Wednesday, June 12, 2013

Pesan Cinta Sang Maestro Sastra Klasik

Book title: Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada
Page: 200 pages
Author: Leo Tolstoy
Translator: Atta Verin
Editor: Anton Kurnia
Publisher: Serambi
Time Published: Februari 2011

Di Mana Ada Cinta Di Sana Tuhan Ada adalah salah satu judul cerita pendek yang diambil menjadi judul kumpulan cerita pendek karangan Leo Tolstoy ini. Kumpulan cerita pendek ini terdiri dari lima cerita pendek: Di Mana Ada Cinta Di Sana Tuhan Ada, Tuhan Tahu Tapi Menunggu, Tiga Pertapa, Majikan & Pelayan, dan Dua Lelaki Tua.
Di Mana Ada Cinta Di Sana Tuhan Ada bercerita tentang seorang lelaki tua bernama Martin yang bermimpi didatangi Kristus. Ia pun menunggu Kristus sepanjang hari itu. Tapi yang ditemuinya hanyalah orang-orang miskin yang kelaparan, kedinginan, & tak memiliki rumah. Tuhan Tahu Tapi Menunggu bercerita tentang Seorang lelaki bernama Ivan Dmitrich Aksionov yang dipenjara atas kesalahan yang tidak diperbuatnya, yang membuatnya mendekam selama 26 tahun di penjara dan meninggal di sana. Di hari tuanya yang dihabiskannya di dalam penjara, Aksionov menjelma lelaki tua yang saleh, yang tidak berniat menghukum lelaki tua yang membuatnya dipenjara, saat mereka bertemu di dalam penjara yang sama. Dari lima cerita di dalam buku ini, Dua Lelaki Tua adalah cerita yang paling saya favoritkan. Berkisah tentang seorang kakek bernama Elisha dan Efim yang melakukan perjalanan menuju Yerusalem untuk mengunjungi Makam Suci Kristus. Di tengah perjalanan Elisha yang tubuhnya tidak sekuat Efim, berhenti untuk meminta air minum di rumah penduduk di sebuah desa. Sementara Efim melanjutkan perjalanannya dan menunggu janji Elisha untuk menyusulnya, Elisha harus menghabiskan hari-harinya, berikut tenaga dan uangnya untuk membantu warga desa yang sedang dilanda kelaparan dan wabah penyakit itu, hingga ia tidak memiliki cukup uang untuk melanjutkan perjalanan dan akhirnya memutuskan untuk kembali pulang ke desanya. Sementara itu, Efim yakin telah melihat Elisha di Gereja Kebangkitan, di Yerusalem, berdoa dengan khusyuk pada Tuhan di barisan peziarah terdepan.
Kesamaan usia tokoh pada beberapa cerita membuat saya ingin percaya bahwa Leo Tolstoy berusaha menuangkan dirinya ke dalam ceritanya. Saya membayangkan, bagaimana Tolstoy menuliskan cerita ini. Mungkin ia membayangkan usia senjanya yang akan dipenuhi sesi-sesi kontemplasi panjang dan diisi dengan pengabdian pada kaum petani buta pendidikan. Sangat tergetar ketika mengetahui bahwa keturunan ningrat yang tidak meraih gelar akademisnya di universitas ini, meninggalkan isterinya--yang berasal dari kalangan terkemuka Moskow--yang menolak gagasannya untuk menghibahkan kekayaannya bagi pendidikan kaum petani, hingga akhirnya ia wafat dalam pelariannya, di sebuah stasiun kereta api.
Cerita-cerita Leo tolstoy khas akan gaya realis dan sarat nilai-nilai religius. Sangat menunjukkan identitas dirinya yang seorang pemikir sosial dan moral yang terkemuka di zamannya. Teknik menjalin cerita-nya yang lembut dan santun adalah kekuatan yang mengukuhkannya seagai sastrawan Rusia yang memiliki andil besar dalam memetakan kesuasteraan dunia.
Di Mana Ada Cinta Di Sana Tuhan Ada adalah sebuah kumpulan kisah-kisah yang tidak akan lekang oleh pergeseran nilai kultural di masyarakat, bahkan oleh trend sastra populer yang berkembang pesat dewasa ini. Buku ini akan selalu merefleksikan karakter masyarakat di setiap zaman. Mari kita lihat kisah Tiga Pertapa. Cerita ini mengisahkan seorang uskup yang mengajarkan cara berdoa yang benar pada tiga lelaki tua yang disebut sebagai pertapa, yang mendiami sebuah pulau tak berpenghuni. Dan pada akhirnya, tiga pertapa yang dianggap bodoh inilah yang, doanya pada Tuhan, membuat ketiganya dapat menunjukkan keajaiban pada sang Uskup, hingga sang Uskup meminta ketiga pertapa ini untuk mendoakan dirinya. Poin ini sangat mudah kita temukan di sekeliling kita. Orang-orang yang yakin bahwa dirinya pemeluk agama yang taat, pasti benar, mengajari orang-orang bodoh (dalam pandangan mereka), namun tidak dapat menjamin limpahan kasih Tuhan yang mungkin akan tercurah lebih banyak pada Sang Bodoh. Hal yang paling mengagumkan adalah nilai-nilai religius universal yang diketengahkan Leo Tolstoy dalam setiap ceritanya, membuat saya tercengang, mengingat kisah ini dituliskan di tahun 1800-an. Hal ini tidak bisa membuat saya berhenti memikirkan pertanyaan: Bagaimana jika seorang Tolstoy hidup di zaman ini?
Akibatnya, terlintas dalam pikirannya bahwa ia mungkin akan mati pada malam itu juga. Namun, pikiran itu tidak menakutkannya. Tidak menjadikannya terlalu resah karena hidupnya bukanlah sebuah masa liburan yang tak terputus-putus, tapi sebaliknya, suatu pelayanan seumur hidup yang mulai membosankannya. Pikiran itu juga tidak terlalu menakutkan sebab ia selalu merasa dirinya tergantung pada Tuhan Yang Maha Besar yang menciptakannya ke dunia ini, dan karena ia tahu bahwa dalam kematiannya, ia masih menjadi pelayan-Nya dan Tuhan akan berlaku baik terhadapnya (page 129, dalam Majikan & Pelayan).
Saya merekomendasikan buku ini pada teman-teman saya yang terlalu sering berhibur dan bermain. Buku ini akan membasahi jiwa-jiwa mereka yang ... maafkan kelancangan saya, terancam tandus ....
4/5 stars        

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...