Thursday, July 11, 2013

Bertahan Hidup Dalam Kata "Percaya"

Book title: Life of Pi
Author     : Yann Martel
Publisher : Gramedia Pustaka Utama

Piscine Molitor Patel adalah remaja India yang unik. Dia menjadi pemeluk tiga agama sekaligus--Hindu, Kristen, Islam--di usianya yang baru menginjak 16 tahun. Karena pergolakan politik di negerinya yang terjadi pada tahun 1977, ayahnya, pemilik kebun binatang Pondicherry, memutuskan untuk hijrah ke Kanada. Dan terjadilah peristiwa naas tenggelamnya kapal barang Jepang, tsimtsum di Samudera Pasifik. Pi Patel menjadi satu-satunya korban selamat dalam peristiwa memilukan yang merenggut nyawa keluarganya itu.
Saya menyukai dialog-dialog antara Pi dan ayahnya seputar keberagamaan.
"Tapi aku ingin salat. Aku juga ingin jadi Kristen."
"Kau tidak bisa jadi dua-duanya. Kau mesti pilih salah satu."
"Kenapa aku tidak bisa jadi dua-duanya?"
"Itu kan dua agama yang berbeda. Tidak ada kesamaannya sedikit pun."
"Tapi mereka tidak bilang begitu. Abraham adalah nabi mereka. Orang Muslim bilang Allah orang Yahudi dan orang Kristen sama dengan Allah orang Muslim. Mereka sama-sama mengakui Daud, Musa, dan Yesus sebagai nabi."
Tapi apa urusan semua itu dengan kita, Piscine? Kita ini orang India!"
Saya terkagum-kagum dengan cara Pi Patel bertahan hidup selama tujuh bulan lebih di tengah samudera dengan persediaan makanan yang semakin tipis. Saya harus berjuang keras menahan rasa mual saat mebaca bagian Richard Parker membantai mangsa-mangsanya dan menularkan keahlian itu pada Pi Patel yang memakan apa saja untuk bertahan hidup di laut lepas. Saya terharu luar biasa saat Pi Patel menemukan pulau--yang ternyata pulau karnivora. Dan saya harus takjub sekali lagi pada kecerdasan Pi Patel saat menjawab pertanyaan-pertanyaan Mr. Okamoto--yang menyelidiki penyebab tenggelamnya tsimtsum.
Mr. Okamoto:"...Sampai di mana kita tadi?"
Pi Patel: "Sampai di pepohonan tinggi rimbun yang akarnya menancap kuat ke dalam tanah."
"Untuk sementara, itu kita singkirkan dulu."
"Mungkin agak susah menyingkirkannya. Saya belum pernah mencoba mencabut pohon-pohon itu dan membawa-bawanya."
Mungkin akan sedikit membingungkan di awal. Cerita ini diawali dengan kisah Pi Patel di universitas, dan mundur pada kehidupannya di usia 16 tahun, dan berakhir di Meksiko, sesaat setelah Pi kehilangan Richard Parker, harimau Bengal yang menemani perjalanan laut tujuh setengah bulan-nya. Tapi saya menikmati cerita kehidupan agama lain--di luar agama yang saya anut di sepanjang kehidupan saya--yang bagi saya terasa seperti kisah dongeng yang dulu saya gemari. Mengenal istilah-istilah baru--yang terdengar sakral saat dibunyikan oleh lisan saya--adalah sebuah aktivitas spiritual singkat yang menyenangkan. Sedikit banyak, saya memelajari pola pikir masyarakat bangsa Asia Timur yang--dalam beberapa aspek--mengingatkan saya pada masyarakat suku saya. Kesederhanaannya, keterbukaannya, dan daya kritisnya yang spontan yang seringkali lebih terdengar lugu ketimbang berapi-api.
Life of Pi mengingatkan saya pada makna percaya dan kesungguhan yang--sudah seharusnya--mengiringinya. Sehingga yang perlu kita lakukan setelahnya adalah ... menunggu ... keajaiban. kejaiban dari kesabaran dari percaya.
Tentu, saya percaya Tuhan. Sangat percaya. Akan selalu percaya.
4/5 stars!

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...