Tuesday, December 31, 2013

Cine Us, Semarak Geliat Kaum Muda di Kancah Perfilman Tanah Air


Judul buku: CINE US
Penulis: Evi Sri Rezeki
Jumlah halaman: 304  halaman
Editor: Dellafirayama
Tahun terbit: 2013
Penerbit: Noura Books


Lena, Dania, dan Dion, bertemu karena hobi pada videografi, dan akhirnya, bertiga mereka membentuk Klub Film di sekolah. Seperti halnya semua hal baru di dunia ini, pembentukan Klub Film pun mendapat tantangan besar: tidak satu siswa pun, di luar Lena-Dania-Dion, yang ingin bergabung!
Klub Film membutuhkan satu tahun untuk merekrut tujuh siswa kelas X sebagai anggota baru, dan memiliki sebuah basecamp—yang lebih pantas disebut gudang. Meski begitu, Klub Film tetap saja tidak bisa sepopuler klub-klub sekolah lainnya. Jangankan untuk terdengar gaungnya, tidak ada satu siswa pun yang berminat menonton film pendek buatan mereka, meski DVD-nya dibagi-bagikan secara gratis. Klub Film kehabisan strategi mempromosikan diri. Sampai suatu hari, Lena mendapatkan sebuah telepon dari panitia Festival Film Remaja yang mengajaknya mengirimkan skenario film untuk kompetisi.
Lena tiba-tiba menemukan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan Klub Film. Klub bentukannya bersama dua sahabat karibnya, berkesempatan mengikuti kompetisi film yang dapat membuat Klub Film dikenal jika mereka memenanginya. Pada saat yang sama, Adit, mantan kekasih Lena, datang kembali dengan tawaran sebuah taruhan arogan yang membuat Lena panas. Lena bertekad akan memenangi kompetisi penulisan skenario film dan membuat Klub Film memenangkan kompetisi film di Festival Film Remaja itu. Pertemuan tak disengaja Lena dengan si cowok chubby ajaib dan misterius, Rizki, menerbitkan harapan bagi Lena dan Klub Film. Lena bertekad akan menemukan cowok itu, setelah menghilang begitu saja di malam pertemuan pertama mereka, dan mencuri bakatnya. Cowok itu, benar-benar memiliki apa yang Lena inginkan, dan Klub Film butuhkan.
Cine Us bertutur dengan ringan, ceria, dan cenderung lugas, sangat khas teenlit. Namun, karena dikisahkan dengan latar belakang klub film, Cine Us tampil sebagai teenlit yang beda. Lebih bergizi, tentu saja. Jika biasanya saat mendengar kata teenlit, yang terbayang di benak kita adalah kisah cinta remaja yang dipenuhi warna-warna pastel, keping-keping bunga merah jambu, dan romantisme putih abu-abu yang khas. Tapi ketika membaca Cine Us, stigma itu pun terpatahkan. Bukan berarti, Cine Us tidak memuat unsur romansa remaja. Tetapi plot yang mengalirkan kisah perjuangan Klub Film mencapai titik eksistensi yang diinginkan para pendirinya, menjadikan Cine Us didominasi oleh kisah jatuh bangun klub film sekolah yang berjuang untuk eksis di sekolah. Mulai dari mencari anggota baru, mengajak siswa-siswa sekolah untuk nonton bareng film kreasi Klub Film, pengajuan proposal permohonan pembinaan dan dana pembuatan film pendek, hingga lahirnya klub film saingan yang tidak tahu caranya bermain sportif.
Bercerita soal remaja, Cine Us tetap dibumbui konflik-konflik emosional yang khas. Dari konflik persahabatan, konflik dengan guru, konflik dengan gebetan, kenakalan/kebandelan remaja, hingga ambisi memenangkan persaingan demi gengsi. Mengetengahkan karakter-karakter muda yang unik, Cine Us pun tampil dengan keseruan khas remaja yang menghibur. Ada Lena, si Drama Queen yang heboh dan lucu. Lalu Dania, sang leader Klub Film yang tenang, tegas, dewasa, dan sahabat yang sangat solider. Ada juga Dion, sang kameragrafer Klub Film. Cowok pengidap ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) yang meski sulit diajak ngobrol dengan nyambung, tetapi sangat menyayangi Lena dan Dania. Dan, ada duo Rizki-Ryan, partner in crime yang selalu siap menjadi Superhero bagi Klub Film.
