Jumlah halaman: 608 halaman paperback
Penulis: Laini Taylor
Penulis: Laini Taylor
Penerjemah: Primadonna Angela
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Juli 2014 (dipublikasikan pertama kali pada 6 November 2012)
ISBN13: 9786020306834
Penghargaan: DABWAHA Romance Tournament for Best Novel with Romantic Elements (2013)
Pada zaman dahulu, seorang malaikat dan iblis memegang tulang garpu di antara mereka.Dan saat patah, membelah dunia menjadi dua
Terakhir
kali Akiva melihat Karou, adalah ketika gadis itu menghilang di balik portal yang
ditunjukkan Razgut—sang Terbuang. Akiva tahu Karou tidak akan memaafkannya
ketika ia melihat abu Loramendi nantinya. Dulu, Loramendi adalah kota yang
indah, kota milik para Chimaera.
Rumah. Segalanya. Tapi sekarang, Loramendi tidak lebih dari kuburan para chimaera: keluarga Karou. Kota abu.
Setelah para seraphim membakarnya
dengan api dari sayap dan tubuh mereka. Tapi yang jauh lebih dikhawatirkan
Akiva adalah, nasib Karou. Akiva tidak yakin, apa dia bisa menemukan Karou
hidup-hidup.
Pada zaman dahulu, seorang malaikat dan iblis jatuh cinta dan memberanikan diri membayangkan cara hidup baru—cara hidup tanpa pembantaian ataupun leher yang tercabik serta api unggun untuk mereka yang tewas, tanpa danyang atau pasukan haram jadah atau anak-anak yang direnggut dari rengkuhan ibu mereka untuk mengambil giliran dalam membunuh dan mati.
Tetapi
sementara para tentara Zadah menyisir setiap sisi Eretz: gua, hutan, laut, ceruk,
apa pun, untuk menemukan sisa-sisa chimaera
yang beruntung, sang Pembangkit bekerja diam-diam, membangun pemberontakan,
menghidupkan amunisi untuk memulihkan bangsanya dari kebinasaan. Pada saat yang
sama, dunia digemparkan oleh hilangnya gigi-gigi binatang dari museum-museum di
berbagai Negara. Dan seorang gadis hantu menjadi
tersangkanya.
***
Sebuah peristiwa mengejutkan
terjadi: beberapa malaikat ditemukan mati tercabik dengan meninggalkan tanda
yang khas dari panglima perang chimaera.
Satu peristiwa diikuti peristiwa yang lain. Sebuah serangan balasan. Siklus
pembantaian yang tiada putus. Para danyang chimaera
yang mampu melumpuhkan para seraphim
telah dibangkitkan! Itulah satu-satunya penjelasan atas pembantaian para seraphim.
Sekuel The Daughter of Smoke and Bone ini jauh
lebih menegangkan dibanding buku pertamanya. Mengingat sebagian besar peristiwa
berlangsung di Eretz, maka benturan fisik antara seraphim dan chimaera pun
tidak terhindarkan. Porsi Akiva pun jadi cukup dominan jika dibandingkan pada
buku pertamanya. Benar-benar sulit rasanya untuk tidak jatuh cinta lebih dalam
pada Akiva. Pada mimpinya tentang perdamaian. Pada harapannya yang terasa absurd untuk menyatukan chimaera dan seraphim. Pada pengkhianatan-pengkhianatan kecilnya atas kaumnya
demi membela sekelompok chimaera
pelarian. Karou pun memainkan perannya dengan baik sekali. Ketangguhan dan
keteguhan hatinya, juga kesetiaannya atas ras dan bangsanya. Babak baru kehidupan chimaera dan seraphim dimulai di sini.
“jiwa yang mati hanya bisa memimpikan kematian”
Ada banyak yang tergali
lebih dalam di sini. Seperti Hazael dan Liraz—saudara zadah sekaligus sahabat
Akiva seumur hidup, juga beberapa chimaera
yang memiliki peran penting dalam hierarki legiun mereka. Hazael yang
sepenuhnya percaya pada Akiva dan Liraz yang mengkhawatirkan Akiva dengan
caranya sendiri. Hazael yang ceria, lembut, dan humoris. Liraz yang keras hati
dan tidak tergoyahkan. Banyak pula tokoh-tokoh baru yang muncul. Dan plot yang
tampak tidak begitu penting, Virko yang dulu memihak Brimstone. Zirri, chimaera dari suku yang sama dengan
Madrigal dan dulu mengikuti ke mana pun Madrigal pergi.
Ada yang berbeda dengan narrating voice Laini Taylor di sini,
jika dibandingkan dengan buku pertama. Laini Taylor menunjukkan dua narrating voice yang berbeda ketika ia
berbicara tentang Suzanna dan Mik (yang adalah warga dunia manusia) dan ketika
ia berbicara tentang Eretz. Tapi tetap saja, seperti biasa, Laini Taylor adalah
pencerita brilian yang sangat memukau. Bukan sekadar tentang bagaimana ia
menciptakan hal-hal magis dan menceritakannya dengan visualisasi yang sempurna,
atau bagaimana ia menciptakan adegan-adegan dramatis yang mengusik, melainkan juga bagaimana ia menciptakan karakter yang
menyenangkan yang dibutuhkan di
saat-saat megkhawatirkan, untuk mencairkan suasana seperti Suzana dan Mik. Kedua
karakter cerdas dan lucu yang lovey-dovey
ini akan memiliki penggemar tambahan yang banyak di sekuel ini.
Ada banyak pula kejutan
menyenangkan dan menyesakkan dalam Days of Blood
& Starlight ini. Jenis kejutan yang akan membuat
pembacanya merinding dan bersemangat lalu patah hati, lalu kembali bersemangat
dan berharap. Meski sayangnya, kejutan
menyenangkan-nya diletakkan hanya sesaat sebelum kisah ini berakhir. Sehingga
pembaca harus memiliki kesabaran yang cukup untuk menahan napas dalam jeda
panjang sebelum mengetahui apa yang benar-benar terjadi kemudian.
Sekuel penuh hal tak terduga ini berkisah tentang Gadis Pembangkit, Lelaki yang Memelihara Harapan, dan babak baru kehidupan para chimaera dan seraphim. Jauh lebih seru dan intens dibanding buku pertamanya. Sulit untuk tidak fangirling pada Akiva ^_^
![]() |
Pic's credit is here |
Buku keren, saya puas setelah membaca buku kedua ini. Walau tebal tapi untung tidak menye dan tidak galau.
ReplyDeleteBener, Kak Dion. Tokoh-tokohnya lebih strong di sini. Nggak ada lagi drama cinta-cintaan. Semua berkisar di tujuan yang lebih tinggi. Saya masih baper dengan buku ketiganya yang belum saya kelarkan karena plotnya jadi semakin padat dan memuat konflik baru. Ada lebih banyak tokoh terlibat dan... Kak Dion pasti paham yang saya maksud ^_^
Delete