Wednesday, October 01, 2014

Epistolari Tentang Cinta yang Rahasia

Jumlah halaman: 240 halaman
Penulis: Dewi Kharisma Michellia
Editor : Donna Widjajanto
Tahun terbit: Juni 2013
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Penghargaan sastra: Pemenang Unggulan Sayembara Novel Dewan Kesenian jakarta 2012, Nominee Khatulistiwa Literary Award 2013

Seorang gadis jatuh cinta kepada sahabat kecilnya. Lalu mereka tumbuh dan menjalani fase lumrah dari orang dewasa: berjalan menuju arahnya sendiri dan membangun kehidupan baru. Sang Pemuda larut dalam kesibukannya yang kelak menjadi masa depannya, tanpa pernah tahu bahwa sang Sahabat yang jatuh cinta diam-diam kepadanya telah tertinggal jauh di belakangnya, di garis kenangan yang mengunci langkahnya.

Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya adalah novel unggulan Dewan Kesenian Jakarta 2012, yang merupakan novel perdana Dewi Kharisma Michellia. Sebagai sebuah debut, novel yang dinominasikan dalam daftar pendek Khatulistiwa Literary Award 2013 ini adalah sebuah buku yang cukup mengesankan. Novel ini dikemas dengan gaya epistolari—surat-surat yang dikirimkan sang Gadis kepada Pemuda pujaan hatinya—yang mana keseluruhan kisah terjalin di dalam surat itu. Melalui surat itu pembaca diajak menyelami pikiran dan perasaan sang Gadis. Bagaimana ia menjalani hidupnya, apa alasannya meninggalkan kuliahnya yang hampir tuntas tapi malah berkuliah di jurusan berbeda, bagaimana hari-harinya sebagai jurnalis, bagaimana mulanya sehingga ia jatuh cinta pada Tuan Alien—begitulah sang Gadis memanggil sang Pemuda, betapa kecewanya saat ia menerima undangan pernikahan Tuan Alien, bagaimana berat hari-hari yang ia jalani sebagai pengidap kanker, dan bagaimana ia menulis surat-surat untuk Tuan Alien. Sang Gadis dalam surat-suratnya, menceritakan banyak rahasia yang tak pernah ia bagi kepada orang lain. Ia juga bercerita tentang pengalaman jatuh cintanya yang lain. Tapi keberadaan surat-surat itu, yang kemudian dikirimkan kepada Tuan Alien berkat bantuan salah seorang teman sang Gadis—anak pemilik toko buku langganannya, menunjukkan betapa sang Gadis memiliki cinta yang istimewa kepada Tuan Alien. Pembaca akan memahami, bahwa setiap kali mengalami peristiwa tertentu—yang kemudian dicurahkan sang Gadis dalam surat-suratnya—sang Gadis berharap bisa meluahkannya kepada Tuan Alien seketika itu terjadi. Dan bahwa setiap ingatan sang Gadis selalu menyertakan Tuan Alien. Benar-benar sebuah epistolari yang sendu.
Uniknya, tokoh-tokoh di dalam novel ini tidak akan pernah kita ketahui namanya. Sang Narator, menyebut tokoh tertentu dengan julukan. Tuan Pemilik Toko Buku, pria itu, Nyonya Pemred, kekasihku, dan sebagainya. Cara ini seolah menguatkan karakter sang Gadis narator yang anti-vonis, anti-pelabelan. Sang Aku sendiri terlahir dari orang tua yang berbeda agama. Ayahnya yang keturunan Bali adalah pemeluk Hindu, dan ibunya adalah perempuan muslim yang taat. Sang Aku dan saudara-saudaranya sejak kecil telah memahami kontras di antara kedua orangtuanya itu sebagai sinyal kebebasan yang kelak akan dipercayakan kepada mereka. Dengan kebebasan itu, sang Aku tumbuh menjadi tokoh yang tidak menyukai pelabelan. Tidak hanya penamaan tokoh, di buku ini bertebaran lagu, komposisi musik, dan buku-buku favorit sang Aku, yang kerap ia gunakan untuk menganalogikan peristiwa atau emosi tertentu.
Karakter sang Aku yang dingin, menajamkan aura sendu buku ini. Kepedihan, kesendirian, kerinduan, dan kekecewaan, seringkali tidak terkatakan, melainkan berbahasa dengan cara yang abstrak tapi jelas terasa dan dipahami dengan begitu saja. Sebagai novel yang diajukan dalam kompetisi sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta, dengan tokoh yang berprofesi sebagai jurnalis dan penerjemah lepas, serta dibumbui elemen-elemen dunia sastra yang tajam, Dewi Kharisma Michellia tidak tergoda untuk bernarasi dengan akrobatis dan berbunga-bunga. Anehnya, diksi yang begitu lugas itu, membuat sang Aku terasa begitu dekat dengan pembaca. Ia seperti tetangga di sebelah rumah yang kerap bertaut pandang dengan kita ketika membuka pintu di pagi hari, atau famili jauh yang setiap tahu mengirim kartu ucapan untuk berbagai perayaan disertai bingkisan kue-kue buatan tangannya sendiri.
