Wednesday, July 16, 2014

Mata Susie & Alice yang Membebaskan Dirinya

Judul buku: The Lovely Bones
Jumlah halaman: 440 halaman
Penulis: 
Penerjemah: Gita Yuliani K.
Editor : Lanny Murtihardjana
Tahun terbit: April 2008
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN10: 979-22-3656-2

Namaku Salmon, seperti nama ikan, dan nama depanku Susie. Umurku empat belas saat aku dibunuh pada tanggal 6 Desember 1973. Dalam foto-foto gadis hilang yang terpampang di koran-koran tahun tujuh puluhan, kebanyakan bertampang seperti aku: gadis kulit putih, dengan rambut kecokelatan seperti
warna tikus. Ketika itu masa sebelum anak-anak dari berbagai ras, baik laki-laki maupun perempuan, mulai bermunculan pada kemasan karton susu atau di surat kabar. Orang-orang masih percaya hal semacam ini tak mungkin terjadi.
 Di sebuah lubang hangat di bawah ladang jagung, Susie Salmon kehilangan hidupnya. Dalam makna kiasan maupun harfiah. Tetangga mereka yang aneh dan nyentrik, George Harvey, berhasil membawanya ke sana, memperkosanya, lalu membunuhnya. Susie Empat Belas Tahun yang Malang tak pernah lagi ditemukan oleh keluarganya semenjak itu. Sementara itu, dari alam baka, Susie menyaksikan bagaimana keluarganya merapuh dan tembok kebahagiaan mereka runtuh dalam hitungan yang pasti. Hubungan kedua orang tuanya meretak, Lindsey yang tangguh tampak begitu menyedihkan dan terluka parah, lalu si kecil Buckley terus-menerus menanyakan Susie yang tidak kunjung pulang kepada semua orang. Sementara itu, penyelidikan polisi tidak mampu mengendus keberadaan Susie, apalagi sekadar memastikan kronologi kehilangannya. Hanya saja, setelah menerapkan standar operasi penyelidikan sebagaimana mestinya, suatu hari, seorang detektif bernama Len Fenerman akhirnya mengabarkan, bahwa Susie pastilah telah meninggal. Kesimpulan itu kemudian dibuktikan dengan penemuan sebelah lengan oleh anjing tetangga Keluarga Salmon—yang telah dipastikan adalah milik Susie. Semenjak itu, segala hal dalam Keluarga Salmon perlahan berubah, menuju ke arah yang buruk.
The Lovely Bones telah menawarkan kisah yang menjanjikan sejak baris pertamanya. Ia adalah sebuah drama keluarga yang mengisahkan tentang kehilangan menyakitkan dan pergulatan tokoh-tokohnya untuk menerimanya dan kembali berbahagia dengan cara yang tidak pernah mereka duga dapat mereka lakukan sebelumnya. Dikisahkan lewat sudut pandang “aku-an” Susie Salmon yang telah meninggal, The Lovely Bones hadir dengan cara yang aneh, ketimbang unik. Dengan gaya serba tahu, Susie menceritakan tentang alam baka, dan tentu saja, suasana di bumi yang tidak bisa ditinggalkannya begitu saja—terlebih, karena George Harvey masih berkeliaran sebagai seorang antisosial yang tampaknya terlalu lugu untuk dicurigai sebagai pembunuh. Lewat Mata Susie, pembaca dapat mengenal dan mengetahui pikiran dan emosi tokoh-tokoh lainnya. Karakter tokoh-tokoh itu begitu hidup dan detil dalam deskripsi tingkah laku, siapa mereka dilihat dari benda yang mereka miliki, hingga cara mereka menata rumah atau meletakkan sebuah benda.
Di dunia ini, tidak sedikit orang yang takut mati. Tetapi lewat Susie, saya menyadari bahwa orang yang sudah mati, hampir tidak akan pernah memikirkan cara agar mereka bisa hidup kembali. Mereka akan melanjutkan hidup, fase kehidupan mereka yang berikutnya, meski dengan beberapa penyesalan. Seandainya aku tidak mati dengan cara setragis itu. Kurasa, aku pantas untuk mati dengan cara yang lebih layak. Seandainya, seseorang—yang entah siapa saja—menemukan mayatku dan membawaku pulang ke rumah sehingga ayahku tidak harus sehancur itu. Seandainya ayahku punya cukup bukti lalu mendatangi rumah laki-laki terkutuk itu dan menghajarnya sampai dia mati sehingga kami bisa bertemu di alam baka dan aku bisa membalaskan dendamku sendiri. Seandainya aku punya kesempatan terakhir untuk menyatakan perasaanku pada …. Membayangkan apa yang dilakukan, dirasakan, dan dipikirkan oleh orang mati, adalah hal yang selalu menarik perhatian orang-orang hidup. Susie Salmon sebagai narator di sini, adalah daya tarik yang sukar dihindari. Pembaca akan selalu menginginkan mendengar Susie, lagi dan lagi, dan melihat dengan matanya setelah ia di alam baka.
