Friday, May 22, 2015

Romansa Empat Abdi Negara

Judul buku: 4 Musim Cinta
Jumlah halaman: 332 halaman
Tahun terbit: 13 Maret 2015
Penerbit: Exchange
ISBN13: 9786027202429

Gayatri, Pring, Arga, Gafur. Empat pegawai Dirjen Perbendaharaan Kementrian Keuangan, terhubung oleh jalinan benang-benang takdir yang lantas membelit mereka, mirip sebuah jebakan. Gayatri: setelah bertemu Pring, teman virtual yang selalu berbagi hal-hal seputar penulisan kreatif dengannya, di acara jamuan bagi pegawai yang berminat-bakat di bidang penulisan kreatif di Lembang, ia mulai merasakan getar-getar aneh di dalam dirinya. Setelah berpisah dari Adam, kekasihnya yang begitu berbeda dengan dirinya, Gayatri merasakan dirinya runtuh oleh pesona Pring yang romantis dan selalu tahu harus mengatakan apa dan melakukan apa di saat yang tepat. Kopi darat dengan Pring di Lembang membekaskan kesan yang kuat dan menumbuhkan harapan baru bagi Gayatri.

Pring yang setiap perkataannya adalah puisi pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan renungan mendalam untuk menjawabnya, mengusik Gayatri dengan begitu kuat. Hingga gadis itu tidak menyadari keberadaan sebentuk cincin di jari Pring ketika dirinya menghabiskan banyak waktu untuk mengobrol dengan lelaki itu di Lembang. Pring: bertugas jauh dari istrinya, rindu dan kesepian yang menggila perlahan meretakkan kesetiaannya. Kecantikan dan kecerdasan Gayatri mempengaruhi Pring dengan dalam. Pring terkejut, merasa yakin bahwa dirinya jatuh cinta kepada Gayatri dan menginginkannya. Gayatri yang bertugaas di Jakarta dan Pring yang bertugas di Sumbawa, jarak mereka memendek oleh pesan-pesan singkat yang berbunga. Sementara itu, Pring semakin menjauh dari Indah, istrinya yang sedang melanjutkan studi magister di Bandung. Pesan-pesan singkat dari Indah seringkali diabaikan Pring, selagi dirinya hanyut dalam kerinduan berbahaya terhadap Gayatri. Lalu suatu ketika, tugas organisasi mempertemukan Pring dengan Gayatri lagi di Jakarta. Gayatri yang bertugas sebagai panitia registrasi diklat, menemukan fakta mengejutkan tentang Pring ketika meneliti data diri Pring. Lelaki itu berstatus menikah! Arga: lelaki humoris yang pernah dua kali gagal dalam membina hubungan asmara, jatuh cinta dengan sungguh-sungguh kepada barista cantik bernama Dira. Ketika ibunya mendesaknya dengan pertanyaan tentang pernikahan, yang terlintas di benaknya adalah Dira. Ketika menghubungi Gafur, sahabatnya yang sedang ditugaskan di Kendari, dengan antusias dan riang, secara eksplisit Arga menyebut-nyebut tentang Dira. Ketika sedang melakukan perjalanan dinas ke Kendari, Arga terkejut bertemu Dira di pesawat. Gadis itu tidak menceritakan apa pun tentang perjalanannya ke Kendari. Tapi yang lebih mengejutkan dari segalanya adalah, keceriaan Dira ketika bertemu Gafur di bandara. Cara gadis itu tertawa dan memeluk sahabatnya. Arga merasa dikhianati. Oleh dua orang yang teramat disayanginya. Gafur: menyerahkan hatinya setulusnya kepada Dira, gadis yang tidak setuju pada konsep pernikahan, Gafur merasakan patah yang melumpuhkan. Padahal dia sudah yakin untuk melamar Dira, menjadikannya perempuan terakhir dan satu-satunya untuk dia miliki dan cintai. Betapa gadis sederhana berpendidikan rendah itu pernah mengatakan banyak hal ajaib kepadanya, berbagi mimpi dan malam dengannya. Meski Dira mengaku menyukainya, tetapi gadis itu memiliki banyak kekasih jika Gafur tidak berada di sisinya. Gafur kalah, tidak ada siapa pun atau apa pun yang bisa mengikat Dira. Bahkan cinta yang begitu dalam. Lalu sebuah pendelegasian tugas memisahkan Gafur ribuan mil jauhnya dari gadis itu. Maka sempurnalah kepahitan yang dicecap Gafur.
Sekilas, kisah ini mengingatkan saya pada 5 cm karya Donny Dhirgantoro. Khususnya, aspek romansa yang terjalin di tengah-tengah sebuah hubungan persahabatan. Tapi saya segera mengenyahkan pikiran itu dan mencoba menikmati 4 Musim Cinta sebagai kisah yang sama sekali baru bagi saya. Terutama jika mengingat bahwa kisah ini dituliskan oleh empat orang yang masing-masing merepresentasikan satu tokoh utama dalam cerita. Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, tokoh berpindah-pindah dengan mulus dari satu tokoh ke tokoh yang lain, meski tidak dalam urutan yang konsisten. Terkadang, ada tokoh yang tampil dalam beberapa bab secara berturut-turut. Meski hal itu bertujuan untuk memenuhi kebutuhan cerita, tetapi telah membuat porsi penceritaan tiap tokoh menjadi timpang. Contohnya, Arga. Tokoh favorit saya ini mendapatkan porsi paling kecil dari keseluruhan tokoh. Saya berharap bisa mengenal masa lalu Arga lebih dalam lagi, melihatnya mengobrol dengan gadis masa lalunya, mendengarkan tuturannya yang paling personal kepada gadis kesayangannya, melihatnya menyembunyikan kesedihan ketika putus cinta dengan melontar lelucon-lelucon konyol kepada sahabatnya, dan sebagainya. Meski begitu, saya sangat menikmati empat warna langgam yang dihadirkan keempat abdi negara ini. Sangat khas. Keempat tokoh utama yang dihadirkan pun sangat mudah untuk disukai. Meski semuanya memiliki kekurangan, namun mereka dapat dimaklumi. Empat karakter utamanya sangat kuat, bahkan dua karakter minor seperti Dira dan Indah pun memiliki kekuatan serupa. Dira yang supel, menyenangkan dan teguh pendirian. Indah yang lembut namun gigih mempertahankan cintanya.
