Monday, September 30, 2013

Buku, Di Suatu Masa

Title: Fahrenheit 451
Page: 232
Author: Ray Bradbury
Translator: Celcilia Ros
Editor: Alodia Yovita
Year Published: 2013
Pusblisher: Elex Media Komputindo

Pertemuan Guy Montag dengan seorang gadis berusia tujuh belas tahun--yang menurutnya aneh, Clarisse McClellan, membuat sang Pemadam Kebakaran itu mulai mempertanyakan kebahagiaannya sendiri. Apakah ia bahagia? Seharusnya, ya. Sepanjang yang ia ingat, menyalakan api dan menghanguskan buku-buku adalah hal yang menyenangkan baginya. Memadamkan api yang membakar manusia dengan ide-ide dan gagasan berbahaya adalah misi yang mulia. Tapi ia merasa iri dengan Clarisse yang rumahnya selalu dipenuhi riuh canda tawa anggota keluarganya. Bukan keluarga kesayangan Milderd, isterinya, orang-orang di dalam kotak yang berbicara padanya mengenai apa saja.
Suatu hari, Guy Montag bertugas untuk memadamkan kebakaran di rumah seorang wanita tua. Wanita itu memiliki perpustakaan yang dipenuhi banyak sekali buku. Saat akan dihanguskan, wanita itu memilih untuk ikut terbakar bersama buku-bukunya. Peristiwa itu adalah menyisakan shocking effect yang dahsyat bagi Guy Montag. Lelaki itu mulai meragukan pekerjaannya. Dan isterinya jelas tidak menyukai hal itu. Fahrenheit 451 ditulis di masa klasik. Diterbitkan pertama kali dalam format novelet di sebuah majalah, dengan judul The Fireman. Mengagumkan menemukan sebuah karya klasik yang ditulis dengan tidak biasa. Menggambarkan situasi emosional seorang pemadam kebakaran dengan simbolisasi yang rumit, namun anehnya berhasil menyedot diri saya untuk masuk ke dalamnya, dan tak ingin berhenti mengetahui kelanjutan kisah sang Pemadam Kebakaran dalam upayanya menyelamatkan buku-buku. Ide besar Fahrenheit 451 tercetus dari kegelisahan seorang penulis yang merasa tak puas dengan cara kerja editor menyentuh karya (yang akan selalu menjadi yang) terbaik dari mereka. Penulis telah menciptakan sebuah dunia dalam buku-bukunya, mengerahkan segenap cinta dan kemampuan terbaiknya demi kelangsungan dunia itu. Namun yang dilakukan para editor adalah mendekorasi ulang dunia itu sesuai kepentingan penerbit. Mengesampingkan hal-hal berbobot yang bisa mmengisi ruang kosong di banyak kepala yang haus akan daya kritis, tanpa mereka sadari. Hal ini disimbolisasikan oleh Ray Bradbury sebagai pembakaran buku. Buku-buku yang jujur telah dibakar oleh orang-orang yang tak memahami buku namun mengaku memahami buku, mengingat label keprofesiannya. Menyisakan buku-buku yang membohongi pembaca dari masa ke masa. Sikap kritis Ray Bradbury inilah yang mengilhami lahirnya Fahrenheit 451.
"Sekali waktu, buku menarik beberapa orang, di sini, di sana, dimana-mana,. Mereka mampu menjadi berbeda. Dunia dulu lapang. Tapi kemudian dunia menjadi penuh dengan mata dan siku dan mulut. Dua kali lipat, tiga kali lipat, empat kali lipat populasi. Film dan radio, majalah, buku turun kedudukannya menjadi semacam norma puding pasta" (page 65).
Namun, mari kita lihat, betapa Fahrenheit 451 kemudian tumbuh menjadi sebuah bentuk kritisi jenius tentang posisi buku sebagai sebuah media pencerdasan yang makin tersisih. Tergantikan oleh, yang dalam Fahrenheit 451 disebut sebagai layar dinding. Televisi. Film. Generasi masa kini lebih menggemari media audio visual yang seringkali lebih menitikberatkan fokus penyajiannya pada gerak lakon yang menyentuh emosi, namun minim pesan. Sangat minim pesan. Upaya adaptasi karya-karya bagus pun terjebak dalam upaya alih-wahana yang sia-sia karena perbedaan standar kretif dunia sinematografi dan literasi. Terlepas dari tujuan awal penulisan buku ini, Fahrenheit 451, bagi saya, lebih seperti sebuah ramalan masa depan nasib sebuah buku. Di masa klasik, Ray Bradbury berhasil memvisualisasikan dunia modern yang malas berpikir. Tak ingin berpayah-payah mencerna informasi dengan menyeimbangkan kerja otak kiri dan kanan. Hal ini tergambar dari tokoh Mildred, isteri Guy Montag, yang menyebut layar dinding sebagai kerabat-nya. Sesuatu yang ia tak bisa hidup tanpanya. Karena layar itu berbicara padanya sepanjang hari. Menceritakan dunia yang tanpa masalah dari waktu ke waktu, membuatnya tertawa. Di kota saya, Kendari, perpustakaan daerah adalah tempat yang mengesankan kesuraman, kesunyian, dan aroma apak buku-buku usang yang semakin rapuh diterpa udara ruangan tak berpendingin. Buku-buku itu di tahun depan, tidak lagi akan layak menjadi referensi penulisan karya ilmiah seperti skripsi karena tahun penerbitannya yangs udah terlampau tua. Rendahnya perhatian terhadap pembaruan karya-karya referensi belajar warga kota ini jelas berimbas pada minat baca dan minat kunjung perpustakaan bagi anak-anak sekolah, mahasiswa, terlebih lagi warga kota yang telah bekerja. Pada mulanya, perpustakaan akan terlupakan, lalu  buku-buku, dan akhirnya .... Saya berubah pikiran untuk tidak meminjamkan buku ini pada kawan-kawan saya. Fahrenheit 451 tidak akan seusang usianya. Saya ingin menyimpannya, merawatnya agar awet, untuk kelak saya wariskan kepada anak dan cucu saya. Saya sangat menyukai ini. 4 dari 5 bintang!

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...