
Judul buku: Cinta Tak Pernah Mati
Jumlah
halaman: 231
halaman paperback
Penulis: Ryūnosuke Akutagawa, John Galsworthy, O. Henry, James Joyce, Guy de Maupassant, Rudyard Kipling, Edgar Allan Poe, W. Somerset Maugham , August Strindberg, Rabindranath Tagore, Leo Tolstoy, Honoré de Balzac, Mark Twain, Bjørnstjerne Bjørnson, Émile Zola, Anton Chekhov, Fyodor Dostoyevsky
Penerbit: Serambi
Tahun
terbit: Juni 2011
ISBN: 978-979-024-357-6
Cinta Tak Pernah Mati merupakan bunga rampai cerita pendek-cerita pendek klasik pilihan
dari 17 pengarang besar dunia. Ryunosuke Akutagawa (Jepang), Honoré de Balzac
(Perancis), Bjornstjerne Bjornson (Norwegia), Anton Chekov (Rusia), Fyodor
Dostoevsky (Rusia), John Glasworthy (Inggris), O. Henry (Amerika Serikat), James
Joyce (Irlandia), Rudyard Kipling (Inggris), W. somerset Maugham (Inggris), Guy
de Maupassant (Perancis), Edgar Allan Poe (Amerika Serikat), August Strindberg
(Swedia), Rabindranath Tagore (India), Leo Tolstoy (Rusia), Mark Twain (Amerika
Serikat), dan Émile Zola (Perancis). Ketujuhbelas penulis legenda ini
mengisahkan cinta dari tujuh belas sudut pandang, dengan kekhasan interpretasi
masing-masing. Cinta kasih pada sesama. Cinta pada binatang buas. Cinta pada
kekasih. Cinta kepada anak. Cinta pada hewan peliharaan. Begitulah. Dari cinta
platonis hingga cinta teologis dapat ditemukan dalam bunga rampai ini, tersaji
dalam beragam genre: surealis hingga realis.
Daya tarik karya sastra klasik bagi saya
adalah ‘membaca masa lalu’. Menarik
saja rasanya, bisa membandingkan situasi masa lalu dengan keadaan yang sedang
berlangsung di masa sekarang. Bukan itu saja. Sebagai penggemar berat
aspek-aspek estetis, saya selalu dibuat penasaran oleh cerita bergaya kuno yang seringkali dianggap membosankan oleh
orang-orang. Omong-omong tentang itu, saya juga percaya, modernitas mengasah
ketajaman estetika karya-karya sastra modern sehingga, entah bagaimana bisa,
karya sastra modern akan tampil jauh lebih menawan. Karena itulah, saya selalu
menghormati karya-karya klasik, yang tidak lain, telah memancangkan tonggak
awal kesusatraan di berbagai belahan dunia.
Sejak awal membaca Cinta Tak Pernah Mati, perhatian saya dengan serta merta tertuju pada gagasan-gagasan
para pengarang yang, saya percayai, merepresentasikan situasi sosial di periode waktu tertentu. Kondisi psikososial masyarakat di masa ketika cerita tertentu
dituliskan. Membuat saya mulai berspekulasi mengenai peta sosiohumanistik dan
moralitas yang merebak di tengah masyarakat negara tertentu.
