Monday, May 16, 2016

[UPDATE] Piknik Moral: Lewat Musik, Parfum, Film, dalam Keberartiannya Sendiri-Sendiri [Review + Giveaway]

Jumlah halaman: 256 halaman
Penulis: Lugina W.G. dkk
Penyunting: Addin, Muhajjah, Misni
Penerbit: Diva Press
Tahun terbit: Mei 2016
ISBN: 978-602-391-147-9
Membaca bunga rampai atau kumpulan cerita pendek adalah tantangan tersendiri bagi saya. Bukan sekadar persoalan selera, saya kira. Saya selalu percaya, cerita yang kuat, akan mampu menarik ‘pembaca rewel’ mana pun untuk bersikap manis dan jinak selama beberapa jenak saja. Pada awalnya, saya tidak memiliki ekspektasi apa-apa terhadap Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya. Tidak, tidak. Meremehkan buku tidak pernah menjadi karakter saya. Hanya saja, akhir-akhir ini, saya sedang berlatih menghilangkan kebosanan dengan melakukan hal-hal secara impulsif dan tidak mencari tahu terlalu banyak tentang segala sesuatunya (saya juga tidak mencari tahu blurb buku ini di Goodreads sebelum mendaftarkan Worth Reads untuk mengikuti seleksi giveaway blogtour host-nya). Nyatanya, buku ini mampu mengejutkan saya. Lebih dari itu, mampu mengusik saya dalam tingkatan tertentu hingga membuat saya tercenung sesaat, mendesah berlebihan, menerawang ke kejauhan, mendesah lagi, dan merasai sensasi pahit samar-samar di pangkal lidah.

Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya merangkum 13 cerita pendek dengan beragam genre dan suara. Keragaman itu mengisahkan berbagai macam kegelisahan. Kritik dan moral, juga nilai, bertebaran. Berserakan. Siap dipunguti satu-satu. Atau cukup dilewatkan dengan sikap seolah-olah hanya ada kekosongan di sekeliling. Beberapa tampak ambisius. Yang lainnya, manis dan sederhana. Ada pula yang kuat dan tajam dan bulat. Saya menghargai golongan yang pertama, cukup menyukai yang kedua, dan agak membenci golongan yang ketiga, mengingat cara mereka mengusik saya dengan efek yang sudah saya ceritakan tadi. Sekadar catatan saja, saya cenderung agak membenci cerita-cerita bagus. Sekali lagi, mengingat dampak yang bisa mereka timbulkan terhadap saya.
Buku ini dibuka dengan cerita pendek berjudul Wajah-Wajah dalam Kaset Pita karya Gin Teguh. Sebuah kisah cinta yang manis sekaligus pahit. Berkisah tentang sang Aku yang jatuh cinta pada Nima, gadis pengidap prosophenosia. Nima tidak bisa mengenali wajah orang-orang. Dia hanya mengenali orang-orang melalui suaranya. Itulah sebabnya dia selalu membawa kaset pita berisi rekaman suara sang Aku setiap kali akan bertemu dengannya. Gin Teguh bertutur dengan gaya yang sederhana. Tampak tidak tergoda untuk bermain dengan deskripsi akrobatis—seperti halnya beberapa cerita pendek lainnya. Namun, dengan pengisahan yang lugas, Gin Teguh mampu menuliskan adegan-adegan manis dan pahit, tanpa dikte, dan dengan kadar yang cukup untuk membuat pembacanya… meminjam istilah slank yang biasa digunakan anak muda akhir-akhir ini, baper! Sebagai cerita pembuka, Wajah-Wajah dalam Kaset Pita berhasil menjadi cerita penarik perhatian untuk tidak buru-buru menutup buku sehingga pembaca harus kehilangan ledakan di beberapa cerita bagus lainnya. Sebuah kejutan kecil di akhirnya menegaskan kekuatan cerita ini.
Cerita pendek berikutnya yang menarik perhatian saya adalah Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya, yang disisipkan sebelum buku mencapai pertengahan. Saya selalu menggemari cerita-cerita keluarga, terutama yang mengandung isu disfungsi keluarga. Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya adalah cerita semacam itu, tapi dituliskan tidak dengan cara yang pernah saya temukan di cerita-cerita serupa. Cerita ini juga dituturkan dengan cara yang ringan, sama sekali tidak ruwet. Berkisah tentang Celia yang kesal terhadap kucingnya, Puffin, yang selalu memecahkan barang-barang. Celia menyalahkan kecerobohan Puffin—yang dulu adalah kucing yang manis dan menyenangkan—atas pecahnya gelas-gelas di rumah mereka, dan membuat Celia sulit tidur. Dengan terampil, Lugina W.G menggiring pembaca masuk ke dalam kesedihan Celia dan menemukan penyebab sebenarnya pecahnya gelas-gelas, tidak bersalahnya Puffin—yang kini hanyalah berupa boneka kucing, dan pahitnya pengingkaran Celia akan hal yang tidak ingin dia percayai.
Cerita pendek favorit saya yang lain adalah kisah penutup dari bunga rampai ini: Kisah yang Tidak Perlu Dipercaya karya Reni FZ. Sebuah cerita cinta yang manis dan pahit, tentang gadis petualang bernama Ella yang bertemu pemuda berdarah Italia-Kazakhstan bermata biru yang menawan hati di Dolomites. Lelaki itu bernama Altair, pemilik pesona yang mampu membuat Ella mengubah rencana perjalanannya. Ella membagikan cerita hidupnya pada Altair, dan Altair membagi kopinya di malam-malam dingin saat mereka berjalan menuju puncak Marmolada. Magnet Marmolada membuat mereka berjanji untuk akan bertemu sekali dalam setahun di puncak itu. Tujuh tahun pertama, semuanya berjalan sesuai rencana, meski Altair selalu datang dalam perawakan yang jauh lebih muda di setiap tahunnya. Di enam tahun berikutnya, Altair hanya datang dalam wujud selembar surat. Di tahun keempat belas, Altair berwujud selembar surat berisi pengungkapan rahasia dan seorang anak lelaki yang mewarisi ciri fisik Altair. Cerita ini mengingatkan saya pada (penulisnya juga sempat menyebut ini sebagai clue) kisah The Curious Case of Benjamin Button, membuat saya mengerti mengapa ia diberi judul demikian: Kisah yang Tak Perlu Dipercaya. Ini adalah jenis cerita yang mampu membuat pembacanya mengakses google untuk mengetik kata kunci semacam sindrom inversi atau klan darya, dan pada akhirnya, mereka hanya bisa menertawai diri sendiri karena merasa diperdaya, sekaligus merasa bodoh karena tidak bisa memberi batasan jelas antara fiksi dan realita. Hal menyebalkan lainnya dari cerita semacam ini adalah, Anda tidak akan menemukan akhir yang Anda harapkan terjadi. Jangan lupa, ini hanya cerita yang tidak perlu dipercaya!
Dan pada akhirnya, adalah Psikadelia: cerita yang paling saya sukai di bunga rampai ini. Cerita ini disisipkan dua cerita sebelum buku berakhir. Tapi saya menyimpannya di bagian akhir ulasan karena… bagian terbaik memang sebaiknya dinikmati di akhir perjamuan. Singkatnya, cake for later. Malangnya, sampai saya menuliskan bagian ini, saya belum menemukan cara yang tepat untuk mengulas Psikadelia. Cerita pendek ini berkisah tentang sang Aku, yang saya asumsikan sebagai seorang pemuda, yang tampaknya sedang mabuk obat-obatan ketika cerita ini dimulai. Dia bertemu seorang gadis yang mengajaknya terbang menualangi angkasa, menembus lapis-lapis atmosfer, dan mengobrolkan kadar feminitas dan maskulinitas Tuhan. Farrahnanda membingkai kebebasan dalam pigura psikadelik yang terkesan bebas nilai, tapi sebenarnya sangat kontemplatif. Anda bisa menganggap ini cerita yang terbuka bagi beragam interpretasi. Pengalaman trance dan halusinasi sang Aku bisa Anda terjemahkan secara harfiah, lugas, denotatif. Atau secara simbolik, terkias, konotatif. Anda bebas mempercayai apa pun yang ingin Anda percayai. Di sini Anda lah rajanya. Lagipula, ada hal-hal yang sebaiknya cukup dinikmati tanpa perlu memahaminya secara utuh. Karena seringkali pemahaman menyeluruh tentang sesuatu justru merusak sisi estetika obyek tertentu. Dan lagi, Anda bisa menemukan pemahaman lain dengan hanya menikmati sesuatu, pemahaman tentang hal lain yang sama sekali tidak berhubungan dengan obyek yang sedang Anda nikmati. Anda akan memahami apa yang saya racaukan ketika Anda berada di kata terakhir, halaman terakhir cerita Psikadelia.
Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya adalah pengalaman baca yang benar-benar menyenangkan bagi saya. Tiga setengah bintang untuk momen trance di beberapa cerita. Saya tidak bisa membulatkan bintangnya ke atas karena beberapa cerita lain. Tapi saya percaya, ini buku yang baik untuk piknik moral. Cerita-cerita yang terhimpun dalam bunga rampai ini mencoba mengemas pesan dari sudut pandang yang diharapkan terasa segar. Dan saya menyukai bagaimana cerita pendek-cerita pendek tersebut membungkus nilai keberartiannya sendiri-sendiri. 

