri. Dan ketika membaca kisah ini, saya hampir yakin mereka akan berkata, “Oke, jadi masalahnya di mana? Kami juga begitu. Ada lagi yang perlu kami dengar dan lihat? Sesuatu yang lain, mungkin?”.           Fragmen kedua adalah bagian Chandra. Dari awal sampai akhir, fragmen ini berisi keluhan Chandra tentang porsi kasih sayang orang tuanya yang sedikit, karena kesibukan mereka mengurus bisnis. Ada pula tentang bullying yang dialami Chandra. Yang sayangnya, seperti halnya yang terjadi di sekolah-sekolah, diselesaikan oleh guru. Lalu fragmen terakhir mengisahkan Bima. Dari ketiga pemuda ini, Bimalah yang memiliki karakter paling kuat. Saya tidak ragu menyebutnya Petualang Jalanan. Prinsip-prinsip hidupnya ia pungut dari jalanan yang ditapakinya selangkah demi selangkah dengan kepayahan dan napas terngah. Ia memiliki kedewasaan yang mengagumkan. Sangat disayangkan, pembaca tidak bisa melihat kiprahnya dalam ormas yang digelutiny, atau hal-hal heroik lain yang pantas ia pertukarkan dengan nyawanya, meski itu tidak akan berakhir seperti film superhero.
Mengetengahkan tokoh-tokoh remaja usia SMA, VERSUS yang menampilkan gejolak psikologis tokoh-tokohnya dengan baik lewat penuturan subyektif tokoh-tokohnya, dikisahkan terjadi di tahun bergolaknya rezim pemerintahan Indonesia. Cukup disayangkan karena tidak ada hal-hal wah yang bisa membuat buku ini outstand. Konflik yang dipilih nampaknya akan sulit membuat pembaca berempati pada ketiga tokoh-tokohnya. Berlatar Jakarta tahun 1998, VERSUS tampil aman dengan konflik yang dialami semua orang di masa itu. Krisis ekonomi yang diperbincangkan di mana-mana. Dengan anak-anak yang tidak bisa melakukan apa-apa, selain mempercayakan segala-galanya pada orang tua mereka. Sampai di situ saja.
Dalam sebuah situs pembaca, beberapa reviewer menyamakan VERSUS dengan Mengejar Matahari. Saya yakin, keduanya jauh berbeda. Mengejar Matahari akan jauh lebih memorable. Namun, bagaimanapun, VERSUS menyisipkan nilai-nilai persahabatan, kesetiaan, dan keberanian yang cukup menghangatkan hati. Jika kamu menyukai kisah-kisah persahabatan dengan unsur roman yang tawar, kamu akan menyukai VERSUS.
Kredit gambar di sini

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...