“Lihat, sebentar lagi, aku bakalan bikin film paling keren sepanjang sejarah!” Aku berapi-api. Aku berdiri, mengentak-entakkan satu tangan ke dada, lalu merentangkan kedua tangan ke atas. Angin berdesir diiringi suara petir menggelegar. Langit mencatat tekadku! Dania, dion, dan anak-anak kelas X bertepuk tangan. Wajahku semringah bangga. Jantungu berdegup kencang. Sepertinya seluruh alam semesta mendukung impianku.
Oke, ini agak berlebihan. Sebenarnya, suara petir itu Cuma kedengaran olehku saja dan tidak ada yang menyimak gaya dramatisku barusan. (Tentang Lena: 15)
“Yaaahhh … kok, sudahan adegan sedihnya?” sahut Dion kecewa. Dion terus-menerus mengambil gambar kami, seakan-akan adegan-adegan barusan adalah shooting belaka. Saat tegang seperti ini, aku merasa Dion penyelamat bagi kami. Setidaknya, membuat suasana sedikit ceria. Membuatku bisa tersenyum kecil (Lena, tentang Dion: 114).
Cine Us dikisahkan dari sudut pandang orang pertama tunggal, yakni melalui mata tokoh Lena. Tidak mudah mengisahkan cerita dari sudut pandang jenis ini. karena penulis sangat mudah terjebak untuk mendikte pembaca dengan deskripsi, alih-alih menunjukkan emosi dan karakter lewat lakon tokoh-tokoh di luar sang Aku. Evi Sri Rezeki cukup berhasil memainkan peran Lena sebagai pencerita, lewat karakter khasnya yang lincah, ambisius, dan pengkhayal kelas berat. Jenis karakter yang loveable, yang jika tidak mampu diramu dengan baik, akan menghasilkan efek sebaliknya. Menyebalkan. Dan, hasilnya, saya menyukai Lena. Sayangnya, dominasi Lena sebagai narator, seringkali menutupi peran tokoh lain yang didesain sebagai orang penting. Dania, misalnya. Dania adalah ketua Klub Film. Namun, Lena selalu tampil dominan. Lena merencanakan banyak hal (seolah-olah) seorang diri. Menjalankan rencana A, B, C, D, seolah tanpa komando Dania dan koordinasi dengan Klub Film. Meski begitu, flaw yang dimiliki setiap tokoh protagonisnya, membuat karakter-karakter ini sangat akrab dengan pembaca. Karena kita seolah bisa melihat mereka pada diri kita, dan orang-orang di sekitar kita.
Cine Us didesain untuk bercerita dengan ritme alur yang cepat. Teknik bercerita yang seperti ini, membutuhkan plotting yang cerdas, untuk tetap memikat pembaca dari lembar pertama hingga halaman terakhir. Untuk pace yang seperti ini, sebuah cerita membutuhkan alur yang padat dan dinamis. Evi memilih penulisan dialog yang dominan dalam strategi dinamisasi cerita. Dan itu cukup berhasil. Dialog-dialog pilihan Evi adalah dialog yang segar, kombinasi elemen humor, dramatisasi filmis, dan emosional. Sayangnya, kelebihan ini kurang didukung oleh plotting yang padat. Pada chapter pertama, kita akan menemukan plot cerita yang renggang. Hal ini, adalah sebuah pemborosan. Padahal, energi dinamika cerita itu sangat dibutuhkan untuk konflik-konflik pembangun klimaks cerita. Alhasil, beberapa konflik berlangsung sangat cepat, dan diselesaikan dengan sama cepatnya. Padahal, konflik-konflik tersebut sangat berhasil menyulut adrenalin pembaca. Saya mengepalkan tangan dan bisa merasakan kemarahan Lena saat Romi mengambil alih basecamp Klub Film. Saya mengentakkan kaki saat Klub Film hampir kehilangan kesempatan mengikuti kompetisi film. Saya ingin menggebrak meja saat Pak Kandar meremehkan Klub Film dan menolak proposal yang mereka ajukan. Dan saya ingin melemparkan Adit ke bulan saat cowok itu terus-menerus meneror Lena di social media. 