NAH, SAATNYA BAGI-BAGI BUKU!
Halo Teman-Teman!
Semoga akhir pekan kalian yang sudah lewat, menyenangkan, ya ^_^
Jadi teman-teman baru saja membaca review Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya. Sekarang, saatnya bagi-bagi buku! Mari kita buat semuanya mudah dan ringkas saja. Jadi, Diva Press akan memberikan satu buah kumpulan cerita pendek Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya ini untuk satu pemenang yang akan saya pilih nantinya. 
Jadi, teman-teman, begini aturan mainnya: 
1. Peserta berdomisili dan memiliki alamat pengiriman di Indonesia
2. Follow twitter @divapress01 dan@AmayaKim_ atau like fanpage Penerbit DIVA Press.
3. Follow blog ini via GFC atau Google +
4. Bagikan info tentang blog tour giveaway ini ke sosial media teman-teman (facebook atau twitter, atau keduanya), sertakan link menuju postingan ini. Jika dibagikan via twitter, boleh me-mention saya. Tidak pun, tidak mengapa. Ini sifatnya optional saja, dan tidak mempengaruhi penilaian.
6. Siapkan jawaban terbaikmu untuk pertanyaan dibawah ini:
"Adakah lagu yang teman-teman asosiasikan dengan peristiwa atau orang tertentu? Lagu yang ketika teman-teman dengar lagi, akan membuat teman-teman segera teringat peristiwa tertentu, atau orang tertentu? Ceritakan, jika ada. Ceritakan dengan ringkas saja (tapi panjang pun tidak apa-apa. Saya cukup senang membaca cerita).”
Tinggalkan komentar/jawaban di postingan ini dengan menyertakan nama dan akun twitter. Panjang jawaban bebas, namun tidak mempengaruhi penilaian.
7. Pemenang akan dipilih berdasarkan jawaban yang paling menarik.
8. Giveaway ini akan berlangsung selama satu minggu, yang dimulai sejak 16 hingga 22 Mei 2016. Submit jawaban teman-teman ditunggu hingga pukul 00:00 WITA, ya.
9. Penentuan pemenang akan dilakukan sehari setelah giveaway ditutup, dan pemenangnya akan diumumkan melalui update postingan ini dan akan saya hubungi melalui twitter juga.
Semoga keberuntungan berada di pihakmu! :’)

---------------------------------------------------------------------------------------------
Terima kasih banyak utuk partisipasi teman-teman dalam giveaway ini. Saya cukup kebingungan memilih pemenang kuis kalini. Teman-teman  sudah menuliskan cerita-cerita singkat yang menarik perhatian saya. Maka akhirnya, saya memilih dua pemenang yang akan mendapatkan 1 kumcer Celia & Gelas-Gelas di Kepalanya dari Penerbit Diva Press, dan 1 lagi mendapatkan buku kumcer yang sama dari saya. Selamat untuk PUTRI PRAMA A. & ANAISE QUINN ^_^
Sila kirimkan data dirinya (nama, alamat lengkap beserta kode pos, dan no hp yang dapat dihubungi) ke email kimkkomaya[at]gmail[dot]com.
Cheers,

16 comments:

  1. Nama: Vinia Dayanti
    Akun Twitter : @viniapurba

    Banyak lagu yg ketika aku denger langsung aku asosiasikan ke hal2 tertentu. Tapi yang paling berkesan adalah lagu Brave (Sara Bareilles) yang saat pertama kali aku denger dan tau artinya, aku asosiasikan ke diri aku sendiri. Ya saat itu aku bukan orang yang berani mengekspresikan hal2 yang pengen aku ungkapin, karena dulunya aku pemalu dan ga berani apalagi kalo diminta ngungkapin pendapat. Tapi denger lagu Brave ini aku seolah-olah diajak untuk berani, mulai dari berani mengungkapkan kata-kata sampai berani mengekspresikan diri. Didukung sama lirik lagu dan musiknya yang enak banget kalo didengerin.. =)

    Ini nih sedikit liriknya, yang bikin termotivasi
    "But I wonder what would happen if you
    Say what you wanna say
    And let the words fall out
    Honestly I wanna see you be brave.."

    ReplyDelete
  2. Nama : Sarah Khairunnisa
    Akun Twitter : @sarahhechaa

    Ada satu lagu yang bisa bikim aku mewek, padahal itu lagunya biasa aja. Lagu itu adalah lagu Kepompong. Gak tau kenapa, tiap denger atau nyanyi lagu itu rasanya pengen nangis aja, keinget sama temen-temen, terutama temen SMP kelas 9. Karna pas kelas 9 itu berasa banget persahabatannya, berasa banget ketulusan bertemannya, berasa banget kekeluargaannya. Pokoknya paling gak terlupakan deh. Dan sekarang aku sama sahabat-sahabat aku udah pisah sekolah, dan jarang ketemu. Jadi tiap denger lagu Kepompong bawaannya baper mulu..

    Malah curhat ya jadinya :v

    ReplyDelete
  3. Kurnia Dwi Pertiwi
    @KDP264

    ada, judulnya yang terbaik bagimu - ada band feat gita gutawa

    Kalau kangen almarhum ayah suka dengerin lagu itu. Paling nggak bisa mengobati rasa kangen kalau emang belum sempat ke makamnya. Berikut lirik lagunya,
    lagu Yang Terbaik Bagimu

    Teringat masa kecilku
    Kau peluk dan kau manja
    Indahnya saat itu
    Buatku melambung
    Disisimu terngiang
    Hangat nafas segar harum tubuhmu
    Kau tuturkan segala mimpi-mimpi
    Serta harapanmu

    Kau ingin ku menjadi
    Yang terbaik bagimu
    Patuhi perintahmu
    Jauhkan godaan
    Yang mungkin kulakukan
    Dalam waktuku beranjak dewasa
    Jangan sampai membuatku
    Terbelenggu jatuh dan terinjak

