Thursday, February 27, 2014

Roman Bercita Rasa Lokal yang Adiktif

Judul buku: Kei (Kutemukan Cinta di Tengah Perang)
Penulis:
Editor: Jia Effendie
Jumlah halaman: x+254 halaman
Tahun terbit: 2013
Penerbit: GagasMedia
Penghargaan: Novel Unggulan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012

          Kei—pulau yang terletak di bagian tenggara Kepulauan Maluku—yang tenang, yang warga beragam agamanya hidup berdampingan dengan rukun dalam pengaturan adat yang luhur, tiba-tiba saja bergolak. Elaar, Watran, Tual, Langgur, terlalap kerusuhan yang entah muasalnya. Namira Evav yang baru saja menuntaskan tari sosoy swar man vuun-nya bersama sahabatnya, Mery, dan gadis-gadis Elaar lainnya harus tunggang langgang mencari tempat perlindungan.

Memutuskan tangan yang saling menggandeng dan tercerai ke kamp-kamp pengungsian. Begitu pula dengan Sala, pemuda itu baru saja kembali dari Mun kaharsebuah pulau di kei besar, mengantarkan pisau pesanan pelanggan ibunya, saat ia mendapati ibunya bersimbah darah, menjadi korban kerusuhan. Perang saudara terjadi antara Orang Merah--penduduk beriman Kristianidan Orang Putihpenduduk pemeluk Islam. Desa tetangga seketika menjadi musuh. Kerusuhan Ambon telah menjalar ke pulau-pulau kecil laksana api, tak terkendali. Seolah melupakan ajaran leluhur tentang persaudaraan adat yang kokoh.
Namira, seperti halnya sebagian besar warga Elaar, kehilangan kedua orang tuanya. Bersama penduduk Elaar yang lain, ia diungsikan ke Langgur yang masih relatif aman. Sementara itu, pemuda cerdas dan pemberani, Sala, menolak melakukan balas dendam terhadap penyerang. Meski dirinya Orang Merah, Sala ingin melindungi Orang Putih. Ia pun meninggalkan Watran dan bergabung dengan relawan di Langgur. Menjaga pengungsi wanita dan anak-anak yang berlindung di gereja. Tak peduli warnanya. Tak peduli agamanya. Di sanalah Namira dan Sala bertemu. Di kegelapan hutan yang membutakan. Sala menjelma penyelamat bagi Namira. Lalu dimulailah kisah kasih keduanya, dalam bingkai perang saudara dan perbedaan warna. Sala yang Merah dan Namira yang Putih.
Dari atas, asap hitam yang menyelubungi Pulau Watran makin menebal, bagai gumpalan awan menjelang hujan deras. April menjadi bulan kobaran api  (hal. 43).
Saya menemukan banyak sekali kosakata asing di bab-bab awal buku ini. Kosakata bahasa Indonesia yang tidak familiar bagi saya. Tapi bagi saya, di sanalah salah satu letak kekayaan Kei . Menjengguk (19), terjengat (22), Angin limbubu (27), menjelanak (28), roti kasbi (29), ditungkupi (31), lisut (31), seruit (35), bekersik (42), pameo (66), perigi (71), rampak (72), merembang (79), mambang (106). Saya tidak berinisiatif membuka KBBI untuk mengetahui artinya. Saya membiarkan intuisi estetis menuntun saya menuju sebuah pemahaman subyektif. Setelah itu, saya tidak lagi menghitung kosakata yang sulit bagi saya. Saya larut dalam petuah-petuah bijak suku Kei, aturan adat yang bertujuan memelihara sumber daya alam Pulau Kei yang kaya, juga fakta memilukan perang saudara kala itu. Dan tentu saja, dalam penuturan Erni Aladjai yang adiktif. Erni bercerita dengan kalimat-kalimat pendek yang efektif. Dengan ritme yang stabil, Erni menggambarkan situasi pedesaan yang jauh dari kemilau modernitas, dan tokoh-tokoh berkulit putih berambut hitam-panjang-lurus dengan indah. Rasanya, saya hanya ingin membaca. Lagi dan lagi.