Cine Us sendiri menggunakan alur campuran. Saat cerita bergerak maju, sesekali Lena, akan mem-flashback kejadian di masa lalu, dan memberikan informasi kepada pembaca mengenai hal-hal tertentu. Mengapa ini begini, dan itu begitu. Sayangnya, kejadian flash back seringkali dikisahkan dengan sangat ringkas, sehingga mengurangi detail cerita. Padahal teknik flashback dapat dimanfaatkan untuk memadatkan alur cerita, dan menambal plothole (misanya) dari prolog ke chapter 1. Mengapa tujuh anak kelas X mau bergabung dengan Klub Film saat klub itu bahkan tidak dilirik oleh para senior mereka yang populer di sekolah?
Kekurangan lain yang cukup mengganggu adalah banyaknya kesalahan tipografi dalam buku ini. Ada beberapa mis-spasi, minus-aksara, dan plus-aksara. Setting-nya yang memilih kota Bandung dan Jakarta juga hanya dieksplorasi seadanya. Padahal, Bandung yang selalu diidentikkan dengan sarang komunitas seni, adalah setting tempat yang ideal untuk dikaitkan dengan dunia sinematografi—yang menjadi highlight cerita ini. Namun, terlepas dari segala kekurangan itu, Cine Us memiliki banyak kelebihan. Penuturan Evi yang lancar dan rapi (minus kesalahan tipografi tadi), adalah hal penting untuk membawa pembaca menikmati cerita ini hingga tuntas. Kecuali, deskripsi mengenai ADHD yang mengurangi estetika bercerita karena gaya deskripsinya lebih mirip artikel. Dari segi packaging, Cine Us tampil dengan ilustrasi sampul yang cantik, dan model sampul yang unik. Ilustrasi dalam bukunya pun menarik.
 