    Reff :
    Tuhan tolonglah sampaikan
    Sejuta sayangku untuknya
    Ku terus berjanji
    Tak kan khianati pintanya
    Ayah dengarlah betapa sesungguhnya
    Ku mencintaimu
    Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu

    Andaikan detik itu
    Kan bergulir kembali
    Kurindukan suasana
    Basuh jiwaku
    Membahagiakan aku
    Yang haus akan kasih dan sayangmu
    Tuk wujudkan segala sesuatu
    Yang pernah terlewati


    Nah tapi kalau kakak aku, suka banget nyanyi lagi ebiet G. Ade yang titip rindu buat ayah. Mungkin dia juga sama kangennya, ya. Yaa.. namanya juga anak sama bapak yang udah pisah dua dunia. Jadi berasa banget kalau dengerin lagu yang ada ayahnya.
    Berikut liriknya
    Titip Rindu Buat Ayah

    Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
    Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
    Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras
    namun kau tetap tabah hm...
    Meski nafasmu kadang tersengal
    memikul beban yang makin sarat
    kau tetap bertahan

    Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
    Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
    Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
    kini kurus dan terbungkuk hm...
    Namun semangat tak pernah pudar
    meski langkahmu kadang gemetar
    kau tetap setia

    Ayah, dalam hening sepi kurindu
    untuk menuai padi milik kita
    Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
    Anakmu sekarang banyak menanggung beban

    Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
    Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
    Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
    kini kurus dan terbungkuk hm...
    Namun semangat tak pernah pudar
    meski langkahmu kadang gemetar
    kau tetap setia


    Jawaban aku panjang karena lirik doang, ya? Heheh.. intinya mah karena kalau lagi kangen bapak yaa.. dengerin lagu itu.

    ReplyDelete
  4. Nama: Aya Murning
    Twitter: @murniaya

    Tommy Page - A Shoulder To Cry On

    Nggak ada memori spesial dengan someone di lagu ini, tapi memorable banget buat aku sendiri. Bagiku lagu ini ironis dengan suatu momen di hidupku. Pernah dulu pas aku lagi terpuruknya, drop, down, bantal basah tiap malam karena saat tidur pun aku nggak bisa nahan tangis. Mau nyerah dari tekanan kehidupan yang aku rasakan saat itu. Aku kesepian. Nggak ada yang menghibur atau jadi wadah untuk nampung keluh kesahku. Emang sih curhat terbaik itu sama Tuhan, tapi bagiku itu aja nggak cukup. Aku juga mau ada yang langsung bisa respon, ngasih feedback atau saran, dan nenangin aku. Tiap aku denger lagu ini, seolah cuma Tommy Page yang bisa nemenin dan ngertiin aku.

    ♫♬
    And when you need a shoulder to cry on
    When you need a friend to rely on
    When the whole world is gone
    You won't be alone
    'Cause I'll be there
    I'll be a shoulder to cry on
    I'll be there
    I'll be a friend to rely on...
    ♫♬

    Maksud hati supaya terhibur dan lebih tenang kalau dengerin lagu ini, eh justru bikin aku tambah teriris dan nangis hebat. Ironis karena nyatanya nggak ada satu pun yang bisa jadi seseorang kayak di lagu ini, orang yang sedia untuk jadi sandaranku. Jadinya malah ngasihanin diri sendiri. Kesian banget sih nggak ada yang peduli dan nemenin.

    Meski momen terpuruk itu sudah berlalu, tapi mataku selalu berkaca-kaca tiap denger lagu ini.

    ReplyDelete
  5. Nama: Cahya
    Twitter: @chynrm

    Lagunya Rhoma Irama. Judulnya "Kata Pujangga". Lagu ini yang pernah nge-hitz lagi waktu jadi lagu pengiring di acara YKS di bulan puasa. Inget nggak?

    Hidup tanpa cinta
    Bagai taman tak berbunga
    Hai, begitulah kata para pujangga
    Aduhai, begitulah kata para pujangga
    Taman suram tanpa bunga

    Jadi ceritanya beberap tahun lalu pas lagi ngospek maba, ada acara semacam adu kreatifitas antar jurusan dalam 1 fakultas. Salah satunya lomba yel-yel. Dulu itu kan lagi booming banget acara YKS dan ternyata panitia tim kreatif kami masukin lagu Kata Pujangga itu (tapi liriknya diganti) pake musik lewat mp3 player dan loud speaker.

    Pas nampil depan khalayak, adek-adek maba dari jurusan kami total banget jogetnya. Kami para senior sampe naik ke kursi plastik dan ikut goyang. Saking asiknya goyang, ada yang jatoh dari kursi trus kejengkang nimpa yg lain. Untungnya si kursi nggak patah. Bukannya bantuin berdiri, yang lain malah jadi ngakak nggak karuan karena yang jatoh itu juga ketawa-ketawa aja. Mahasiswa dari jurusan lain pada noleh ke arah kami dan diketawain juga. XDDD

    Tapi seru loh. Rasanya pengin bisa balik lagi ke masa itu. Dan untungnya pengorbanan senior yang udah kesakitan gegara ngejengkang itu terbayar dengan menangnya yel-yel maba dari jurusan kami. Yuhuuuuu! :D

