Jumlah halaman: 320
halaman
Penulis: Lauren Oliver
Penerjemah: Prisca Primasari
Penyunting: Esti A.
Budihabsari
Tahun terbit: April 2013
Penerbit: Mizan Fantasy
ISBN: 978-979-433-712-7
Pada malam ketiga setelah ayahnya meninggal, Liesl melihat hantu.Liesl sedang berbaring di kamar lotengnya yang diselimuti kegelapan kelabu, ketika baying-bayang seakan melentur, atau menggeliat, di salah satu sudut, dan mendadak saja sosok setinggi Liesl berdiri di sebelah meja dan kursi reyot. Seolah kegelapan adalah lembar adonan roti mentah, dan seseorang baru saja mengambil pisau untuk mengukir sebentuk anak kecil (hal. 1).
Sepeninggal
ayahnya, si kecil Liesl yang cantik tinggal di loteng dan tidak diizinkan
keluar oleh ibu tirinya. Pelayan membawakan makanan ke kamarnya. Sebagian besar
waktunya dia habiskan untuk menggambar. Seorang anak lelaki bernama Will
menemukannya di jendela, dan menjadi pengagumnya. Lalu tiba-tiba sesosok hantu
bernama Po menjelma, dan menjadi temannya. Liesl yang teramat merindukan
ayahnya meminta Po yang dapat melompat ke
Dunia Lain untuk mencari tahu kabar ayahnya. Liesl ingin tahu apa yang
dilakukan ayahnya. Dia juga ingin tahu apa yang ingin dikatakan ayahnya sebelum
dia meninggal dan tidak sempat mengatakan apa-apa. Sementara itu, Will, si Anak
Lelaki yang merupakan murid sang Alkemis, telah salah menjalankan instruksi
sang Guru. Berkat kecerobohannya, abu sihir sang Alkemis tertukar dengan abu
jasad ayah Liesl. Dengan serta merta, Liesl Liesl, Po, Bundle si Anjing, dan Will, tergiring
dalam petualangan untuk menjawab keingintahuan Liesl, yang melibatkan sihir dan
Dunia Lain.
Setelah
jatuh cinta pada Delirium dan menjadikan Lauren Oliver sebagai salah satu
penulis favorit saya, saya tidak lagi berpikir ketika memutuskan untuk memiliki
buku Lauren Oliver, apa pun genrenya. Saya terkejut ketika mengetahui Lauren
Oliver ternyata menulis sebuah buku anak. Liesl & Po menjanjikan cerita
yang menarik ketika saya meninjau blurb-nya.
Tapi yang saya kejar dari buku Lauren Oliver adalah caranya bercerita. Dan
tentu saja, buku ini memenuhi ekspektasi saya.
Liesl & Po bertutur dengan lembut, tenang sekaligus magis. Meski ini adalah buku anak-anak yang mengharuskannya bercerita dalam kalimat-kalimat sederhana yang mudah dipahami, tapi Lauren Oliver tidak begitu saja kehilangan ciri khasnya. Ya, buku ini ditulis dengan jangkauan cerna anak-anak, namun ditulis dengan literer dan, saya belum menemukan kata selain magis untuk menggantikan pujian ini dan memperluas maknanya, ya... magis.
Dia menyeberangi era-era yang membentang bagaikan padang pasir di jagat raya, tempat sang Waktu lenyap dan berubah menjadi debu, bagaikan genangan air di Gurun Sahara (hal. 46)
Di tangan Lauren, kata-kata terasa begitu lentur dan memiliki dimensi pengungkapan yang lebih lebar dan kaya. Saya menyukai pada cara Lauren menuliskan sihir yang, dalam imajinasi saya selama ini, hanya akan melahirkan bunyi giring-giring angin atau suara-suara berdesir. Tapi melalui Lauren Oliver saya menjadi percaya dan sangat teryakinkan, bahwa kata-kata dapat menuliskan segala bentuk. Dari yang tampak hingga yang tidak. Fisik ataupun metafisik. Saya akan selalu terkagum-kagum pada cara Lauren menuliskan Dunia Lain versinya dan emosi hantu.
Liesl adalah karakter utama yang akan selalu disukai anak-anak. Cantik, keras kepala, dan pemberani. Saya sendiri lebih menyukai Po si Hantu. Meski penggerutu, Po jelas memiliki hati yang hangat dan sangat setia kawan. Selain Po, saya juga menyukai Mo si Penjaga. Mo adalah simbol optimisme. Karakter yang meski tidak dominan, namun memiliki peran penting dan karakter yang kuat. Mo bukan karakter yang cerdas. Tetapi kebaikan hatinya membawanya kepada hal-hal baik.
Pada akhirnya, Liesl & Po, yang menurut pengakuan Lauren Oliver, adalah caranya melarikan diri dari kenyataan yang tidak sesuai harapannya, adalah kisah yang mengajarkan kesetiakawanan, ketulusan dan kebaikan hati, dan kekuatan akan kepercayaan. Ada satu kata yang sudah lama tidak lagi saya gunakan, dan saya akan menggunakannya untuk menyebut kisah ini: Liesl & Po adalah kisah yang benar-benar indah.
Itulah jenis dunia yang mereka tinggali: Saat sedang ketakutan, orang-orang tak selalu melakukan hal yang benar. Mereka berpaling. Menutup mata. Mengatakan, Besok. Mungkin aku akan bertindak besok. Dan mereka akan mengucapkan itu sampai mati (hal. 103)
![]() |
kredit gambar |
No comments:
Post a Comment