Saturday, June 25, 2016

Gadis Pembangkit, Lelaki yang Memelihara Harapan, & Sebuah Babak Baru

Judul buku: Days of Blood and Starlight - Bersimbah Darah dan Cahaya Bintang (Daughter of Smoke & Bone #2)
Jumlah halaman: 608 halaman paperback
Penulis: Laini Taylor
Penerjemah: Primadonna Angela
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Juli 2014 (dipublikasikan pertama kali pada 6 November 2012)
ISBN13: 9786020306834
Penghargaan: DABWAHA Romance Tournament for Best Novel with Romantic Elements (2013)
Pada zaman dahulu, seorang malaikat dan iblis memegang tulang garpu di antara mereka.Dan saat patah, membelah dunia menjadi dua
Terakhir kali Akiva melihat Karou, adalah ketika gadis itu menghilang di balik portal yang ditunjukkan Razgut—sang Terbuang. Akiva tahu Karou tidak akan memaafkannya ketika ia melihat abu Loramendi nantinya. Dulu, Loramendi adalah kota yang indah, kota milik para Chimaera. Rumah. Segalanya. Tapi sekarang, Loramendi tidak lebih dari kuburan para chimaera: keluarga Karou. Kota abu. Setelah para seraphim membakarnya dengan api dari sayap dan tubuh mereka. Tapi yang jauh lebih dikhawatirkan Akiva adalah, nasib Karou. Akiva tidak yakin, apa dia bisa menemukan Karou hidup-hidup.
Pada zaman dahulu, seorang malaikat dan iblis jatuh cinta dan memberanikan diri membayangkan cara hidup baru—cara hidup tanpa pembantaian ataupun leher yang tercabik serta api unggun untuk mereka yang tewas, tanpa danyang atau pasukan haram jadah atau anak-anak yang direnggut dari rengkuhan ibu mereka untuk mengambil giliran dalam membunuh dan mati.
Tetapi sementara para tentara Zadah menyisir setiap sisi Eretz: gua, hutan, laut, ceruk, apa pun, untuk menemukan sisa-sisa chimaera yang beruntung, sang Pembangkit bekerja diam-diam, membangun pemberontakan, menghidupkan amunisi untuk memulihkan bangsanya dari kebinasaan. Pada saat yang sama, dunia digemparkan oleh hilangnya gigi-gigi binatang dari museum-museum di berbagai Negara. Dan seorang gadis hantu menjadi tersangkanya.
***
Sebuah peristiwa mengejutkan terjadi: beberapa malaikat ditemukan mati tercabik dengan meninggalkan tanda yang khas dari panglima perang chimaera. Satu peristiwa diikuti peristiwa yang lain. Sebuah serangan balasan. Siklus pembantaian yang tiada putus. Para danyang chimaera yang mampu melumpuhkan para seraphim telah dibangkitkan! Itulah satu-satunya penjelasan atas pembantaian para seraphim.
Sekuel The Daughter of Smoke and Bone ini jauh lebih menegangkan dibanding buku pertamanya. Mengingat sebagian besar peristiwa berlangsung di Eretz, maka benturan fisik antara seraphim dan chimaera pun tidak terhindarkan. Porsi Akiva pun jadi cukup dominan jika dibandingkan pada buku pertamanya. Benar-benar sulit rasanya untuk tidak jatuh cinta lebih dalam pada Akiva. Pada mimpinya tentang perdamaian. Pada harapannya yang terasa absurd untuk menyatukan chimaera dan seraphim. Pada pengkhianatan-pengkhianatan kecilnya atas kaumnya demi membela sekelompok chimaera pelarian. Karou pun memainkan perannya dengan baik sekali. Ketangguhan dan keteguhan hatinya, juga kesetiaannya atas ras dan bangsanya. Babak baru kehidupan chimaera dan seraphim dimulai di sini.
“jiwa yang mati hanya bisa memimpikan kematian”
Ada banyak yang tergali lebih dalam di sini. Seperti Hazael dan Liraz—saudara zadah sekaligus sahabat Akiva seumur hidup, juga beberapa chimaera yang memiliki peran penting dalam hierarki legiun mereka. Hazael yang sepenuhnya percaya pada Akiva dan Liraz yang mengkhawatirkan Akiva dengan caranya sendiri. Hazael yang ceria, lembut, dan humoris. Liraz yang keras hati dan tidak tergoyahkan. Banyak pula tokoh-tokoh baru yang muncul. Dan plot yang tampak tidak begitu penting, Virko yang dulu memihak Brimstone. Zirri, chimaera dari suku yang sama dengan Madrigal dan dulu mengikuti ke mana pun Madrigal pergi.
Ada yang berbeda dengan narrating voice Laini Taylor di sini, jika dibandingkan dengan buku pertama. Laini Taylor menunjukkan dua narrating voice yang berbeda ketika ia berbicara tentang Suzanna dan Mik (yang adalah warga dunia manusia) dan ketika ia berbicara tentang Eretz. Tapi tetap saja, seperti biasa, Laini Taylor adalah pencerita brilian yang sangat memukau. Bukan sekadar tentang bagaimana ia menciptakan hal-hal magis dan menceritakannya dengan visualisasi yang sempurna, atau bagaimana ia menciptakan adegan-adegan dramatis yang mengusik, melainkan juga bagaimana ia menciptakan karakter yang menyenangkan yang dibutuhkan di saat-saat megkhawatirkan, untuk mencairkan suasana seperti Suzana dan Mik. Kedua karakter cerdas dan lucu yang lovey-dovey ini akan memiliki penggemar tambahan yang banyak di sekuel ini.
Ada banyak pula kejutan menyenangkan dan menyesakkan dalam Days of Blood & Starlight ini. Jenis kejutan yang akan membuat pembacanya merinding dan bersemangat lalu patah hati, lalu kembali bersemangat dan berharap. Meski sayangnya, kejutan menyenangkan-nya diletakkan hanya sesaat sebelum kisah ini berakhir. Sehingga pembaca harus memiliki kesabaran yang cukup untuk menahan napas dalam jeda panjang sebelum mengetahui apa yang benar-benar terjadi kemudian.
Sekuel penuh hal tak terduga ini berkisah tentang Gadis Pembangkit, Lelaki yang Memelihara Harapan, dan babak baru kehidupan para chimaera dan seraphim. Jauh lebih seru dan intens dibanding buku pertamanya. Sulit untuk tidak fangirling pada Akiva ^_^
Pic's credit is here

2 comments:

  1. Buku keren, saya puas setelah membaca buku kedua ini. Walau tebal tapi untung tidak menye dan tidak galau.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener, Kak Dion. Tokoh-tokohnya lebih strong di sini. Nggak ada lagi drama cinta-cintaan. Semua berkisar di tujuan yang lebih tinggi. Saya masih baper dengan buku ketiganya yang belum saya kelarkan karena plotnya jadi semakin padat dan memuat konflik baru. Ada lebih banyak tokoh terlibat dan... Kak Dion pasti paham yang saya maksud ^_^

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...