    ReplyDelete
  6. Nama : Fauziah Syifa Salsabila
    Twitter: @tetehsalsa

    Lagu yang tak terlupakan : FUN - We Are Young

    Nempelnya lagu ini di otakku adalah murni kecelakaan. Semuanya berawal dari acara Studi Observasi Lapangan (SOL) yang aku dan temanku ikuti pas kelas 8. Lokasi SOL tahun itu adalah kota DI Yogyakarta, jauh dari sekolah kami di Tangerang. Jadi, kami pun langsung mempersiapkan banyak hal untuk perjalanan darat yang lama. Biasalah, yang namanya remaja, pasti hidup itu rasanya sepi banget tanpa lagu. Yaudah deh, beberapa hari sebelum keberangkatan, kita sibuk teriak-teriak tuh di kelas, "Semuanya, jangan lupa ya SOL nanti pada bawa lagu yang banyak buat diputer di bis!"

    Semuanya pada ngangguk-ngangguk.

    Nah, pas hari-H, aku gak bawa lagu apapun di flashdisk. Soalnya aku mikir, "Ngapain bawa, yang lain juga udah pada bawa."

    Sialnya, bukan cuma aku doang yang mikir kaya gitu. "Yang lain" itu juga ternya mikir yang sama. Dan ketika mau muter lagu di bis, ternyata cuma satu orang yang bawa lagu. Nice. Parahnya lagi, lagunya cuma sedikit, dan anak-anak yang se-bis sama aku entah kenapa keranjingan lagu "We Are Young". Maka jadilah perjalanan pulang-pergi dua hari dua malam, plus perjalanan keliling kota DI Yogyakarta, ditemani oleh lagu yang sama.

    Tonight,
    We are young;
    So let's set the world on fire,
    we can burn brighter,
    Than the sun

    Lagu We Are Young diputer terus-terusan selama lima hari. Dan hasilnya bisa ditebak; setelah lima hari lagu itu masih terus ada, terngiang-ngiang di kepalaku. Sekarang udah tiga tahun sejak peristiwa itu, tapi tetep aja bekasnya gak bisa ilang. Setiap kali denger lagu ini, aku pasti inget kota DI Yogyakarta dan jalan-jalannya yang terlihat menarik dari kaca jendela bis.


    ReplyDelete
  7. Bintang Maharani
    @btgmr

    Lagu yang saya asosiasikan untuk suatu momen atau seseorang adalah...

    Ada Band - Yang Terbaik Bagimu (feat. Gita Gutawa)

    Lagu ini merupakan salah satu lagu favorit ayah saya. Sampai nada dering telpon atau sms-nya disetel lagu ini. Saya juga suka dengan lagu ini, apalagi kalau lagi dengerin lagu ini sama ayah, tanpa disadari kami suka nyanyi bersama. Secara tersirat lagu ini jadi penyemangat saya untuk bisa banggain dan bahagiain ayah. Bukannya saya nggak mandang jasa ibuk, tapi lewat lagu ini saya punya keinginan lebih untuk menghargai ayah. Dibanding ibuk, ayah itu lebih kalem tapi justru lebih ekspresif menunjukkan sayangnya. Misalnya saja ayah itu masih suka mendongeng, masih sering peluk dan cium di ubun-ubun meski anaknya sudah pada gede-gede begini.

    Saya menyayangi ayah setiap hari, setiap detiknya. Tidak pernah ada keinginan untuk menghancurkan mimpi ayah dan ibuk. Namun, suatu hari saya pernah merasa gagal menjadi anak. Saya rasa tidak perlu dijelaskan masalahnya apa. Saat itu saya merasa saya sudah kecewain ayah. Bahkan saudara saya juga bilang kalau saya ini mengecewakan. Saya jadi merasa malu sendiri dengan lagu ini. Masih pantaskah saya menyanyikan ini untuk ayah? Sampai saya tidak berani untuk sekedar bertanya, "setelah semua ini, apa ayah masih sayang sama saya seperti sebelumnya?"
    Setitik pun di hidup saya tidak pernah ada niatan untuk membuat mereka sedih. Tapi inilah hidup, kadang ada hal yang tidak bisa kita hindari dan harus kita terima.

    ♪ Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
    ♪ Ku trus berjanji takkan khianati pintanya
    ♪ Ayah dengarlah betapa sesungguhnya kumencintaimu
    ♪ 'Kan kubuktikan kumampu penuhi maumu

    Sejak peristiwa itu, saya nggak pernah bisa untuk nggak nangis tiap terdengar lagu ini. Mendengar saja sudah pilu, apalagi disuruh menyanyikannya, bibir saya langsung bergetar duluan menahan isak tangis.

