Monday, December 30, 2013

Virus Komputer di 2059


Judul buku: Kemurnian Dalam Kematian
Jumlah halaman: 512 halaman
Penulis: J.D. Robb
Penerjemah: A. hardi Prasetyo
Tahun terbit: November 2012
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Detektif, Thriller, Kriminal, Misteri, Roman


Troy Truehart, opsir muda yang berkat rekomendasi Letnan Eve Dallas, pindah ke Divisi Pembunuhan, menjadi saksi kunci kematian sadis pengedar narkoba yang mengincar anak-anak, Louie K. Cogburn. Tapi kematian sadis dengan ciri yang sama terjadi secara beruntun semenjak itu.
Korban mati terbunuh karena sakit kepala mengerikan dengan darah mengucur dari hidung, telinga, bahkan mata, setelah mengakses komputer pribadinya. Selaku penyidik utama, Eve Dallas meyakini bahwa kasus pembunuhan yang dihadapinya adalah satu kasus berantai yang pelakunya satu oknum—atau juga satu kelompok. Dan, kali ini Eve berurusan dengan ahli informatika, oknum polisi, dan wakil walikota. Dibantu suaminya, Roarke, sebagai konsultan teknologi, Eve harus melihat banyak kematian, dan berseberangan dengan banyak pihak yang akan selalu tampak benar di mata publik.
Credit pict here
Purity In Death adalah serial ke 15 In Death Series. Namun, ini buku pertama dari serial Kematian yang saya baca. Uniknya, saya tidak merasa kehilangan banyak hal karena tidak mengikutinya dari seri pertama—kecuali beberapa nama produk teknologi beserta cara kerjanya, seperti link dan autochef. J.D. Robb dengan lincah mengalirkan cerita dengan ritme cepat, menyisipkan intrik dengan padat. Sayangnya, kecepatan ritme ini mengurangi detil pengisahan, misalnya saat Eve menerka kronologi kematian korban kasus pembunuhan yang ditanganinya, pembaca tidak dibawa ke alur berpikir sang tokoh Letnan, dan tiba-tiba sang Letnan sudah sampai pada kesimpulannya, dan pembaca hanya harus menelannya begitu saja.
Dari awal pengisahan, J.D. Robb sudah menunjukkan kepiawaiannya menjaga nuansa suspense yang membuat pembaca akan betah membalik halamannya dengan sabar sekaligus tidak sabar. Sabar untuk mencerna kalimat demi kalimat—yang mungkin akan rumit bagi pembaca pemula yang belum begitu familiar dengan colour J.D. Robb—dan tidak sabar untuk mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.
Pemilihan adegan adalah hal yang paling vital dalam sebuah cerita. Untuk cerita bergenre misteri, adegan adalah nyawa cerita. Adegan harus selalu penting, tidak ada yang sia-sia, setiap adegan adalah sebuah clue menuju kesimpulan yang memuaskan bagi pembaca. Dan buku ini memiliki cukup banyak adegan seru. Meski ada beberapa adegan yang kurang penting, tapi itu cukup membantu pembaca menilai karakter tokohnya. Dan mengingat bahwa Purity in Death adalah kisah serial, maka adegan itu, mungkin saja, diperlukan untuk menguatkan kesan di buku seri berikutnya.
Manusia selalu tertarik dengan masa depan. Membaca masa depan adalah hal yang disukai sebagian besar orang di dunia ini. Akan muncul banyak pertanyaan tentang nasib hal-hal yang ada di sekeliling kita di masa depan. Seperti misalnya, akan seperti apa virus komputer di tahun 2059? Dan kita akan sangat antusias ketika menemukan jawaban seperti ini: “Di tahun 2059, virus komputer tidak lagi menginfeksi file-file. Virus komputer akan diciptakan sebagai senjata pembunuh. Mereka diciptakan untuk menginfeksi manusia dan merusak saraf otaknya.”
Sebagai sebuah fiksi ilmiah yang berlatar dunia masa depan, cerita ini memberikan banyak sekali refleksi yang dapat membuat kita merenungkan beberapa hal. Kejahatan adalah hal yang tidak akan pernah bisa dihentikan. Masa depan, mungkin saja adalah dunia yang paling mengerikan yang bisa dibayangkan manusia. Betapa sebuah kehamilan bisa begitu membahagiakan sekaligus aneh. Betapa kemudahan hidup justru menciptakan dunia yang kerontang dari hal-hal meneduhkan, seperti kejujuran. Mungkin saja, suatu ketika, seperti halnya juga hari ini, kecurigaan adalah hal paling wajar yang terjadi di sekeliling kita, keinginan untuk merusak, keinginan untuk menghancurkan dan memusnahkan, keinginan untuk menjatuhkan. Tetapi, orang-orang teguh yang percaya pada keteguhannya dan nuraninya, akan selalu hadir untuk mengawal dunia hingga kehancurannya.
Kisah yang dituturkan dengan cerdas ini memuat unsur romansa yang tidak biasa, namun tetap terasa manis. Mungkin pembaca harus menahan kesal—karena gemas—mengikuti romansa Roarke dan Eve, sehingga mereka akan berdecak, “Sialan! Manis banget nggak sih, si Roarke?”
Purity in Death membawa kita menyelami kehidupan para polisi, yang begitu dekat dengan kejahatan. Mereka selalu dihadapkan pada dua pilihan yang monoton: menghadapi kejahatan dan memposisikan diri sebagai musuh, atau tenggelam di dalamnya, menjadi bagian darinya. Tetapi pada saat yang sama, mereka tahu pilihan itu hanya bermuara pada satu tujuan: memenangkan kebenaran, yang selalu hanya ada satu. Selalu hanya SATU!
Baiklah, saya akan membaca serial Kematian ini dari urutan awal :)
4 bintang, tentu saja!

Credit picture here

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...