Cerpen Ryunosuke Akutagawa yang berjudul
Suatu Hari di Surga, misalnya. Bercerita
tentang seorang pendosa bernama Kandata yang dijerumuskan ke neraka. Namun,
suatu hari, sang Budha yang mahabaik, memberinya kesempatan untuk keluar dari
neraka dengan mengirimkan jaring laba-laba yang panjang agar Kandata dapat
memanjatinya. Sang Budha melakukan itu karena teringat perbuatan baik Kandata
yang tidak jadi membunuh seekor laba-laba ketika menemukannya di hutan. Kandata
pun menemukan jarring panjang kiriman sang Budha dan mulai memanjat. Tetapi,
ketika para pendosa lain ikut memanjati jaring laba-laba, Kandata menghardik
seluruh pendosa yang memanjat di bawah kakinya. Sehingga sang Budha yang kecewa,
lantas memutuskan jaring laba-laba itu, karena ternyata Kandata tidak layak
untuk diselamatkan dari neraka. Saya membayangkan, Ryunosuke Akutagawa muda
yang mengidap skizofrenia, menuliskan kisah ini sambil membayangkan Jepang,
atau mungkin juga dunia, yang lebih baik, jika setiap orang memiliki cinta
kasih dan hati yang lembut terhadap sesama. Atau, yang sedikit lebih besar dari
itu: alangkah baiknya, jika dunia berbaik dan lembut hati kepadanya, agar tidak
mengutuknya dengan halusinasi yang membuatnya putus asa hingga ia akhirnya
memutuskan untuk bunuh diri (hal. 9-14)
Lalu, cerpen Mark Twain yang berjudul Keberuntungan, tampaknya adalah satir
yang ditujukan kepada penguasa di masa itu. Cerita ini mengisahkan seorang
tentara bernama Scoresby yang dungu tapi beruntung. Dia menapaki karir
kemiliterannya hingga menjadi panglima besar yang dihormati hanya bermodalkan
keberuntungannya. Mulai dari lulus ujian dengan nilai tertinggi, hingga
memenangkan perang besar yang dipimpinnya.
Masih ada lagi beberapa cerita pendek lainnya yang sangat
menarik perhatian saya. Yang pertama, karya pengarang klasik favorit saya
(sejak membaca The Jungle Book) Rudyard Kipling. Cerita pendeknya yang berjudul
Hantu Mantan Kekasih berkisah tentang
seorang lelaki Pematah Hati bernama
Pansay yang pada akhirnya jatuh cinta dengan sungguh-sungguh pada seorang gadis
setelah meninggalkan istri seorang tentara bernama Nyonya Wessington. Setelah
menolak dan mencampakkan Nyonya Wessington, wanita itu akhirnya meninggal
dunia. Dan Pansay pun menjadi gila. Dia melihat Nyonya Wessington di mana-mana.
Dia mendengar suaranya dan bercakap-cakap dengannya. Sementara seisi kota mulai
menggunjingnya sebagai orang gila. Pansay akhirnya mendapat perawatan di rumah
seorang dokter. Setelah mengkonsumsi obat-obatan yang oleh sang Dokter disebut
sebagai pil hati, Pansay berangsur
sembuh. Tapi kemudian dia kembali melihat hantu Nyonya Wessington. Dan
pengobatannya yang selanjutnya membuat kondisinya bertambah buruk dari waktu ke
waktu. Saya bertanya-tanya, apa Kipling sedang menulis cerita tentang pengidap
skizofrenia dan bukannya cerita hantu? (hal. 130-163).
Cerita pendek lain yang menarik
perhatian saya adalah karya Rabindranath Tagore yang berjudul Kesetiaan dan karya Leo Tolstoy (yang
juga adalah pengarang klasik favorit saya) yang berjudul Kebahagiaan. Kedua cerita ini tidak saja mengandung moral semata
(sangat jelas keduanya dituliskan untuk tujuan itu), melainkan juga nilai
relijius. Kesetiaan berkisah tentang
patahnya kesetiaan seorang pertapa kepada Tuhan karena penderitaan seorang
perempuan bernama Gouri. Pada akhirnya, keteguhan tekad sang Pertapa untuk
menyelamatkan Gouri berbuah kesia-siaan. Rabindranath Tagore seolah ingin
mengingatkan pembacanya bahwa, kepada iman sajalah kita seharusnya berpegang
teguh, agar segala hal yang kita lakukan tidak sia-sia. Dan karena hal
keduniawian sangatlah semu (hal. 200-205). Sedang Kebahagiaan berkisah tentang sepasang suami istri kaya raya yang
jatuh miskin di hari tuanya. Namun, mereka mengaku belum pernah merasa
sebahagia ketika mereka telah jatuh miskin dan menjadi pekerja di rumah orang
lain. Ketika kaya raya, mereka tidak memiliki waktu untuk satu sama lain, untuk
mengingat Tuhan, dan selalu merasa cemas akan hewan ternak dan tamu-tamu
mereka. Sehingga mereka seringkali berselisih paham. Tetapi setelah menjadi abdi
di rumah seorang pemuda kaya, kehidupan mereka jungkir balik. Segalanya menjadi
begitu terbalik. Mereka memiliki lebih banyak waktu untuk berbicara dari hati
ke hati, untuk merenungi hidup mereka, dan berdoa kepada Tuhan. Hidup mereka
menjadi jauh lebih tenang (hal. 206-2012). Bagi saya, ini adalah cerita paling hangat dari keseluruhan cerita dalam
buku ini.
