Tuesday, September 30, 2014

Cerita Belanja #6: Haul Buku September

Kredit gambar


Dibanding kebiasaan belanja saya sebelumnya, saya kira, bulan September adalah salah satu Bulan Kalap saya. Saya tidak bisa menahan diri untuk tidak membeli buku yang saya inginkan. Tentu saja, saya keinginan itu didasari oleh kebutuhan. Saya membutuhkan buku-buku ini sebagai asupan nutrisi saya pada saat menulis. Meski memang, tetap saja, saya hanya perempuan biasa yang bisa begitu lemah ketika berhadapan dengan sale. Jadi, ada apa saja di troli saya bulan ini? Ya Tuhan! Empat belas buah buku dari tiga toko buku online yang berbeda!
Lima buku ini saya beli di sebuah toko buku online berlokasi di Jakarta, dengan harga terbaik yang pernah saya temukan. Saya pasti bisa belanja lebih banyak dari ini jika tidak mengingat ongkos kirimnya yang …, Anda tahu apa yang saya maksud.
Dari toko buku pertama ini, saya membeli tiga buku Mitch Albom sekaligus: For One More Day, The Five People You Meet in Heaven, dan The Time Keeper. Sejujurnya, saya sudah mengincar buku-buku Albom sejak membaca blurb The Time Keeper di sebuah toko buku online sejak buku ini terbit pertama kali di Indonesia, 2012 silam. Tapi nampaknya saya baru berjodoh dengan cetakan keduanya dalam versi sampul baru yang fresh di tahun ini.
Lalu The Unknown Errors of Our Lives, adalah sebuah kumpulan cerita pendek karya seorang penulis bestseller, Chitra Banerjee Divakaruni. Saya mengenal buku ini dari review di blog buku teman-teman BBI. Konon, Chitra Banerjee Divakaruni memiliki kecemerlangan yang khas. Jadi saya pikir, saya harus memiliki buku ini. Yang terakhir, Semusim dan Semusim Lagi. Saya sudah menginginkan buku ini sejak tahun lalu. Tagline “pemenang pertama sayembara menulis novel dewan kesenian Jakarta” adalah hal paling menggiurkan dari buku ini. Buku ini ditulis oleh seorang jurnalis, dan firasat saya mengatakan, saya tidak akan kecewa dengan buku ini. Setelah membaca halaman pertamanya, saya tahu, saya benar.
Berikut lima buku lainnya dari toko buku online yang berbeda. Saya membelinya dari sebuah toko buku online dengan diskon 50% ^_^