    ReplyDelete
  8. Nama : Ahmad Rosyid Mustaghfirin
    Twitter : @ahmadrosyidmus


    Ada sebuah lagu yang membuatku selalu membayang masa lampau, menembus waktu jauh ke tahun-tahun silam. Lagu itu adalah lagu kebangsaan negara ini, Indonesia Raya gubahan W.R Supratman.
    Bukan aku merasa (sok) nasionalis ataupun patriotis, tapi memang begitu yang terjadi kepadaku saban mendengar dan menyanyikan lagu ini. Terlebih pada upacara-upacara besar semacam upacara tujuh belasan. Entah dari mana mulanya aku (sedikit) bisa mengikuti lirik lagu ini. Jujur, semasa aku masih kanak-kanan hingga berseragam putih abu-abu, rasanya aku masih getir mendengarkan lagu ini. Mungkin perasaan itu muncul satu atau dua tahun yang lalu, ketika aku mulai senang membaca buku.
    Jangan berpikir aku memiliki kekuatan magis yang mampu melihat masa lalu. Jangan. Apa lagi mampu menembus ruang dan waktu dan hidup di zaman bersejarah itu. Karena itu tidak mungkin. Aku manusia yang suka membayang dan berimajinasi. Oleh sebab itu, ketika mendengar ataupun menyanyikan lagu ini, pikiran dan mataku bekerja. Pikiranku bertanya-tanya bagaimana nasib orang-orang pribumi dijajah selama 350 tahun lebih. Bagaimana pula cerita mereka yang meregang nyawa karena memperjuangkan kemerdekaan negeri ini. Ratusan ribu nyawa (atau mungkin jutaan?) hilang demi negara ini. Dan mataku seperti menafsirkan khayalanku, memutar sebuah film atau melihat gambar-gambar yang tertoreh pada kanvas. Yang kulihat adalah semangat juang dan penyiksaan.
    Lagu kebangsaan kita, Indonesia Raya, entah bagaimana pula W.R Supratman bisa menyusun lirik yang membawa semangat juang di dalamnya. Bahkan mampu mmembuatku membayang kembali masa lalu. Sungguh aku seorang pecundang jika aku lari dari sejarah dan lupa kepada orang-orang yang sudah memperjuangkan kemerdekaan negeri ini. Dan sungguh aku seorang bajingan jika aku malah merusak negara ini demi kepentingan pribadi.
    Mari kita hayati, ketika upacara hari senin atau tujuh belasan, pengibaran bendera pusaka akan diiringi lagu Indonesia Raya. Mari hayati, ketika bendera itu perlahan-lahan membumbung di pucuk tiang. Itu serupa proses yang sangat panjang. Proses pahlawan-pahlawan dahulu memperjuangkan kemerdekaan negara ini. Hingga bendera itu sampai di puncak, negara ini mencapai kemerdekaannya. Dan mari hayati lirik lagu yang mengiringinya. Aku sendiri, jantungku, seperti ada kaki-kaki yang berderap di sana. Dan partikel-partikel dalam darahku seperti susul menyusul, bergerak cepat. Dan aku harus menjaga negara ini dengan apapun yang aku miliki.
    Sekali lagi, jangan berpikir aku (sok) nasionalis ataupun patriotis. Karena aku sendiri tidak tahu, apa yang telah aku lakukan hingga detik ini, bermanfaat untuk negeri ini atau justru mencederai negeri ini. Aku tidak tahu.

    ReplyDelete
  9. Nama : Kukuh Niam Ansori
    Twitter : @kukuhniam

    Lagu Lir-Ilir
    Karya Sunan Kali Jaga atau biasa disebut Raden Mas Sadi
    Ini sebenarnya lagu religi dengan lirik syarat makna yang mengingatkan manusia. Tapi dengan santun dan lembut.
    Kenapa lagu ini? Dan Apa hubungannya dengan orang tertentu?
    Jangan suka berburuk sangka dulu, orang tertentunya itu bukan pacar kok, apalagi mantan. Itu saya sendiri.
    Lagu ini bermakna bagi hidup saya. Bukan karena saya pernah tersesat di jalan yang laknat, lalu tobat. Bukan seperti itu.
    Saya pernah punya mimpi, menurut saya cukup besar. Saya besarkan terus mimpi itu. Mimpi jadi pengusaha besar. Lalu apa? Mimpi itu sudah teramat besar. Teramat besar begitu saja. Saya jadi lupa diri. Jadi egois. Meyakinkan semua orang kalau mimpi saya untuk sangat besar.
    Ketika sedang makan jagung bakar di Kota saya, tak sengaja sekelompok pengamen yang baru saja menyanyikan lagu dangdut berubah menyanyikan lagu Lir-ilir. Gila, alunannya bikin trenyuh. Saya tahu lagu ini, kenal erat saat kecil sering melantunkannya sebagai bentuk shola shola sebelum sholat maghrib. Saya juga sedikit banyak tahu maknanya.
    Lir-ilir.... (Bangunlah-bangun) Saya jadi berpikir, sejauh ini saya terlalu bersemangat untuk membesarkan mimpi sampai lupa bangun. Iya, saya nggak sadar akan kenyataan. Saya harus sadar, saya harus bangun. Bukan bangun lalu menengok realita apa adanya. Bangun untuk mencapai mimpi. Bagaimana bisa jadi besar kalau masih jadi mimpi. Tidak saya bangunkan jadi realita yang besar pula.
    Saya mulai menengok kemampuan saya dan ketersediaan saya. Saya berpikir butuh modal besar. Ternyata justru membuat saya terlena dengan pekerjaan. Lupa pada mimpi itu.
    Saya mencoba ingat lagi lagu Lir-ilir itu.
    Bukan modal uang yang saya butuhkan. Tapi satu langkah mengambil keputusan. Akhirnya saya memilih untuk usaha di bidang pertanian. Tepat tahun ini juga. banyak hambatan, gagal, halangan, omelan orang tua yang menyuruh bekerja saja.
    Tapi saya nggak ingin menyerah, seperti lanjutan lirik lagu Lir Ilir
    "Penek'en blimbing kuwi"
    "Lunyu-lunyu penek'en"
    "Kanggo basuh dodotiro"

