Sunday, October 20, 2013

Fiksi Kriminal Made In Indonesia

Book Title: METROPOLIS
Author: Windry Ramadhina
Page: 331 pages
Year Published: 2009 
Publisher: Grasindo
Award: Nominee Khatulistiwa Literary Award 2009 for Best Prosa

Sindikat 12 tidak pernah menyangka jika eksistensi mereka terancam karena sisa dendam yang luput untuk mereka bersihkan. Sisa dendam itu berwujud seorang lelaki berciri khas Mongoloid. Tinggi, berkulit pucat, bermata kecil, berparas menawan—yang membuatnya lebih layak tampil sebagai model, bukannya pembunuh berdarah dingin—namun, terlalu lemah untuk bergerak sendirian. Johan Al. Keturunan—yang diduga adalah yang terakhir—dari Frans Al yang terbunuh secara mengerikan di rumahnya, yang menghanguskan seluruh keluarganya, kecuali Johan Al.
Satu per satu pimpinan geng anggota Sindikat 12—yang merupakan geng pengedar narkotika terbesar di Indonesia—tewas secara misterius. Bram, petugas reserse Polda Metro Jaya yang sejak awal menangani kasus peredaran narkotika oleh Sindikat 12, dibuat kelimpungan. Ia membutuhkan banyak informasi untuk menemukan pola pembunuhan yang dilakukan pelaku untuk menghentikan aksi brutalnya. Tugas rahasia Bram dibantu oleh Ferry Saada, salah satu pimpinan geng Sindikat 12 yang ayahnya—pimpinan geng sebelum dirinya—tewas terbunuh, adalah informan yang baik bagi Bram. Keduanya terlibat ikatan mutualisme yang cukup membantu Bram untuk memetakan situasi kasus yang sedang ia hadapi. Lewat Ferry Saada, Bram menginvasi daerah ekslusif Sindikat 12 yang rahasia dan sukar ditembus. Namun aktivitas Bram dibayangi oleh seorang gadis misterius yang kemudian ia ketahui sebagai mantan polisi, seorang penembak jitu bernama Miaa. Situasi menjadi tidak mudah mengingat keterlibatan banyak pihak yang memusuhi Sindikat 12 dan berambisi untuk melenyapkannya.
METROPOLIS adalah sebuah novel misteri-kriminal yang menegangkan. Melibatkan banyak tokoh dan konflik pada saat yang sama. Namun, berkat pengemasan yang baik, METROPOLIS berhasil menampilkan tokoh dengan proporsi yang seimbang, dengan konflik yang kuat untuk masing-masing tokoh, dan berperan besar dalam menjaga kebulatan plot. Tak heran jika ada pembaca yang kebingungan menentukan tokoh utamanya. Karena setiap tokoh tampil laiknya tokoh utama untuk alur hidupnya masing-masing. Bram, anak seorang pecandu narkotika yang tewas terbunuh oleh orang misterius di masa lalu, Johan Al, pewaris kerajaan bisnis narkotika Frans Al yang kembali ke Indonesia untuk membalas dendam, Miaa, mantan polisi yang mengincar Ferry Saada, lalu Indira, yang mengetahui rahasia besar Johan Al. Lewat tokoh-tokoh ini, nampaknya Windry Ramadhina ingin menegaskan bahwa tidak ada tokoh yang benar-benar protagonist dan benar-benar antagonis. Setiap protagonist memiliki noda, dan setiap antagonis memiliki alasan untuk melakukan kejahatan.
Kompleksitas konflik antartokoh dalam METROPOLIS membuat kisah ini padat. Tak ada adegan dan dialog yang sia-sia. Semuanya terkonsep dengan matang. Dalam sebuah obrolan ringan bersama penulisnya, Windry Ramadhina, saya mengetahui bahwa, METROPOLIS adalah novel pertamanya yang ditulis dengan riset mendalam yang sangat menguras tenaga dan membutuhkan waktu pengerjaan paling lama dibanding novel karyanya yang lain.
Karena berlatar belakang dunia kriminal, METROPOLIS tampil dengan eksentrik. Dialog antartokoh-nya sangat khas dunia hitam. Kasar, kejam, menunjukkan seolah-olah dunia diciptakan tanpa norma dan tatakrama. Tokoh-tokohnya tampil dengan gaya dialog yang berbeda-beda, sesuai karakternya. METROPOLIS menguak sisi lain dunia kepolisian tanah air melalui tokoh Bram. Seorang reserse yang bekerjasama dengan pengedar narkotika. Novel ini membawa warna baru bagi daftar bacaan saya yang didominasi unsur roman yang kental. Bukan berarti METROPOLIS tidak menyisipkan unsur romansa dalam kisahnya. Meski tidak menjadi highlight cerita, namun unsur romansa antara Johan Al dan Miaa, juga Bram dan Indira, sangat berkesan bagi saya saat menyelesaikan novel ini. And finally,  METROPOLIS ditutup dengan twist yang memuaskan sekaligus memunculkan tanda tanya besar. Pembaca METROPOLIS pasti menginginkan sekuel dari novel ini. Kalaupun tidak kesampaian, tak ada yang akan kecewa dengan ending-nya.

3.5 out of 5 stars! 


TENTANG PENULIS

Windry Ramadhina lahir dan tinggal di Jakarta; berprofesi sebagai arsitek. Ia menulis fiksi sejak tahun 2007, pernah mengikuti bengkel penulisan Dewan Kesenian Jakarta dan dua kali dinominasikan dalam Khatulistiwa Literary Award berkat novelnya ORANGE (nominee untuk kategori penulis muda terbaik tahun 2008) dan METROPOLIS (nominee untuk kategori prosa terbaik tahun 2009).
Novelnya yang telah terbit antara lain ORANGE (2008), METROPOLIS (2009), MEMORI (2010), MONTASE (2012), dan yang terbaru, LONDON: Angel (2013).

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...