Wednesday, December 25, 2013

Sit Down (Reading) Comedy



Judul buku: SKRIPSHIT
Penulis: Alitt Susanto
Jumlah halaman: viii + 296
Editor: Syafial Rustama
Tahun terbit: 2012
Penerbit: Bukune
“Halo… nama gue Alitt… nama lo siapa?”
“Err… guwe Agil….”
“Ngambil Pendidikan Bahasa Inggris juga ya?”
“Iya… memang sama ya?”
“Iya, gue juga….”
“Btw, elho ngekos di mana?”
“Di Jalan Beo 33, deket kampus….”
“Wah… kebhetulan dhonk! Gue bhelom ndapet kos-kosan nih…. Guwe boleh numpang di kos elho dhulu?! BOLEH KAN YA?!”
Gue masih inget banget perkenalan pertama gue sama Agil, sahabat gue dari zaman OSPEK. Iya, waktu itu dia memang baru pindah dari Purworejo ke Jogja tanpa memperisapkan tempat tinggalnya nanti. Gendeng emang. Ngeliat tampangnya yang lumayan ganteng untuk model iklan shampoo (tentunya dia berperan sebagai ketombe), gue gak menaruh rasa khawatir bila nantinya pas tidur, gue digrepe-grepe sama dia. Tapi buat jaga-jaga, selama dia numpang, gue selalu tidur sambil megang tasbih di tangan kanan dan gergaji mesin di tangan kiri (hal. 3).
Jika berbicara tentang Personal Literature, nama Raditya Dika akan spontan terucap dan ditempatkan di deretan atas daftar jagoan. Ketika Kambing Jantan masuk bioskop—di kemudian hari disusul oleh beberapa piaraan (baca: karya-karya) milik Raditya Dika lainnya—Personal Literature pun menjadi sebuah tren. Beberapa orang yang yakin, bahwa dirinya memiliki kehidupan yang unik, lucu, dan inspiratif, akhirnya menjadi penulis dan melambungkan genre ini di perbukuan tanah air. Ada kisah tentang ibu ajaib, dokter muda nyeleneh, dan sebagainya.
Beberapa penulis senior dan produktif, selalu mengatakan ini sebagai saran andalan bagi penulis pemula: tulislah hal yang dekat dengan dirimu. Hal-hal yang sangat kamu kenali. Inilah yang dilakukan para penulis Personal Literature. Mereka menuliskan dirinya, kehidupannya, kesehariannya, sahabat-sahabatnya, gebetannya, keluarganya. Banyak yang mengira, semuanya mudah saja. Menuliskan diri sendiri adalah hal yang termudah. Padahal, bisa saja sebaliknya. Menuliskan diri sendiri adalah hal yang tersulit. Orang-orang di luar penulis-penulis ini, mungkin saja akan berujar, “apa serunya sih hidup seseorang? Palingan, hidupnya nggak jauh-jauh beda sama hidup gue?!” inilah tantangan yang harus dijawab oleh seorang Personal Literature. Menuliskan dirinya dengan unik, segar, dan menyenangkan.
SKRIPSHIT adalah kumpulan tulisan tentang kehidupan kampus seorang mahasiswa (semoga tidak akan) abadi bernama Alitt Susanto. Bagaimana kehidupannya di awal episode Kampus, hingga tahap penyusunan skripsi, namun terbentur jadwal kerja paruh waktu yang kemudian ia prioritaskan. Hal-hal yang dilalui Alitt diceritakan dengan apa adanya, namun caranya menyentil dengan sentuhan humor yang segar dan cerdas, akan membuat pembaca SKRIPSHIT tertawa sambil tertohok.
So, kuliah yang sere mini punya beberapa peraturan yang sadis… ehm! Maksud gue, tegas! Di antaranya adalah:
Kuliah dimulai pukul 6 pagi, telat satu menit saja, kena Kick Out.
Kelasnya berada di lantai 4, dan mahasiswa gak boleh naik pake lift. Kalau ketahuan pake lift, dusuruh turun dan naik lagi lewat tangga. Asli, ini penting banget!
Harus berpakaian formal (dasi, kemeja, celana bahan, sepatu lantofel, dan rambut disusur rapi kayak slaes traktor). Kalau sampai ada yang kurang, kena Kick Out.
Dilarang menguap di kelas. Kalau ketauan menguap, disuruh push-up 25 kali!
