Judul
buku: BANGKOK: The Journal
Tebal
halaman: viii + 436 halaman
Penulis:
Moemoe Rizal
Editor:
Ibnu Rizal
Tahun
terbit: 2013
Penerbit:
GagasMedia
Aku benci Ibu lebih tepatnya.
Banyak faktor yang bisa kubeberkan mengapa sepuluh tahun yang lalu aku pergi dari rumah dan meninggalkan ibu dan adikku. Namun, sepuluh tahun sudah mengikis alasan-alasan itu sehingga aku nggak mau menceritakannya lagi. Dan faktanya, aku nggak pernah menyesal meninggalkan mereka berdua (hal. 14).
Edvan, lelaki berkepala tiga yang mapan dengan
karir arsiteknya, jelas jelas tidak bahagia. Meski ia memiliki apartemen mewah
(yang selalu berantakan) di Singapura, juga pesona Cassanova (dan dia sangat menyadari itu, sepenuh-penuhnya) yang
bisa membuatnya mendapatkan gadis paling diinginkan mana pun.
Ia sudah meninggalkan rumah terlalu lama, dan ia mulai merindukan kehidupan lamanya. Rumahnya. Ibunya. Tetapi gengsi seorang lelaki mapan sempurna yang berhasil tanpa keluarga mencegahnya dari melakukan komunikasi apa pun yang bisa menghubungkannya dengan itu semua. Dan tiba-tiba sebuah kabar mengejutkan datang. Ibunya wafat karena kanker payudara. Edvan dipukul perasaan bersalah yang hebat. Sama hebatnya dengan kerinduannya, yang kemudian ia sadari, tidak akan pernah terpuaskan lagi. Karena sosok penting dan berharga itu sudah tiada. Lenyap dimakan waktu yang kadang terasa tak berbelas kasih.
Ia sudah meninggalkan rumah terlalu lama, dan ia mulai merindukan kehidupan lamanya. Rumahnya. Ibunya. Tetapi gengsi seorang lelaki mapan sempurna yang berhasil tanpa keluarga mencegahnya dari melakukan komunikasi apa pun yang bisa menghubungkannya dengan itu semua. Dan tiba-tiba sebuah kabar mengejutkan datang. Ibunya wafat karena kanker payudara. Edvan dipukul perasaan bersalah yang hebat. Sama hebatnya dengan kerinduannya, yang kemudian ia sadari, tidak akan pernah terpuaskan lagi. Karena sosok penting dan berharga itu sudah tiada. Lenyap dimakan waktu yang kadang terasa tak berbelas kasih.
Edvan pun kembali ke Bandung, untuk bakti
terakhirnya yang mungkin saja harus ia penuhi. Dan ia mendapatkan sebuah
warisan konyol yang terdengar cukup
tak masuk akal. Ia harus menjelajahi Bangkok, mengumpulkan jurnal-jurnal
peninggalan ibunya untuk sebuah harta karun yang entah. Tapi Edvan tak punya
pilihan. Ia harus menerima warisan ibunya. Ia merasa hanya itu yang bisa ia
lakukan untuk menebus rasa bersalahnya. Ia harus pergi ke Bangkok, menjemput
sebuah ketidakpastian mengejutkan yang begitu pasti. Yang lebih mengejutkan
lagi, Edvan mendapatkan pesan ibunya itu lewat Edvin. Adik laki-lakinya, keluarga
satu-satunya yang ia miliki, yang telah menjelma sesosok perempuan cantik mirip
ibunya, bernama Edvina!
Edvin yang kutahu adalah laki-laki. Sejak aku melihat wujudnya, sejak dia pertama kali hadir di keluarga kami, Edvin adalah laki-laki. Aku mengajarinya main layangan. Aku mengajarinya main kelereng. Aku pipis bareng Edvin, dan kami pipis berdiri. Bahkan, aku menjadikannya Robin (sementara aku Batman).Aku tidak menyangka manusia di depanku inilah yang dulu menjadi adikku (hal. 24).
Sangat menyenangkan mengikuti petualangan Edvan di
Bangkok. Saya sadar, gaya bercerita adalah hal pertama yang selalu saya kagumi
dari sebuah cerita. Dan BANGKOK: The
Journal memiliki elemen istimewa itu.
BANGKOK
dituliskan
dengan sudut pandang orang pertama lewat tokoh seorang lelaki bernama Edvan.
Sisi maskulinitas Edvan sangat terasa. Ini salah satu poin plus karena kisah
ini dituliskan oleh seorang penulis laki-laki. Saya pernah beberapa kali
menemukan tokoh utama lelaki yang sangat feminin, hanya karena ia diciptakan
oleh seorang penulis perempuan.
BANGKOK:
The Journal sangat menghibur. Pertama, karena buku ini menghadirkan karakter-karakter yang loveable (meskipun menyebalkan), seperti
Edvan misalnya, cowok tampan yang narsis (tapi meski begitu, narsisnya itu
jenis menyebalkan yang … oke, menarik) tapi juga romantis. Edvan adalah daya
pikat yang membuat buku ini terasa segar dalam pengisahan sejak awal membaca. Lalu
Edvin, yang prinsipnya menentang norma masyarakat namun tampil sebagai tokoh
yang cerdas dan menggemaskan.
