Sunday, July 21, 2013

Dia yang Ingin Dikenang, dan Terlupakan ....

Book title: A Golden Web
Page: 274 pages
Author: Barbara Quick
Translator: Maria M. Lubis
Editor: Ida Wajdi
Publisher: HarperTeen on 2010
Time Published: March 2011 by Atria

Alessandra Giliani yang di masa kecil nyaris dicelakai oleh pengasuhnya karena memiliki sorot mata berbeda dan mampu mengucapkan kata-kata yang sulit dengan sempurna saat bayi, tumbuh menjadi gadis remaja pengagum Aristotels yang penuh rasa ingin tahu, pengamat alam sekitar yang cermat, adik yang lembut, dan kakak yang hangat dan penuh kasih. Dia membantu
Nicco, kakaknya, untuk menerjemahkan tugas bahasa latin, dan menyelamatkan guru pribadi Nicco yang tersedak dan dipikir telah meninggal. Alessandra menemukan kesenangan dalam buku-buku yang bisa ia dapatkan dengan mudah, mengingat ayahnya, Carlo Giliani adalah seorang pengusahan percetakan buku ternama di masanya.
Namun, Alessandra juga menemukan kesenangan dalam berburu dan menggunakan pisau semahir Nicco melakukannya. Masalah terjadi ketika di ulang tahunnya yang ke 14, Urusula, ibu tirinya, mengatakan bahwa Alessandra telah cukup usia untuk menikah. Alessandra yang hanya memiliki dua pilihan: menikah dengan pria yang akan dijodohkan dengannya atau menjadi biarawati, akhirnya memilih menjadi biarawati untuk sementara, demi mengulur-ulur waktu dan memikirkan cara yang tepat untuk melarikan diri ke Bologna. Kota yang dalam pandangan ayahnya, membebaskan para pria untuk menjadi cendekiawan, namun hanya memberi satu ruang sempit bagi perempuan: rumah pelacuran. Berkat bantuan Nic yang teramat menyayanginya, dan Giorgio yang mencintai Pierina, adiknya, Alessandra berhasil meninggalkan biara untuk menuju Bologna, sebagai Sandro.
Di Bologna, kecermelangan Sandro segera menjadi buah bibir di kalangan mahasiswa. Dan karenanya, Sandro menarik perhatian seorang Agenio. Otto Agenio yang tampan dan memiliki sorot mata yang mambuat Sandro memikirkannya semalaman. Bahkan saat Sandro yang khawatir penyamarannya terbongkar akhirnya pindah ke rumah Mondino--dokter yang merupakan salah satu pengajarnya di kelas, Otto pun tiba-tiba datang ke sana sebagai seorang penyewa kamar baru. Dan dengan uangnya yang banyak, Otto berhasil menempati kamar di samping kamar Sandro, menggantikan Bene, anak petani miskin yang akhirnya memiliki dendam terhadap Sandro yang teramat disayangi Mondino dan keluarganya (Mina, istri keduanya, dan anak-anaknya). Di salah satu sudut Bologna yang gelap dan disebut oleh para lelaki sebagai kawasan para penyihir--sebutan bagi para perempuan yang bisa menyembuhkan, Alessandra menemukan minat baru, yakni memelajari resep-resep kuno yang diracik dari rerumputan dan tanaman-tanaman yang bisa ditemukan di hutan. Sementara itu, berkat keterampilannya menggunakan pisau, Sandro, pada suatu hari, dipilih Mondino menjadi juru bedahnya di kelas. Hari itu, Sandro menyadari bahwa sepertinya Aristoteles, telah keliru mengenai berbagai hal--setelah penemuannya bahwa Aristoteles tidak pernah mengucapkan apa pun yang bagus tentang kaum perempuan.
Dia memikirkan penjelasan Aristoteles mengenai lebah-lebah: bahwa lebah-lebah yang pintar dan cemerlang biasanya tidak mengerjakan apa-apa--seperti perempuan. (page 40)
Sekarang Sandro menyadari satu hal lagi. Ia khawatir, jika jantung, yang dalam buku Aristoteles--yang menjadi rujukan Mondino dan mahasiswa kedokteran, sepertinya tidak memiliki tiga bilik. Tagline di cover buku ini: Kisah ahli anatomi perempuan pertama di dunia, menerbitkan ekspektasi tinggi pembaca. Nyatanya, ini sedikit mengecewakan. Porsi yang disediakan bagi pembaca untuk membuktikan kejeniusan Alessandra sangat sedikit. Karena penulis lebih memilih menunjukkannya dengan narasi. Tidak heran jika kisah mengagumkan ini tampil dalam buku dengan jumlah halaman yang tidak mencapai tiga ratus. Ada beberapa plothole yang cukup lebar. Saya mencoba memakluminya dengan mencoba memahami bahwa kisah Alessandra Giliani dari Persiceto yang digali Barbara Quick tidak memberinya gambaran utuh mengenai kehidupan misterius gadis yang wafat di usia muda ini. Menurut riset Barbara Quick, informasi-informasi penting mengenai Alessandra Giliani dan keluarganya telah dimusnahkan karena keabsahannya yang diragukan.
Semua setuju, terutama Mondino, bahwa Alessandra adalah juru bedah terbaik yang pernah dia miliki, seseorang yang sangat genius dengan pisau bedah, dengan sentuhan halus dan sangat lembut, yang belum pernah Mondino lihat sebelumnya pada asisten-asisten lain (Page 196).