Cerpen selanjutnya yang menarik perhatian
saya adalah Cinta Tak Pernah Mati karya
Honoré de Balzac. Cerita ini dengan serta merta mengingatkan saya pada Life of Pi yang terkenal itu. Tapi tentu saja, kedua buku
ini tidak saling berhubungan. Cinta Tak
Pernah Mati dituliskan oleh pengarang yang hidup hingga abad ke-18. Sedang
Yann Martel menuliskan Life of Pi di
abad ke-21 yang terinspirasi dari kisah nyata. Cinta Tak Pernah Mati berkisah tentang seorang tentara yang
berhasil melarikan diri dari penawanan musuh. Sialnya, dia tersesat di gurun
pasir yang sunyi dan hanya dihuni makhluk buas. Suatu hari, seekor macan
memangsa kudanya dan datang kepadanya. Meski sadar nyawanya terancam, sang
Tentara masih berkeinginan menjinakkan sang Macan, dan akhirnya dia pun berhasil melakukannya. Sang
Tentara dan sang Macan Betina akhirnya menjadi kawan. Lebih dari itu, keduanya
terbelit ikatan emosional yang kuat. Sang Tentara yang kesepian akhirnya merasa
hidup kembali, dan sang Macan begitu
jinak di bawah sentuhannya. Tapi pada akhirnya, prasangka merusak persahabatan
mereka. Sang Tentara berkhianat. Dan hidupnya menjadi gelisah selamanya. Ini
cerita yang sangat menarik bagi saya. Betapa manusia tidak bisa hidup
sendirian. Betapa sulitnya menekan rasa cinta yang membutuhkan pemuasan, yang
ketika ia tidak terpenuhi, ia bisa terlampiaskan kepada apa pun: bahkan jika
itu membahayakan sekalipun. Dan betapa prasangka adalah pembunuh yang berbahaya
dan kejam.
Cerita pendek terakhir yang menarik
perhatian saya adalah Ibunda karya
James Joyce. Saya tidak akan meringkas cerita pendek itu di sini. Karena aspek
yang menarik perhatian saya adalah gaya bercerita sang Penulis. James Joyce
(1882-1941), dalam biografi singkatnya di buku ini, disebut-sebut sebagai pelopor prosa modern yang mengembangkan
teknik menulis—yang kemudian dikenal sebagai—stream of consciousness dan mengilhami banyak pengarang dari
generasi berikutnya (hal. 128). Ibunda adalah
cerita yang menyenangkan untuk
diikuti. Bahkan ketika tokoh utamanya tidak simpatik dan cukup menyebalkan. James
Joyce menulisnya dalam bentuk episodik (menggunakan urutan waktu: tokoh melakukan ini lalu itu), dan
dialog yang sangat luwes. Karena itulah, ketika membaca biografi singkatnya,
saya langsung menjentikkan jari: “Pantas
saja!”.
Ada hal unik lainnya yang saya temukan dari cerita pendek-cerita pendek di buku ini: beberapa cerita pendek dituliskan dengan berbingkai. Cerita dalam cerita. Teknik ini dilakukan penulis-penulis yang hidup di abad 18 hingga awal abad 19, seperti Balzac, Kipling, O. Henry, Dostoevsky, dan Maugham. Tampaknya itu semacam tren sastra yang berkembang di masa itu.
Pada akhirnya, hal lain yang sangat saya
sukai dari buku ini adalah biografi mini pengarang-pengarangnya yang disematkan
setelah sebuah cerita pendek berakhir. Kisah hidup mereka benar-benar
sedramatis cerita-cerita yang mereka tuliskan.
Ini mungkin saja pembacaan paling personal
yang pernah saya lakukan. Tapi, bukankah karya sastra memang diciptakan untuk
menghibur? Dan ya, saya terhibur berkat buku ini. Sangat. Empat dari lima
bintang untuk kisah-kisah usang yang mengayakan ini.
![]() |
This pic's modified by me Click here to see the source |
No comments:
Post a Comment