Thursday, August 29, 2013

Entrok, dari Balik Kacamata Seorang Jurnalis

Book title: ENTROK
Page: 288 pages
Author: Okky Madasari
Published Year: April 2010Publisher: Gramedia Pustaka Utama

Si Mbok hanya perempuan bodoh yang akan selalu berpuas diri menjadi pengupas singkong berupah singkong. Tapi Sumarni, putri tunggalnya, menginginkan uang sebagai upah. Sederhana, Marni ingin memiliki entrok.
ENTROK adalah titik awal perjalanan Marni menuju masa depannya. ENTROK membawa Marni bersentuhan dengan dunia yang--ternyata bersifat--materialis. Keinginan memiliki entrok telah menjadikan Marni berupa-rupa manusia. Tukang ngupas singkong, kuli, pemilik bakul, dan akhirnya juragan dengan pawon mewah, televisi, roda empat, dan sawah berhektar-hektar. Tapi ternyata kebahagiaan tidak diukur dari seberapa banyak seorang wanita memiliki entrok atau entrok berbahan apa yang ia kenakan. Setelah memiliki duit, Marni dihadapkan pada ragam persoalan lainnya. Dari politik yang menguras uang, desas-desus pesugihan, hingga ditinggal putri semata wayang yang melarikan diri karena alasan spiritual.
Dengan bahasa sederhana khas masyarakat ndeso--sesuai karakter utama cerita, Okky Madasari membawa pembaca menapak tilas perpolitikan Indonesia di era orde baru yang penuh pergolakan berbagai kelompok kepentingan. Lewat sudut pandang Marni yang buta huruf, cerita bergulir dengan narasi sederhana yang lugu dan penuturan yang polos, namun menohok. Cerita mengenai dominasi partai berwarna kuning berlambang pohon melemparkan saya ke masa kecil saat baru mendengar istilah "kampanye" untuk pertama kalinya. Istilah itu saya interpretasikan sebagai pawai kuning yang diramaikan artis-artis kecamatan berpakaian norak di atas panggung permanen dengan lantai semen berlubang-lubang karena saban hari diinjak sapi yang digembalakan di tengah lapangan di mana panggung itu berdiri. Jika kampanye tiba, jam sekolah kami dipersingkat. Guru-guru kehilangan fokus mengajar karena terjangkiti euforia pemilu. Suatu hari, aku ikut memakai rompi berwarna kuning dengan pin bergambar capres idolaku tersemat di dada kiri. Luar biasa bangga rasanya.
Saya memandang entrok sebagai benda filosofis yang sudah dipilih dengan teliti untuk mewakili keseluruhan konflik yang tersaji dengan blak-blakan--tanpa ditahan-tahan--dalam novel ini. Entrok bukan saja benda biasa yang paling diinginkan tokoh utama novel ini sehingga membawanya mencecapi rupa-rupa rasa kehidupan dalam lingkaran sosial yang timpang. Entrok juga merupakan simbolisasi untuk sesuatu yang disembunyikan di balik kemasan menarik sebuah tampilan luar yang kamuflase. Baju politik, baju kekuasaan, baju wibawa, baju agama.
ENTROK mengingatkan kita pada prinsip-prinsip agung yang lantas dengan mudah bisa menggelincirkan pemeluk fanatiknya. ENTROK sangat membumi, sangat riil. Mengemas isu-isu ekonomi, hukum, politik, hingga pluralisme dengan menihilkan peran basa-basi. ENTROK adalah sebuah novel jurnalistik yang cerdas.
3.5 out of 5 stars!

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...