    Meski saya memaknainya berbeda. Tapi itu jadi motivasi hingga saat ini saya belum menyerah meski banyak sekali rintangannya. Saya percaya, proses tidak akan menghianati hasil. Dan Tuhan sudah menjanjikan, tidak akan berubah nasib suatu kaum jika dia tak mau merubahnya. Apalagi sudah dijelaskan pula, setelah kesulitan ada kemudahan. Lalu, masih kah ada alasan lagi untuk menyerah?

    Ya meski belum berbuah, sekarang tanaman cabai saya sudah tumbuh mulai tinggi dan hijau-hijau. Ada sih serangga-serangga yang masih nyari rejeki sambil makan dedaunannya.


    Wah, kepanjangan ya mbak. Maaf nih jadinya.
    Btw, gimana sih mbak bisa jadi blog tour hostnya gitu?

    ohya, tulisan mbak yang lain bagus-bagus
    Kalau berminat baca tulisan saya juga mbak di blog. Jelek-jelek sih,hehe
    www.lukiluck.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Raden Mas Said mbak bukan Mas Sadi, salah ketik maaf

      Delete
  10. Humaira
    @RaaChoco

    Muara Kasih Bunda - Erie Susan

    Ini liriknya :

    Bunda………
    Engkaulah muara kasih dan sayang
    Apapun pasti kau lakukan
    Demi anakmu yang tersayang

    Bunda………
    Tak pernah kau berharap budi balasan
    Atas apa yang kau lakukan
    Untuk diriku yang kau sayang

    Saat diriku dekat dalam sentuhan
    Peluk kasihmu dan sayang
    Saat ku jauh dari jangkauan
    Doa… mu kau sertakan

    Maafkan diriku bunda…..
    Kadang tak sengaja ku membuat relung hatimu terluka

    Kuingin kau tahu bunda….
    Betapa kumencintaimu lebih dari segalanya

    Kumohon restu dalam langkahku
    Bahagiaku seiring doamu


    Baca liriknya aja pasti udah tau kan.

    Pokoknya, setiap denger lagu ini jadi inget mamah. Jadi bahan introspeksi diri atas semua kelakuanku selama ini yang aku sendiri kadang ga sadar sudah melukainya. Atas semua perbuatan penuh kasih sayang yang selalu aku terima tapi sering aku lupakan dan tak dihiraukan.

    Secara garis besar, seringnya kita ingin membahagiakan orang yang kita cintai dan sayangi. Tak ingin membuatnya terluka dan mengeluarkan air mata. Tapi sama ibu sendiri aja lupa. Kenapa harus orang lain? Kenapa ga mulai dari ibu sendiri? Yang seharusnya jadi prioritas utama orang yang harus disayangi, dicintai, dihargai dan diperhatikan di dunia ini.

    Aku pernah dibelikan buku oleh kakak saat ulang tahun ke- 17. Judulnya Kisah Lima Monyet dan Bill Gates, berisi kumcer terbitan Laksana salah satu anak Diva Press juga. Ada salah satu cerpen berjudul Kasih Sepanjang Masa. Disana ada seorang anak yang menyerahkan tulisan berisi pekerjaan yang sudah dilakukan si anak selama 1 minggu. Untuk memotong rumput, membersihkan kamar tidur minggu ini, pergi ke toko disuruh ibu, menjaga adik sewaktu ibu belanja, membuang sampah, nilai yang bagus, membersihkan dan menyapu halaman. Jumlah total utang ibu adalah Rp. 25.000,-
    Lalu ibunya memandangi si anak dan berharap. Mengingat semua kenangan yang dilewati, kemudian menuliskan dibalik kertas yang diberikan anaknya tadi.
    Untuk 9 bulan ibu mengandung kamu, gratis
    Untuk semua malam ibu menemani kamu, gratis
    Untuk membawamu ke dokter dan mengobati saat kamu sakit, serta mendoakanmu, gratis
    Untuk semua saat susah dan air mata dalam mengurus kamu, gratis
    Untuk semua makanan, mainan dan baju kamu, gratis

    "Anakku, kalau kamu menjumlahkan semuanya, akan kau dapati bahwa harga cinta ibu adalah gratis"

    Si anak menangis lalu memeluk ibunya dan berkata "Bu, aku sayang sekali sama ibu" si ibu menjawab "Ibu pun sayang kamu nak" sambil mencium rambut anaknya tersebut.