Setiap perpindahan bab ditandai dengan gambar seorang gadis berpakaian sekolah (yang saya asumsikan sebagai Lena) yang sedang memegang clapper juga terbelit film roll, dan dengan judul yang diawali dengan “Who”. Ini adalah teknik pemberian judul yang cerdas, karena memancing curiousity pembaca. Who’s the creator? Who’s the loser? Who are you? Who’s obsessed? Who’s coming? Who’s knocking? Who’s challenging? Who survived? Who’s lost? Who fallin in love? Who’s the winner? Who’s searching? Who’s behind? Ini adalah teknik pemberian judul yang cerdas, karena memancing curiousity pembaca. Who’s the creator? Who’s the loser? Who are you? Who’s obsessed? Who’s coming? Who’s knocking? Who’s challenging? Who survived? Who’s lost? Who fallin in love? Who’s the winner? Who’s searching? Who’s behind? Setiap kali memulai sebuah chapter, pembaca akan bertanya-tanya, “Siapa ya, yang dimaksud? Akan bagaimana kisahnya?”
 

 Sebagai cerita yang diperuntukkan bagi remaja, Cine Us mendeskripsikan emosi tokoh sesuai dengan mental usia tokohnya. Misalnya, saat Rizki tiba-tiba menghilang dari keseharian Lena. Lena mengungkapkan perasaannya dengan gaya khas remaja. Remaja kita, idealnya, mengasup bacaan-bacaan yang kontennya sesuai dengan usianya.
Aku berguling-guling di atas kasur. Membolak-balik beberapa komik. Yang kulihat hanya wajah Rizki. Aku mendengarkan musik, yang kudengar hanya suara jelek Rizki. Menonton film, yang kulihat juga kelakuan norak Rizki (259).
Di awal review, saya melabeli Cine Us dengan “beda” dan “bergizi”. Hal ini karena tema besar yang diusung buku fiksi ini. Berlatar belakang dunia sinematografi, Cine Us menjadi teenlit yang sangat informatif. Pembaca dapat menyelami dunia yang—seingat saya—belum pernah diketengahkan dalam fiksi remaja sebelumnya. Dunia film amatir. Dengan fun, pembaca diajak mengikuti sesi pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi film pendek bersama Lena dan kawan-kawannya. Suasana brainstorming ide yang menguras energi dan emosi karena perbedaan pandangan, interpretasi ide cerita, dsb, sangat menarik untuk diikuti.
Saya pernah tergabung dalam proyek pembuatan film semi-dokumenter amatir. Membaca kisah Lena dan klub filmnya membuat saya merasakan kembali atmosfer selama pengerjaan proyek film itu. Setelah film selesai pun, ternyata segala sesuatunya belum selesai. Tidak jarang, film-maker justru merasa bahwa pekerjaan yang sebenarnya baru saja dimulai setelah film selesai. Bagaimana film akan dipasarkan? Seimbangkah apresiasi penonton dengan kerja keras selama proses produksi film garapan kita? Lena dan kawan-kawannya pun mengalami hal ini. Film mereka tidak saja gagal menarik minat siswa-siswi sekolahnya. Tetapi juga mendapatkan kritik pedas dari pembuat web series laris. Dan, ah, omong-omong tentang web series, tanpa membaca Cine Us, saya tidak akan pernah mengenal frasa ini :). Saya pun meng-googling dengan keyword web series. Dan, saya mem-bookmark beberapa situs penyedia web series gratis untuk saya tonton, nanti. Saya berharap, karya Evi selanjutnya khusus mengulik tentang web series.
Di Indonesia sendiri, film pendek belum mendapat apresiasi yang layak dari pemirsa. Menurut beberapa sumber, film pendek di Indonesia mulai mencuat ke permukaan saat munculnya pendidikan sinematografi di IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Dan hal ini cukup mengundang perhatian dari para film-enthusiasts di era tahun 70-an. Dewan Kesenian Jakarta pun telah mengadakan Festival Film Mini setiap tahunnya, sejak tahun 1974. Meski saat itu, format film yang diterima hanyalah seluloid 8mm. Sayangnya, pada tahun 1981 Festival Film Mini berhenti karena kekurangan dana. Lalu pada tahun 1975, muncullah sebuah paguyuban yang menamakan diri sebagai Kelompok Sinema Delapan, yang dimotori Johan Teranggi dan Norman Benny. Kelompok ini secara simultan dan giat mengkampanyekan seluloid 8mm yang dapat digunakan sebagai media ekspresi kesenian, kepada masyarakat. Dan akhirnya, hubungan internasional para film-maker Indonesia dengan Eropa—terutama dengan Festival Film Pendek Oberhausen—pada tahun 1984, membuat film pendek mulai berani unjuk gigi di pentas dunia. Peristiwa ini pun memicu lahirnya Forum Film Pendek di Jakarta, yang berisikan para seniman, praktisi film, mahasiswa dan penikmat film dari berbagai kampus untuk secara intensif membangun networking yang baik di kalangan pemerhati film. Forum Film Pendek pun hanya bertahan selama dua tahun saja. Kondisi memprihatinkan film pendek Indonesia ini dikarenakan kurangnya ajang-ajang eksibisi sebagai salah satu metode memasyarakatkan film pendek kepada masyarakat luas. Jatuh bangun kondisi film pendek di Indonesia ini mulai berbuah manis. Kompetisi film pendek semakin marak diadakan. Festival Film Pendek bergengsi di tanah air pun telah mengantarkan sineas-sineas muda Indonesia ke panggung film internasional (Disarikan dari berbagai sumber).
Di kota saya, pembuatan film pendek telah dijadikan tugas wajib sekolah bagi siswa SMK, dan tugas rutin mahasiswa jurusan ilmu komunikasi. Jelas ini adalah kabar gembira bagi perfilman tanah air. Hadirnya Cine Us turut menyemarakkan geliat perfilman bagi kaum muda di tanah air. Jika di kota saya komunitas film didirikan oleh pegiat-pegiat sinema lepas yang berasal dari berbagai latar belakang pendidikan, Cine Us telah memprovokasi remaja Indonesia untuk menjadikan klub film sebagai bagian dari kegiatan ekstrakurikuler—dan ini pasti akan terdengar sangat keren. Remaja adalah fase di mana menjadi pusat perhatian adalah minat terbesar mereka. Berjalan ke sana kemari di lingkungan sekolah dengan handycam atau kamera DSLR di tangan dan jinjingan tas tripod di punggung, siapa yang akan menyangkal bahwa itu tidak keren? :)
Saya yakin, pembaca akan mendapatkan banyak hal dari Cine Us. Tidak saja mengenai satu sisi dunia sinematografi, tetapi juga hal-hal berharga lain-nya yang penulisnya ingin agar disimpan oleh pembacanya. Cine Us mengajarkan arti penting sahabat yang menemani perjalanan kita menuju harapan dan mimpi-mimpi kita.
Kembalinya Dion telah melengkapi formasi kami. Aku terus menggenggam tangan Dion, takut dia hilang lagi. Sahabat pasti akan kembali sekalipun bertengkar hebat. Sahabat sejati selalu punya tempat di hati, kehilangan mereka akan menyisakan ruang kosong yang tak bisa ditambal lagi (215).
          Cine Us juga mengajarkan betapa berbahayanya sebuah kemarahan, betapa pentingnya sepotong kejujuran, pengakuan akan kelemahan diri, dan mental baja dalam menghadapi kritikan demi pembaikan kualitas diri. Dan di atas segalanya, Cine Us mengajak remaja Indonesia, yang setiap diri mereka diisi oleh semangat muda yang memungkinkan segala kemustahilan menjadi sangat mungkin, untuk bermimpi. Bermimpilah. Setinggi-tingginya. Beranikanlah diri menentang segala aral yang merintangi jalan menuju mimpi-mimpi itu. Dan percayalah, bahwa mimpi-mimpimu akan mewujud.
Setinggi apa pun impianmu, kamu hanya butuh percaya. Seperti aku memercayai impianku. Sertakan orang-orang yang kau cintai dalam impianmu. Karena mereka adalah sumber kekuatan bagimu.
Satu hal lagi, Tuhan bersama kita yang berjuang. (280)



         Kamu juga punya klub film di sekolah? Atau baru ingin membentuk klub film? Jadiin Cine Us salah satu referensi fun-mu, yuk! :)

        



No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...