Thursday, June 07, 2012

Wandeuk

Judul Buku: Wandeuk
Penulis: Kim Rye-ryeong (2008)
Penerjemah: Seini Intanalia Zalukhu
Editor: Starin Sani
Tebal: vi+ 254 hlm; 19 cm
Cetakan : 1, April 2012
Penerbit: Bentang Belia (Bentang Pustaka)
Tolong bunuhlah Ddongju.
Kalau dalam minggu ini dia belum mati,
aku akan datang lagi.
Dalam nanma Bapa yang Mahakudus dan Mulia
aku telah berdoa. Amin.
     Dan seperti itulah novel ini dibuka. Alih-alih sebal, kalimat di atas justru memancing senyum. Doa tersebut jelas milik seseorang yang tidak pandai berkelahi--apalagi membunuh.
Memang, tidak ada yang lebih dibenci Wandeuk daripada Pak Guru Dong Ju. Lelaki yang selalu 'sok tahu' tentang hidupnya, apa yang terbaik untuk hidupnya, dan apa yang sebaiknya dia lakukan atau tidak lakukan. Maka Wandeuk akhirnya berdoa kepada Tuhan agar gurunya itu dimatikan secepatnya sebelum ia lebih banyak mengacaukan hidupnya. Wandeuk sudah tidak tahan diperintah ini-itu, apalagi mengikuti kelas malamnya. Namun Dong Ju yang cerewet kemudian mempertemukannya dengan ibunya yang selalu ingin ia temui. Dong Ju lah yang membuatnya mengerti apa yang terjadi kepada ayah dan ibunya sebelum ia bisa memahami mengapa ia terlahir.
Wandeuk tumbuh di bawah pengasuhan ayahnya yang dikenal sebagai lelaki--bertubuh kerdil--yang pandai menari dan pedagang kaki lima, tanpa pernah melihat ibunya. Yang ia tahu tentang ibunya hanyalah bahwa wanita yang telah melahirkannya itu telah meninggal--seperti yang dikatakan ayahnya. Tapi justru Dong Ju yang paling ia benci di muka bumi, membawanya pada sebuah gereja palsu dan menemukan bahwa ibunya adalah seorang perempuan berwajah khas Asia--namun jelas tidak berdarah Korea--bersepatu lusuh yang entah bagaimana, membuatnya tersentuh dan ingin menangis.
     Cerita yang memenangkan Pulitzer Award untuk kategori Best Young Adult Fiction ini disajikan dengan gaya bertutur khas remaja yang sangat lincah, jujur, apa adanya, anti didaktif, membuat pembaca merasakan emosi tanpa dikte penulis, benar-benar membekaskan kesan membaca yang menyenangkan. Novel ringan yang mengetengahkan isu pernikahan internasional yang membuka wawasan, memadukannya dengan dilema psikologis khas remaja yang mencari jati diri, emosional, baru jatuh cinta. Ini cerita yang sangat manis dan memukau. Penulis sangat pandai meramu narasi dengan apik sehingga emosi sampai dengan mulus ke benak pembaca. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah cara Wandeuk mengungkapkan perasaan suka-nya pada Jeong Yoonha--yang sering ia sebut bego.
Walaupun bego, dia punya sisi lucu juga.
Air sungai sekarang sudah membeku. Gara-gara lihat itu aku jadi geli sendiri. Sungai macam apa yang bisa membeku padahal airnya saja hampir enggak ada. Aduh, mau sungainya membeku pun tetap saja enggak bisa main seluncuran di atasnya. Ah, perutku sakit, dari tadi sungai itu bikin aku ketawa. Anak itu juga, wartawan perang macam apa yang enggak punya rasa takut. Hahaha. Au, kenapa hari ini asal dengar kata wartawan perang aku selalu merasa itu lucu. Hehehe.
   Cukup disayangkan, beberapa momen yang sebenarnya bisa tersaji dengan begitu menghentak ternyata terjadi dengan begitu mudahnya. Anyway, it's a high-rated story I've ever read this recent days.
3,5/5 stars!

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...