    Si anak kembali mengambil kertas dan membalikkannya, menulisnya besar-besar dengan pulpen didaftar hutang si ibu padanya, sambil diperhatikan ibunya. "LUNAS"

    Jangan beranggapan kalau, "si ibu namanya ga ikhlas, semuanya disebutin" . Aku jadi berkaca, secara ga langsung diajarkan jika segala perbuatan harus dikerjakan dengan ikhlas, tanpa pamrih dan ga butuh bayaran, apalagi ini sama ibu sendiri.

    I Love You Mom :)

    Makasih, maaf jadi curhat :) :)

    ReplyDelete
  11. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  12. Nama : Miss Kamah
    Akun Twitter : @ivedvedi

    ada lagu anak-anak. Judul nya "Balonku Ada 5"
    Ingat jaman Tk nya anak saya, yg disurh maju ke depan kelas untuk bernyanyi lagu itu.
    eh.. malah anak saya nangis.... akhirnya ia ngompol.... yah.. bikin malu nih anak saya....
    Umurnya sih baru 6 tahun, masuk TK nol kecil, Kata anak saya, lagu balon ku ada 5 itu lagu yg paling jahat. Ah masa!
    kata nya lagi, judul lagu nya kan ada 5, terus kenapa bisa jadi 4..
    Hadeh........ bingung saya nih sma anak saya..
    inget kejadian itu, saya jadi kangen sama almarhum anak saya..., yg kebetulan meninggal pas beli balon di pasar malam..
    iya sih, Balon itu jahat... maka dari itu setiap kali saya mendengar lagu itu. Saya kepingin nangis, ternyata perkataan anak kecil apalagi anak sendiri ada makna serta pesan tertentu.. Semoga Tuhan Memberkati.., kejadian yg sungguh ajaib.

    ReplyDelete
  13. Putri Prama Ananta
    @putripramaa
    Ada. Banyak sekali, malah dan sebagian besar dari lagu-lagu itu kuasosiasikan dengan teman-temanku.
    Salah satu lagu itu adalah Frozen (hampir semua versinya). Lagu itu adalah soundtrack film yang kami sukai. Jadi, teman-teman yang kumaksud di sini bukan cuma beberapaorang saja, melainkan satu kelas yang berjumlah 24 orang. Setiap kali aku mendengar lagu itu, aku ingat lagi bagaimana kami menjalani hari-hari bersama. Kami memang tidak sama, tetapi ketika kita bersama kita menjadi 'sama', yaitu Songawesome.
    Kami sudah seperti keluarga. Dalam 24 jam, kita bisa bersama-sama selama 10 jam. Jadi, bisa dibayangkan kan bagaimana kami melewati hari-hari kami? Aku sungguh menyayangi mereka dan aku sungguh nyaman bersama mereka, namun ... kami nggak bisa selalu bersama. Kami harus melanjutkan pendidikan kami ke jenjang yang lebih tinggi. Meskipun sebagian dari kami masih satu sekolah, namuntetap saja ini sudah berbeda.
    Mungkin kisah persahabatan kami sudah terdengar klise, ya? Kita awalnya saling canggung, lalu sangat mengenal layaknya keluarga, setelah itu dipisahkan. Klise. Tapi, yang tidak klise dari kisah kami adalah ... aku selalu menyimpan baik-baik kenangan bersama mereka dengan barang-barang. Barang-barang dan kenangan itu abadi, tapi bagaimana dengan pertemanan kami abadi juga?
    Setelah intensitas pertemuan kami yang berkurang, aku tidak bisa menjamin mereka tetap menyayangi pertemanan kami--kelas kami. People change, but not memories.
    Mungkin untuk sekarang aku masih menyayangi mereka dan selalu berharap ada waktu lagi yang menyatukan kami secara utuh, tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. AKu juga tidak tahu bagaimana perasaan teman-teman tentang pertemanan ini, apakah mereka sudah lupa bahwa pernah ada Songawesome di masa lalu kita? Aku tidak tahu. Tidak ada yang tahu pemikiran seseorang yang sebenarnya.
    Setiap mendengar lagu ini, rasanya aku pusing sekali. Tidak, aku tidak menderita PTSD. Tapi, kenangan bersama mereka membuatku menangis dan ingin kembali ke masa lalu. Aku paham, tidak baik bila kita selalu melihat ke belakang, kita harus melihat ke depan. Tapi, faktanya aku belum sepenuhnya bisa. Aku belum sepenuhnya mau berpisah dengan teman-teman. Karena bersama mereka lah aku benar-benar merasa hidup dan menjadi diri sendiri. Aku sungguh-sungguh menyayangi mereka.
    Semoga aku tidak lagi pusing setiap mendengar lagu-lagu yang berhubungan dengan pertemanan kami yang indah ini. Aku nggak ingin terbayang-bayangi masa lalu hanya karena lagu, tapi bukan berarti aku ingin melupakan pertemananku itu. Aku harus mencoba let it go, bukan? Tapi, aku sungguh-sungguh sayang mereka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Doakan aku nggak terlalu sering melihat ke masa lalu, ya, Mbak. Amiin.

      Delete
  14. Yah sudah lewat eventnya .... pengen ikutan. HIKS. Bagi2 buku lagi dung mbak.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...