Tutup Sasi itu upacara adat yang mengatur pengambilan sumber daya alam di pulau kami ini. Hukum Sasi melarang orang-orang mengambil sumber daya alam dalam rentang waktu enam bulan. Hukum adat ini juga melarang setiap orang mengganggu ekosistem laut. Tutup Sasi memberi waktu makhluk hidup untuk tumbuh, bereproduksi sekaligus melindungi ekosistem. Semua pulai di Kei, punya ritual sasi. Itu sebagai bentuk penghormatan kami pada laut. Sebab kami hidup dari laut. (hal 14-15).
“Orang yang melanggar akan menanggung malu yang tak terperikan” (hal. 15).
Kei dibangun dari adegan-adegan yang realistis, yang dilakoni oleh tokoh-tokoh yang anti-hero. Resiko yang tidak selalu diambil seorang penulis jika tidak ingin kehilangan pembaca. Sala yang memiliki jiwa kemanusiaan tinggi dan keinginan kuat untuk memberi andil dalam perdamaian di Kei, pada akhirnya tak mampu mewujudkan harapan-harapan kecilnya. Namira yang mengerahkan segenap usahanya untuk memedulikan sekelilingnya, pada akhirnya tak bisa menolong dirinya sendiri dari kehilangan-kehilangan. Di tangan Erni Aladjai, tokoh-tokoh itu seolah benar-benar lahir dari rahim Kei, dengan segala ciri lokalitasnya yang khas.
      Kei memilih Namira Evav sebagai tokoh sentral. Pusat pengembangan alur. Pengisahan bermula dari Namira yang hendak kembali ke kampung halamannya setelah dua tahun meninggalkan Kei akibat kerusuhan. Lalu kisah mengenai kerusuhan mengalir dalam fragmen kilas balik. Beberapa kali, pengisahan berpindah ke sudut pandang Sala. Namun sayangnya, setelah kilas balik berakhir, cerita ini seolah kehilangan daya kejutnya. Grafik klimaks menurun dengan cepat dan tajam. Hanya akhir ceritalah yang menjadi penyemangat bagi pembaca untuk menuntaskan kisah ini.
Terlahir dari riset yang mendalam, Kei hadir dengan fakta sejarah yang sarat akan semangat persaudaraan dan penyatuan keberagaman etnis serta agama. Pembaca akan mengagumi nilai-nilai moral warisan leluhur masyarakat Kei yang menjaga kelestarian alamnya, dan perdamaian antarbeda yang mengagumkan. Kei mengetengahkan konten SARA dengan hati-hati. Erni Aladjai telah lebih dulu menarik garis aman, sebelum meledakkan isu-isu yang rawan pertentangan. Sekali lagi, dengan hati-hati dan dengan intensitas tinggi, penulis menegaskan bahwa Kerusuhan Ambon 1999 bukanlah sekadar tragedi kemanusiaan sebagaimana yang bisa diingat masyarakat Indonesia. Melainkan sebuah rekayasa yang digulirkan setelah lebih dulu didesain sedemikian matang. Setitik nyala kecil untuk lautan api mahadahsyat. Cukup disayangkan, dominasi pengisahan kerusuhan yang seolah tak ada habisnya, akhirnya menenggelamkan unsur roman yang tentu sangat ditunggu pembacanya.
Namun, tentu saja, Kei hadir untuk mengingatkan kita akan harmonisasi kehidupan antarumat beragama yang saat ini telah terkikis karena fanatisme golongan. Dan betapa petuah leluhur, seusang, sekuno, sepurba apa pun ia nampaknya, tetaplah ia lahir dari perenungan mendalam. Mengandung kebijaksanaan keramat yang mampu meredam bara pertikaian.
Kei  saya rekomendasikan bagi penikmat sastra Indonesia yang haus cita rasa lokal. Juga bagi para pencinta roman yang selalu disuguhi roman-roman bergaya mainstream.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...