Sekali saja bolos atau tidak ikut kelas dengan alasan apa pun, kena Kick Out.
Sekali saja lupa ngumpulin tugas, kena Kick Out.
Bahkan kita punya tugas buat menyalin sebuah buku yang tebelnya kayak bulu dada Ridho Roma, dan harus ditulis ulang pakau pulpen!!! Iya… gak boleh diketik. Tiap beberapa minggu sekali, dosen bakal ngecek whether mahasiswanya sudah memenuhi target tulisan minggu itu atau belum. Kalau belum, bakal kena Kick Out.
The last one, jangan pernah nyoba protes akan kesadisan dosen ini, bisa-bisa kita kena Knock Out.
kick out di sini bukan berarti kita dapat tendangan di pantat dan dibiarkan menggelinding jatuh dari lantai empat untuk setiap kesalahan kita. Kick Out artinya kita gagal di mata kuliah itu dan kudu ngulang semester depan. Sadis? Tegas! (hal. 14-15).
Bagi mahasiswa, membaca SKRIPSHIT tak ubahnya membaca diri sendiri. Ada kisah pencarian gebetan, suka-dukanya punya sahabat culun, getirnya menghadapi dosen—meminjam istilah Alitt—thriller hingga akhirnya mengulang mata kuliah tertentu, dan yang tersulit dari segalanya, ribetnya menyusun skripsi. Mengulang lagi semua kisah pribadi kita dari kacamata Alitt, tidaklah semembosankan yang dibayangkan. Selalu ada hal yang akan membuat pembaca tertawa di setiap lembarnya.
Membaca SKRIPSHIT juga memberi kesan seperti mendengarkan Stand Up Comedy. Mungkin karena Alit Susanto adalah seorang Stand Up Comedian, maka teknik-teknik komik diterapkan di sini. Dalam beberapa hal, saya seperti melihat Raditya Dika. Mungkin karena pakem Stand Up Comedy tadi. Munculkan hal yang mengusik lo, cari uniknya, beri pembeda dengan yang sudah diutarakan orang lain, dan akhiri dengan punchline yang asyik. Bedanya dengan Stand Up Comedy, kita sedang membaca komedi sambil duduk.
Sebagai bacaan humor, SKRIPSHIT memuat kritik sosial yang menyoroti kehidupan anak muda masa kini. Kita tidak saja seperti berkaca, tetapi merasa seperti sedang berdiri di sebuah titik, berputar 3600 di titik itu, dan melihat sekeliling. Kita akan menyaksikan sifat khas para cewek dengan karakter mentalnya, para cowok, para ABG, para anak kosan, dan para-para yang lainnya.
Gue kadang heran yah, sama muda-mudi zaman sekarang yang pacaran dengan panggilan sayangnya: Ayah-Bunda, Mami-Papi, Mimi-Pipi, atau bahkan Mimis-Pipis.
Nggak kebayang aja, baru pacaran mereka udah manggil satu sama lain dengan sebutan Ayah-Bunda. Nah, kalau ntar udah nikah, apa mereka mau manggil satu sama lain dengan sebutan ‘Kakek-Nenek’? nah, kalau mereka udah punya cucu beneran, apa mereka mau manggil satu sama lain dengan sebutan ‘Almarhum-Almarhumah’? (Bab Gaya Pacaran yang Norak: 226-227).
Dengan segala kelebihannya, bukan berarti buku ini tidak mengandung kekurangan. Beberapa lelucon yang mungkin sudah pernah Anda dengar atau baca akan membuat Anda menguap seraya mengujarkan, “garing!”. Beberapa pesan moral yang disisipkan Alitt disampaikan dengan gaya yang serius dan lugas, yang seolah-olah mendadak kehilangan selera humor, dan akhirnya memberi kesan menggurui. Tapi karena poin ini diapit oleh narasi-narasi komik lainnya, sehingga tidak terasa begitu mengganggu. Lagi pula, setelah banyak tertawa, seseorang membutuhkan cooling down dengan beberapa nasehat penting.
Finally, jangan berharap mendapatkan tips menyelesaikan skripsi dengan sukses di buku ini. Tapi saya yakin, Anda, yang masih berkutat dengan skripsi, akan bergegas menyelesaikannya, untuk misi besar hidup Anda yang selanjutnya. Seperti halnya saya ^_^
3.75 bintang untuk SKRIPSHIT! ^^
Setelah ini, saya berani membaca Personal Literature yang lainnya.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...