Ada pula Charm, gadis Thailand yang charming,
tangguh, keras kepala, namun memiliki alasan rasional untuk setiap
keputusan-keputusan yang ia ambil. Kedua,
penuturan yang lincah dan dialog-dialog ringan yang—lucu dan terasa sangat
hidup—cukup dominan membuat deskripsi tempat-tempat wisata (yang menjadi ciri
khas serial STPC), sama sekali tidak terasa membosankan, meski porsinya cukup
banyak. Seingat saya, saya hanya ingin membalik halaman buku ini, lagi, dan lagi,
sambil mengingat-ingat kapan terakhir kali saya merasa begitu menikmati bacaan
saya, tanpa keinginan untuk sampai pada klimaks dengan terburu-buru dan segera
meloncat pada bab akhir. Ketiga, footnote
yang dituliskan dengan cara yang unik. Saya yakin, cara seperti ini sudah
pernah dilakukan, tapi ini adalah pertama kalinya saya menemukan catatan kaki
yang selalu saya tunggu di setiap halamannya.
BANGKOK:
The Journal adalah serial Setiap Tempat Punya Cerita
ketiga yang saya baca, dan saya benar-benar merasa tersesat di Bangkok.
Tenggelam di kerumunan turis yang memadati area pecinan tradisional, dan
dermaga pelabuhan pasar terapung yang dipenuhi perahu-perahu dan
pedagang-pedagang ber”caping”, merasa kecil di tengah impitan bangunan
kuil-kuil antik nan eksotik.
Selipan unsur romansa Edvan dengan pemandunya
selama berkeliling di Bangkok, turut melengkapi kisah ini dengan satu jenis
rasa manis lagi. Tapi jenis rasa manis yang paling saya sukai, tentu saja,
adalah rasa yang pecah di dalam diri
saya ketika menemukan pesan mendalam yang tidak terjabar dalam kutipan-kutipan penuh bunga-bunga, seperti yang
seringkali saya temukan dalam novel-novel sejenis. Melainkan, tersirat dalam
lakon tokoh-tokohnya yang, baru saya sadari, menyentuh sisi emosional pembaca
dengan lebih efektif.
BANGKOK:
The Journal mengingatkan saya pada orang-orang
yang dengan mudahnya melontarkan penilaian
sepihak bahkan tuduhan pada
orang-orang yang tidak berjalan di rel mereka, memilihkan warna untuk orang-orang malang itu tanpa sopan
santun. Hitam, putih, terkadang abu-abu. Padahal Tuhan mewarnai setiap sisi
semesta dengan jutaan warna, gradasi dari merah, biru, dan kuning, dengan indah
dan bijaksana.
“Buddha melarang pria berpakaian seperti wanita. Tapi yang kuinginkan hanyalah anakku bahagia….“Kau tak perlu menerima kehadiran mereka, tapi biarkan mereka hadir karena kita tak bisa menghakimi apa yang mereka lakukan. Buatku, waria seperti anakku yang menghormati aku, jauh lebih baik disbanding laki-laki jantan yang berdosa terhadap ibunya sendiri [dikatakan seorang ibu kepada Edvan: 297]
BANGKOK:
The Journal membawa saya pada akhir perenungan
singkat tentang betapa saya dulu pernah menjadi orang-orang suci yang membuat pengadilan sendiri di dalam kepalanya. Memancang
patok-patok pada setiap sisi kehidupan dengan salah dan benar, hitam atau putih. Padahal hitam dan salah tidak diciptakan dengan sia-sia.
Keduanya tidak hadir dalam kehidupan tanpa restu Sang Pemilik Kebenaran Mutlak
dan Cinta Kasih Tertinggi.
Dan pada akhirnya, BANGKOK: The Journal menyentak saya dengan arti penting keluarga. Edvan,
dalam beberapa sisi, adalah cerminan setiap diri kita. Kita pernah membenci ibu
kita, ayah kita, kakak kita, adik kita, karena mereka adalah musuh bagi prinsip
kita yang terasa begitu benar—setidaknya begitulah menurut kita. Tapi bahkan di
titik terjauh kebencian itu, kita memiliki cinta yang tidak merelakan hilangnya
mereka dari hidup kita, atau tersesatnya mereka dari jalan yang kita tempuh.
Siapa pun kita di suatu saat nanti, kita akan selalu pulang. Kepada keluarga.
Untuk mencintai … dan menerima.
Kakak sebenarnya masih nggak setuju kamu jadi perempuan. Rasanya seperti… kamu menentang alam. Tapi apa pun bentuk kamu saat ini, Kakak bisa terima, karena kamu bagian dari keluarga. Itu satu-satunya hal yang nggak bisa kita ubah, bahkan dengan operasi apa pun. [Edvan kepada Edvin: 396]
BANGKOK:
The Journal adalah perkenalan pertama saya dengan
karya Moemoe Rizal. Saya akan dengan senang hati membaca tulisannya yang lain,
setelah ini.
No comments:
Post a Comment