Saturday, April 25, 2015

Sicklit Overhype yang Tidak Istimewa

Judul buku: Sing Me To Sleep
Jumlah halaman: 564 halaman paperback
Penulis: Angela Morrison
Penerjemah: Nadiah Alwi
Penyunting: Helena Theresia
Tahun terbit: July 2011 (first published March 1st 2010
Penerbit: Ufuk Publishing House
ISBN13: 9786029159387
Penghargaan sastra: USA Best Book Awards for Young Adult Fiction (2011), Goodreads Choice Nominee for Young Adult Fiction (2010)

Sial, dia jelek banget.
Itulah kalimat pertama dari ayah biologisku saat melihatku. Hanya itu gambaran yang kumiliki tentangnya. Bayangan tubuhnya membungkuk ke arah Mom yang mengenakan pakaian rumah sakit dan menggendong buntalan kain flannel di tangan (Prolog: 5).
Menurut Beth, dia terlahir buruk rupa. Semua orang memperlakukannya seolah-olah dia monster, kecuali, tentu saja ibunya, dan sahabatnya sejak kecil, Scott. Bahkan setelah Scott berhasil menghilangkan jerawatnya dan bermetamorfosis secara mengejutkan menjadi cowok imut, Beth masih monster mengerikan yang dibenci anak-anak di sekolah. Meski begitu, Beth memiliki kelebihannya sendiri: vokalitas yang istimewa. Beth mengikuti sebuah kelompok paduan suara di luar sekolah. Dia bukan vokalis utama. Posisinya bukan posisi penting yang mengharuskannya berdiri di depan. Tetapi suatu ketika, vokalis utama grup paduan suaranya gagal tampil dengan baik dan Beth mengambil alih posisinya. Dengan Beth di baris depan, grup paduan suara Beth, Bliss Youth Singer, berhasil lolos di tahap awal sebuah kompetisi paduan suara tingkat dunia yang diselenggarakan di Swiss. Beth pun menjalani makeover. Si Itik berubah menjadi Angsa. Di Swiss, Beth yang cantik dan bersuara cemerlang menarik perhatian banyak orang, termasuk salah seorang cowok ganteng vokalis utama grup Amabile yang populer: Derek. Di Swiss, kisah cinta Beth dan Derek pun dimulai.
Sing Me To Sleep adalah sicklit yang mengetengahkan kasus fibrosis cystic. Sebuah penyakit mematikan yang menyerang paru. Meski buku ini disebut sebagai buku yang terinspirasi dari seorang pengidap fibrosis cystic, sama sekali tidak ada penjelasan spesifik mengenai penyakit tersebut di dalam buku ini. Sing Me To Sleep sejak awal berfokus kepada Beth yang sibuk dengan persiapan kompetisi paduan suaranya dan upayanya untuk berubah menjadi cantik dan kisah cintanya bersama Derek. Sangat sulit bagi saya untuk segera menyelesaikan cerita ini. Beth adalah tokoh tidak sempurna yang sulit saya jatuhi simpati. Bagaimana Scott, sahabatnya, bisa jatuh cinta kepadanya pun masih menjadi misteri yang sulit saya pahami. Jika pada akhirnya Derek jatuh cinta kepadanya, saya menduga karena Beth memang cantik dan memiliki suara bagus. Tapi ketika Derek berkata bahwa Beth memiliki hati yang cantik, saya sulit mempercayainya.
Kedua mata cokelatnya yang indah mendapatiku di barisan kelima kursi penonton. setiap helaan napasku menyatu dengan setiap nada yang ia nyanyikan. Entah bagaimana, ia menjadikan lagu "Ave Maria" seperti lagu cinta. Aku terperosok dalam kekuatan nyanyiannya--terpesona oleh emosi yang dituangkannya. Air mataku merebak. Perlahan mengalir dari kedua sudut mataku. Aneh. Bagaimana aku bisa merasa seperti ini? (hal. 231)
Kisah ini diceritakan dengan alur progresif. Dimulai dari hari-hari sulit Beth yang dimusuhi banyak orang karena keburukrupaannya. Namun untunglah semua bisa dia tangani karena dia memiliki Scott yang selalu berada di pihaknya, dan ibunya yang selalu menerimanya apa adanya. Sampai kelompok paduan suaranya berkesempatan mengikuti semifinal kompetisi dunia di Swiss dan dia jatuh cinta kepada Derek dengan begitu dalam. Derek adalah cowok keren jenis yang akan digilai cewek mana pun. Dia berbakat dan menarik. Ramah dan tampak baik. Namun entah bagaimana, kebersamaannya dengan Beth terasa dangkal dan sangat tidak istimewa. Awalnya saya mencurigai, flat-nya cerita ini disebabkan oleh pengerjaan editorialnya. Penerjemahannya, lebih tepatnya. Tapi kemudian saya semakin yakin, bahwa cerita ini dituliskan dengan agak terlalu lugas--yang semestinya akan baik-baik saja jika tidak dibumbui dengan deskripsi puitis yang terlalu berbunga-bunga dan penuh madu serta gula--dan tanpa upaya menunjukkan emosi tokoh-tokohnya kecuali dengan mengungkapkannya dengan terus terang. Sehingga pembaca akan menangkap kesan bahwa ketertarikan Derek dengan Beth hanyalah ketertarikan fisik semata. Dan cinta mereka hanyalah cinta naif yang terlalu terburu-buru dan agak terlalu bergairah.
Bibir bawahku bergetar. "Aku menyesal sudah mengotori kausmu," ujarku sambil mengusap bahunya yang basah.
Ia kembali menyandarkan kepalaku di bahunya. "Aku tidak."
"Aku pasti berantakan sekali ya?"
"Aku tidak lihat."
"Sepertinya kau bisa melepaskan aku sekarang."
"Harus ya?"
"Tidak." Leherku tercekat, sepertinya air mata akan mengalir lagi dari pipiku. "Kalau kau tidak keberatan, peukanmu membuatku tenang."
"Bagus." Bibirnya menyapu keningku.
"Derek?"
Kini ia mengecup keningku.

