Friday, September 05, 2014

Sebuah Rangkuman Cacat Sejarah dalam Fiksi

Judul buku: Pulang
Penulis: Leila S. Chudori
Jumlah halaman: viii + 464 halaman
Tahun terbit: Desember 2012
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
ISBN 13: 978-979-91-0515-8

Dua puluh tahun selepas masa peperangan yang akhirnya berbuah kemerdekaan, Indonesia memasuki masa kelam sejarah berwarna merah dan berbau amis darah. Kekuasaan diktator Orde Baru telah membawa Indonesia pada krisis yang mengkhawatirkan.
Sejarah yang manipulatif tetapi diajarkan di sekolah dan dijadikan tontonan wajib warga negara selama puluhan tahun, demi melanggengkan kekuasaan nyaris absolut yang mengantarkan Indonesia pada krisis moneter berkepanjangan. Kaum muda yang reaktif melakukan demonstrasi yang lantas pecah di mana-mana, yang memuncak dalam peristiwa kerusuhan 1998 yang kemudian membuka mata masyarakat Indonesia, dan menjadi mula dari runtuhnya diorama pembodohan dan pembohongan sejarah.
Leila S. Chudori, merangkum sejarah berdarah tersebut dalam roman fiksi Pulang, yang bernuansa kelam namun, dikisahkan dengan apik. Pulang berkisah tentang empat eksil politik Indonesia di Perancis: Dimas Suryo—petualang yang anti segala hal berbau kiri dan mengalami polemik eksistensialisme, Nugroho Dewantoro—wartawan Kantor Berita Nusantara yang sering dianggap sebagai pemimpin keempat sahabat ini karena sikap egaliter dan optimismenya, Tjai Sin Soe—warga keturunan yang apolitis tetapi ikut terjebak dalam situasi chaos politik kala itu, dan Risjaf—sosok yang paling lugu dan penurut. Setelah sahabat mereka, Hananto Prawiro, yang merupakan orang penting di Kantor Berita Nusantara ditangkap intel di Indonesia, mereka berempat—yang kehilangan hak untuk kembali ke Indonesia dan menjadi stateless karena paspor mereka dicabut, lalu akhirnya mendapat suaka politik dari Perancis—memutuskan untuk membangun kehidupan baru di Paris, setelah bertahun-tahun terdampar di sana dengan nyaris tanpa harapan. Di tengah pengucilan politik, dan sinisme dari berbagai pihak karena dianggap pengkhianat Negara, Dimas, Nugroho, Tjai, dan Risjaf, masih harus dihantui kesedihan dan kecemasan karena keluarga mereka di Indonesia yang terus dimata-matai intel dan diinterogasi serta mendapat perlakuan buruk. Puluhan tahun setelahnya, Lintang Utara Suryo, puteri tunggal Dimas Suryo—buah pernikahannya dengan wanita Perancis bernama Vivienne—mendapat izin masuk ke Indonesia untuk kebutuhan penelitian tugas akhir. Lewat gadis itulah, Dimas, Nugroho, Tjai, dan Risjaf, menitipkan kerinduan mereka untuk pulang ke tanah air.
Pulang adalah roman dengan elemen kehidupan yang lengkap teramu di dalamnya: eksistensialisme, kekeluargaan, persahabatan, dan cinta, yang dilatari oleh peristiwa 30 September 1965 di Indonesia, demonstrasi Mei 1968 di Perancis, dan kerusuhan Mei 1998 di Indonesia. Leila S. Chudori mengemasnya dalam pengisaihan dengan narasi yang estetis, sesekali liris dan jernih, namun tetap dalam tuturan yang mudah dipahami, dan dengan plot maju mundur yang kuat. Lewat sudut pandang orang pertama yang bergantian dan meloncat dari satu garis waktu dan peristiwa ke garis waktu dan peristiwa yang lain, pembaca tidak perlu khawatir kehilangan pegangan dan kendali untuk menikmati Pulang. Pengisahan flashback yang berbaur dengan masa sekarang, berpadu dengan solid, sehingga interval waktu pengisahan yang panjang—karena lintas generasi—itu tidak menunjukkan kesenjangan yang mengganggu. Pembaca akan mendapatkan gambaran utuh mengenai tokoh-tokohnya sejak generasi Dimas hingga generasi Lintang tanpa perlu khawatir akan melewatkan suatu hal penting. Leila S. Chudori menalikan masa lalu dan masa kini dengan cara kerja permainan “menggenapkan puzzle”. Apa yang tidak terurai di masa lalu, akan tertemukan jawabannya di masa sekarang, dan sebaliknya. Hal-hal yang seperti muncul tiba-tiba di masa sekarang sebagai kelaziman yang telah dimaklumi, benangnya telah diurai di masa lalu.