Dewi Kharisma Michellia mengambil resiko yang jarang ditempuh penulis-penulis Indonesia: menulis tanpa sebaris pun dialog. Untuk buku yang sepert itu, seringkali konsekuensinya hanya dua: karya itu akan benar-benar disukai atau benar-benar dibenci. Fiksi full-narasi bisa begitu memikat dan sulit dilepaskan sebelum menyelesaikannya hingga akhir, jika cerita itu bergerak dengan dinamis, menjanjikan kejutan besar, dan melahirkan keingintahuan yang semakin menjadi-jadi dari waktu ke waktu. Tetapi fiksi semacam itu bisa jadi begitu membosankan, jika pace-nya berjalan lamban. Meski tidak bisa dikategorikan pada jenis yang pertama, buku ini juga tidak bisa dimasukkan pada kotak yang kedua. Suasana kelam, emosi sang Aku yang hampir tidak pernah terbaca, dan pengisahannya yang bolak balik yang terasa bergerak begitu lamban, tetap asyik dinikmati dan ditunggu karena kekuatan karakter sang Aku. Sesosok tokoh sempurna untuk ketidaksempurnaannya. Dia bukan tokoh yang putih, tetapi dia memiliki ego yang tidak jarang menyeballkan. Ia bisa mengundang simpati dengan tiba-tiba, dan di kesempatan lain menjadi representasi dari karakter banyak perempuan masa kini.
Kepiawaian Dewi dalam bercerita tak ubahnya kepiawaian seorang pendongeng ulung yang berhasil menjerat perhatian seorang anak bandel—yang sebelumnya memberontak karena tidak mendapatkan mainan mahal yang diidamkannya dari ibunya—untuk kemudian duduk di sisinya dan membiarkan dirinya terbang jauh ke dunia baru yang belum pernah disebutkan siapa pun. Anak Bandel itu adalah saya. Saya duduk di hadapan Dewi, membiarkan diri saya dekat dengan sang Aku hingga pada saat tertentu saya hampir yakin bahwa sang Gadis itu tak lain adalah diri saya sendiri. Saya membiarkan diri saya menyerah pada kekaguman seorang anak kecil tentang keajaiban negeri dongeng yang jauh. Saat Dewi menceritakan mimpi-mimpi buruk sang Gadis, saya akhirnya tahu bagaimana menceritakan mimpi-mimpi buruk saya ketika demam atau sedang tertekan oleh banyaknya pekerjaan yang belum saya tuntaskan. Narasi sureal Dewi mengingatkan saya pada absurditas yang dilukiskan Ryunosuke Akutagawa dalam Kappa. Bukan pada kemiripan warnanya. Melainkan pada kesannya yang membekas dalam benak saya hingga hari ini. Keruwetan yang alih-alih membuat saya menutup bukunya, saya menenggelamkan diri saya ke dalamnya, sejauh mungkin.
Membaca Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya tak ubahnya sebuah pengalaman kontemplatif. Pengalaman dan buah pikir sang Gadis pada beberapa titik mengingatkan saya pada diri saya atau orang-orang dekat saya. Pada bagaimana kami merenung, berpikir, lalu mengambil keputusan saat menghadapi peristiwa tertentu. Saya takjub pada bagaimana Dewi Kharisma Michellia yang masih belia, bisa dengan begitu intens mengurai helai-helai gagasan gadis dewasa berusia kepala empat—yang tentunya kaya akan pengalaman hidup dan telah memaknai banyak hal dalam kehidupan itu—lalu memintalnya menjadi sebuah epistolari cinta yang sarat emosi dan renungan hidup ini. Dinginnya kesunyian, hangatnya cinta yang baru mekar, ganjilnya rasa ditinggalkan, ajaibnya hidup yang begitu singkat, menakutkannya kematian yang asing, dan betapa lemahnya manusia yang tak punya kendali sedikit pun atas akhir kehidupannya.

[Resensi ini memenangkan
Sayembara Resensi Novel Sulawesi Tenggara 2014] 

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...