Judul buku: Between
Shades of Gray
Penulis: Ruta Sepetys
Halaman:
Paperback, 396 halaman
Penerbit: Noura
Books
Tahun terbit: Desember
2014
ISBN13: 9786021306451
Aku
bergaun tidur saat mereka mencidukku. Ketika kurenungkan kembali,
tanda-tandanya sudah ada—foto-foto keluarga yang dibakar dalam perapian, Ibu
memasukkan perhiasan dan peralatan makan perak terbaiknya ke balik lapisan
dalam mantel yang kemudian dijahitnya saat larut malam, dan Papa tidak pulang
dari kerja …. Baru belakangan kusadari bahwa Papa dan Ibu bermaksud melarikan
diri. Kami tidak melarikan diri. Kami diciduk (halaman 2).
Soviet menduduki Lithuania dan mendeportasi orang-orang
yang dianggap anti-soviet. Lina dan keluarganya terusir dari rumah mereka.
Bersama ibu dan adik lelakinya, Jonas, Lina berdesak-desakan dengan puluhan
penduduk Lithuania malang lainnya dalam satu gerbog sempit. Tanpa cahaya
matahari, nyaris tanpa udara, tanpa toilet, dan nyaris tanpa makanan. Setelah perjalanan
dalam gerbong neraka selama berminggu-minggu, Linda dan keluarganya menjadi
pekerja paksa di laldang bit. Mendapat perlakuan semana-mena dan tidak
manusiawi dari para tentara. Tapi orang-orang Lithuania memiliki cara mereka
sendiri untuk menghibur diri dan tertawa, di sela-sela upaya keras mereka untuk
bertahan hidup dan seisa mungkin menopang kehidupan orang lain di sekeliling
mereka.Between
Shades of Gray adalah kisah muram dan mencekam tentang kehidupan
korban Perang Dunia II—yang ditulis dengan indah dan lembut. Deskripsi Ruta
Sepetys sangat filmis dan kuat, sehingga mampu menyihir pembaca untuk terus
membaca dan tidak berhenti sebelum selesai. Between
Shades of Gray adalah buku yang ingin cepat-cepat saya singkirkan
dari pangkuan saya tapi tidak bisa berhenti saya baca. Saya geram terhadap
tentara-tentara Soviet yang tidak punya nurani—seolah Tuhan lupa memasangkan
hati ke dalam dada mereka saat mereka diciptakan. Saya terharu pada kebaikan
hati orang-orang Lithuania yang masih bisa memikirkan orang lain sementara
mereka sebenarnya tidak yakin seberapa lama lagi mereka akan bertahan hidup.
Saya merasa hangat atas kedermawanan ibu Lina, juga persahabatannya dengan Mrs.
Rimas dan Miss Grybas. Saya berdebar-debar ketika Andrius—cowok tampan yang ditemui
Lina di dalam gerbong neraka—menemui Lina dan mengatakan sesuatu dalam bahasa
Rusia yang tidak dipahami Lina. Saya menyukai interaksi-interaksi singkat
mereka yang manis dan berkesan serta bagaimana hubungan istimewa di antara
mereka terjalin dengan alami di tengah kecamuk perang.
“Terkadang,
kebaikan disampaikan dengan cara yang kikuk. Tapi, dalam kekikukannya, itu jauh
lebih tulus jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh para lelaki
terkenal di dalam buku buku yang kau
baca. Ayahmu sangat kikuk. Terkadang ada semacam keindahan dalam kekikukan.”
(Dikutip dari
dialog Mrs. Vikas dengan Lina: halaman 176-177)
“Lina,
pikirkan apa yang akan dikatakan oleh ayahmu. Perlakuan yang salah terhadap
diri kita tidak memberi kita hal untuk melakukan hal yang keliru. Kau tahu itu.”
(Mrs. Vilkas
kepada Lina: halaman 346)
Kisah-kisah tentang perang selalu mengajarkan banyak hal
kepada kita. Dalam perang, seseorang bisa kehilangan nyawa dengan cara semudah
seseorang melempar koin ke dalam semak lalu berjalan pergi. Saya bergidik ngeri
ketika membaca dialog salah seorang korban perang dalam buku ini yang lebih
berharap dia mati saja ketimbang menjalani hidup di bawah penindasan: bekerja
di kamp kerja paksa dengan jatah makan roti seberat tiga ratus gram, dan
sebagainya.
Melalui Between
Shades of Gray, Ruta Sepetys—yang
merupakan putri dari seorang pengungsi Lithuania—mencoba mengajak orang-orang
untuk mengenang tragedi kemanusiaan pada Perang Dunia II. Mematrikan sudut
kecil lain dalam sejarah yang luput dari perhatian, dan menggemakan suara-suara
dari masa lalu yang tidak pernah didengar dunia, ke dalam benak kita. Agar kita
selalu ingat untuk menghidupkan cinta di hati kita, bagi semua orang. Between
Shades of Gray adalah kisah tentang mengasihi di tengah
kesengsaraan dan penderitaan. Tentang merawat nurani bahkan ketika tidak ada lagi
nurani yang sudi memberi ruang bagi siapa pun. Cerita ini adalah pelajaran
tentang betapa kuatnya manusia dengan kehidupan yang mereka bawa serta di dalam
dirinya.
Buku ini menghantui saya selama berhari-hari setelah
membalik halaman terakhirnya. Tanpa banyak menuliskan kutipan-kutipan kritis
dan kontemplatif, Ruta Sepetys bisa membawa
kita menualangi nurani kita sendiri, menyusuri setiap relungnya, dan memaknai
setiap hal kecil dari kisah ini untuk mematrikannya sebagai relik di sana. Dan ketika
kita akhirnya keluar dari relung terdalam, menyelesaikan petualangan paling
personal itu, kita akan mendapati diri kita menuliskan kutipan-kutipan kita sendiri.
Ya, sekuat itulah kisah ini. Dan, tentu saja, sehebat itulah Ruta Sepetys.
[Referensi untuk Beetween Shades of Gray bisa di lihat di sini]
Ulasan ini diikutkan dalam tantangan POPSUGAR Reading Challenge 2018
untuk kategori 'Buku Tentang Kematian dan Kesedihan'
![]() |
Klik gambar untuk membaca info |
No comments:
Post a Comment