"Aku tidak terlalu mengenalmu." Apakah ia sedang memperalat diriku atau memang ia tahu inilah yang kubutuhkan?
Bibirnya menyapu wajahku. "Kau mengenalku."
Kupejamkan mata. Aku tak sanggup bernapas (Dialog Beth & Derek: 215).
Sepanjang tahun ini, inilah satu-satunya buku di mana saya sama sekali tidak memiliki karakter favorit di dalamnya. Kecuai Meadow. Saya agak menyukai gadis itu. Dia rival Beth yang sangat sportif, meski dia sangat ambisius. Beth sendiri adalah gadis yang cengeng dan terlalu melankolis. Dia sulit mengambil keputusan dan sangat plin plan. Dia menyukai dua pemuda sekaligus dengan mudahnya, dan dapat melupakan salah satunya dengan lebih mudah, pada saat yang sama.
Di awal, Sing Me To Sleep adalah cerita yang sangat menjanjikan. Kisah personal Beth sangat menarik minat saya: pengabaian oleh ayah kandungnya. Sampai akhirnya saya sadar bahwa kisah ini hanya akan berfokus pada romansa Beth yang mengecewakan. Sing Me To Sleep adalah frasa yang diucapkan Derek kepada Beth ketika kondisi kesehatannya memburuk. Saya menyesal tidak bisa menangis untuk Derek.Dan sampai di saat terakhir, saya tidak bisa menganggap Beth seorang teman untuk sekadar bersimpati dengan masalahnya. Bahkan setelah saya mengetahui bahwa Beth juga memiliki masalah kesehatan spesifik--saya tidak akan menceritakannya untuk menghindari spoiler, saya sudah terlalu jahat dengan terlalu banyak membocorkan alur cerita. Keadaan Beth ini diceritakan dengan mendadak dan tereseolusi dengan seadanya, seolah-olah itu bukan hal besar, padahal di awal, Beth sempat meresponnya dengan berlebihan.
Dengan sangat menyesal, saya tidak dapat menyukai cerita ini. Padahal saya tahu, demi sopan santun, seharusnya saya bisa mencoba untuk setidaknya, berkabung selama beberapa saat, seteah menemukan akhirnya. Tapi tetap saja, saya tidak bisa. Seperti sebagian besar young adult sicklit yang very much hype, Sing Me To Sleep juga memiliki bakat menyentuh yang seharusnya dapat tampil sebaik yang lainnya, sebut saja misalnya, My Sister's Keeper, A Thousand Tommorows, The Fault in Our Stars. Nyatanya, Sing Me To Sleep hanyalah buku overhype yang tidak istimewa. Sungguh disayangkan.

2 comments:

  1. Menurutku, ceritanya dangkal bgt. Apa jalan satu2nya Beth supaya dpt dikenali dan disukai orang lain adalah makeover? Dan seingetku dia juga operasi gitu kan ya, walau bukan operasi besar? Udah lama bacanya. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, Mbak. Mungkin, tidak akan terkesan seperti itu kalau Beth disituasikan dalam dilema tertentu dan denagn deskripsi yang lebih emosional agar pembaca bisa setidaknya bersimpati sama dia. Romansanya juga terkesan "aneh" buat saya. Minjem istilah Mbak, rada 'dangkal'. Terlalu mudah, dikisahkan begitu saja, agak gimana yaa.... Bingung ngejelasinnya ^_^

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...