Saturday, August 03, 2013

Jika Kau Lelah Berlari, Kembalilah. Berbalik Arah lah!

Book title: U-Turn
Page: 246 pages
Author: Nadya Prayudhi
Editor: Arief Ash Shiddiq
Publisher: PlotPoint
Published year: April 2013

Kita tidak akan pernah mengerti cara Tuhan berkelakar tentang hidup. Di satu titik, Tuhan ikut menyembunyikan rahasia kita. Lalu di satu masa, Dia pertemukan kita dengan orang-orang yang tampak menghukum kita untuk itu, minimal mengakuinya. Pada saat itu tiba, kita akan terbelit lingkaran pertemuan dengan jalinan segi banyak di dalamnya. Seperti itulah Karindra mencecap kehidupan thirty something-nya. Kepergian Abi masih menyisakan luka yang sulit disembuhkan.
Kenangan tentang Abi adalah hal yang tidak mungkin terhapuskan. Tapi bersamaan dengan itu, dosa masa lalu-nya terus membayang. Lalu kepergian Bre dari sisinya, membuyarkan cita-cita masa depan yang bahagia, membawa Karin berlari semakin jauh. Tapi sejauh apa pun ia berlari, Zara yang malang masih bisa mengejarnya.
Suatu hari, di puncak lelahnya, Chuan, lelaki yang pernah  bersumpah sangat mencintai Karin dan tergila-gila padanya, berkata, “Ayo Karin, make a u-turn and you’ll be happy. Like me.
U-Turn dikisahkan dengan sudut pandang orang ketiga. Awalnya, saya berpikir bahwa ini hanya akan diceritakan dari sudut pandang Karin. Tapi ternyata di bab 19, sudut pandang berpindah pada Bre, namun hanya beberapa bab. Dan ketika Bre bertemu Karin, sudut pandang kembali dikuasai Karin. Lalu pada bab resolusi, sudut pandang sempat berpindah pada Marisa—sang antagonis, sekilas.
Alur gabungan yang coba diusung penulisnya masih kurang mulus. Saat perpindahan antarbabak dari masa kini ke masa lalu atau sebaliknya, seringkali membingungkan. Saya kepayahan saat menebak sedang berada di mana saya ketika sedang membaca halaman tertentu. Seringkali saya harus kembali ke halaman sebelumnya untuk memastikan. Dan itu cukup melelahkan, dan tentunya menghilangkan fokus membaca.
Hal yang cukup mengganggu adalah dialog-dialog bernuansa baku yang terselip di banyak tempat. Mengingatkan saya pada dialog sinetron adaptasi novel Mira W atau Marga T.
 “… Ibu akan melakukan apapun untuk melindungimu” (hal. 124).

“Tapi aku semestinya bisa mencegahnya. Aku diam saja sewaktu Zara mengaku-ngaku sebagai pacarku dan menghina Abi karena menyukaiku. Itu membuatku bersalah, kan?”(hal. 171).

“Karin, sebenarnya aku mau menceritakan sesuatu padamu” (hal. 206).
U-Turn mengajak kita untuk selalu bisa memulai langkah baru dalam hidup setelah berlari jauh dan tersesat, kadang terjatuh, berlari lagi, dan tersesat lagi, dan terjatuh lagi. Tapi jarak tempuh kita memiliki batasnya. Jika kita telah sampai di batas itu, kita hanya perlu berbalik arah, kembali pada titik di mana kita harusnya berdiri hingga akhir, menyatukan puing-puing retak kehidupan kita.
Anyway, Nadya Prayudhi berhasil membangun konflik masa depan Karin dari potongan-potongan masa lalunya yang pada akhirnya membawanya pada titik balik hidupnya. Sebuah kebahagiaan kecil, yang baru. U-Turn terkemas dengan cukup baik sebagai sebuah roman ber-subgenre thriller. Sebuah debut yang patut dipuji.
2,5 out of 5 stars!

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...