 
Saya sangat percaya, saya memiliki intuisi istimewa tentang buku-buku bagus ^_^ Maafkan kepercayaan diri saya yang berlebihan, tapi sulit untuk menghilangkan hal ini. The Fault In Our Stars terbit di Indonesia sejak 2012, dan saya sudah menginginkannya semenjak itu. Blurb-nya sangat menarik perhatian saya ketika itu. Setelah hak ekranisasinya dibeli, dan film-nya cukup hipe di Indonesia, akhirnya saya bisa mendapatkan cetakan terbarunya (yang sepertinya cetakan keempat. Tapi sepertinya juga ketujuh? Tuhan mahatahu.) dengan cover movie tie-in. The Maze Runner juga sudah masuk wishlist saya sejak tahun lalu. Dan lagi-lagi, saya baru mendapatkannya setelah sampulnya berubah menjadi versi movie tie-in. Tidak masalah. Saya tidak pernah benar-benar membaca sampul buku. Selanjutnya, Tuesdays With Morrie, adalah novel Albom yang melambungkan namanya di jagad literasi dunia. Buku inspirasional yang based-on-true-story ini saya akhirnya saya buru dengan sepenuh hati. Lalu ada If I Stay, buku pertama dari sebuah dwilogi young adult karya Gayle Forman. Lucunya, saya sudah lebih dulu membaca sekuelnya: Where She Went. Buku tersebut ditulis dari sudut pandang Adam, kekasih Mia setelah Mia menghilang dari hidupnya. Saya pernah memprediksi, bahwa meski membaca buku prekuelnya belakangan, saya tidak akan kehilangan arah cerita. Semoga saya tidak salah kali ini. Terakhir, saya punya The Giver, yang tahun ini juga dialihwahanakan—meskipun saya juga belum menonton filmnya. Selain tertarik dengan blurb-nya, saya juga tergiur oleh sederet penghargaan yang diraih buku ini, dan ditambah dengan fakta bahwa buku ini terbit dua puluh satu tahun silam, saya pikir, ini buku yang layak untuk saya buru.
Dua buku lain dalam daftar belanja September yang saya dapatkan di toko buku online ketiga ini adalah Uncle Tom's Cabin dan Trio Musketri. Saya tidak begitu ingat tepatnya, ketika saya pertama kali menjatuhcintai buku-buku klasik. Sepertinya sejak membaca Di Mana Ada Cinta Di Sana Tuhan Ada karya Leo Tolstoy. Saya mulai menimbun buku-buku klasik di lemari saya. Sebagian besar belum saya baca. Saya menyimpan yang terbaik untuk saat-saat terakhir. Begitulah. Mark Twain, Orhan Pamuk, Scott Fitzgerald, Guy De Maupassant, Umberto Eco, J.R.R Tolkien (meskipun demi Tuhan, saya mulai penasaran dengan buku ini karena saya sudah menonton 2 bagian dari 3 filmnya), Louissa May Alcott, dan sebagainya. Maka saya tidak berpikir lebih dari dua detik ketika melihat buku-buku ini dalam list jual sebuah toko buku online. 
Uncle Tom’s Cabin adalah buku yang disebut-sebut sangat berpengaruh di masa Apartheid Amerika. Ah, tiba-tiba saya teringat novel The Help yang mengisahkan para asisten rumah tangga kulit hitam yang mengalami diskrminasi. Buku-buku ini sudah mulai langka. Dan saya merasa beruntung bisa memiliki salah satunya. Semoga saya segera berjodoh dengan The Help.
Sedang Trio Musketri karya Alexander Dumas adalah buku yang masuk dalam jajaran buku wajib baca dari sebuah shortlist yang dirilis situs review buku ternama. Trio Musketri juga disebut-sebut sebagai salah satu buku yang berpengaruh dalam kesusteraan dunia. Jadi saya punya alasan yang lebih dari cukup untuk memburunya.
Dua buku terakhir yang saya dapatkan di bulan September yang merupakan buku pilihan saya setelah memenangkan sebuah giveaway di blog buku kawan saya adalah:
 
Setelah The Kite Runner—yang saya baca setelah terlebih dahulu mengkhatamkan A Thousand Splendid Sun, saya sudah menetapkan Khaled Hossaini sebagai penulis yang karya-karyanya akan selalu saya buru. Agak terlambat bagi saya menemukan buku yang sangat cepat sold out ini. Bagaimanapun juga, akhirnya saya mendapatkan cetakan keempatnya. Saya tidak sabar untuk segera menemukan Khaled mengajak saya menyusuri sudut-sudut Afganistan yang seperti seiris surga, sambil dengan tabah menekuri kisahnya yang biasanya, selalu tidak terduga. Saya berencana akan membaca ini di November. Sedang Cecilia & Malaikat Ariel—yang dalam versi aslinya berjudul Through The Looking Glass—setelah menginginkannya tahun lalu. Saya pikir, saya sedang membutuhkan buku dengan tokoh remaja tetapi membicarakan tentang penciptaan kehidupan dan alam semesta. Jadi, saya memilih buku Jostein Gaarder yang cukup tipis ini. Dan omong-omong tentang Jostein Gaarder, saya berharap bisa segera membaca Dunia Sophie yang fenomenal itu dalam waktu yang tidak lama lagi. 
Buku-buku ini, saya kira, adalah nutrisi yang saya butuhkan untuk men-tenaga-i saya selama proses outlining novel young adult pertama saya ini.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...