Friday, February 05, 2016

Salander, Masa Lalu, & Api yang Disulutnya: Sekuel yang Menghantui

Judul buku: The Girl Who Played with Fire (Millennium Trilogy #2)

Jumlah halaman: 904 halaman paperback
Penulis: Stieg Larsson
Penerjemah:  Nurul Agustina
Penyunting: Nur Aini
Penerbit: Qanita (Mizan Grup)
Tahun terbit: 2009 (pertama kali diterbitkan tahun 2006)
ISBN: 6028579165 (ISBN13: 9786028579162)
Penghargaan: Anthony Award Nominee for Best Novel (2010), Dilys Award Nominee (2010), Svenska Deckar akademins pris för bästa svenska kriminal roman (2006), Goodreads Choice Award for Mystery/Thriller (2009) #1 New York Times bestseller. Best Swedish Crime Novel Award (2006). CWA (Duncan Lawrie International Dagger, Shortlist (2009)

Gadis itu hanya menungggu, dan mulai memikirkan lagi tentang kaleng bensin dan korek api.
Ia melihat tubuh lelaki itu basah kuyup oleh bensin. Ia bisa merasakan korek api dalam genggamannya.
Ia mendengar bunyi gesekan batang korek yang beradu dengan lapisan sulfur. Suaranya mengejutkan, seperti Guntur yang datang di cuaca terang.
Ia melihat korek kecil itu berkobar menjadi api yang besar.
Bibirnya membentuk garis senyum, mencoba mengeraskan hati.
Hari itu ia berulang tahun yang ketiga belas (Prolog: 12)