Saya merasakan pengalaman membaca yang menyenangkan sejak awal. Cerita bergulir dengan narasi yang ringan namun, padat berbobot. Sesekali, akan kita temukan kalimat-kalimat yang berenergi. Kalimat Gayatri yang sendu dan liris. Pring yang puitis dan manis. Arga yang lugas. Gafur yang menggelitik. Namun titik temu dari semua warna itu adalah pesan dan filosofi dalam kalimat-kalimat tersebut.
Semesta bekerja dengan cara yang penuh rahasia, seperti seorang dermawan yang bersembunyi dari kilat kamera media (Gayatri: hal. 45).
Kealamian ini hadiah, yang akan kusesali bila tak cepat-cepat kunikmati karena akan segera menghilang. Hal-hal yang indah entah kenapa lebih cepat menghilangnya (Arga: hal. 25).
Jika hidup adalah sebuah sirkus dan setiap laki-laki yang datang menonton pertunjukannya jatuh cinta pada perempuan cantik tokoh utama yang meliuk-liuk di depan mulut harimau atau bergelayut di punggung gajah, berharap dapat membawanya pulang, mengajaknya mengobrol sampai pagi dan mencium bibirnya saat akan berpisah, Gayatri adalah tokoh utama di pertunjukan sirkus yang sedang ditonton Pring! (Gafur: 81).
Hal-hal filosofis juga dapat kita temukan dalam dialog-dialog antartokoh. Ini bagian yang sangat menarik dan menyenangkan bagi saya. Namun, gaya dialognya terasa tidak natural. Entah jika memang tokoh-tokohnya berdialog dengan gaya seperti itu. Kekakuan pada dialog itu terasa mengganggu. Meski begitu, saya tidak bisa mengabaikan begitu saja hal-hal baru yang terkuak lewat dialog itu. Terutama perihal seluk-beluk dirjen perbendaharaan. Untuk hal ini, saya menyukai cerita tokoh Pring, yang lebih banyak mengisahkan hal-hal dibalik meja pegawai perbendaharaan. Seperti apa uang Negara dibelanjakan. Bagaimana keruwetan yang harus dihadapi para pegawai perbendaharaan menjelang akhir tahun, dan sepenggal indikasi kecurangan yang juga terjadi di sana. Sayangnya, hal-hal tersebut terasa sangat tanggung dikisahkan. Awalnya, saya yakin, ada hal-hal besar tentang dirjen perbendaharaan yang ingin diungkapkan keempat penulis ini. Hal-hal sensitif yang akan mengejutkan. Nyatanya tidak. Mungkin, selain karena cerita ini adalah roman yang hanya akan berfokus pada kisah cinta keempat tokoh utamanya, urusan dapur dirjen perbendaharaan dan segala bentuk skandal yang terjadi di dalamnya adalah hal yang tidak etis untuk diungkapkan. Meski demikian, 4 Musim Cinta tampak berusaha keras menyisipkan kritik terhadap pengurusan negara walaupun dalam porsi yanga sangat kecil.
Ada belanja-belanja mendadak, ada belanja-belanja yang harus dikarang kuitansinya semata agar menutupi semua kebutuhan kantor. Aku sendiri paham, melihat bendahara-bendahara satker kerap mengarang SPTB. Bedanya, ada sebagian dari mereka yang mengarang demi masuk ke kantong pribadi (Pring: hal. 220).
Aspek lain yang menarik perhatian saya adalah kehidupan pribadi keempat tokoh utama kisah ini. Disebut-sebut sebagai kisah yang terinspirasi dari kehidupan pribadi para penulisnya, ditambah dengan adopsi nama dua tokoh dari nama dua penulisnya, saya tidak bisa berhenti menduga-duga, sejauh apa keempat tokoh ini menuangkan diri mereka ke dalam 4 Musim Cinta? Sejauh apa mereka menarik garis batas fiksi dari realita atau sebaliknya? Mana hal-hal fiktif dan mana yang fakta? Sungguh godaan yang menarik. Terlepas dari itu semua, dilema yang mereka hadapi ketika harus menghadapi pilihan: keluarga atau tugas, adalah hal yang sangat menggugah saya. Saya tidak akan terkejut jika salah satu tokohnya mengaku mengidap depresi tingkat menengah, dan  saya akan percaya bahwa itu bukan hal fiktif.
Pada akhirnya, apresiasi tertinggi saya sematkan kepada empat abdi negara yang melahirkan 4 Musim Cinta, untuk sumbangan berharganya bagi literasi tanah air di tengah kesibukan mereka merawat negara ini. Semoga mereka juga dapat merawat antusiasme dan semangat mereka untuk berkarya sastra. Sudah lama rasanya saya tidak membaca roman bartendens semacam ini.
Kredit gambar

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...