The Lovely Bones berlatar daerah suburban di Amerika, di tengah orang-orang yang hangat, penuh rasa kekeluargaan, dan kepercayaan tentang dunia yang aman dan nyaman bagi semua orang. Sehingga peristiwa hilangnya seorang gadis empat belas tahun yang cantik, cerdas, dan ceria—yang kemudian hanya ditemukan sebelah lengannya—adalah kejadian yang sulit dipercaya. Lalu mendadak semua orang memperlakukan keluarga Susie dengan istimewa, dan kata “mati” menjadi begitu sensitif untuk dibicarakan, terlebih diperdengarkan kepada keluarga Salmon.
The Lovey Bones menyajikan alur yang melompat-lompat tetapi begitu kuat sehingga pembaca tidak perlu takut kehilangan kendali untuk mengikuti kisahnya. Alice sangat paham cara menyisipkan konflik di setiap hal sederhana. Setiap obyek pengamatan Susie akan membawa pembaca kembali ke masa yang penting di periode silam, yang mengenalkan keluarga Salmon lebih jauh, terutama kehidupan Susie yang bahagia dan penuh cinta dari dan untuk keluarganya. It’s kinda page turning type. Meski saya tidak bisa menutupi rasa terganggu dengan kehambaran yang terasa ketika kisah menuju pengakhiran. Nampaknya, ini sedikit membuktikan bahwa kekuatan cerita terletak pada drama. Saya benar-benar tidak suka mempercayai itu. Gambaran realistis yang dilukiskan Alice kemungkinan besar adalah faktor hambar yang saya maksud, yakni keputusasaan yang tergambar jelas dalam nada suara Susie ketika ia tidak kunjung ditemukan, begitu pula George Harvey yang telah diyakini sebagai pembunuh Susie.
The Lovely Bones adalah cara Alice Sebold menggambarkan sisi mengerikan dari kehidupan di daerah suburban Amerika, mengungkapkan kemarahan depresifnya akan peristiwa pemerkosaan yang terjadi pada dirinya. Betapa ketika peristiwa itu terjadi, dia telah mati, lalu—terpaksa—hidup lagi dengan cara yang menyakitkan. Alice berjuang menganggap peristiwa itu bukan apa-apa, dan bahkan bisa ditertawakan dengan suatu cara yang belum dia temukan. Alice mentransfer energi keputusasaannya ke dalam Susie remaja, yang menjabarkan emosinya dalam keluguan seorang remaja yang belum mengenal kehidupan—sebanyak yang ia butuhkan untuk menerima kejadian yang menimpanya, dalam ungkapan-ungkapan sastrawi yang elegan dan intens. Alice menciptakan Susie dari materi dirinya. Mata Susie dalam memandang segala hal adalah matanya, segala hal yang dimiliki Susie berasal dari ketidakberdayaannya, dan ketidakmampuannya dalam mengendalikan segala hal yang ia inginkan untuk terwujud. Alice menemukan Susie sebagai media pembebasan dirinya--dari rasa malu dan depresi--dengan cara yang artistik dan mengundang pujian masyarakat Amerika.
Bagaimanapun juga, The Lovely Bones menghadirkan sesuatu yang baru di tengah maraknya fiksi yang menjual drama-drama dengan akhir yang bahagia, atau setidaknya, resolusi yang memuaskan. Dengan cara yang, sekali lagi, aneh, The Lovely Bones menunjukkan bahwa penyelesaian yang melegakan tidak harus sesuai harapan. Buku ini akan sukar dilupakan selama beberapa lama, sampai Anda menemukan bacaan yang pantas untuk mengatasi The Lovely Bones.

Kredit Gambar

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...