Saturday, April 30, 2016

Kisah Hana: Rahasia & Alasan-Alasannya

Judul buku: Hana (Delirium #1.5)
Penulis: Lauren Oliver
Jumlah halaman: 64 halaman ebook
Penerbit: HarperCollins Publishers
Tahun terbit: February 28th 2012 (first published December 19th 2011)
ISBN: 0062124366 (ISBN13: 9780062124364)

Strangely enough, this is what I dream about now, the summer before my cure, during the last summer that will ever be truly mine to enjoy. I dream about sledding. That’s what it’s like to barrel forward toward September, to speed toward the day when I will no longer be troubled by amor deliria nervosa.
Tidak seperti persangkaan Lena di buku pertama, bahwa Hana adalah representasi kesempurnaan yang bahagia. Cantik, cerdas, kaya, bermasa depan cerah, diliputi kebahagiaan. Lena benar soal kesempurnaan, tapi tidak untuk bahagia. Hana, tentu saja, pernah bahagia. Setidaknya sampai dia tahu, bahwa Steve Hilt adalah cowok berengsek yang tidak paham sedikit pun tentang
cinta. Dan juga, dipasangan dengan calon lelaki nomor satu di kota, sehingga membuat kedua orang tuanya berbangga. Tapi jauh di dasar dirinya, Hana memiliki mimpinya sendiri. Mimpi yang pada akhirnya diraih oleh Lena.
Side story Hana ini mengungkapkan banyak sisi tentang Hana yang tidak dikisahkan oleh Lena di buku pertama serial Delirium. Hal-hal yang tidak pernah diketahui Lena: rahasia-rahasia dan alasan-alasannya. Kisah cintanya. Kisah patah hatinya. Pikiran-pikirannya tentang Lena. Kecemburuannya pada Lena. Apa yang, tanpa sepengetahuan Lena, dilakukannya sehingga berdampak jauh lebih buruk dari kematian bagi Lena.
Hana mengingatkan saya pada karakter Annabel. Periang, enerjik, berjiwa bebas, dan (pernah) percaya pada cinta—meski sangat disayangkan, dia tidak seberani Annabel untuk mengubah nasibnya. Hana lah yang lebih dulu mengenal dunia para invalid, dunia yang diselubungi amor deliria nervosa. Dialah yang memperkenalkan Lena pada dunia itu. Dia juga lah yang lebih dulu jatuh cinta, dan lantas merasakan patah hati—hingga akhirnya mempertanyakan cinta yang pernah dia yakini. Antagonisme Hana membuat saya terkejut berkali-kali. Pertama, karena dia adalah orang terakhir yang saya pikir akan mengkhianati Lena (Saya yakin, Hana adalah orang yang akan membiarkan dirinya mati untuk menggantikan Lena jika sebuah peluru ditargetkan mengenai jantung Lena). Kedua, saya tidak bisa membenci Hana, sekeras apa pun saya memaksakan diri. Ketiga, saya baru tahu, jika tokoh antagonis bisa diciptakan dengan cara seperti itu (Lauren Oliver, betapa saya menghormati Anda).
The line from The Book of Shhh comes back to me: there is no love, only disorder.
Karena sudah lama sejak saya meninggalkan Delirium, saya harus membuka itu lagi untuk menemukan beberapa adegan yang diceritakan kembali oleh Hana dari sudut pandangnya. Tentang pertengkarannya dengan Lena, dan pertemuannya dengan Alex di toko tempat Lena bekerja. Saya sungguh berharap, Hana bisa sebahagia Lena. Menemukan cinta sejati, dan bukannya berakhir dengan perjodohannya dengan Fred Hargrove, sang calon walikota baru. Tapi pada akhirnya, pilihan lah yang mengubah nasib orang-orang. Kisah Hana mengingatkan saya pada nasehat lama: benih yang kau tanam pada kehidupan, adalah apa yang akan kau panen darinya, sebagai balasan dari kehidupan atas usahamu—baik, pun buruk.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...