Leila S. Chudori menyajikan Pulang dalam struktur pembabakan yang episodik, dengan memilih tiga tokoh sentral yang ia jadikan penanda peralihan episode besar dalam Pulang, yakni Dimas Suryo, Lintang Utara, dan Segara Alam—putera bungsu Hananto Prawiro. Tiga tokoh sentral—dengan beragam polemik—ini kemudian menjadi kumparan dari pertalian ketiganya dengan banyak tokoh penting yang paling berwenang untuk bersuara demi menjabarkan sudut pandangnya tentang berbagai hal. Tidak ada tokoh yang tampil dengan sia-sia. Tokoh-tokoh yang bersuara dengan “aku…” akan mengisahkan lewat matanya, meluruskan kekusutan peristiwa yang dialami aku-aku yang lain, dengan penuturan yang dinamis dan sangat sehari-hari. Sayangnya, suara beragam aku ini terasa senada. Sehingga sukar membedakannya tanpa melihat penanda yang dipancangkan di awal bab untuk menunjukkan siapa narrator yang akan kita dengarkan kisahnya.
Bagaimanapun juga, Pulang adalah cerita fiksi yang sukar untuk berhenti membalik halaman demi halamannya. Meski berlatar belakang Eropa, Leila S. Chudori tidak tampak tergiur untuk bertutur dengan gaya kebarat-baratan. Bahkan dalam penulisan dialog sekalipun, Leila mengonversinya dalam versi suara penuturan-nya yang khas. Membaca Pulang, telah membawa saya kembali pulang pada pengalaman membaca roman-roman bartendens klasik seperti Layar Terkembang, Atheis, Namaku Hiroko, dan Olenka. Bukan semata-mata karena nuansa klasiknya yang antik dan terasa vintage, tapi lebih kepada pola kompleksitas konflik yang terbangun dan mengerucut pada akhir yang menggerakkan pembaca untuk merasai beragam emosi.
Pulang hadir dengan efek proses mengawinkan fakta dan fiksi. Pembaca akan merasakan pengalaman membaca fiksi paling nyata karena upaya tersebut. Leila tidak saja memetik fakta untuk menjaga keotentikan sejarah yang ia terakan dalam buku ini, sesekali, ia juga menyamarkan fakta tertentu dalam fiksi tanpa mengurangi nilai riilnya. Seperti Restoran Tanah Air yang terkenal di Paris dan banyak ditulis di media Indonesia di masanya, adalah versi semifiktif dari Restoran Indonesia yang memang riil.
Hal paling menyenangkan dari menikmati Pulang adalah penghargaan Leila S. Chudori kepada pembaca, dengan tidak mendiktekan terlalu banyak informasi yang beresiko menciptakan citra “menguliahi” sehingga menyesatkan pembaca dari fokus cerita karena terlalu overdefinisi. Sebaliknya, Leila menebarkan faktor pengaya tersebut dengan menyisipkannya dalam narasi dan deksripsi yang tidak menor atau dialog yang wajar, dengan membiarkan pembaca memperkaya dirinya lewat upaya lain yang sangat personal.
Pulang, bukan sekadar pengingat sejarah, atau sekadar kerinduan akan tanah air. Lebih dari itu, Pulang, berusaha menularkan keteguhan mempertahankan eksistensi sebagai Orang Indonesia yang wajib menjaga warisan-warisan bangsanya, meluhurkannya dengan beragam cara luhur. Meski sempat menuai polemik karena kritik dari beberapa sastrawan atas penghargaan sebagai Prosa Terbaik Khatulistiwa Literary Award 2013 yang diraihnya, buku yang juga masuk Daftar Pendek Nominasi Anugerah Pembaca Indonesia untuk kategori Penulis Terfavorit dan Buku Fiksi Terfavorit 2013 ini, saya kira, layak menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah menengah atas, dan mendampingi karya-karya sastra kontemporer berkualitas lainnya dalam lemari-lemari perpustakaan sekolah. Pulang, saya rekomendasikan kepada anak-anak muda Indonesia yang belum sempat merekonstruksi sejarah bangsanya dalam ingatan, dari sisa-sisa pemalsuan fakta sejarah, yang sempat menjadikannya cacat di masa lalu.

kredit gambar

2 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...