Setelah membuat walinya, Advokat Bjurman, tidak berkutik (dengan meninggalkan tato AKU MAKHLUK SADIS, MENYESATKAN, DAN PEMERKOSA di perutnya), Lisbeth Salander melakukan perjalanan keliling dunianya untuk menjernihkan pikiran. Guadaloupe, Dominika, Barbados, St Lucia, dan akhirnya Grenada. Kepergiannya yang berbilang tahun membuat orang-orang yang mengenalnya dan menyukainya (yang bisa dihitung jari) menganggapnya menghilang. Mikael Blomkvist, Dragan Armansky (mantan atasannya di Milton Security), Plague (teman dunia mayanya), dan Mimmi (teman nongkrong sekaligus teman tidurnya sesekali). Salander sama sekali tidak menyangka jika kepulangannya ke Swedia membawanya ke dalam episode petualangan baru yang lebih mengerikan jika dibandingkan dengan petualangan terakhirnya mengungkap skandal Wennerström bersama Blomkvist.
Sekarang, ia mulai merasa takut. Yang pertama Blomkvist si Playboy, lalu nama Zala, dan sekarang si penjahat Nils Bjurman dengan seorang raksasa steroid yang memiliki kontak dengan sekelompok geng berandalan bermotor. Dalam beberapa hari berikutnya, Salander mencoba mengartikan berbagai riak yang muncul di sekitarnya secara bersamaan (hal. 249).
Ketika memata-matai hardisk komputer milik Blomkvist, Salander menemukan dokumen yang tampaknya sangat sering diakses oleh Blomkvist. Dokumen tersebut adalah desertasi seorang jurnalis bernama Mia yang sedang digarap menjadi draf buku bersama kekasihnya Dag Svensson, dan berencana akan diterbitkan oleh Blomkvist. Draf itu berisi skandal industri prostitusi di Swedia yang melibatkan sejumlah nama besar di berbagai bidang vital. Dari geng berbahaya, penegak hukum, hingga mata-mata negara. Yang membuat Salander tertarik sekaligus terkejut setengah mati adalah sebuah nama yang sudah lama ia cari-cari: Zala. Salander pun mengunjungi Mia dan Dag. Beberapa saat setelahnya, kedua jurnalis tersebut ditemukan tewas, dan sidik jari Salander ditemukan di banyak titik di apartemen tempat kejadian perkara. Termasuk pada pistol yang diduga digunakan untuk menewaskan keduanya. Tidak sampai di situ, Bjurman, yang juga teramat dibenci Salander, ditemukan tewas di apartemennya, dengan bukti yang juga memberatkan Salander. Dalam sekejap, hacker jenius dan licin itu resmi menjadi tersangka dan pembicaraan hangat di Swedia. Fotonya terpampang di halaman depan koran pagi, dan disiarkan di berbagai berita televisi. Blomkvist yang sudah mencari Salander sejak setahun terakhir dan menghubunginya dengan segala macam cara tapi tidak berhasil, menjadi panik dan sangat khawatir. Tapi dia mengenal Salander. Gadis itu memang bisa sangat impulsif, dan dinyatakan tidak kompeten untuk mengurusi dirinya sendiri karena diagnosa kecenderungan psikopatik yang dimilikinya. Tapi dia tidak pernah bertindak sembarangan. Salander selalu memikirkan baik-baik tindakannya dan segala konsekuensinya sebelum akhirnya melakukannya. Ketika Blomkvist mulai putus asa untuk menemukan Salander, dia pun teringat bahwa gadis itu pernah memata-matai komputernya. Blomkvist pun menulis surat dan menyimpannya di komputernya sendiri, berharap Salander akan membacanya. Dan begitulah caranya Blomkvist berkomunikasi dengan Salander. Blomkvist tahu pasti, Salander berada dalam bahaya dan berhadapan dengan seluruh Swedia. Dan meski sadar bahwa tidak akan mudah membuat Salander percaya kepadanya lagi—mengingat betapa keras kepalanya gadis introvert itu—tapi Blomkvist akan tetap berusaha meyakinkan Salander, bahwa dia berada di pihaknya. Selalu.
Sekuel The Girl With The Dragon Tattoo ini jauh lebih panjang dari prekuelnya. Menariknya, sekuel ini menguak kehidupan pribadi Salander yang misterius. Bagi penggemar Salander (seperti halnya saya), The Girl Who Played with Fire ini cukup mengobati rasa penasaran akan kehidupan Salander. Mengapa hanya cukup? Karena ini buku kedua dari serial petualangan Salander, dan buku ini berakhir hanya sesaat setelah klimaksnya mereda (meski saya yakin, klimaks dari keseluruhan cerita masih akan terus menanjak beberapa kali dan mengalami redaan kamuflase). Jadi tentunya, masih ada banyak hal yang belum terungkap. Baik, saya tidak ingin membahas akhir buku ini. Memberi sedikit clue saja rasanya sudah membocorkan terlalu banyak.
Masih seperti buku pertamanya, Stieg Larsson bercerita dengan induksi yang panjang dan mungkin akan terasa membosankan bagi pembaca yang tidak sabar. Tapi saya menikmati cara Stieg Larsson membeberkan berbagai fakta mengenai tokoh-tokoh minor dan latar belakang mereka dengan begitu detil. Siapa sebenarnya dan apa tujuan serta masalah mereka. Apa yang mereka inginkan dan apa yang sudah mereka lakukan dan selanjutnya apa yang mereka rencanakan. Untuk menyerap informasi ini saya membutuhkan fokus tinggi yang stabil. Ada begitu banyak nama, profesi, tujuan, modus, skandal, kebutuhan, dan keinginan. Saya harus mengingat setidaknya 85% dari porsi raksasa itu untuk membentuk pemahaman awal, agar lebih mudah bagi saya untuk memetakan hubungan antartokoh dan kepentingan mereka terhadap segala sesuatu. Sesekali, saya harus kembali ke halaman tertentu untuk menemukan 15% saya yang lainnya. Tapi itu bukan masalah besar. Stieg Larsson mengemasnya dalam gaya fiksi jurnalistik yang sarat dan padat. Saya menyukai kebingungan saya sendiri ketika mencoba melihat batasan pada hal-hal fiktif dan realitas dari fakta-fakta yang diketengahkan penulis. Karena konflik yang dicetuskan dalam sekuel ini benar-benar baru, wajar saja jika semuanya dimulai dari nol. Kecuali beberapa hal tentang Blomkvist (siapa dia dan bagaimana karirnya) dan Salander (bagaimana karakter dan apa profesinya) yang sudah cukup gambling terkuak di prekuel The Girl Who Played with Fire ini.
Dalam buku ini, ketangguhan Salander kembali diuji dalam beberapa upaya meloloskan diri dari pengejaran, perkelahian dengan gangster, dan kemampuannya menghilang tanpa jejak. Saya benar-benar menyukai perempuan mungil ini. Saya hanya menyesalkan porsi adegan Salander yang baru terasa dominan di pertengahan cerita (meskipun cerita diawali dengan kisah Salander yang berkeliling dunia, tapi, tetap saja!). Ketegangan yang melibatkan Salander sendiri baru terjadi nyaris di akhir cerita. Tapi ya, tetap saja, saya cukup (kenapa hanya cukup? Karena ada banyak sekali pertanyaan berseliweran di kepala saya tentang Salander dan masih membutuhkan jawaban) terpuaskan dengan fakta-fakta baru tentang Salander. Tentang hubungannya dengan Zala. Tentang masa lalu dan api yang disulutnya. Dan yang tidak kalah penting, peristiwa kelam yang (selalu disebut Salander sebagai 'awal segala laknat') yang membentuk Salander dewasa yang tidak saja tangguh dan tertutup, tetapi juga penuh amarah dan dendam. 
Jika prekuel buku ini membuat saya jatuh cinta pada Salander dan tidak sabar ingin mengetahui lebih banyak tentang sepak terjangnya di dunia kriminal, maka sekuel ini menghantui saya.  Saya tidak rela meninggalkan Salander dalam keadaan terburuknya. Untungnya, saya sudah memiliki sekuel berikutnya.
This pic's remodified by me. Click here to see the source

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...