Friday, September 20, 2013

CINTA, Sebuah Rumah Untuk Pulang

Book Title: Memento
Page: vi+266 pages
Author: Wulan Dewatra
Editor: Alit Tisna Palupi
Published Year: July 2013
Publisher: GagasMedia

Shalom, seorang desainer berbakat yang ambisius dan dingin, kehilangan Orang tua kandung, lalu calon suami, ayah angkat terkasih, lalu cinta sejati.
Shalom kehilangan Harmein Khagy saat ia benar-benar telah jatuh cinta. Harmein Khagy bukan lelaki yang menghabiskan waktu dari pagi hingga petang duduk di balik kursi dengan setumpuk dokumen dan membuatnya tampak keren. Harmein Khagy adalah seorang web developer dan desainer grafis yang memiliki banyak waktu untuk memasak dan membawakan makanan khusus untuk Shalom.
Semenjak kepergian Harmein Khagy--yang dianggap Shalom sebagai perjalanan tugas--ke luar kota, lelaki itu tidak pernah menemui Shalom lagi. Dan Shalom harus merelakan tunangannya itu pergi untuk selama-lamanya. Karena kekhawatiran ayahnya pada Wirya yang sewaktu-waktu bisa mencelakai Shalom, Shalom harus melupakan ambisinya menjadi perancang busana top. Di tengah duka setelah kehilangan Harmein Khagy, ia memulai karir barunya sebagai pengawas peternakan milik ayahnya yang sudah diwariskan kepadanya, Indihiang 1. Tidak sulit bagi Shalom untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya. Ia bisa mengunjungi pantai kapan pun ia menginginkannya. Berharap ia bisa melupakan Harmein Khagy yang masih terus dikiriminya pesan untuk kemudian membalasnya sendiri. Lingkungan peternakan mempertemukan Shalom dengan kawan baru. Mohesa dan si Garong. Ada pula Lunar yang menginginkan gaun rancangannya untuk ia kenakan di hari pernikahannya. Kunjunganny ke rumah Lunar mempertemukannya dengan lelaki pemurung yang mengusik perhatiannya setelah beberapa kali memperhatikannya diam-diam dari kejauhan. Elgar.
Bisakah Shalom berhenti memimirkan Harmein Khagy setelah menerima pernyataan cinta Elgar?
Setelah Hujan dan Teduh, Memento adalah novel kedua Wulan Dewatra yang saya nikmati. Sejak awal, saya menyukai gaya bercerita Wulan Dewatra yang--meski tidak bisa saya katakan amazing--rapi. Memento menunjukkan kematangan proses kreatif Wulan Dewatra yang membuat saya percaya, tidak butuh diksi akrobatis untuk menyentuh pembaca dengan narasi. Cukup dengan kesederhanaan yang riil dan apa adanya. Saya tidak bisa memberi 3 bintang untuk Memento, tapi juga tidak rela memberinya dua bintang. Untuk sebuah alasan emosional, saya menyukak karakter Shalom yang dingin, berbicara hemat kata, dan ambisius karena obsesi "showing off capability" pada orang-orang yang meremehkannya. Kausalitas terbentuknya karakter ini pun terpenuhi dengan tampilnya karakter ayah angkat dan adik angkat yang sama dingin dan "hemat kata"-nya. Lalu Harmein Khagy, tokoh favorit saya dalam cerita ini. Meski hanya tampil sekilas, tapi sangat berkesan hingga cerita berakhir. Ada pun Elgar, adalah karakter yang plin-plan, si Patah Hati yang mudah jatuh cinta. Hanya dalam beberapa kali pertemuan, ia yakin bahwa ia ingin menikahi Shalom. Sebenarnya, ini tidak begitu salah. Mungkin saja Wulan Dewatra ingin menyampaikan bahwa keberjodohan bukan saja hal yang misterius awal mula dan waktu datangnya, melainkan juga absurditas kejadiannya. Tapi pembaca membutuhkan keyakinan bahwa Shalom yang ta pernah menunjukkan emosi adalah gadis yang layak dijatuhcintai oleh seorang lelaki yang merasa hanya ada satu cinta untuk setiap orang di dunia ini dan cinta itu, baginya, sudah tak ada lagi. Saya mulai skeptis setelah membaca prolog. Saya khawatir tidak bisa melanjutkan membaca cerita ini hingga selesai. Saya kehilangan ketertarikan untuk mengetahui apa yang akan terjadi pada Shalom. Anehnya, setelah mengenal Harmein Khagy, saya mendapati diri saya sendiri membalik halaman demi halaman untuk mengetahui perkembangan kisah Shalom-Harmein. Harmein Khagy adalah satu-satunya tokoh yang berhasil diciptakan Wulan dengan karakter terkuat. Shalom menempati urutan kedua. Mungkin untuk sebuah alasan subyektif, saya menyukai Shalom. Beberapa elemen dalam diri Shalom menghadirkan sensasi bercermin pada diri saya. Seolah-olah saya sedang berdiri di depan cermin dan melihat ke dalam mata dan hati saya sendiri. Sayangnya, ada terlalu banyak konflik tersaji dalam kisah ini, dan hampir tidak ada penyelesaian yang melegakan untuk semua itu. Mengingatkan saya pada hukum penyelesaian relatif dalam kehidupan. Bahwa akhir yang sebenarnya baru terjadi setelah kematian. Tapi sungguh, konflik-konflik dalam Memento membuat pembaca tak merasa menuntaskan kisah ini bahkan setelah lembar terakhir ditutup. Dan terlalu banyak pesan yang dijejalkan, tanpa memerhatikan kebutuhan cerita dan kebutuhan pembaca. Misalnya saja, kutipan dari buku Karen Armstrong tentang sejarah Tuhan. Bukan poin yang tepat untuk disisipkan di sana, menurut saya. Memento dicetak dengan jumlah halaman kurang dari 300 halaman, dengan layout yang boros karena ukuran font yang cukup besar. Nyaman di mata, tapi jelas berdampak pada keutuhan cerita yang tampak terpenggal-penggal. Karena hal ini memaksakan lompatan cerita yang lebih banyak demi tercukupinya jumlah halaman yang lebih ringkas. Satu hal yang paling menarik dan mematrikan kesan kuat dari Memento bagi saya, yakni ketegaran Shalom dalam menghadapi pengkhianatan. Dengan segala kemelut dan kegetiran hidupnya, Shalom bisa tampil begitu sabar dan memahami lelaki yang dicintainya. Menyikapinya dengan sebaik-baik perlakuan, dan berterima kasih untuk hal-hal kecil.
 Jika aku masih rumah bagimu, pulanglah (page 203).
Terlepas dari kebingungan saya tentang bagaimana Shalom bisa mencintai lelaki biasa seperti Elgar, poin di atas adalah hal paling mengesankan selama pengalaman saya membaca Memento. Ini adalah hal termanis yang pernah saya temukan dalam bacaan fiksi saya di September ini.

Cinta, adalah sebuah rumah yang mampu membawa siapa pun yang memilikinya untuk kembali, pulang, untuk berbahagia.

Well, 2.5 stars! Dan saya tidak keberatan menantikan metamorfosis Wulan Dewatra di karya-karyanya yang berikutnya.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...