Buku ini mengisahkan fakta-fakta menarik mengenai kehidupan di abad ke-18. Khususnya mengenai posisi perempuan dalam bidang akademik dan di mata kaum lelaki. Alessandra Giliani dalam A Golden Web dikisahkan sebagai sosok perempuan yang tidak menerima keadannya yang harus mengikuti alur kehidupan perempuan lainnya di sekitarnya: terlahir, menjadi anak-anak, tumbuh remaja, menikah, hamil, tunduk dalam kepatuhan pada lelaki yang belum tentu dia cintai yang melarangnya membaca buku, lalu mati tanpa bisa dikenang dan tanpa melakukan sesuatu yang bisa membuatnya layak dikenang. Alessandra Giliani adalah sosok mengagumkan yang sangat mencintai dan memercayai kehebatan ilmu pengetahuan.
Aku tidak berani mengatakan ini kepada orang lain, tapi kupikir, banyak hal yang disebut masyarakat luas sebagai keajaiban hanyalah sebagian kecil dari hasil pemikiran akal sehat seseorang yang gemar mengamati segala hal. (Alessandra Giliani, page 22)
Perempuan diciptakan terakhir, setelah semua hewan dan Adam sendiri. Mengapa Tuhan melakukan itu jika Dia bermaksud menciptakan perempuan sebagai sesosok makhluk yang lebih rendah? Jika memang begitu, mengapa Dia tidak menciptakan perempuan tepat setelah hewan-hewan dan sebelum Adam? (page 159-160)
Yang tidak kalah menakjubkan adalah gambaran mekanisme percetakan buku di abad itu yang--belum mengenal mesin cetak--dilakukan dengan menuliskannya satu per satu, dan dikerjakan oleh tangan-tangan terampil berbakat langka. Mereka tidak saja menulis teks dengan indah, melainkan juga menggambar anatomi manusia semirip mungkin di setiap proses penggandaannya. Sangat menakjubkan rasanya, membaca sejarah perkembangan ilmu kedokteran di abad ke-18. Saat bedah
masih disebut mengiris, dan otopsi dijelaskan dengan kalimat sederhana yang cukup panjang.
Dia juga dipanggil orang-orang untuk berkonsultasi dengannya, untuk mengiris tubuh orang-orang yang telah mati dan mengumumkan penyebab kematian mereka, atau bahkan mendemonstrasikan keajaiban-keajaiban tubuh manusia kepada para murid dan dokter-dokter lain yang telah datang dari tempat jauh .... (page 177)
Namun cukup disayangkan, karena teknologi kedokteran sederhana kurang dieksplorasi untuk menambahkan detil kronologis. Misalnya, pisau bedah. Dari bahan apa pisau bedah di abad itu yang belum mengenal mesin cetak itu? Dari mana mereka didatangkan? Adakah bedanya dengan pisau yang digunakan mengiris bagian-bagian tubuh bebek hasil buruan? Dan akhirnya, tidak lengkap rasanya jika sebuah classical story tidak diberi sentuhan romansa klasik yang manisnya memabukkan. Dalam A Golden Web, Alessandra Giliani dikisahkan jatuh cinta pada Otto Agenio yang telah memperhatikannya sejak dirinya masih menjadi Sandro. Di usia yang masih begitu muda, keduanya telah terbakar api asmara yang membara. Untunglah, wanita yang dijodohkan dengan Otto Agenio yang membenci gadis penurut ternyata adalah Alessandra Giliani. Sehingga tidak ada konflik percintaan berarti dalam buku ini. Dari Mina, istri Mondino, Sandro belajar perbedaan cinta romantis dan cinta sejati.
...kebanyakan cinta romantis hanya menyebabkan ilusi. (page 219)
Cinta sejati ... adalah sesuatu yang akan mengungkapkan dirinya sendiri seiring berjalannya waktu (page 219)
A Golden Web adalah buku Barbara Quick pertama yang saya baca. Dan saya tidak terkejut jika gaya bertutur Barbara Quick yang khas abad lampau begitu kental di sini. Saya menduga-duga bagaimana jika Barbara Quick berkisah tentang sejarah baru yang tercipta di abad modern? Bagaimana pun itu nanti, saya menyukai voice Barbara Quick yang sesekali mengingatkan saya pada Anne Fortier. Persamaan keduanya saya temukan saat sama-sama berkisah dengan latar waktu masa lalu. Dan, ah! Saya juga mulai berspekulasi tentang kisah-kisah film modern yang mengetengahkan tokoh perempuan dalam penyamaran sebagai lelaki untuk sebuah tujuan tertentu yang berhubungan dengan mimpi-mimpi besarnya. Mungkinkah kisah-kisah itu semuanya berawal dari Alessandra Giliani?
Satu hal yang tidak akan pernah saya lupakan dari Alessandra Giliani, yakni kalimat yang ia ucapkan kepada Otto Agenio saat ia sedang mengalami demam tinggi akibat kelelahan--saya menduga, inilah sakit yang diderita Alessandra Giliani di masa lalu, yang membawanya pada kematiannya: Otto, saya tidak ingin dilupakan.
4/5 stars anyway!

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...